แชร์

TAHANAN ATAU TAMU

ผู้เขียน: Azeela Danastri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-16 07:00:03

Aroma antiseptik yang pekat masih menempel di setiap sudut kamar utama mansion Alistair, seolah menjadi pengingat yang tak terelakkan bahwa kehangatan hunian ini hanyalah lapisan tipis di atas realitas yang berdarah. Cahaya matahari siang menembus jendela kaca besar, menciptakan siluet debu yang menari di udara, namun bagi Clarissa, cahaya itu terasa menyilaukan dan terlalu tenang—sebuah kontras yang menyakitkan dengan kekacauan yang baru saja ia lalui kurang dari dua puluh empat jam yang lalu.

Clarissa menutup kotak peralatan medisnya dengan bunyi klik yang tegas. Ia baru saja menyelesaikan penggantian perban untuk Adrian. Di hadapannya, pria itu duduk bersandar, pucat namun dengan sorot mata yang tetap mengintimidasi. Adrian Alistair adalah sebuah paradoks; ia adalah predator yang terbiasa memburu, namun saat ini, ia hanyalah seorang pasien yang harus mematuhi aturan seorang dokter yang tak takut padanya.

"Angkat sedikit tangan kirimu," perintah Clarissa dengan nada datar yang profesional.

Adrian menurut. Tidak ada protes, tidak ada tatapan merendahkan. Hanya ada kesunyian di antara mereka, diisi oleh suara detak jam dinding yang terdengar sangat lambat. Ketika jemari Clarissa yang terbungkus sarung tangan lateks menyentuh kulit di sekitar jahitan dada pria itu, ia bisa merasakan otot-otot Adrian menegang di bawah jari-jarinya. Itu bukan tegangan karena sakit, melainkan reaksi kewaspadaan seorang pria yang terbiasa berada dalam posisi dominan.

"Bagaimana?" tanya Adrian, suaranya parau, berat namun tetap memiliki otoritas.

"Lebih baik dari yang kuduga untuk ukuran orang yang baru saja lolos dari maut," jawab Clarissa tanpa menatap mata pria itu. Ia fokus pada tekstur kulit dan kerapian jahitan yang ia buat sendiri semalam. "Tapi itu bukan berarti kau boleh bertingkah seolah tubuhmu terbuat dari baja. Kau kehilangan dua liter darah, Adrian. Tiga peluru hampir merenggut nyawamu. Jika kau terus memaksakan diri, aku tidak akan bertanggung jawab jika infeksi menyerang dan membuat lukamu membusuk dari dalam."

Clarissa mengencangkan perban dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari yang seharusnya—sebuah bentuk protes kecil yang ia lampiaskan. "Kalau pasienku sekeras kepala sepertimu, umur dokter pasti lebih pendek. Aku punya tanggung jawab untuk memastikan kau tidak mati di tanganku, bukan karena aku peduli secara personal, tapi karena itu adalah kode etikku."

Adrian terdiam. Sudut bibirnya berkedut, nyaris membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan. "Itu pujian atau omelan, Dokter?"

"Itu diagnosis medis yang jujur," sahut Clarissa, kali ini ia menatap langsung ke dalam mata pria itu. "Kau harus berhenti memaksakan dirimu."

Di sudut ruangan, Gavin, pengawal pribadi yang biasanya tak tertembus, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya bergetar hebat, berusaha menahan tawa yang tak tertahankan. Ini adalah pemandangan yang mustahil: bos mereka, pria yang ditakuti oleh seluruh sindikat bawah tanah, sedang "ditegur" layaknya anak kecil oleh seorang dokter wanita yang bahkan tidak tahu seberapa bahayanya dunia yang ia masuki.

Adrian melirik Gavin dengan tatapan dingin yang tajam, membuat pria itu seketika memasang wajah datar seperti tembok.

"Ada masalah?" tanya Adrian.

"Tidak, Tuan," sahut Gavin cepat, suaranya tercekat.

Clarissa, yang sepenuhnya mengabaikan ketegangan di antara para pria itu, membereskan alat-alatnya ke dalam tas. "Mulai hari ini, antibiotik harus diminum tepat waktu. Obat antinyeri setiap delapan jam. Dan istirahat total. Tidak ada negosiasi. Tidak ada pertemuan bisnis, tidak ada akses ke perangkat dekripsi, dan tidak ada rapat rahasia."

Saat Adrian meraih map hitam di atas nakas—sebuah indikasi bahwa ia akan kembali bekerja meski dalam kondisi sekarat—Clarissa memotong dengan satu kata yang mutlak: "Tidak."

Adrian berhenti. Ia menatap map itu, lalu menatap Clarissa. Untuk pertama kalinya, ia melihat otoritas di mata wanita itu yang bisa mengimbangi wibawanya sendiri. Adrian menatap map itu sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Ia mengalah. Gavin dan William saling berpandangan, bingung sekaligus kagum. Bos mereka yang keras kepala baru saja menyerah pada perintah seorang dokter.

Namun, ketegangan itu pecah saat suara ketukan pintu terdengar tergesa-gesa. Itu bukan ketukan sopan seorang pelayan, melainkan ritme mendesak seorang petugas lapangan.

"Masuk!" perintah Adrian.

Seorang petugas keamanan masuk dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat kertas. "Tuan... kita kehilangan kontak dengan Nyonya Helena."

Dunia Clarissa seolah runtuh dalam satu detik. Tas medisnya terjatuh ke lantai, dentuman keras logam di atas marmer menggema di seluruh ruangan yang mendadak terasa hampa. Wajahnya kehilangan semua warna, seolah darahnya tersedot keluar seketika. "Ibu..."

Adrian bangkit dari tempat tidur, mengabaikan nyeri di dadanya yang pasti berdenyut hebat. Perintah-perintah keluar dari mulutnya dengan kecepatan dan presisi militer. Tim Echo bergerak. Suasana kamar itu berubah total; dari kamar perawatan yang tenang menjadi pusat komando yang dingin. Clarissa berdiri terpaku, merasa seperti pengamat dalam film tragedi yang melibatkan orang terpenting dalam hidupnya. Ketika laporan tentang "bercak darah" di rumah Helena sampai ke telinga mereka, sebuah kedinginan yang menusuk tulang merambat di dada Clarissa.

Perjalanan ke rumah Helena terasa seperti menaiki kereta menuju jurang. SUV hitam melaju kencang, membelah jalanan Jakarta yang tak peduli pada nasib mereka. Clarissa terus mencoba menghubungi nomor ibunya, namun hanya suara operator robotik yang menjawab, berulang-ulang, menghancurkan harapannya di setiap nada dering.

Setibanya di sana, rumah yang penuh kenangan itu kini tampak asing dan mengerikan. Ruang tamu yang biasanya beraroma teh melati dan buku lama kini hanya beraroma debu, kepanikan, dan ketakutan. Saat mereka menemukan amplop putih dengan simbol hitam yang sama dengan microchip itu, Clarissa tahu satu hal: ia bukan lagi sekadar dokter yang terjebak dalam masalah medis. Ia adalah pion dalam permainan kekuasaan yang jauh lebih besar.

"Beliau masih hidup," suara Adrian memecah keheningan di rumah Helena, saat mereka berdiri di depan brankas tersembunyi yang baru ditemukan di balik lemari pakaian. "Sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, Helena aman. Itu adalah aturan dasar dunia ini. Jika mereka ingin membunuhnya, mereka tidak akan repot-repot mengirim pesan seperti ini."

Clarissa menatap brankas itu. Jemarinya gemetar saat menyentuh dinding brankas yang dingin. Ingatan tentang ucapan ibunya—kebenaran selalu ada di rumah—terasa seperti gema dari masa lalu yang kini menuntut jawaban.

"Ibu..." bisik Clarissa, suaranya pecah. "Apa yang kau sembunyikan selama ini? Kenapa kau menyeretku ke dalam semua ini?"

