Mag-log inSetelah menimbang berulang kali, Juna akhirnya memutuskan untuk menemui Aluna di kamarnya. Rasa bersalah terus menghantui pikirannya, terutama setelah menyaksikan bagaimana ibunya dengan dingin melemparkan kata-kata tajam kepada gadis itu. Meski pernikahan mereka terjadi karena ancaman, Aluna kini adalah istrinya. Dan Juna tahu, suka atau tidak, gadis itu adalah tanggung jawabnya.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Aluna. Ia menghela napas panjang, mencob"Ayah, Ayo kita ke taman lagi.""Jangan sekarang ya, Nak""Ayah 'kan udah janji mau ajak Senna main ke taman lagi waktu itu. Tuh 'kan Ayah bohong!" Bibirnya bergetar hebat, dan akhirnya gadis kecil itu meneteskan air matanya juga.Juna menghela napas, ia sebenarnya tidak tega menolak menginginkan sang putri apalagi sebelumnya, dirinya memang telah menjanjikan hal tersebut, tapi mau bagaimana lagi? keadaan yang membuatnya tidak bisa menepati janji.Membelai kepala sang putri yang kini tengah menangis di atas kasur, Juna mencoba untuk bernegosiasi. "Maaf ya sayang, tapi Ayah janji kalo Bunda udah enakkan kita pergi ke taman lagi.""Bohong! Sekarang aja Ayah gak tepati janji. Senna gak suka sama Ayah. Hiks~"Juna tidak tahu harus bagaimana, satu sisi ia tidak ingin mengecewakan putrinya, namun satu sisi lagi ia juga tidak bisa meninggal istrinya dalam keadaan seperti ini.Namun kegalauan yang Juna rasakan tidak berlangsung lama sebab sang istri kemudian menitah. "Udahlah, Yah, ajak aja k
"Mau mampir dulu buat beli sesuatu gak, Bun?""Gak!"Liana langsung menjawab dengan ketus tawaran sang suami. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka sendiri, setelah siang ini Juna menjemputnya dari rumah Soraya.Juna menghela napas, ia tahu istrinya pasti marah karena semalam ia lebih memilih pulang untuk menemani Aluna ketimbang menginap di kediaman Soraya menemani Liana dan putrinya.Namun mau bagaimana lagi? Karena itu memang sudah menjadi hal yang harus Juna lakukan. Lelaki itu tidak boleh mengabaikan istrinya yang lain.Melirik ke samping, Juna menemukan wajah sang istri yang masam. Lelaki itu menghela napas kemudian tangan kirinya terulur untuk menyentuh bagian perut Liana. Ia mengelusnya pelan. "Bener nih gak mau beli apa-apa? Mangga muda gitu? Biasanya pas hamil gini, Bunda 'kan paling suka makan mangga muda. Bahkan dulu sampai nyetok banyak. Kata Bunda, mual kalo gak makan yang asem-asem."Liana menepis tangan suaminya, dan menyuruh laki-laki itu untuk fokus
Sakit. Mengapa sesakit ini?Dalam hidup, baru pertama kali Aluna merasakan bagaimana manisnya jatuh cinta, namun mengapa harus merasakan pahitnya juga?Aluna tahu bahwa dirinya salah, Aluna tahu bahwa apa yang tengah ia rasakan ini merupakan buah dari kesalahannya--yang dengan sengaja menyisipkan diri ke dalam rumah tangga sepasang suami-istri yang saling mencintai. Namun apakah Aluna benar-benar tidak berhak dan sama sekali tidak pantas untuk merasakan kebahagian walau hanya sekejap saja? Sejak kecil Aluna selalu merasa kesepian. Dari dulu Aluna selalu mendambakan hangatnya sebuah keluarga. Apa bisa Aluna merasakan mempunyai keluarga yang bahagia, diperhatikan, dan disayangi? Walau sekali saja, sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini? Aluna berharap semoga Tuhan berkenan mengabulkan keinginannya, mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali.Aluna menghapus lelehan air mata di pipinya, yang sudah sejak pagi tadi tidak henti untuk mengalir. Gadis tersebut beranjak dari ranjangnya, se
