MasukArleta seorang gadis cantik yang malang. Kehidupan Alana berubah setelah kematian sang ayah. Alana dihadapkan dengan kenyataan pahit, bahwa ayahnya memiliki banyak hutang. Arleta merasa dunianya benar-benar hancur, saat mengetahui jika dirinyalah yang menjadi jaminan hutang-hutang ayahnya. "Jadilah istriku! atau bayar hutang ayahmu saat ini juga!" Ancaman itu selalu terngiang di telinga Arleta. Satu bulan! Kenapa Arleta harus mencari uang sebanyak itu dalam satu bulan! seratus juta! itu bukan uang yang sedikit bagi Arleta! Akankah Arleta mampu membayar hutang-hutang itu? Kehidupan Arleta berubah drastis setelah pertemuannya dengan Mahendra Sky. Siapakah Mahendra? Akankah kehidupan Arleta berubah lebih baik? Atau justru Arleta akan semakin menderita? Ikuti terus keseruan cerita Arleta Mahendra untuk tahu kelanjutannya… Happy reading…
Lihat lebih banyak“Anda mau saya bawakan majalah atau sebagainya untuk menemani anda di sini, Lady Belle?” tanya Cecil setelah membantu Belinda berbaring kembali di tempat tidurnya. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya, jadi ia masih harus lebih banyak istirahat lagi.
“Tidak perlu, Cecil. Tolong nyalakan saja televisinya dan letakkan remotenya di meja ini,” jawab Belinda sambil menunjuk meja nakas di sebelahnya. “Baik, Lady.” Setelah menyalakan televisi, pelayan pribadinya itu meletakkan remote di tempat yang telah ditunjuk Belinda tadi. “Kalau anda membutuhkan sesuatu, anda bisa menekan tombol ini, seperti biasanya saya akan segera membantu anda," ujar Cecil sebelum keluar dari kamar itu. Belinda mengangguk pelan, ia merapikan selimutnya saat mencoba untuk tidur tapi ternyata matanya sulit untuk diajak berkompromi, karena selama setengah jam ia hanya membolak-balik badannya tanpa bisa tidur sedikitpun. Menyerah untuk mencoba tidur siang lagi, Belle pun akhirnya duduk bersandar di kepala tempat tidur, ia meraih remote di meja sebelahnya dan mulai memilih channel yang akan ia tonton. Hingga akhirnya sebuah kebakaran besar menarik perhatiannya. Ia menambah besar volume suaranya dan mulai fokus pada isi berita itu. Sebuah Palazzo yang habis terbakar di Spanyol itu menelan korban beberapa orang pelayan yang tidak sempat menyelamatkan diri saat kejadian. Belum diketahui penyebab dari kebakaran yang hanya menyisakan dinding-dinding batu itu, tapi kerugian diperkirakan menyentuh angka ratusan juta USD. “Wow, angka yang luar biasa besar!" seru Belinda, “Sayang sekali habis terbakar seperti itu, padahal sejak dulu aku ingin sekali mengunjungi Palazzo tua itu dengan Marina dan Dario,” lanjutnya, entah kenapa hatinya seketika menjadi mellow. Kebakaran yang terjadi kurang dari satu bulan yang lalu itu masih menjadi perbincangan hangat di Spanyol. Bahkan sang pemilik Palazzo, Don Victorino masih menempati trending topik nomor satu di negara itu. “Don Victorino? Kenapa namanya terdengar tidak asing di telingaku ya?” gumam Belinda. “Sudah pasti kamu pernah mendengar namanya, Mi Hijo. Namanya sering disebut di kalangan bangsawan lainnya,” celetuk mamá Juana yang baru memasuki kamar Belinda. Ia membiarkan mamánya itu mengambil remotenya untuk mematikan televisi itu sebelum meletakkan kembali ke meja nakas dan duduk di samping Belinda. Kedua tangan hangatnya menangkup pipi Belinda saat bertanya, “Kenapa kamu tidak istirahat, Sayang?” “Tadi aku sudah mencobanya, Má. Di mana Felipe?” “Hari ini Felipe sudah mulai masuk sekolah. Tadi GG (Great-Grandfather) yang mengantarnya sendiri.” “GG? Dia sayang sekali dengan Felipe ya, Má. Apa benar dia ayahnya Papá, Kakekku?” tanya Belinda. “Sí, Mi Hijo,” jawab mamá Juana lirih. Belinda meraih tangan mamá Juana untuk meremasnya dengan erat. Selama satu bulan ini mereka telah saling mendukung, saling menghibur satu dengan yang lainnya. Belinda tahu betul, mamá Juana masih menyimpan kesedihan akibat kematian papá Raphael. Bagaimana tidak, selama ini baik Belinda maupun mamá Juana sangat membenci papá Raphael karena lilitan hutangnya yang bukan hanya membuat mamá Juana menderita, tapi juga Belinda. Tapi ternyata dugaan mereka salah, seseorang telah membunuh papá Raphael dan menekan keluarganya dengan surat hutang palsu. Tujuan utama pria itu adalah Belinda, penerus dan pewaris dari Duke of Deshire. Untungnya semuanya