Adrian berdiri di belakangnya, kehadirannya yang dominan memberikan rasa perlindungan yang aneh bagi Clarissa. Di balik dinding ini, bukan hanya rahasia yang akan mereka temukan, melainkan akhir dari kehidupan lama Clarissa Adelyn yang tenang. Pria itu menaruh tangannya di bahu Clarissa, sebuah kontak fisik pertama mereka yang terasa begitu intim sekaligus mengancam.

"Kita akan membuka ini, Clarissa," ucap Adrian tegas. "Dan setelah itu, kau tidak akan punya pilihan selain menghadapi kenyataan yang selama ini ibumu sembunyikan."

Clarissa memejamkan mata. Ia sadar, tidak ada jalan kembali. Ia bukan lagi tamu di mansion Alistair, dan ia pun bukan lagi sekadar dokter. Ia adalah seseorang yang sedang berada di ambang mengungkap identitas yang selama lima belas tahun ini terkubur dalam api dan abu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Dinding Pertahanan yang Mulai Retak

    Ruang tindakan di safe house itu tidak terlalu besar, tetapi tertata rapi. Dinding berwarna putih gading dipenuhi lemari kaca berisi peralatan medis yang tersusun berdasarkan jenis dan kegunaannya. Aroma antiseptik langsung menyambut begitu Clarissa mendorong pintu hingga terbuka.Ia meletakkan baki instrumen di atas meja stainless, lalu berbalik menghadap Adrian. "Duduk."Adrian menatap kursi pemeriksaan, kemudian menatap Clarissa lagi. "Perintah lagi?""Bukan." Clarissa mengambil sarung tangan medis. "Instruksi dokter."Adrian akhirnya duduk tanpa banyak komentar.Melihat itu, Clarissa tersenyum tipis. Entah kenapa, menghadapi pria keras kepala ini terasa jauh lebih melelahkan dibanding menangani pasien kritis."Aku mulai curiga."Clarissa mengangkat sebelah alis. "Curiga apa?""Kau sengaja mencari-cari alasan supaya bisa memarahiku."Clarissa terkekeh pelan. "Kalau kau berhenti membuka jahitanmu sendiri, mungkin aku juga akan berhenti."Adrian hanya menggeleng kecil. Senyum tipis y

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Safe House

    Sementara itu… Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya monitor, seorang pria duduk tenang menghadap layar.Rekaman dari kamera jalan raya diputar berulang-ulang.Konvoi Adrian.Wajah Clarissa.Lalu gambar membeku tepat ketika perempuan itu mendorong Adrian hingga lolos dari bidikan sniper.Pria itu tersenyum tipis. "Jadi benar..." Ia mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja. "Dia mulai mengingat naluri lamanya."Seseorang berdiri di belakangnya. "Tuan. Rio sudah menghilang.""Tidak masalah.""Bagaimana dengan Nathan?"Pria itu menatap layar tanpa berkedip. "Biarkan dia hidup.""Bukankah dia tahu terlalu banyak?""Justru karena itu." Senyumnya semakin lebar. "Orang tua yang ketakutan sering kali menjadi umpan terbaik."Ia mematikan monitor. Ruangan langsung gelap.Hanya suaranya yang terdengar jelas. "Terus awasi Clarissa. Jangan sentuh dia. Belum."Anak buahny