Sekitar tiga puluh menit, Juna baru bisa kembali menyusul Liana ke ruangan Jeniffer. Ada beberapa urusan yang harus ia tangani terlebih dulu sebelum menebus obatnya, salah satunya meminta izin pada kepala rumah sakit agar tugas untuk melaksanakan visite pada pasien digantikan oleh dokter jaga.Begitu membuka pintu ruangan Jeniffer, pemandangan yang Juna lihat di sana adalah Jeniffer yang berdiri di samping Liana yang terduduk sembari mengelus-elus punggung istrinya tersebut. Juna juga sempat melihat ada air mata yang menetes di pipi sang istri, sebelum buru-buru di hapus oleh wanita itu. Huh, sudah Juna duga, pasti istrinya itu baru saja menceritakan masalah rumah tangga mereka pada sahabatnya.Di sana tidak tampak sosok Theo, hanya ada Liana dan Jeniffer saja. Ingin rasanya Juna memarahi Theo karena tidak menuruti permintaannya, namun Juna teringat bahwa yang dihadapi itu adalah jenis singa betina yang sangat ganas, akhirnya Juna mengurungkan niat yang ingin memarahi Theo. Juna yaki
"Usianya empat minggu." ujar dokter Jennifer sambil membersihkan gel di perut Liana dengan lembut.Namun perhatian Juna tak tertuju pada penjelasan Jennifer. Pandangannya terpaku pada monitor di sebelah ranjang pemeriksaan, di mana gambar hitam putih menampilkan titik kecil yang berdenyut pelan. Detak jantung calon buah hatinya. Haru memenuhi dada Juna. Ada kehangatan yang menyeruak di balik segala beban yang selama ini menghimpitnya. Keajaiban kecil itu nyata, tumbuh dalam rahim istrinya, seolah menjadi pengingat akan cinta mereka.Jennifer kembali bersuara, sementara Juna dan Liana masih terpaku pada layar monitor. "Detak jantungnya bagus, semuanya normal. Untuk mual dan muntah yang Liana alami, itu wajar ya. Nanti aku kasih vitamin tambahan." "Oke, makasih, Jen," balas Juna singkat, sementara Liana hanya mengangguk dan tersenyum sebagai tanggapan. Sejak tadi Liana lebih fokus menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Dadanya sesak oleh rasa haru yang begitu mendalam. Tangannya
"Bagaimana Mas, apa kamu suka dengan nasi goreng buatanku?""Hhm ya, suka. Rasanya lumayan enak.""Syukurlah."Aluna tersenyum senang mendapati Juna yang memakan masakannya dengan lahap. Ternyata tidak sia-sia usahanya selama setengah jam berkutat di dapur.Namun berbeda dengan Aluna yang kini tengah bahagia, Liana justru tampak tidak suka melihat reaksi suaminya dan interaksi mereka. Wanita itu merotasikan bola mata dengan malas. Tuh 'kan benar dugaan Liana, Aluna membantunya serta merta hanya untuk mendapatkan pujian dari suami mereka. 'Dasar cari muka!'Mengabaikan pemandangan yang memuakkan di depan mata, Liana kembali mengayunkan sesendok nasi goreng yang tadi sempat tertunda ke dalam mulutnya. Namun baru saja nasi goreng itu mendarat di lidahnya, mendadak perut Liana bergejolak mual.Tidak tahu, mungkin karena rasa nasi goreng itu yang tidak sesuai selera Liana, atau memang karena interaksi suami dan madunya yang membuat Liana merasa mual dan ingin muntah? Tidak tahan, Liana l
Juna mengetuk pintu kamar Sienna. Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan, namun istri dan anaknya, sedari tadi belum kunjung ke luar juga.Juna khawatir, takut keduanya malah sakit akibat menahan lapar. "Bunda, Senna, makan dulu yuk, kalian 'kan belum makan apa-ap
Juna memasuki kamar sang anak, ia langsung disambut kalimat tanya dan tatapan tajam sang istri. "Ngapain kamu ke sini?!"Juna melangkah menghampiri anak dan istrinya yang berada di atas kasur, namun Liana lebih dulu beranjak dan mendekati suaminya, sehingga kini mereka berdiri
Meski kesal dan dalam keadaan suasana hati yang kacau, tapi Liana tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu segitu saja. Maka dari itu, dipukul empat sore ini, seperti biasa ia berkutat di ruang dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya."Sayang bantuin Bund
Entahlah, Liana sendiri tidak tahu, apakah keputusannya untuk tetap bertahan bersama Juna adalah langkah yang benar atau justru kesalahan yang akan semakin menyakiti dirinya di kemudian hari.Namun, jujur saja, selain Sienna, ada alasan lain yang membuatnya masih bertahan di tengah badai yang mengh