terbongkar sebelum tujuan pria jahat itu tercapai. Kini, mereka telah berkumpul kembali bersama dengan GG William, yang telah menghabiskan banyak waktu untuk menemukan mereka. “Papá sekarang telah tenang di surga, Má. Papá pasti sedang tersenyum sekarang melihat kita telah kembali berbahagia, kesehatan Mamá telah membaik, dan Felipe sudah mulai masuk sekolah, dan pria jahat itu telah menerima hukumannya.” Sambil tersenyum lembut, mamá Juana menepuk pelan punggung tangan Belinda, “Ya, itu pasti. Mamá sangat merindukannya, Belle.” Belinda memeluk erat mamá Juana, akhirnya ia dapat merasakan kembali pelukan hangat mamánya setelah beberapa bulan terpisah. Karena apa? Entahlah, tidak ada satupun dari keluarganya yang mau menjelaskannya. Apa penyebab kecelakaannya pun Belinda tidak tahu. Semuanya tiba-tiba terdiam tiap kali Belinda menanyakan hal itu. Alih-alih menjawab, keluarganya lebih memilih mengalihkan pembicaraan mereka. Jadi, Belindapun tidak mau tahu lagi apapun penyebab dirinya itu harus terbaring di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama. Keluarganya pasti memiliki alasan tersendiri untuk tetap merahasiakan itu darinya. Yang penting sekarang, ia telah kembali pulih sepenuhnya. Mamá Juana melepaskan pelukannya, senyum hangat yang tidak pernah terlepas dari wajah cantiknya saat bersama dengan Belinda membuat hati Belinda menjadi jauh lebih tenang. “Ada Henry di bawah. Tunanganmu itu meminta izin untuk bertemu denganmu, apa kamu mengizinkannya?” tanya mamá Juana. “Tentu saja boleh, Mamá. Aku lumayan terhibur jika ada Henry di dekatku. Aku sungguh beruntung memiliki tunangan setampan dan sebaik dia, ya kan Má,” jawab Belinda sambil tersipu malu. Mamá tersenyum tipis sebelum mengecup kening Belinda, “Kalau begitu mamá akan memintanya ke kamarmu. Kamu mau berganti pakaian dulu?” “Tidak usah, Má. Henry tidak akan keberatan melihatku seberantakan ini.” Mamá Juana mengangguk pelan sebelum melangkah keluar kamar. Belinda hanya menyamankan posisi duduknya dan merapikan rambutnya dengan menggunakan jemari tangannya sebelum akhirnya seseorang mengetuk pingtunya, “Masuk!” seru Belinda yang sudah dapat menebak kalau Henry lah yang berada di balik pintu itu. Seperti biasa, pria itu tersenyum memikat padanya tiap kali bertemu dengannya. Langkahnya terlihat mantap saat melangkah mendekat sebelum duduk di tempat mamá Juana tadi duduk. "Merasa lebih baik?' tanyanya sambil menyunggingkan senyum yang bisa dengan mudah membuat para wanita melemparkan diri mereka pada pria itu. “Jauh lebih baik dari kemarin dan kemarinnya lagi,” jawab Belinda. “Syukurlah. Aku tidak berhenti memikirkanmu, dan tidak dapat menahan diriku untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja dengan mata kepalaku sendiri.” “Terima kasih,” ucap Belinda dengan wajah yang merona merah. Henry meraih telapak tangan Belinda untuk mengecup punggung tangannya dengan lembut, “Dan tiada hari aku lewatkan tanpa merindukanmu, Cintaku. Aku tidak sabar untuk segera menikahimu dan menjadikanmu milikku sepenuhnya,” godanya dengan suara selembut beledu. Rona di pipi Belinda bertambah memerah lagi, dan ia tahu Henry sangat senang melihat kalau dirinya telah meleleh karena kata-kata manisnya itu.Mahesa berdiri di pinggir jurang, memandang ke kejauhan, ke arah dunia yang terbentang luas. Dunia yang telah dia selamatkan, namun kini terasa jauh berbeda, seolah-olah seberkas cahaya dan bayangan bercampur dalam dirinya. Kekuatan Pohon Kehidupan yang telah mengalir di tubuhnya selama ini berpadu dengan kekuatan Bayangan Abadi, warisan dari leluhur yang terpendam jauh di dalam dirinya. Dia merasakan dua sisi yang bertarung dalam dirinya, cahaya yang membawa kehidupan dan bayangan yang membawa kegelapan. Seiring dengan berjalannya waktu, Mahesa menyadari bahwa dirinya kini bukan hanya seorang manusia biasa, tetapi juga penjaga antara dua dunia: dunia yang terang dan dunia yang gelap. Pohon Kehidupan, yang telah lama menjadi pusat keseimbangan di dunia ini, kini memiliki tugas baru, menjaga keseimbangan antara keduanya. Namun, tidak ada yang pernah mempersiapkan Mahesa untuk peran yang lebih besar daripada yang dia bayangkan. Kekuatan yang ada padanya bukan hanya milik dirinya, tet
