LOGINKemudian Alice memutuskan untuk menghubungi salah satu bank darah terbesar di London. Jemarinya bergetar saat menekan angka-angka di layar ponsel. Seolah berperang dengan detak jantungnya sendiri.
“Hallo, selamat malam,” suaranya terdengar lirih, namun menyimpan urgensi. “Iya, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?” jawab suara di seberang, tenang dan profesional. “Putri saya mengalami kecelakaan. Kondisinya kritis… dia membutuhkan transfusi darah golongan AB negatif. Apakah… apakah ada stok untuk itu?” Hening sejenak. “Maaf, Nyonya,” suara itu akhirnya kembali terdengar, kini terasa lebih berat. “Stok golongan AB negatif saat ini kosong. Golongan darah tersebut sangat langka. Bahkan dalam kondisi normal pun, kami sangat jarang memilikinya.” “Apakah bank darah lain juga tidak memiliki stok? Saya benar-benar membutuhkannya. Berapapun biayanya, saya akan bayar… asalkan putri saya selamat.” Di ujung sana, suara itu terdengar ragu, seakan tak tega menyampaikan kenyataan. “Nyonya… golongan AB negatif adalah salah satu yang paling langka di dunia. Kemungkinan besar, bank darah lain juga mengalami kekosongan yang sama. Bahkan jika ada, jumlahnya sangat terbatas dan biasanya sudah dialokasikan untuk kasus darurat lainnya.” Setiap kata terasa seperti palu yang menghantam harapan terakhirnya. Alice memejamkan mata. Untuk sesaat, ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin kacau. “Baik… terima kasih,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar. Panggilan itu berakhir. Perlahan, tubuhnya melemah. Ia terduduk di bangku rumah sakit yang dingin, menatap kosong seperti frustasi. "Di mana lagi… aku bisa menemukan darah untuk putriku?" Pertanyaan itu bergema di benaknya, berulang-ulang, tanpa jawaban. Ia memijat pelipis matanya. Berfikir keras, mencoba mencari jalan keluar. "Sekarang, harapan satu-satunya hanya ada pada raja mafia itu. Hanya dia yang bisa mendonorkan darahnya untuk putriku." Drtt.., Drttt.., Disaat yang sama, ponselnya bergetar kembali dan itu adalah telepon dari sekertarisnya: "Bagaimana?" tanya Alice langsung, berharap sekertarisnya membawa kabar baik. "Setelah saya selidiki, nomor mafia itu memang sangat rahasia. Namun, saya berhasil mendapatkan nomor tangannya kanannya, lewat dia mungkin anda bisa berkomunikasi dengan raja mafia itu, Nyonya." "Ok, kirimkan nomornya sekarang. Aku tak memiliki banyak waktu, aku harus segera mengubunginya." Kemudian, Alice langsung menghubungi nomor tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, sambungan terangkat. “Siapa ini?” ucap seorang pria terdengar dingin. “Maaf mengganggu waktu Anda,” ucapnya berusaha tenang. “Perkenalkan, saya Alice Skyler, CEO Voca Sterling & Co.” Ia berhenti sejenak. Mengambil nafas sebelum melanjutkan. “Saya menghubungi Anda, untuk meminta bantuan penting.” “Kamu, Alice?” jawabnya, nada suaranya meremehkan. “Ada hal sepenting apa sampai berani menghubungi nomor ini malam-malam begini?” Alice mengepalkan tangannya, ia tahu ini tidak akan mudah. Namun, ia harus tetap melanjutkan. “Anak saya mengalami kecelakaan, dia kritis dan membutuhkan transfusi darah langka golongan AB negatif.” Ia menahan napas. “Dan… saya mendapat informasi bahwa darah itu sama dengan milik Raja Mafia Rangsa.” “Saya memohon bantuan-nya. Saya siap memenuhi syarat apa pun dan membayar berapapun biayanya." Beberapa detik berlalu. Tak lama, tawa kecil terdengar, dingin. Jelas merendahkan. “Kamu pikir bisa semudah itu?” pria itu berkata santai. “Aku tidak bisa menyampaikan permohonan sepele semacam ini kepada Raja Rangsa.” tegasnya. “Dia tidak punya waktu untuk hal-hal tidak penting seperti ini.” lanjut pria itu tajam. Alice terdiam. Dadanya terasa sesak. Namun, Alice tetap tenang dan menahan gejolak emosinya. “Lebih baik cari orang lain saja,” lanjut pria itu tanpa belas kasihan. “Dan satu lagi, kami tidak tertarik dengan uangmu.” Kalimat itu seperti menampar Alice, tanpa belas kasihan, apalagi nurani. Terdengar Arogan, dan sulit untuk dibicarakan. “Raja Rangsa memiliki segalanya didunia ini, ia tidak kekurangan apa pun. Bahkan, semua hartamu tidak sebanding dengan setetes darahnya." Klik. Panggilan hampir diputus, Namun Alice buru-buru mencegahnya. Alice berseru cepat, suaranya panik. “Tunggu!” “Jangan tutup!” “Tolong… aku mohon…” suaranya mulai pecah. “Biarkan aku bicara langsung dengannya, jika dia sendiri yang menolak aku takkan lagi memohon bantuan." “Baiklah, kalau kau ingin bicara dengan Raja Rangsa, kau harus datang sendiri kesini." tegas pria itu. “Prinsip kami, Tidak ada negosiasi lewat telepon.” Kalimat itu final. Namun bukannya mundur, tekad Alice justru semakin tajam dan berani. “Baiklah, Aku akan datang,” jawabnya tanpa ragu bahkan tanpa berpikir. “Aku siap menyisir seluruh kota… bahkan pulau terpencil sekalipun, jika itu bisa menyelamatkan putriku.” ucap Alice penuh keseriusan. “Berikan alamatnya.” “Kau yakin? baiklah, datanglah kesini, sendiri, jangan berani membawa siapapun." ucapannya cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Alice segera menjawab. "Baik, aku setuju." “Aku kirim alamatnya sekarang, tapi ingat satu hal, Alice Skyler, sekali kau datang ke dunia kami, tidak semua orang bisa kembali hidup-hidup." Panggilan terputus. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk. Sebuah pesan yang berisi alamat rahasia, berada disebuah pulau terpencil milik sang Raja Mafia selatan. "Aku sudah mendapatkan alamatnya, aku harus segera berangkat kesana." batin Alice sembari menatap layar ponselnya, hendak menghubungi sekertarisnya. Panggilan tersambung. “Ya, Nyonya,” sapa sekretaris sigap. “Siapkan pesawat pribadi sekarang, aku akan berangkat malam ini juga ke tempat raja mafia itu.” Di seberang sana, sekretarisnya sempat terdiam dengan perasaan panik sekaligus khawatir. “Apakah Anda, berhasil mendapatkan alamatnya, Nyonya?” “Aku sudah mendapatkannya.” jawabannya dingin, tanpa keraguan. “Nyonya, bolehkah saya berbicara?" "Tentu, katakan saja" “Apakah Anda yakin ingin datang ke sana?” Alice terdiam sejenak. Lalu, menjawab tanpa keraguan. "Aku akan datang kesana." Faktor keadaan, membuat rasa takutnya menghilang. Tergantikan oleh nyali penuh keberanian. “Tempat itu sangat berbahaya, Nyonya?" lanjutnya. “Orang-orang di sana bukan orang biasa. Mereka bisa saja melakukan hal buruk” “Bagaimana jika mereka menghabisi Anda?” Sekertaris tak tega jika sang bos akan berangkat ke tempat yang disebut seperti neraka itu. “Semua orang tahu siapa Raja Mafia Selatan itu,” bisik sekretarisnya. “Dia kejam, dan tidak punya hati. Orang-orang bahkan menyebutnya seperti raja iblis.” “Aku tidak takut pada siapa pun, tekadku sudah melampaui segalanya demi nyawa putriku." “Demi Azka… aku akan melakukan apa pun, bahkan jika harus berperang dengan iblis sekalipun” “Aku rela jika harus mempertaruhkan nyawaku sendiri.” Di seberang sana, sekretarisnya terdiam. Tak ada lagi yang bisa ia katakan. Karena, Alice sudah memutuskan ingin pergi. “Siapkan pesawatnya sekarang,” lanjut Alice. “Aku akan langsung ke bandara, malam ini juga." “Baik, Nyonya.” Matanya menatap lurus ke depan, terlihat tak ada lagi air mata, tak ada lagi keraguan, yang tersisa hanya satu hal, tekad seorang ibu yang siap menantang iblis sekalipun, demi menyelamatkan nyawa sang buah hati.Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya
Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m
“Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh
Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar
Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke
Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto







