LOGINDulu, hubungan Ailaa dan Marlo begitu dekat. Tidak setiap waktu bertemu, tapi terikat pada sesuatu yang tidak bisa dihindari. Mereka tahu, bahwa mereka saling jatuh cinta, walau tidak pernah ada pengakuan satu sama lain. Kini, mereka bertemu kembali seperti lagu lama yang terputar tanpa sengaja. Perasaan spesial itu perlahan hadir lagi, membuat Ailaa pelan-pelan menjadi pengkhianat bagi Jonathan, cowok yang selama ini telah menggantikan posisi Marlo dan berhasil menyembuhkannya dari luka.
View MoreAlpha Thomas
The Moonlit Den was full of energy. The air was filled with the thick scent of pine and musk.
Music rolled through the room like a pulse. Heavy and Wild. Lights flashed across bodies pressed together in shadow.
It was a sensory assault that usually soothed my wolf.
but not tonight.
Right now, the beast beneath my skin was clawing to get out.
I swirled my whiskey. The amber liquid hit the glass in a slow circle.
My trip to the rival pack’s territory had been a disaster of diplomacy and suppressed rage.
Now, my wolf was pacing. His hackles were raised and he refused to settle.
"Alpha King Thomas.” a voice grated against my nerves.
Marcus, the bar manager, stood there with his head bowed low—a smart move. Most men who looked me in the eye ended up regretting it.
"You haven't come in ages. Did we upset the pack?"
"No," I bit out. My jaw was so tight it ached.
"Want me to get a girl for you tonight?" Marcus pushed. "We’ve got fresh blood. You might like what you see."
"No." The word was a growl.
I didn’t come here for women.
Not for sex.
My wolf didn't want a distraction; he wanted blood.
But Marcus was a salesman and salesmen never knew when to shut up.
Within minutes, he had ushered a line of women into the VIP shadows.
They were beautiful, sure—painted faces.
With practiced smiles and scents of cheap perfume designed to mimic a mate’s pull.
They bit their lips, swayed their hips. Desperate to catch the eye of the Alpha King.
I didn't care.
I didn't want any of them. I was about to dismiss a lot of them when the air changed.
A scent hit me like a physical blow. Wild honey and moonlit roses.
My hand froze on my glass. My heart thundered against my ribs. A frantic drumming that drowned out the bar’s music.
My wolf snapped to attention. His ears pricked. His growl turned into a confused, desperate whimper.
Then I saw her.
Kiara
Standing at the end of the line. Dressed in thin black silk that clung to her curves. I didn’t believe in my eyes until I saw her expressions mirroring mine.
My mate.
The woman I had rejected. The woman I had broken with my own hands and left a year ago.
Her wide, dark eyes met mine and I saw the reflection of my own shock. The same agony. She was trembling. Her pale skin ghostly under the dim lights.
"These are the new girls, Alpha." Marcus chuckled. He was unaware of the tension in the air. "Fresh, and at Alpha king’s service."
The other women stepped forward. bit their lips, hands moving under my shirt. They made every move to seduce me. Their breasts trying to block my view.
But I didn’t see them. I couldn’t.
The world had narrowed down to the girl at the end of the line. Kiara.
I rose slowly. My height cast a shadow that made the others flinch. Every girl in a line thought I would stop at them.
But I walked straight. My boots heavy on the floorboards, until I stopped directly in front of her.
"This one," I said. My voice was a low, dangerous rasp. “I want this girl for tonight.”
Marcus’s grin was sickening. "Excellent choice, Alpha! She’s the most beautiful we have. The most demanding tonight. I’ll send her to your room immediately."
Kiara’s eyes widened in disbelief. Pure shock. I read her face. Her head shook in refusal.
Before she could process anything I handed my platinum card to Marcus.
“Make sure you send her within two minutes. You couldn’t afford to offend Alpha king.. ” I growled and walked away.
My wolf rumbled in dark satisfaction but my chest felt like it was being crushed. The last time I’d talked to Kiara, it was in the moonlight pack’s family courtroom.
How her eyes stared at me without a blink when I signed the divorce papers.
I had torn our vows apart and cast her out. I haven't seen her since that day.
I was convinced I had buried her memory forever.
I thought I was done with her. I thought I was free.
I was wrong. Fate hadn't just brought her back—it had put her on her knees in front of me.
I had never thought I would see her lined up with high profiled prostitutes in the city. But what makes her take this step? Why did she end up being a prostitute? I wanted to know that.
Melewati pagi bersama Jo menjadi satu hal yang selama ini Ailaa rindukan. Dengan kesibukan yang sedang dijalani Jo, juga perubahan sikapnya yang semakin cuek, membuat Ailaa sedikit tidak percaya dengan pemandangan di pagi ini. Ailaa membuka gorden untuk membuat cahaya matahari di jam setengah delapan pagi masuk ke kamar.Bukan untuk pertama kali, tetapi menghabiskan malam bersama Jo adalah bagian dari ‘keistimewaan’ dari memiliki laki-laki itu seutuhnya. Tidak hanya berhubungan badan, menyatukan tubuh mereka satu sama lain, tetapi menyadari keberadaan Jo ada di sampingnya sepanjang malam menjadi hal yang semakin jarang ia rasakan.Jo masih tertidur dan sama sekali tidak memberi respon ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya. Ailaa memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, bersih-bersih. Dia memilih pakaian terbaiknya yang sudah ia bawa sejak kemarin,
Hari sudah berganti, tapi Ailaa tidak bisa juga tidur. Dia masih bisa merasakan emosi kepada Marlo, mengingat bagaimana permintaan maaf itu keluar dari mulutnya. Mengapa semudah itu? Ailaa bertanya pada langit-langit kamar. Gelapnya ruang kamar membuatnya semakin mudah melihat langit-langit kamar yang tampak lebih terang karena cahaya yang menembus dari luar. "Dia pergi gitu aja tanpa kabar, empat tahun menghilang, dan sekarang dia dengan mudahnya bilang maaf?" Ucap Ailaa dengan volume suara terkecil yang ia punya. Air matanya kembali mengalir. Baik perpisahan, maupun pertemuan kembali dengan Marlo sama-sama memberinya rasa sakit yang sulit untik dijelaskan. Ailaa mengambil ponsel dari bawah bantal. Jonathan Rahadi: Cepat membaik ya, kalau masih nggak enak badan, minum obat. Jangan dientar-entarin.
Marlo dan Ailaa menatap satu sama lain, berhadapan tanpa sepatah kata. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka dari jauh membuat suasana semakin terasa canggung. Untuk sesaat Ailaa merasa telinganya tidak bisa mendengar apapun, hanya mampu mendengar degupan jantungnya yang semakin cepat. Seorang pengunjung yang lewat begitu saja di tengah mereka menyadarkan keduanya.Ailaa mengulas senyum singkat, memutuskan berjalan ke arah meja pemesanan sebelum benar-benar menghampiri Marlo. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu membaca deretan menu.“Iced americano satu ya.” Ailaa mengangkat ponselnya ke hadapan pegawai di depan, dengan cepat mendekatkannya ke lembaran barcode. Dia pun menoleh ke arah Marlo. “Udah pesan?”Marlo mengangguk yang kemudian dibalas dengan gerakan serupa oleh Ailaa. Ma
Tidak tahu mengapa, malam-malam yang Marlo lalui terasa jauh berbeda setelah pertemuan singkatnya dengan Ailaa melalui group chat. Nyatanya mereka tidak benar-benar bertemu dan membahas hal yang sensitif bagi mereka berdua. Marlo mengambil peti kayu kecil dengan balutan bahan kulit, di bagian penutupnya dilengkapi gembok tua dari Garasi Eyang. Dalam ingatannya Ailaa menyukai segala yang berbau klasik. Dulu, mereka bahkan menciptakan playlist di iPod Nano berisikan lagu-lagu era tahun 70-90’s. Banyak hal yang sama-sama mereka sukai, menonton pertunjukan wayang orang, menikmati malam di atas bukit sambil makan mie instan, lari di lapangan pusat kota sambil hunting menu sarapan, sampai pergi ke berbagai toko buku untuk mencari potongan harga paling murah. Kalau dipikir, semuan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews