เข้าสู่ระบบ“Mulai sekarang, kamu jangan pergi sendirian ya,” perintah Kieran. Alena mengangguk. “Kieran…,”“William juga!” sambung Kieran. “Bagaimana denganmu?” tanya Alena. “Aku?” Kieran hanya tersenyum tipis lalu menatap jalanan desa. “Aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani mendekati kalian!”Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna hitam berhenti. Seorang pria turun dan menundukkan kepala.“Tuan!” panggil Jaxon. Kieran menatapnya. “Bicaralah!”“Kami menemukan siapa yang mengikuti William!” ucap Jaxon. Kieran terdiam. “Siapa?”Jaxon menelan ludahnya. “Orang suruhan Viktor!”Kieran mengepalkan tangannya dengan erat, tapi kali ini ia tidak langsung marah. Kieran justru tersenyum, senyum yang membuat anak buahnya merinding.“Kalau begitu…,” Kieran menatap langit yang sudah mulai gelap. “...permainan sudah selesai!”Kieran memandang Alena. “Sekarang giliran kita untuk menyerang!”Alena menjadi sangat takut dan khawatir, karena takut masa lalunya terulang lagi. Suara tembakan dan
Begitu pintu mobil tersebut terbuka, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun dan langsung menundukkan kepala.“Tuan,” salam dari Jaxon. Kieran menatapnya. “Sudah berapa lama kamu menunggu?”“Sejak subuh,” kata Jaxon. “Bagaimana keadaannya?” tanya Kieran. “Semua orang sudah siap Tuan,” jawab Jaxon. Kemudian Kieran masuk ke mobilnya. “Cari gudang tua itu!”“Sudah Tuan,” jawab Jaxon. “Lalu?” tanya Kieran. Jaxon kemudian menyerahkan sebuah map pada Kieran. “Ini ditemukan saat di sana Tuan,”Kieran membukanya, rupanya isinya adalah sebuah foto-foto lama. Foto rumah dan keluarga Alena, juga foto ayah Alena dan sebuah foto yang membuat Kieran terdiam.Seorang pria tua yang sedang menyerahkan sebuah kotak kepada seseorang, di belakangnya foto itu tertulis sebuah tanggal sejak lima belas tahun yang lalu. Kieran mengamati wajah pria dalam foto tersebut. “Siapa dia?”“Belum diketahui Tuan,” ucap Jaxon. “Cari,” perintah Kieran. “Baik,” Ahawab Jaxon. Lalu Kieran mengambil fo
Kieran langsung berjongkok. “Bagaimana di sekolah tadi?”“Seru!” jawab William kemudian menunjukkan sebuah gambar yang ia bawa. “Ini gambar keluarga kita Pa,”Kieran melihat kertas itu dengan senyuman, ada tiga orang yang berada di dalam foto. Yaitu dirinya, Alena juga William. Gambar tersebut memperlihatkan jika ketiganya sedang berpegangan tangan, di atasnya terdapat sebuah matahari yang besar.Kieran tersenyum dan langsung mengelus kepala William dengan lembut. “Bagus!” “Papa suka?” tanya William“Papa sangat suka, Sayangg! ucap Kieran. William memeluknya dengan erat, tanpa diketahui William, mata Kieran sempat memerah.Kieran memandangi gambar itu sekali lagi, kemudian melipatnya dengan sangat hati-hati.“Papa simpan ya! William mengangguk. Malamnya, Alena sedang menyisir rambut William sebelum tidur.Lalu Kieran berdiri di ambang pintu. “Al,”Alena menoleh. “Ya?”“Mereka tidak akan datang lagi untuk sementara!” ucap Kieran. Alena menatapnya dengan penuh harap. “Kamu yakin,
“Ikuti mobil putih itu! Jangan menyentuh siapa pun sebelum aku memberi perintah,” pesan yang Kieran kirim. Tidak sampai satu menit, balasan sudah masuk. “Siap, Tuan!”Kieran kembali memasukkan ponselnya ke saku. Dulu, ia akan langsung menghabisi orang-orang yang mencurigakan tapi sekarang sudah berbeda.Karena ia sudah memiliki Alena juga William, Ia tidak boleh bertindak sembarangan lagi. Tetapi itu bukan berarti menjadikannya lemah.Justru sebaliknya, karena Kieran belajar bahwa melindungi keluarga terkadang juga membutuhkan kepala yang dingin.___Di dalam mobil berwarna putih, dua orang pria sedang berbicara. “Anaknya sudah masuk sekolah!”“Bagaimana dengan Kieran?” tanya Viktor. “Masih di gerbang!” ucap pria itu. “Bagus!” Viktor yang duduk di kursi belakang pun tersenyum. “Berarti kita bisa mulai!”Kemudian Viktor mengeluarkan sebuah map, di dalamnya terdapat dokumen mengenai desa. Tanah, rumah warga dan sebuah nama yaitu Alena.“Bos ingin perempuan itu?” tanya anak buahnya.
“A– aaku... tidak tahu,” kata mereka. Kieran kembali mencengkeram tangannya lebih kuat lagi. “Kamu hanya punya waktu tiga detik!”Pria itu mulai panik. “B– bbos kami hanya … meminta tanah ini!”“Namanya!” tanya Kieran. “V– vviktor,” ucap pria itu. Kieran membeku, nama itu membuat ekspresinya berubah.‘Viktor,’ gumam Kieran. Nama yang seharusnya sudah lama terkubur, seseorang dari masa lalu dunia gelapnya. Seseorang yang tidak pernah datang tanpa membawa kematian.Kieran melepaskan pria itu, kemudian ia berdiri. “Pulang!”Pria itu bingung. “Apa?”“Katakan kepada Viktor…,” Kieran mendekat. “...kalau dia ingin mengambil sesuatu dariku, datang sendiri!”Pria itu menelan ludah. “Tapi…,”“Dan jangan pernah mendekati rumahku!” ucap Kieran tatapannya semakin gelap. “Karena kalau kamu menyentuh Alena atau William sekali saja, aku tidak akan memberimu kesempatan kedua!”Malam itu, Alena duduk di ruang tengah dan William sudah tertidur. Namun Alena belum bisa memejamkan matanya. Kieran baru
William mengangguk senang, kemudian ia kembali berlari menuju arah ombak. Sedangkan Alena masih bersandar di bahu Kieran.Angin laut menerpa rambutnya, membawa aroma asin yang sudah lama tidak ia rasakan.Untuk beberapa saat kemudian, mereka hanya diam menikmati suasana. Tidak ada pembicaraan mengenai masa lalu, tidak ada pengadilan, tidak ada sebuah ancaman lagi, dan tidak ada mafia. Hanya mereka bertiga.Keluarga kecil yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk hidup seperti orang biasa. Namun, kebahagiaan itu rupanya tidak berlangsung lama.Menjelang sore, mereka kembali ke desa. William sedang tertidur di kursi belakang mobil, karena terlalu lelah bermain di pantai kepalanya bersandar pada bahu Alena.Kieran mengemudi dengan kecepatan rendah dan ketika mobil memasuki jalan desa, Kieran mulai menyadari sesuatu.Jalanan yang ia lewati terlalu sepi, biasanya beberapa warga akan duduk di depan rumah dan melihat anak-anak bermain, atau para lelaki yang sedang berkumpul di warung.Namu
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya







