Home / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 81: Fajar di Atas Reruntuhan

Share

Bab 81: Fajar di Atas Reruntuhan

Author: Alyantha_Z
last update publish date: 2026-01-17 10:00:27

Jakarta tidak lagi memiliki suara latar yang teratur. Suara dengung statis dari papan iklan digital yang mati total bercampur dengan jeritan sirene manual dan dentuman ledakan dari trafo listrik yang meledak satu per satu. Di atas permukaan, kota ini sedang mengalami kegelapan total, namun di bawah tanah, di lorong-lorong pelarian menuju pelabuhan tikus, Tri sedang memikul beban yang lebih berat dari sekadar raga manusia.

"Tahan sedikit lagi, Adrian. Jangan tutup matamu," bisik Tri,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Persinggahan   Bab 136: Di Dalam Rahim Kaca

    Pintu baja raksasa itu berderit terbuka dengan suara yang menyerupai rintihan logam, mengungkapkan sebuah ruang silinder raksasa yang membentang jauh ke bawah fondasi Monas. Cahaya di dalam ruangan ini tidak berasal dari lampu, melainkan dari ribuan tabung berisi cairan berpendar yang tersusun melingkar seperti saraf-saraf tulang belakang. Di tengah ruangan, menggantung sebuah tangki kristal berbentuk oval yang dihubungkan oleh ribuan kabel fiber optik transparan yang berdenyut dengan irama jantung yang berat."Selamat datang di pusat penciptaan, Tri," suara Silas bergema dari segala arah, dingin dan tanpa emosi, disiarkan melalui sistem saraf ruang itu sendiri.Tri melangkah maju, kakinya gemetar. Di dalam tangki kristal itu, ia melihat sosok yang selama ini menjadi misteri. Bukan seorang monster, melainkan seorang gadis kecil yang tampak tertidur dengan damai. Namanya Elisa. Namun, ia tidak benar-benar ada di sana sebagai manusia. Tubuhnya adalah campuran antara sirkuit emas dan jar

  • Gadis Persinggahan   Bab 135: Limbah Kesadaran

    Bau amonia yang menyengat dan uap sulfur menyambut Tri saat ia menuruni tangga besi menuju jaringan gorong-gorong raksasa di bawah Jakarta Utara. Di sini, kegelapan tidaklah mutlak; dinding-dinding beton yang berlumut memancarkan pendaran hijau pucat dari limbah kimia nanit yang bocor dari laboratorium Silas di permukaan. Air hitam setinggi lutut mengalir perlahan, membawa serpihan-serpihan sirkuit dan fragmen memori yang terbuang."Tetap di jalur beton, Tri. Jangan sampai air itu menyentuh kulitmu," Bayu memperingatkan sambil memegang senapan pengacau sinyalnya dengan waspada. "Nanit di bawah sini sudah liar. Mereka tidak memiliki instruksi, mereka hanya mencoba menyatu dengan apa pun yang mereka sentuh."Aria berjalan di antara mereka, wajahnya ditutupi masker respirator tua. Ia terus menatap ke arah terowongan yang gelap, tangannya sesekali gemetar. "Dokter... di depan sana... banyak yang berteriak tanpa suara. Mereka terjebak di antara ada dan tiada."

  • Gadis Persinggahan   Bab 134: Arsip yang Berdarah

    Bau debu dan ozon memenuhi laboratorium bawah tanah yang tersembunyi di bawah Dermaga Lama. Lampu-lampu pijar berwarna kuning redup mulai menyala satu per satu, memberikan siluet pada deretan server tua yang tidak lagi menggunakan serat optik, melainkan kabel-kabel tembaga tebal yang dilapisi timah. Di tengah ruangan, sebuah monitor tabung berukuran besar berkedip-kedip, menampilkan antarmuka sistem operasi yang sangat kuno."Ini adalah teknologi air-gapped," Bayu menjelaskan sambil mengunci pintu baja di belakang mereka. "Tidak ada Wi-Fi, tidak ada Bluetooth, tidak ada celah bagi Silas untuk menyusup ke sini. Tempat ini adalah sebuah pulau analog di tengah samudera digital Jakarta."Tri meletakkan Aria di atas sofa kulit yang sudah pecah-pecah. Anak itu tampak kelelahan, namun matanya tetap tertuju pada monitor utama. Tri mendekati meja kerja yang dipenuhi dengan catatan tulisan tangan Adrian—sebuah pemandangan yang menyayat hatinya. Di tengah tumpukan kertas itu,

  • Gadis Persinggahan   Bab 133: Kota yang Bermimpi

    Truk lapis baja yang dikendarai Bayu melompat melewati tumpukan rongsokan mobil di gerbang masuk Jakarta Utara dengan suara hantaman logam yang memekakkan telinga. Tri terlempar ke dinding kabin yang sempit, tangannya tetap mendekap Aria yang masih tak sadarkan diri. Di balik jendela kecil yang diperkuat baja, Jakarta tampak seperti pemandangan dari dimensi lain. Kota ini tidak lagi gelap; ia justru berpendar dengan cahaya neon biru dan ungu yang merambat di sepanjang kabel-kabel listrik yang menjuntai seperti tentakel raksasa."Jangan lihat langsung ke cahaya itu, Tri!" Bayu berteriak sambil memutar kemudi dengan kasar untuk menghindari sebuah tiang lampu yang tiba-tiba melengkung ke arah mereka. "Silas tidak lagi menggunakan layar. Dia menggunakan modulasi cahaya untuk mengirimkan perintah langsung ke saraf optik siapa pun yang melihatnya!"Bayu tampak lebih kurus, wajahnya penuh dengan luka goresan baru, dan ia mengenakan kacamata khusus berlapis timbal yan

  • Gadis Persinggahan   Bab 132: Katup yang Retak

    Ledakan uap panas menyembur dari pipa-pipa di sepanjang koridor, menciptakan kabut putih yang membutakan penglihatan. Alarm mekanis bunker meraung dengan nada rendah yang menggetarkan tulang, sebuah tanda bahwa sabotase yang dilakukan Tri pada panel kontrol utama telah memicu reaksi berantai pada sistem pemancar interferensi milik Elian. Di tengah kekacauan itu, Tri berlari sambil menggendong Aria, kakinya tergelincir di atas lantai besi yang mulai basah oleh kondensasi uap."Dokter... panas..." rintih Aria, tangannya mencengkeram erat bahu Tri.Tri tidak berani berhenti. Di belakang mereka, suara langkah kaki yang berat dan berirama logam terdengar semakin dekat. Itu bukan langkah kaki manusia biasa; itu adalah "Pemburu Uap" anggota faksi Elian yang telah mengganti tungkai mereka dengan piston hidrolik bertenaga uap bertekanan tinggi. Mereka tidak butuh penglihatan digital untuk melacak Tri, mereka mengikuti perubahan suhu udara dan getaran lantai yang diakibatkan

  • Gadis Persinggahan   Bab 131: Hantu di Koridor Beton

    Uap panas yang berbau minyak pelumas dan besi berkarat menyambut Tri saat ia melangkah masuk ke dalam aula utama bunker bawah tanah yang tersembunyi di balik gua pesisir utara. Di sini, suara detak jam mekanis yang raksasa bergema, menenggelamkan suara ombak yang masih terngiang di telinga Tri. Tempat ini bukan sekadar bunker, ini adalah sebuah pabrik bawah tanah yang hidup, sebuah anomali mekanis yang bertahan di era digital."Bawa mereka ke ruang dekontaminasi biologis! Cepat!" suara itu terdengar tegas, berwibawa, dan sangat familier.Tri mendongak, matanya masih perih karena air garam. Di atas balkon besi yang melintang di langit-langit aula, berdiri seorang pria mengenakan jas laboratorium yang kusam dan penuh noda oli. Pria itu memegang sebuah papan klip kayu bukan tablet digital. Saat ia menunduk dan menatap Tri, waktu seolah berhenti berputar."Dokter Elian?" bisik Tri, suaranya hampir hilang karena terkejut.Elian adalah mentor Tri di Rumah Sakit Pusat Jakarta sebelum Proyek

  • Gadis Persinggahan   Bab 100: Resonansi Sang Lazarus

    Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun malam ini, kota itu terbangun dalam jenis kengerian yang berbeda. Klinik Nurani kini hanya menyisakan puing-puing hitam yang berasap, sebuah monumen bagi kebencian manusia yang gagal diredam. Di tengah kekacauan itu, Tri berdiri di tepi dermaga utara,

  • Gadis Persinggahan   Bab 99: Serbuan Darah Murni

    Langit di atas pinggiran Jakarta sore itu berwarna merah tembaga, seolah-olah alam sedang memberikan peringatan akan pertumpahan darah yang mendekat. Di Klinik Nurani, suasana yang biasanya tenang oleh senandung para replika yang sedang belajar berbicara kini berubah menjadi tegang. Tri berdiri d

  • Gadis Persinggahan   Bab 98: Klinik Nurani dan Pencarian Identitas

    Tiga minggu telah berlalu sejak fajar di Pelataran Merdeka menyapu sisa-sisa tirani Raihan Azizi. Jakarta tidak lagi dibalut oleh cahaya ungu yang mencekam, namun kota ini juga belum sepenuhnya pulih. Di sebuah kompleks bangunan tua di pinggiran Jakarta yang dulunya merupakan pusa

  • Gadis Persinggahan   Bab 97: Fajar di Pelataran Merdeka

    Asap hitam tipis membubung dari puncak Monumen Nasional, namun tugu marmer itu tetap berdiri tegak, membelah langit Jakarta yang mulai memutih oleh fajar. Ledakan yang terjadi beberapa saat lalu bukanlah ledakan fisik yang meruntuhkan beton, melainkan ledakan elektromagnetik terkendali yang mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status