分享

Bab 2

作者: Cahaya_NR
last update publish date: 2026-03-27 14:50:15

Kabar buruk itu menghantam Alice tanpa ampun, membuat tangan Alice gemetar hebat. Dunianya yang baru saja retak karena dikhianati, kini benar-benar hancur berkeping-keping.

​“Tidak… ini tidak mungkin…” bisiknya pelan.

Seketika, logikanya yang biasanya sedingin es menjadi kacau balau. Napasnya memburu, pendek dan tersengal, seolah paru-parunya menolak untuk bekerja. Alice memejamkan mata erat-erat, berusaha menekan rasa mual yang mendesak naik ke kerongkongan.

​“Kondisi putriku... bagaimana kondisi Azka?!” suaranya mendadak meninggi, penuh nada panik yang menyayat hati.

​“Kecelakaan terjadi cukup parah, Nyonya. Helikopter jatuh ke dalam jurang setelah kehilangan kendali. Tim evakuasi sedang bekerja keras, namun medannya sangat sulit. Penyebabnya masih dalam penyelidikan,” jawab petugas di seberang telepon dengan nada bicara yang sangat formal, namun justru itulah yang membuat Alice semakin ketakutan.

​“Pilot dan co-pilot... mereka dinyatakan meninggal di tempat.”

​Deg!

Jantung Alice seolah berhenti berdetak sesaat.. Jika para profesional itu saja tidak selamat, bagaimana dengan malaikat kecilnya?

​“Tapi… untuk putri Anda—”

​Alice langsung membuka mata lebar-lebar. Telinganya menegang, menangkap setiap napas dari petugas kepolisian itu dengan penuh harap dan ketakutan yang bercampur aduk.

​“Kenapa diam?! Tolong jelaskan keadaan putriku! Katakan dia baik-baik saja!” pintanya.

​“Kami menemukan putri Anda masih hidup,” jawab petugas itu, memberi sedikit ruang bagi Alice untuk bernapas.

“Namun, kondisinya sangat kritis. Ia tidak sadarkan diri dan mengalami trauma luka parah, terutama benturan di bagian kepala.”

​Tubuh Alice melemas seketika. Lututnya yang tadi tegah kini gemetar hebat, tak lagi mampu menopang berat beban kenyataan.

​“Saat ini ia sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk penanganan darurat.”

​Alice menggigit bibirnya begitu kuat hingga rasa anyir darah mulai terasa di lidahnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia berbisik lirih, nyaris menyerupai hembusan angin.

​“Kirimkan alamatnya… sekarang!”

​“Aku harus ke sana. Aku harus memeluk putriku!”

​“Baik, Nyonya. Kami segera mengirimkan lokasinya.”

​Alice menahan napasnya yang sesak. Di sela-sela isak tangis yang mulai meledak, ia memohon dengan nada yang bisa menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.

​“Tolong jaga dia… jangan biarkan dia sendirian sampai aku datang… kumohon, jangan biarkan dia pergi…”

​“Baik. Kami akan memastikan ia mendapatkan penanganan terbaik dari tim medis.”

​Panggilan terputus.

Dalam satu malam, dua badai besar menghantam hidup Alice tanpa ampun. Pengkhianatan suami dan kecelakaan sang anak datang bertubi-tubi, tak memberinya ruang sedikit pun untuk menarik napas. Hidupnya yang semula sempurna bak istana kaca, kini hancur menjadi serpihan tajam yang menusuk dadanya.

​“Ada apa?!” tanya Zein tegang, wajahnya yang tadi pucat karena ketahuan selingkuh kini berubah menjadi kecemasan yang nyata. “Apa yang terjadi pada putriku?!”

​Alice menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia menatap Zein dengan kebencian dan kepedihan yang setara.

​“Helikopter yang ditumpangi Azka… mengalami kecelakaan.”

​Zein membeku.

​“Azka tidak sadarkan diri,” lanjut Alice dengan suara parau. “Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis.”

​“Bagaimana mungkin…?” gumam Zein, suaranya menghilang.

​Namun Alice tidak ingin membuang waktu untuk meratapi keterkejutan suaminya. Ia berbalik, meraih tasnya dengan gerakan cepat yang dipicu oleh adrenalin. Jemarinya masih bergetar saat ia menyambar kunci mobil, tak peduli pada rasa sakit yang masih berdenyut di hatinya. Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah pergi.

​“Tunggu!” Zein menyusul dengan langkah seribu. “Kau mau ke mana dalam keadaan seperti ini?!”

​Alice menoleh tajam. Sorot matanya begitu dingin, seolah bisa membekukan darah di pembuluh nadi Zein. Ia tak habis pikir dengan pertanyaan bodoh pria itu.

​“Kau sudah gila, ya?” ucapnya dingin, menusuk hingga ke tulang. “Tentu saja aku mau ke rumah sakit! Putriku sedang bertaruh nyawa!”

​“Aku ikut, Alice. Aku ayahnya!”

​Alice hanya menatapnya sekilas, lalu mengangguk singkat. Tak ada waktu lagi untuk bertengkar tentang perselingkuhan atau celana dalam merah itu. Yang dipertaruhkan sekarang bukan lagi sisa-sisa

pernikahan mereka yang busuk, melainkan nyawa buah hati mereka.

​“Aku yang bawa mobil,” tegas Alice tanpa menoleh. “Tidak ada waktu menunggu sopir atau mendengar keluhanmu.”

​Zein mengernyit, ragu melihat kondisi istrinya yang tampak tidak stabil. “Kau yakin? Kau sedang terguncang, Alice.”

​Alice tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung masuk ke kursi pengemudi. Gerakannya cepat, tegas, dan penuh determinasi.

Begitu sabuk pengaman terpasang, ia menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai.

​BRAAAM!

​Mobil mewah itu melesat keluar dari basement dengan ban yang mencit hebat.

​“Gila…” Zein spontan berpegangan pada dashboard, wajahnya pias. “Alice, pelankan sedikit! Kau membawa mobil seperti setan!”

​Namun Alice sudah tidak peduli pada keselamatan dirinya sendiri.

"Aku tidak peduli dengan nyawaku, yang penting aku bisa segera sampai ke rumah sakit sebelum terlambat!" tegas Alice.

​Alice menginjak pedal gas semakin dalam, menembus jalanan kota yang mulai sepi. Matanya terkunci lurus ke depan, tajam dan tak bergeser sedikit pun dari aspal. Di kepalanya hanya ada satu visi: ruang UGD.

​“Alice, pelan! Kita bisa kecelakaan jika kau terus begini!” Zein berseru panik saat mobil menyalip kendaraan lain dengan jarak hanya beberapa inci.

​“Sudah aku katakan, Aku tidak peduli!” bentak Alice, suaranya menggelegar di dalam kabin mobil.

​“Putriku harus selamat… ia harus tetap hidup, meskipun aku harus menukar nyawaku!”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 11

    Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 10

    Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 9

    “Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 8

    Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 7

    Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 6

    Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status