Langit di atas Pohon Kehidupan mulai berubah, berlapis warna keemasan yang memancar seperti aurora. Namun, ada ketegangan yang merayap di udara, menciptakan rasa genting yang tidak bisa dijelaskan. Arleta dan Mahen berdiri di depan pohon itu, memandangi sesuatu yang baru saja mereka temukan—sebuah artefak kuno berbentuk orb kristal yang bersinar lembut.Nyai Sekar, yang berdiri di belakang mereka, tampak gelisah. “Ini adalah Artefak Kebangkitan,” katanya dengan nada berat. “Ia memiliki kekuatan untuk membawa kembali roh yang terikat dengan Pohon Kehidupan ke dunia nyata. Tetapi ada harga yang harus dibayar.”Arleta menatap artefak itu dengan campuran harapan dan ketakutan. “Apa harganya, Nyai?”Nyai Sekar menggeleng perlahan. “Membawa kembali satu jiwa akan mengganggu keseimbangan dunia. Kegelapan akan mendapat jalan untuk merasuki dunia ini, lebih kuat dari sebelumnya.”Mahen mengepalkan tangan, menatap artefak itu dengan mata penuh tekad. “Dia adalah anak kami. Jika ada kesempatan u
Pohon Kehidupan berdiri megah di tengah hutan lebat, cabang-cabangnya menjulang tinggi ke langit, dan daunnya bersinar lembut, memancarkan kehangatan yang menenangkan. Namun, sejak pengorbanan Mahesa untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran Bayangan Abadi, ada perubahan yang sulit diabaikan. Pohon itu tampak lebih hidup dari sebelumnya, dan bunga-bunga liar bermekaran di sekitar akarnya dengan warna-warna cerah yang tidak biasa.Arleta duduk di akar pohon, tangannya memegang kelopak bunga biru yang baru saja ia petik. “Mahen,” panggilnya, suaranya lembut tapi penuh kerinduan. “Aku merasa seperti dia masih di sini.”Mahen, yang berdiri tidak jauh darinya, memandang istrinya dengan mata yang penuh kesedihan dan cinta. “Aku juga merasakannya,” jawabnya. “Semua ini... keanehan yang terjadi sejak Mahesa pergi, seolah-olah dia masih berusaha berbicara kepada kita.”Malam itu, saat mereka tidur di rumah sederhana yang mereka bangun tak jauh dari Pohon Kehidupan, Arleta bermimpi. Dalam mimpi
Langit masih dihiasi semburat jingga saat Mahesa membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa ringan, namun hati dan pikirannya penuh dengan beban keputusan yang harus diambil. Pohon Kehidupan berdiri di depannya, memancarkan cahaya lembut, seperti sebuah lentera yang tetap menyala di tengah malam tergelap.Suara lembut Nyai Sekar memecah keheningan. "Mahesa, kau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Namun, perjalanan ini belum selesai."Mahesa menatap Nyai Sekar dengan mata penuh tekad. "Aku akan melakukan apa saja untuk melindungi dunia ini, meskipun itu berarti aku harus kehilangan segalanya."Nyai Sekar tersenyum tipis, tetapi kesedihan tampak di matanya. "Terkadang, melindungi berarti memilih untuk hidup dan bertahan, bukan mengorbankan segalanya. Kau harus belajar bahwa harapan tidak hanya berasal dari pengorbanan, tapi juga dari keberlanjutan perjuangan."Mahesa terdiam, hatinya bimbang. Ia tahu betul bahwa Bayangan Abadi masih menunggu untuk dihancurkan, namun pertanyaan
Arleta dan Mahen berdiri di tengah reruntuhan jembatan yang baru saja mereka lewati. Suasana sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar di antara kepulan debu dan kilauan cahaya samar dari Pohon Kehidupan yang kini mulai meredup. “Aku tidak bisa kehilangan dia lagi, Mahen,” kata Arleta, suaran
Mahen dan Arleta berdiri di depan gerbang besar yang bercahaya redup. Angin dingin menerpa wajah mereka, membawa bisikan halus seperti suara ribuan jiwa yang terperangkap di dalam. Di balik pintu itu adalah dunia yang tidak mereka kenal, namun takdir telah membawa mereka ke sini.Arleta menggenggam
“Mahesa...” bisik Arleta, langkahnya terhenti saat menatap putranya. Air mata mengalir deras di wajahnya. Wajah Mahesa, yang dulu ceria dan penuh cinta, kini tampak dingin dan tak berjiwa.Namun, apa yang lebih menusuk hatinya adalah tatapan kosong itu, tatapan yang tak lagi mengenalinya.“Pergi,”
Hari-hari setelah serangan Lirya berlalu dengan perlahan. Pohon Kehidupan masih berdiri tegak, meskipun aura yang dipancarkannya mulai melemah. Mahen dan Arleta semakin waspada, menyadari bahwa kekuatan gelap bisa menyerang kapan saja.Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Mahesa tidak lagi membe












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.