ログインPagi di Labuan Bajo seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Tri, setiap embusan angin laut adalah bisikan ancaman. Setelah penemuan simbol "Faksi Kelinci" pada pelayan kapal semalam, Tri tidak lagi bisa memandang Adrian hanya sebagai suami. Pria itu kini adalah perisai sekaligus titik lemahnya. Jika Adrian tahu bahwa pamannya, Robert, adalah penyokong dana riset yang menghancurkan hidupnya, pernikahan mereka akan meledak sebelum bulan madu berakhir.
Tri duduk di geladak kapal, menyesap kopi hitam tanpa gula, kebiasaan barunya untuk memastikan lidahnya tidak mati rasa oleh senyawa asing. Di pangkuannya, sebuah tablet kerja milik yayasan yang diberikan Adrian kemarin sore tergeletak terbuka."Bagaimana, Sayang? Laporan awal yayasan tidak terlalu membosankan, kan?" Adrian menghampirinya, mengenakan kemeja linen putih yang tampak kontras dengan kulitnya yang terbakar matahari.Tri tersenyum lebar, jenis senyum yang dulu ia gunakan untuk memanipulasi Sarah diUdara di dalam ruang analisis yang terkunci mendadak terasa sedingin es. Tri berdiri terpaku di depan monitor, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan sosok di koridor luar. Sosok itu, seorang wanita yang secara anatomi identik dengan dirinya berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap inci wajahnya, dari lekuk rahang hingga garis mata, adalah cerminan sempurna dari Tri, namun ada sesuatu yang sangat salah pada tatapannya. Matanya yang sepenuhnya hitam pekat, tanpa selaput putih, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang menyedot cahaya di sekitarnya."Dina! Adrian! Apakah kalian mendengarku?" Tri berteriak ke arah interkom, namun hanya suara dengung statis yang kembali padanya."Mereka tidak bisa mendengarmu, Kakak," suara dari pengeras suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jernih, membawa nada ejekan yang dingin. "Mereka sedang sibuk menjinakkan resonansi di dek bawah, sebuah distraksi kecil yang kuberikan agar kita bisa bicara... dari
Suara dengung rendah yang keluar dari lantai kapal induk Harapan Kita bukan lagi sekadar getaran mesin, itu adalah sebuah frekuensi yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang. Di dalam ruang analisis yang kini hanya diterangi oleh lampu darurat merah yang berkedip, Tri merasakan sensasi seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang dipaksa untuk bergetar pada ritme yang sama. Sistem komputer di hadapan mereka membeku, menampilkan serangkaian simbol Sanskerta yang terus berputar-putar seperti pusaran air yang tak berujung."Sistem kendali utama terkunci total," teriak Dina sambil memukul meja kontrol yang tak lagi merespons. "Ini bukan serangan siber biasa. Mereka mengirimkan pulsa elektromagnetik melalui air yang disinkronkan dengan struktur baja kapal ini. Lambung kapal kita sekarang berfungsi sebagai antena raksasa untuk Raihan!"Adrian mencoba menghubungi anjungan melalui radio taktis di bahunya, namun yang terdengar hanyalah suara statis yang sesekali berubah menja
Udara di dalam ruang arsip digital terasa semakin menipis seiring dengan bertambahnya beban kebenaran yang baru saja terungkap. Tri masih berdiri terpaku, jemarinya perlahan menyentuh bahu kirinya sendiri, seolah bisa merasakan tanda lahir berbentuk bintang itu menembus kain pakaiannya. Pengakuan bahwa ia adalah darah daging Saraswati Harahap telah mengubah segalanya, ia bukan lagi seorang pengamat atau korban yang tak sengaja terseret, melainkan pusat dari lingkaran setan yang diciptakan oleh ambisi dua keluarga besar.Adrian duduk di kursi operator, wajahnya terkubur di balik kedua telapak tangannya. "Jika ayahku melakukan ini pada adiknya sendiri... lalu siapa aku di matamu sekarang, Tri? Apakah aku hanya anak dari seorang jagal yang sedang mencoba membasuh tangan yang berlumuran darah?"Tri tidak menjawab. Pikirannya sedang berkelana di dalam labirin data yang masih berkedip di layar monitor. "Berhentilah merasa bersalah untuk dosa yang tidak kau lakukan, Adria
Ruang analisis data di kapal induk Harapan Kita telah diubah menjadi sebuah ruang gelap yang dipenuhi oleh ribuan partikel cahaya mikroskopis. Teknologi proyeksi holistik milik yayasan menciptakan pemandangan yang fantastis.Struktur molekul Varian 4-B melayang-layang di udara, sebesar bola basket, dengan untaian DNA yang berpendar ungu seperti rasi bintang yang terjebak di dalam ruangan. Di tengah pusaran cahaya ini, Tri berdiri tanpa alas kaki, kedua tangannya bergerak di udara seolah-olah sedang menenun benang-benang cahaya yang tidak terlihat.Adrian berdiri di tepi ruangan, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia melihat Tri bukan lagi sebagai seorang dokter, melainkan sebagai seorang dirigen yang sedang memimpin orkestra genetika. Setiap gerakan tangan Tri mengubah susunan data spektral yang diekstraksi dari drive Arka-V. Rambutnya yang masih sedikit lembap berkilauan tertimpa cahaya ungu, dan matanya memancarkan fokus yang begitu tajam hingga t
Keheningan di ruang analisis data terasa begitu pekat hingga suara detak jantung Tri seolah menggema di dinding-dinding logam kapal induk. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan dokumen kelahiran itu memantul di kornea mata Tri, memberikan efek pendar kebiruan yang dingin pada wajahnya yang kaku. Nama yang tertera di sana Saraswati harahap bukan sekadar deretan huruf bagi Adrian. Itu adalah nama bibinya, adik kandung ayahnya yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat tragis dua puluh tahun silam."Saraswati..." suara Adrian bergetar, nyaris seperti embusan angin. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menghantam meja kontrol. "Dia... dia adalah adik ayahku. Dia seharusnya sudah tidak ada."Tri membalikkan tubuhnya perlahan, matanya yang tajam kini dipenuhi oleh kabut kebingungan dan kemarahan yang tertahan. "Jika dia ibuku, Adrian, maka eksperimen Batch 04 ini bukan sekadar proyek riset acak. Ini adalah pembersihan silsilah. Raihan tidak hanya
Lampu-lampu dek luar kapal induk Harapan Kita berpendar kuning temaram, membiaskan cahaya di atas permukaan laut yang kini tampak lebih tenang setelah menelan Arka-V. Di sudut area observasi medis yang terbuka, Tri duduk di sebuah kursi lipat baja, tubuhnya terbungkus selimut termal perak yang berisik setiap kali ia bergerak. Rambutnya masih lembap oleh air garam, dan wajahnya yang pucat tampak semakin kontras di bawah siraman cahaya bulan. Ia menatap kosong ke arah cakrawala, membiarkan angin malam menyapu sisa-sisa trauma dari paru-parunya.Suara langkah kaki yang teratur mendekat dari arah koridor dalam. Tri tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Adrian berjalan mendekat, membawa nampan kecil berisi dua cangkir logam yang mengepulkan uap panas. Ia sudah mengganti pakaian taktisnya yang basah dengan kemeja flanel gelap yang tampak terlalu santai untuk situasi genting ini, namun matanya masih menyimpan sisa-sisa kecemasan yang mendalam."Minumla







