MasukDiandra menunduk, sebagian wajahnya tertutup masker,memperhatikan mas Priyanto yang sibuk menyolder liontin sepasang angsa. "Mbak , sudah menempel sempurna tanpa celah," Diandra membungkukkan badannya, mengambil jepitan melihat keseluruhan,"Lebih bagus nempel nya," ujar Diandra. "Bisakah saya ampelas sambungannya?" tanya mas Priyanto. "Silahkan, saya ingin melihat hasilnya." Dengan lembut mas Priyanto mulai mengempelas liontin angsa , Diandra menegakkan tubuhnya,"Saya ke ruang kerja, nanti saya balik." ujar Diandra lalu membalikkan tubuhnya. Di depan pintu berdiri pak Mihardo menatap ke arah Diandra, wajahnya terlihat menahan amarah. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya . Suara bariton pak Mihardo terdengar dengan nada tinggi. Diandra tidak merespons, malah akan melewati pak Mihardo. Mas Priyanto yang sedang sibuk mengempelas mengangkat mukanya,"Eh, bapak...." "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya lagi. "Saya tadi ngelas liontin, sekarang saya amplas area sambungan b
Diandra dan Rieke tidak melanjutkan tidur mereka yang tertunda. Mereka duduk di sofa tanpa berkata-kata, Diandra sudah mulai tenang, Rieke sibuk dengan kukunya. Mbak Kinasih sudah di kamar meneruskan tidurnya ketika Hafid meminta mereka meninggalkan ruang tamu sewaktu pak Mihardo datang ke mess mereka. "Uh... sudah pagi,mau minum kopi? tanya Rieke. "Diandra menengok ke jam dinding,"Baru jam lima pagi, terlalu pagi untuk minum kopi." "Ok. Aku bikin untuk diriku sendiri," ujar Rieke lalu berdiri. "Rieke, bisakah kamu duduk sebentar,aku ...mmm.. mau cerita tentang masa laluku." Rieke menatap wajah Diandra,"Apakah hatimu sudah siap?" Diandra mengangguk,"Satu syarat yang aku minta, biarkan aku mengeluarkan semua luka -luka lama dan aibku , jangan kamu interupsi. Sesudahnya silahkan sikapmu terhadap aku, memakiku tidak bermoral, terserah! " "Ok. Aku siap mendengarkan dan mengunci mulutku rapat -rapat." Ujar Rieke. Diandra duduk tegak, sejenak terdiam, berusaha menata hatin
Diandra terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering,'Apakah aku bermimpi? Semalam terasa nyata,aku merasakan kenikmatan meskipun tidak mencapai puncak.' Tangannya mengambil tumbler, ternyata kosong "Uhh,aku lupa mengisinya,"ujarnya lalu berdiri meninggalkan ranjang keluar kamar menuju ke pantri. Keisengan nya muncul ingin melihat keadaan mess utama,jam di dinding ruang tamu menunjukkan jam 01.15.Perlahan menuju ke jendela, menyibak tirai terlihat teras mess utama gelap. Di penjar remang -remang dilihatnya api rokok, "Hum... mungkin satpam menjaga mess utama,"bisik Diandra lalu akan menutup tirai. Tangannya tiba-tiba berhenti sejenak ketika terdengar suara batuk. Diandra kembali menyibak tirai memperhatikan sosok yang duduk di teras yang masih terbatuk-batuk disertai nafas tersengal-sengal. "Oh.. Tuhan! Mengapa dia duduk di teras mess utama? " bisik Diandra. Pikiran liar Diandra mulai keluar dari benaknya,"Mungkin dia menjaga Gracela dan ibu Iswara dari amukan para
Kejadian di mess utama berlalu begitu saja, tidak nampak ada pembicaraan di kalangan karyawan pabrik. Demikian juga Hafid tidak menceritakan bagaimana pak Mihardo setelah diciduk . 'Hum, pasti hafid mengunci mulut para satpam dengan uang. Ciri khas keluarga Kartamihardo.' batin Diandra. Diandra, Rieke dan mbak Kinasih juga tidak lagi membicarakannya karena Diandra dan Rieke sibuk mempersiapkan pameran berikut nya. Rieke sedang sibuk membuat pemodelan 3D, di komputer untuk menghasilkan model digital 3D agar presisi dari segala sudut. Diandra bersama mas Priyanto sibuk menyolder perhiasan gantungan kalung dan gelang dua angsa untuk dijadikan satu diperlukan ketelitian., mereka melakukannya berkali-kali sampai keduanya merasa puas setelah dua angsa bersatu membentuk simbol love. Jam sudah menunjukkan jam delapan malam," Mas Pri, matur nuwun sudah temani saya. Besok kita lanjutkan lagi," ujar Diandra. "Nanti saya yang catat jam lemburnya mas "ujar Diandra. Diandra mengambi
Penyakit insomnia Diandra kembali kambuh teringat kejadian tadi siang di ruang kerja pak Mihardo .Diandra gelisah ada keinginannya keluar untuk minum wine agar bisa tidur. Gestur tubuh Feliks tidak berdaya berhadapan dengan ibu Iswara serasa menikam hatinya yang terdalam,'Rasanya aku tidak rela Feliks seperti itu. Selama bersama Feliks selalu punya power bahkan dalam... bercinta dia menunjukkan bahwa dirinyalah yang berkuasa atas tubuhku,' batin Diandra. 'Benar kata Hafid, mereka berdua ingin menguasai perusahaan. Tentunya yang pertama mereka lakukan adalah menguasai Feliks, menancapkan kuku -kuku mereka di bahu Feliks yang kemudian menunduk dan menyerahkan perusahaan kepada mereka.' batin Diandra. 'Apakah aku mengikuti saran Hafid? Membuka pikiran dan emosinya yang terblokir? Apakah kecelakaan mobil yang membuatnya demikian atau ada tangan tak kasat mata yang membuatnya?'batin Diandra. "Apa yang harus aku perbuat? Membiarkan atau membuka nya? Membiarkan berarti dalam cengkeram
Ruang kerja para desainer perhiasan terdengar suara arogan Gracela yang terdengar sampai diluar. Diandra dan Rieke menunduk seolah -olah mendengar ceramah nya. Diandra sibuk membuat sketsa, Rieke mempermainkan kukunya yang panjang berlapiskan aneka warna kuteks. "Kita akan go internasional, buatlah sketsa dimana para bule tertarik dengan perhiasan perak buatan kita." "Bu Gracela menurut saya bukan saja sketsa tapi kualitas perhiasan sangat menentukan," ujar Diandra. "Jangan sombong kamu, merasa lulusan Jerman. Kuliah mu fokusnya teori bukan praktek.Apa yang kamu tahu tentang kualitas perhiasan? Belagu!Aku di Singapura belajar bertahun-tahun teori dan praktek perhiasan perak. Tuh! lihat sertifikat yang aku gantung di dinding,jelas,-jelas menunjukkan aku lebih berkualitas dari kamu, tidak belagu seperti dirimu." Diandra tersenyum mendengarnya teringat kembali perkataan Hafid bahwa sertifikat yang dibangga -banggakan sertifikat palsu. "Kualitas perhiasan penting, yang lebih pent
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl
"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria itu sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria itu tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguy







