LOGINAnton lalu menatap Kieran. “Dan kamu datang bersama Kieran Voss?”Kieran tidak bereaksi.Anton tersenyum. “Menarik!”“Kenapa?” tanya Alena. “Karena dulu orang-orang takut pada nama Volkov,” ucap Anton lalu ia berhenti. “Sekarang mereka akan lebih takut ketika nama Volkov berdiri bersama Kieran!”Kieran berkata datar. “Kami tidak mencari perang,”Anton tertawa kecil. “Tidak ada seorang pun yang mencari perang,” Ia menatap mereka.“Peranglah yang mencari mereka,”Anton kemudian memberikan sebuah map.“Ini adalah daftar orang yang masih memiliki akses terhadap jaringan lama Volkov,”Alena membukanya ternyata isinya ada puluhan nama, sebagian sudah meninggal, sebagian menghilang dan sebagian lainnya masih aktif.Namun satu nama itu ada yang membuat Alena berhenti, yaitu Samuel Ardent.“Dia ada di sini?” tanya Alena sembari menunjuk nama tersebut. Anton mengangguk. “Samuel bukan pengkhianat,”“Lalu kenapa dia menghilang?” tanya Alena. “Karena dia tahu terlalu banyak,” jelas Anton. Alen
“Mama janji…,” Alena mengusap rambut William. “Tidak akan ada siapa pun yang akan mengambil keluargamu,”Alena menatap wajah kecil itu dan tanpa sadar air matanya jatuh. Namun kali ini bukan air mata ketakutan, karena ada sesuatu yang lebih kuat di dalam dirinya yaitu sebuah tekad.Lalu Alena berdiri dan keluar dari kamar, ternyata Kieran sudah menunggu dirinya. “Besok,” kata Kieran. Alena menatapnya. “Kita akan mulai mencari Samuel?”“Ya,” jawab Kieran. “Dan setelah itu?” Alena mengambil foto keluarganya. “Kita juga akan cari orang yang menghancurkan keluarga Volkov!”Kieran mengangguk.Alena memandang foto Richard, Eleanor, dan Adrian.“Papa, Mama, Adrian…,” Alena lalu mengusap wajah mereka satu per satu. “Tunggu aku!”Kemudian Alena menatap Kieran. “Aku akan membawa kalian pulang!”Bahkan malam itu, tanpa senjata di tangannya, tanpa pasukan di belakangnya, Alena sudah membuat keputusan yang kelak akan mengguncang dunia mafia.Alena tidak akan lagi bersembunyi dari nama Volkov, i
“Sepertinya ada yang berbeda?” kata Kieran. Alena melihat ke depan, di dekat pagar rumah mereka terdapat sebuah mobil yang tidak dikenalnya. “Siapa itu?”“Aku tidak tahu,” Kieran mematikan lampu mobil.Mereka berhenti beberapa meter dari rumah.Alena mulai cemas. “William?”“Tenang lah,” Kieran mengambil ponsel dan langsung menelpon dalam satu panggilan.Tidak lama kemudian seseorang menjawab.“Tuan, anak masih aman!”Kieran mengembuskan napas lega. “Bagaimana situasinya?”“Tidak ada yang masuk,” kata Jaxon dalam telepon. Alena mendengar semuanya. “Berarti mereka hanya mengawasi?”“Sepertinya iya,” jawab Kieran lalu menatap mobil asing itu. “Dan itu justru yang lebih berbahaya!”Alena terdiam dan mereka tidak langsung masuk, Kieran meminta salah satu orang kepercayaannya untuk memeriksa sekitar rumah.Beberapa menit berlalu hingga kemudian ada laporan yang datang, tidak ada siapa-siapa dan rupanya mobil itu kosong.Namun di kaca depannya terdapat sebuah amplop, Kieran segera mengamb
Tatapan Kieran langsung berubah. “Aku tidak sedang bermain!”Suara Kieran berubah rendah. “Aku pernah hidup di dunia itu,” ucap Kieran lalu ia melangkah maju. “Dan aku tahu persis bagaimana orang-orang seperti kalian berpikir!”Ketiga pria itu saling memandang.Alena akhirnya turun dari mobil. “Kieran?”Kieran langsung menoleh dan Alena mulai berjalan mendekat.Pria tadi langsung menatapnya. “Alena Volkov!”Alena berdiri tegak. “Siapa kalian?”“Kami ingin menyampaikan sebuah pesan!” kata pria itu. “Dari siapa?” tanya Alena. Pria itu terlihat mengeluarkan amplop. “Raven!”Alena mengambilnya lalu ia membuka perlahan, hanya ada satu kalimat. “Jangan datang terlambat! Samuel sedang diburu,”Alena menatap Kieran kemudian kembali melihat ketiga pria itu. “Di mana Samuel?”“Kami tidak tahu!” kata mereka. “Lalu kenapa kalian mengikuti kami?” tanya Alena. “Kami diminta untuk memastikan kamu sampai ke sana!” kata pria itu. Alena mengerutkan keningnya. “Raven membantu kita?”Pria itu mengg
Lalu Alena memasukkan ponselnya ke saku."Aku tidak peduli siapa saja yang berdiri di balik semua ini!”Kieran masih diam.Kemudian Alena perlahan menatap langit senja. "Aku akan menemukan Samuel!”"Dan setelah itu, mau bagaimana?" tanya Kieran. Alena kemudian menggenggam buku catatan milik ayahnya. "Setelah itu aku akan mencari kebenaran tentang keluargaku!”Tatapan Alena perlahan berubah tegas. "Keluarga Volkov tidak akan selamanya menjadi nama seorang tahanan!”Alena menarik napas. "Mereka masih keluargaku!”Bahkan untuk pertama kalinya sejak semua kehancuran itu dimulai, Alena merasa dirinya bukan sedang mengejar masa lalu.Justru Alena sedang berjalan menuju rumah yang selama ini dirampas darinya dan di tempat lain, Samuel sedang menutup tirai jendelanya.Dia tahu bahwa Alena akan datang dan ketika hari itu tiba, sebuah rahasia yang telah dikuburnya selama bertahun-tahun akhirnya harus dibuka.Rahasia tentang siapa yang sebenarnya menjatuhkan dan dalang keluarga Volkov selama in
Pagi kembali datang tanpa banyak suara dan kabut tipis masih menggantung di udara, juga di antara pepohonan ketika Alena mulai membuka mata. Cahaya matahari ikut menyelinap masuk melalui celah tirai, mulai jatuh perlahan di lantai kamar.Di sampingnya, Kieran sudah tidak ada. Namun di atas meja kecil terdapat secangkir coklat hangat dan selembar kertas.“Aku menunggu di luar, jangan pergi sendirian,”Alena tersenyum tipis, bahkan dalam keadaan seperti ini, Kieran masih sempat mengkhawatirkannya.Alena merapikan rambutnya sebentar, lalu keluar. Ternyata Kieran sudah berdiri di halaman dengan pakaian sederhana. Tidak ada jas hitam, tidak ada pengawal, tidak ada tanda bahwa pria itu pernah menjadi salah satu sosok yang paling ditakuti di dunia mafia.Hanya terlihat seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya."Sudah siap?" tanya Kieran. Alena mengangguk. "Sudah,”"Kamu yakin, Al?" tanya Kieran kembali. Alena menatapnya. "Kali ini aku tidak ingin mundur!”Kieran tidak bisa ber
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K







