LOGIN"Apa?" Aku mundur selangkah. "Tinggal... tinggal di rumah Anda? Itu tidak mungkin, Tuan!"
Wajahku pasti sudah sepucat kertas. Perintahnya sudah melewati batas profesional. "Saya... saya punya kehidupan sendiri," ujarku, suaraku gemetar. "Saya punya apartemen. Saya tidak bisa—" "Apartemenmu bisa disewakan," potongnya dingin, seolah aku baru saja membahas masalah sepele soal cuaca. "Dan kehidupanmu, seperti yang kau sebut itu, untuk saat ini, prioritasnya adalah putriku." Tentu saja aku ingin sekali protes dan menolak mentah-mentah. Bahkan kalau punya keberanian yang cukup, seharusnya aku langsung lari saja dari ruangan ini dan menghindar dari bosku itu. Hanya saja, terlepas dari perintahnya yang tak masuk akal, aku butuh untuk tetap bekerja di sini. Menjadi sekretaris CEO di perusahaan sebesar Lawrence Company adalah kesempatan yang mungkin tak datang dua kali, ini bisa mengubah hidupku dalam berbagai aspek ke depannya. Lagi pula, sejak Lily memelukku dan menganggapku ibunya, aku sadar kalau aku sudah kalah. Mark melangkah melewatiku menuju pintu. "David akan mengantarmu ke apartemenmu. Kemasi barang-barangmu. Dan malam ini, aku mau kau sudah ada di penthouse milikku sebelum Lily tidur." Aku terpaku saat laki-laki itu bertitah, bahkan aku sendiri baru sadar, dia mengucap ultimatum tanpa melihat wajahku, sama sekali. Jelas dia tak peduli pada reaksiku, apalagi pendapatku. Perjalanan ke apartemenku di Brooklyn terasa seperti mimpi buruk. David, si asisten dan bodyguard kaku itu, hanya diam seribu bahasa di kursi pengemudi. Dia mungkin sudah biasa melihat bos besarnya menghancurkan kehidupan orang lain. Aku masuk ke apartemenku yang kecil dan berantakan. Aku menarik koper, melemparkan beberapa pakaian kerja, pakaian tidur, dan perlengkapan mandi sekenanya. Saat aku mengambil fotoku bersama Jane, ponselku bergetar di meja. Nama 'Steven' muncul di layar. Jantungku mencelos. Steven. Pacarku. “Ya Tuhan, aku bahkan nyaris lupa aku punya pacar!” Aku tidak punya waktu untuk bicara dengan Steven, apalagi menjelaskan situasiku saat ini. Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Dia pasti mengira aku sudah gila. Karena itulah, aku membiarkan ponselku berdering sampai lima kali, hingga akhirnya Steven menyerah dan berhenti menelepon. David membawaku kembali ke Manhattan, ke penthouse milik Mark yang terletak di bilangan Manhattan. Bak istana di langit, begitu aku memasuki unit penthouse tersebut, aku terkagum-kagum dengan segala yang ada di dalamnya. Lantainya marmer, dindingnya didominasi oleh kaca, interiornya minimalis namun mewah dengan dihiasi oleh penerangan yang hangat, dan pemandangannya mengarah langsung ke penjuru kota. "Ibu! Ibu di sini!" Lily berlari menyambutku begitu aku melewati foyer unit, seolah ini hal paling wajar di dunia. Dia memeluk kakiku. "Ibu tidur di sini malam ini? Benar, 'kan, Ayah?" Mark berdiri di dekat tangga spiral, masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi. Dia mengangguk, tanpa berbincang apapun. Sampai malam tiba dan Lily hampir tidur pun, Mark tidak memanggilku, tidak bicara padaku, bahkan tidak pula sekedar mengucap ‘selamat datang’ padaku. Aku membacakan cerita untuk Lily di kamar tidurnya, baru bisa keluar dari sana setelah dia benar-benar tertidur sambil menggenggam tanganku. Aku menyelinap ke kamar tamu yang ditunjukkan pelayan ketika ponselku bergetar lagi. Steven kembali menelepon, keenam kalinya untuk hari ini. Lalu, percobaan