Home / Romansa / Gadis Malang Simpanan CEO / Bab 1 Om, Tolongin Aku!

Share

Gadis Malang Simpanan CEO
Gadis Malang Simpanan CEO
Author: Bunda Umu

Bab 1 Om, Tolongin Aku!

Author: Bunda Umu
last update Last Updated: 2025-11-09 12:26:45

"Berapa yang kamu butuhkan?"

Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.

Namun, pertanyaannya  bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.

Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.

Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-erat

Pria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya menembus tulang. Seolah jengah menunggu mulut Aluna terbuka.

"Kenapa diam?" Suara baritonnya yang agak keras mengejutkan Aluna hingga tubuhnya tersentak dan langsung membuka mata. Bibirnya gemetar, ingin bersuara tapi juga merasa gentar.

"A-aku ...." Aluna mencoba melirik orang itu, tetapi tatkala mata mereka bersirobok, Aluna lantas terkejut dan segera membuang pandang. Tangannya meremas ujung baju dengan kuat.

Pria itu menarik napas berat menatap Aluna tak sabar.

Dia lantas mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu.

"Berapa, sejuta, dua juta?"

Aluna malah terisak, harga dirinya seolah habis dinjak bagai kotoran tak berguna. Ia tak pernah menyangka, malam ini dia akan kehilangan mahkota suci yang selama ini dijaganya dalam diam, dan sekarang kepalanya terasa berat oleh rasa malu yang tak kasat mata.

Sakit, teramat sakit, jauh lebih sakit dari rasa ngilu dan perih di bagian bawah tubuhnya. Seluruh tulang dan sendinya terasa luruh dan hancur lebur. Bahkan untuk bergerak pun terasa sulit.

Aluna semakin kuat menggigit bibir, dan semakin erat memejamkan mata, Isak tangisnya terdengar pilu. Bayangan dirinya saat memaksa pria itu menyentuhnya, seolah bermain di pelupuk mata.

"Aku ngapain jadi gila begitu?" ratap Aluna dalam hati.

'Padahal tadi cuma minum cola, kenapa bisa sampai kayak mabuk kecubung?' Aluna terus menggeleng sedih.

Ia  masih ingat saat dirinya mendatangi kantor bosnya untuk meminta tolong.

"Pak, boleh gak aku ngutang dulu, nanti aku cicil pake gajiku tiap bulan?"

"Berapa?" tanya sang bos tanpa menatap Aluna.

"Delapan juta, Pak. Aku mau beli laptop."

Bosnya lantas mendongak menatapnya lekat, lalu berdiri dan menghampirinya.

"Butuh uang banyak?" Aluna mengangguk cepat, menatap bosnya penuh harap

"Ayo ikut aku!"

Aluna lalu mengikuti bosnya hingga berakhir di ruangan VVIP kafe tempatnya bekerja sebagai pengantar minuman.

"Masuk ke dalam dan temani mereka minum." Aluna lagi-lagi mengangguk patuh dan segera masuk. Namun, gadis itu terdiam mematung dengan tubuh gemetar tatkala melihat tiga lelaki bertubuh besar tengah berpesta minuman keras, ia hanya bisa meremas-

remas roknya.

"Gadis ini bakal menemani kalian, tapi ingat, kasi tips yang banyak, ya, dia butuh delapan juta!" Bosnya tersenyum pada orang-orang itu, lalu mengedipkan sebelah mata ke Aluna membuat gadis itu semakin gugup ketakutan.

"Masih perawan gak?" Tawa mereka memenuhi ruangan. Aluna tak berani mendekat, pikiran kotor sudah bertengger di kepalanya. Ia memutar badan ingin keluar, tetapi salah satu pria segera menghampiri dan menarik tangannya.

"Ayolah, cuma minum doang kok."

Senyum seringai dari dua orang lagi tampak mencurigakan, membuat Aluna semakin panik dan gemetar. Salah satunya menyodorkan minuman.

"Jangan takut, ini cuma cola."

Aluna menerima gelas itu dengan tangan gemetar dan meminumnya. Benar saja, minuman yang diminumnya cuma cola sehingga ditenggaknya hingga habis.

Pria yang tadi menariknya, menekan bahunya hingga terduduk di sofa, memeluk erat bahunya hingga Aluna sulit melepaskan diri.

Aluna mencoba menepis dengan sopan, tetapi pria itu semakin kuat menekan, ditambah temannya yang lain mulai main raba, akhirnya Aluna tidak tahan dan segera memberontak, menggigit lengan pria yang memeluk bahunya dan segera melompat, berlari keluar. Saat salah satu pria berhasil mengejarnya, Aluna langsung menyelinap masuk ke salah satu ruangan di sebelahnya. Pria itu ikut masuk, tetapi saat melihat seorang pria yang duduk di dalam, ia tampak ciut.

Ketika pria yang di dalam itu mendongak menatapnya, dia langsung nyengir, tertawa sumbang dan segera menangkap lengan Aluna. Gadis itu kaget, takut, dan panik berusaha melepas cengkeraman tangannya.

"Maaf, Pak. Aku salah ruangan, gadis ini sedikit liar soalnya." Ia pun berbalik dengan menarik kuat tangan Aluna.

"Lepasin, aku gak mau!" Aluna terus berontak.

"Om, tolongin aku, Om!" Aluna menoleh menatap pria dingin yang duduk sendirian di ruangan itu.

"Lepasin!" Aluna masih terus berusaha melepaskan diri.

"Om, tolong!" Wajah Aluna pucat ketakutan dengan tubuh gemetar hebat.

"Berhenti!" Suara berat dan tegas mampu membuat langkah kaki pria yang menangkap Aluna langsung berhenti.

Dia menoleh, kembali dengan tawa cengir sumbangnya.

"Ah, haha, maaf udah mengganggu Bapak. Aku permisi." Pria itu kembali ingin melangkah, Aluna lagi-lagi menoleh menatap pria dingin di sofa itu dengan wajah memelas.

"Tunggu!" Pria itu bangkit, berjalan mendekati mereka.

Terlihat nyali pria yang memegang Aluna ciut, senyumnya jadi kecut.

"lepasin!"

Pria itu tidak melepaskan, melainkan cengengesan mencoba menjelaskan.

"Em, begini Pak. Anak ini kan lagi butuh uang, jadi yah ... aku ... aku minta dia temani minum, ya cuma buat teman minum aja, Bapak jangan khawatir, aku ... aku juga gak tega nyakitin anak orang, Pak. Hehe."

Tiba-tiba Aluna merasa di tubuhnya mengalir perasaan aneh. Ada rasa panas dan ada rasa gejolak yang ia tak pernah rasakan sebelumnya. Seolah-olah membuat dirinya ingin diraba, ingin diremas, dan yang paling aneh, bagian bawah tubuhnya berkedut dan berdenyut. Aluna mulai oleng, rasa panas dan gerah yang tak tertahankan membuatnya tak sadar melepas kancing baju.

Pria yang memegangnya jadi agak panik, seolah takut ketahuan, segera menatap pria dingin di depannya.

"Ah haha, aku permisi Pak, sepertinya anak ini mulai mabuk, aku mau mengantarnya pulang dulu."

"Jangan, aku gak mau!" Aluna masih berusaha melawan dengan sisa tenaganya.

Pria dingin itu seolah memahami keadaan Aluna, segera mencegat tangan Aluna.

"Lepasin!" Tatapan tajam dan dingin penuh dengan aura membunuh ditujukan pada pria berandal membuatnya langsung patuh, melepaskan tangan Aluna dan segera mundur lalu keluar. Tinggallah Aluna dengan kondisinya yang sudah dipenuhi oleh gejolak nafsu.

Aluna menggeleng kuat saat bayangan dirinya menggelayut di leher pria asing itu, memelas minta diremas, dan kelakuan gila lainnya yang ia lakukan, benar-benar membuatnya mau gila. Ia tak mampu berkata-kata, hanya air mata dan gigi gemeretaknya yang terdengar. Sangat benci dengan dirinya sendiri.

Melihat Aluna yang terus diam dan terisak, Pria itu sekali lagi menarik napas panjang, lalu menghempaskan setumpuk uang di meja, mengejutkan Aluna yang sedang tenggelam dalam pikirannya.

"Ambil itu, dan kita impas!" Pria itu lantas berbalik hendak pergi.

Aluna segera bangkit, duduk di sofa dengan susah payah, wajahnya terlihat meringis menahan rasa perih di selangkangan.

"Tapi, Om, itu gak cukup buat beli laptop!" Aluna akhirnya bersuara dengan lantang. Ia menatap tumpukan uang yang tak seberapa di atas meja bergantian dengan pria matang yang berusia sekitar tiga puluhan itu.

Pria itu berhenti, menoleh menatap Aluna dengan tajam. Seketika gadis itu terhenyak melihat aura dingin dan tajam seolah tatapan membunuh, ia sedikit bergidik.

Pria itu berjalan mendekat, menatapnya datar, menarik napas, lalu mengeluarkan ponselnya.

"Ambil nomorku, kirimkan nomor rekeningmu."

Aluna menggeleng pelan. "Aku gak punya rekening, Om." Aluna tertunduk, tak berani menatap wajah dingin pria asing di depannya.

"Ya udah, save nomorku, besok kirimkan alamatmu, nanti aku bawakan laptop."

Aluna mendongak."Om beneran mau ngasih laptop?" tatap Aluna tak percaya.

Pria itu, bernama Faris Pradipta, merupakan  CEO sebuah perusahan ekspedisi itu hanya menangguk, tarikan napasnya terdengar berat. Rasa tanggung jawabnya yang besar jelas terpancar dari wajahnya. Pengaruh alkohol yang ditenggaknya semalam membuat nalurinya menghilang, membuatnya merasa menyesal pada gadis di depannya.

Aluna menatap ke sekeliling menacari keberadaan tasnya yang ternyata ada di ujung sofa. Ia segera mengambilnya, mengeluarkan ponsel,  dan memindai barcode aplikasi chatnya.

"Udah, makasih ya, Om." Aluna menundukkan sedikit kepala sebagai tanda menghormati.

Pria itu pun berbalik dan pergi tanpa ada komentar. Aluna kembali menatap ponselnya, melihat nama orang itu yang tertera di nama kontak tersimpan. Ia menarik napas panjang, lalu memeluk ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Ia belum bisa mempercayai kenyataan jika kesucian dirinya telah hilang hanya karena sebuah laptop.

“Sumpah, bukan ini yang aku mau.” Aluna terisak penuh penyesalan.

Ketika ia mendongak dan menyadari uang dari pria itu masih di atas meja, Aluna segera berdiri dan memanggilnya yang saat ini telah memegang gagang pintu hendak keluar.

“Om, uang om?”

Faris menoleh sebentar.

“Ambil aja, itu buat kamu.”

“Ta-tapi, Om?” Aluna terlihat enggan dan merasa take nak, tetapi orang itu sudah menghilang di balik pintu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 5 Om, Datanglah!

    Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa. “Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 4 Dalam Deraan Dingin dan Kelam

    Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 3 Diantar Pulang

    Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 2 Hanya Gadis Malang

    Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 1 Om, Tolongin Aku!

    "Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status