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Sulit Terabaikan

    Di dalam bangunan, suasana jauh berbeda dengan bagian luarnya. Lorong-lorong bersih dengan penerangan terang membentang menuju beberapa ruangan berlapis pintu baja.Clarissa sempat terdiam.Tempat ini lebih menyerupai pusat komando daripada rumah persembunyian. Beberapa tenaga medis berseragam putih segera membawa Nathan menuju ruang perawatan intensif."Dokter Clarissa." Seorang perawat menghampiri. "Kami sudah menyiapkan ruang tindakan."Clarissa mengangguk. "Tolong siapkan alat jahit luka dan antibiotik intravena.""Baik."Ia berbalik. Tatapannya langsung mencari Adrian.Pria itu ternyata sudah berjalan menuju ruang briefing."Adrian."Langkahnya berhenti."Kemari.""Aku harus rapat.""Kau harus dirawat.""Ini lebih penting.""Tidak." Nada suara Clarissa kali ini jauh lebih tegas. "Kau bisa kehilangan nyawa hanya karena bersikeras."Ruangan mendadak sunyi.Beberapa anggota tim yang sedang berlalu-lalang berhenti tanpa sadar. Tak seorang pun pernah berbicara kepada Adrian dengan nad

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Konvoi Dikuntit

    Hujan semakin deras ketika konvoi akhirnya meninggalkan jalan utama. Lampu kendaraan tetap dimatikan. Hanya cahaya bulan yang sesekali lolos dari balik awan membantu Gavin mengarahkan mobil melewati jalan tanah yang sempit. Roda berputar perlahan, memecah genangan lumpur yang mulai terbentuk setelah hujan mengguyur hampir satu jam.Tak seorang pun berbicara melalui radio. Setelah pengkhianatan Rio, semua komunikasi menjadi jauh lebih singkat. William bahkan mematikan saluran utama dan menggantinya dengan frekuensi darurat yang hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya.Di dalam mobil, Clarissa kembali memeriksa infus Nathan. Laju tetesannya masih stabil. Namun tekanan darah pria tua itu belum benar-benar pulih."Aku harus mengganti cairannya setelah kita sampai," gumamnya pelan.Nathan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram. "Dokter..."Clarissa segera menoleh. "Jangan bicara dulu."Pria tua itu menggeleng lemah. "Waktu...kita tidak punya banyak waktu."Clarissa hendak me

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Serapan Rahasia

    Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Suaranya datar. "Subjek Tujuh." Tatapan itu langsung mengarah kepada Clarissa. "Anda diminta kembali."Clarissa menggeleng. "Aku bukan Subjek Tujuh. Kau salah."Pria itu tidak bereaksi. "Hasil identifikasi retina sesuai. DNA sesuai, status dikonfirmasi. Subjek Tujuh ditemukan."Suara itu terdengar seperti mesin. Tidak memiliki intonasi marah. Tidak pula ramah. Hanya menyampaikan fakta."Aku tidak akan ikut."Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu...kami akan membawa Anda secara paksa."William langsung mengangkat pistol. "Satu langkah lagi, aku tembak."Pria itu bahkan tidak melirik senjata tersebut. "Perintah utama. Bawa Subjek Tujuh. Target lain tidak diprioritaskan."Adrian akhirnya maju selangkah. "Kau harus melewatiku dulu."Tatapan kosong pria itu beralih kepada Adrian. Beberapa detik berlalu. Lalu...untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sangat tipis, seolah ada sesuatu yang dikenalnya."Adrian..." Ia mengucapkan nama itu pe

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Penguncian Otomatis

    Embusan uap putih memenuhi ruangan di balik kaca.mSemua mata spontan tertuju pada monitor yang kini menampilkan gambar dari sebuah laboratorium lain. Kualitas rekamannya tidak sempurna, seolah berasal dari kamera pengawas tua yang masih aktif.Di tengah ruangan berdiri sebuah kapsul silinder setinggi dua meter. Cairan bening di dalamnya perlahan surut.Alarm pendek berbunyi tiga kali.Bip... Bip... Bip...Lalu penutup kapsul terbuka. Sesosok tubuh terjatuh berlutut ke lantai. Rambutnya basah menutupi wajah. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam sangat lama.Clarissa tanpa sadar melangkah mendekati layar. "Siapa dia...?"Tak ada jawaban.Orang itu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh.Namun satu hal langsung menarik perhatian Clarissa.Di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang logam tipis dengan ukiran yang sama persis seperti simbol phoenix di pintu Elysium.Nathan memejamkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status