ketujuh, masih tidak kuangkat. Aku tidak sanggup menjelaskan fakta ini padanya. Dan pada akhirnya, aku hanya berani memberitahu Jane, sahabatku yang sebenarnya merupakan sepupu Steven. Aku mengirim beberapa pesan berisi keluhan padanya. Entah Mark pergi ke mana, pun sampai pagi tiba, aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Saat aku selesai mandi pagi, aku turun ke ruang makan. Lily sudah di sana, memakan sereal. Dan ternyata, di sanalah Mark berada, bersama putrinya. Pikirku dia mungkin sudah berangkat ke kantor. "Pagi, Ibu!" sapa Lily riang. "Pa-pagi, Lily," jawabku pelan sembari melirik ke arah Mark. Pria itu mengisyaratkanku untuk duduk di kursi sebelahnya, supaya berhadapan dengan Lily. Ketika aku meletakkan ponselku ke atas meja makan, pada saat itu juga aku merasakan getaran kuat. Saat kutoleh, ada telepon masuk. Mark kemudian turut menatap layar ponselku. Matanya menajam melihat nama yang ada di layar. "Siapa Steven? Kau tidak mau mengangkatnya?" Mark beralih menatapku dengan sebelah alis tebalnya yang terangkat. "Ah... i-itu bukan siapa-siapa," kataku gugup dan aku merasa, Steven mungkin mengetahui perkataanku. "Promosi iklan biasa, banyak sales yang menelepon belakangan ini.” Getaran itu berhenti dan aku bisa bernapas lega. Namun, selang beberapa detik, dering itu kembali muncul. Dering kedua, Mark mulanya biasa, tapi sampai dering keempat, dia mulai curiga. "Kau yakin itu sales? Sepertinya dia benar-benar membutuhkanmu.” Aku terdiam. “Jujur saja, siapa dia?" "Bukan siapa-siapa, Tuan. Saya akan mengangkatnya di luar sebentar dan—" "Angkat di sini!" potong Mark. Aku yang sudah berdiri langsung membeku. "Maaf?" "Angkat teleponnya," ulangnya. Dia tidak lagi menatapku, tapi menatap ponsel di tanganku seolah benda itu adalah ancaman. "Di sini. Sekarang." "Saya...." "Angkat," desis Mark, nadanya kini mengancam. "Atau aku yang akan mengangkatnya untukmu." *** Bersambung .....Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran
“Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S
“Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki
“Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala
Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan
“Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s
Hari terus berlalu. Sudah satu minggu lebih sejak aku mulai tidur satu kamar dengan Mark.Tidak, tidak ada hal intim yang terjadi di antara kami, kecuali ketika dia tiba-tiba menyuruhku melepas baju dan bra malam itu.Tiap hari saat waktunya tidur, kami benar-benar hanya tidur satu kasur, mengobrol
“Ayah mencium Ibu!”Suara nyaring Lily yang kemudian disusul oleh tawa geli, membuatku segera tersadar dari lamunanku.Aku menepuk bahu Mark beberapa kali, kedua mataku membelalak, mengisyaratkannya bahwa lebih baik dia menurunkanku dari gendongannya.Dia setuju. Kami berdiri bersebelahan, lalu men
“Kau bilang apa barusan?”Aku bungkam, diam-diam meraba pintu di belakang punggungku, berharap segera menggapai kenop supaya bisa kabur.Tapi jelas itu tak mungkin bisa kulakukan, karena Mark sudah berbalik lagi, bahkan juga kembali maju mendekat padaku seperti sebelumnya.Mencoba mengembalikan sua
Seumur-umur, baru pertama kali aku menaiki jet pribadi. Jet pribadi milik Mark itu membawa kami ke Kota Palm Beach di Florida. Selama kami berlibur, kami akan menginap di sebuah vila besar yang terletak di kawasan Worth Avenue di Palm Beach.Selain David yang tentunya harus ikut dengan kami, ada d







