共有

Bab 6

作者: Cahaya_NR
last update 公開日: 2026-03-27 14:54:25

Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta.

"Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega.

Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing.

"Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice.

Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam.

“Alice Skyler?”

Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan.

“Iya, Aku Alice Skayler."

“Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.”

Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya.

“Masuk.”

Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan otomatis pintu tertutup dan mobil langsung melaju kencang.

Sepanjang perjalanan, suasana sunyi, satupun dari mereka tak ada yang berbicara, jalanan gelap dan berliku, hanya cahaya lampu mobil yang menerangi jalan.

"Tempat ini seperti dunia lain, terisolasi dan berbahaya" pikirnya, sejenak Alice menatap ke luar jendela.

Tak lama kemudian, mobil berhenti. Di depan mereka, sebuah pelabuhan kecil terlihat. Ada sebuah kapal cepat sudah menunggu.

“Kita lanjut lewat laut,” ucap salah satu pria.

Alice turun tanpa, memberanikan diri bertanya dengan ragu.

"Apakah masih jauh?"

Salah seorang pria menggelengkan kepalanya.

"Tidak." jawabnya singkat tanpa expresi.

Tanpa menunggu lama, Alice langsung naik ke kapal, dan kapal melaju.

Beberapa menit kemudian…

Cahaya mulai terlihat di kejauhan. Sebuah mansion megah berdiri di atas tebing. Menghadap langsung ke lautan luas.

"Tempat ini lebih mirip sarang predator, daripada tempat tinggal manusia." pikir Alice mulai waspada.

“Kita sudah sampai,” ujar pria itu, saat kapal merapat di pelabuhan.

Alice langsung turun, tanpa berkata apapun.

***

Pintu besar terbuka perlahan. Ratusan anak buah bersenjatakan api lengkap berdiri di depan pintu seolah menyambut kedatangan Alice. Mereka semua memasang wajah datar tanpa ekspresi.

“Cepat masuk, Raja kami sudah menunggumu didalam.”

Alice mengangguk.

"Baik" lalu segera melangkah masuk.

Langkahnya terhenti seketika. Di ujung ruangan, seorang pria berdiri. Tubuhnya tinggi dan tegap dengan aura dingin yang menekan.

"Alice..." gumam pria itu pelan, nyaris tak terdengar.

Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti.

dua netra saling menatap dalam, seperti pernah bertemu sebelumnya. Jantung Alice berdetak keras.

"Kenapa wajahnya terasa familiar?"

"Otakku seperti mengenal dan mengingatnya"

Ia mencoba mengingat, namun ingatan itu kabur.

Di saat yang sama, Rangsa juga menatapnya tanpa berkedip. Wajah Alice bagaikan rembulan indah di matanya.

“Selamat datang di wilayahku… Alice.” ucapnya pelan, namun penuh tekanan, sudut bibirnya terangkat tipis.

Glek!

Alice menelan ludah, nalurinya berteriak waspada, namun ia menahannya. Tak bisa dibohongi, perasaan Alice berdebar saat bertemu pria itu.

Rangsa melangkah mendekat.

"Alice..."

Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depannya.

"Akhirnya kau kembali juga kesini..."

Tangannya terangkat perlahan, lalu berhenti di udara. Jarak diantara mereka sangat dekat. Rangsa membelai pinggiran rambut wanita itu.

“Apakah kau mengingatku?” bisiknya pelan.

Bulu kuduk Alice meremang. Ia mundur setengah langkah, demi menjaga jaraknya dengan pria itu. Karena niat Alice datang kesana bukan untuk hal yang lain, melainkan untuk negosiasi darah.

“Jaga sikap Anda,” ucapnya dingin. “Saya datang bukan untuk hal seperti ini.”

Suasana menegang beberapa detik. Namun Rangsa hanya tersenyum tipis. Menatap wajah cantik Alice tanpa berkedip.

“Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya.”

Ia berbalik dan duduk di kursi besar. Aura kekuasaa begitu terasa. Raja Mafia ini memang sangat misterius.

“Sekarang… apa tujuanmu datang ke sini?”

Tatapan Raja Rangsa kembali menajam. Ia menunjuk kursi di depannya. Memberikan kode pada Alice.

“Duduk.”

Alice menurut. Ia duduk dengan punggung tegak.

Tetap menjaga sikapnya.

“Aku tidak punya banyak waktu, anakku kritis. Dia mengalami pendarahan hebat karena kecelakaan. dia membutuhkan transfusi darah AB negatif”

ucapnya tegas, tangannya mengepal di pangkuan.

Mata Alice menatap langsung Raja Rangsa dengan penuh permohonan. Tak peduli, apapun resikonya. Napasnya tertahan.

“Dan aku tahu… hanya Anda yang bisa menyelamatkannya" jelas Alice, untuk pertama kalinya, Alice menundukkan kepala kepada seorang pria.

“Saya mohon… bantulah saya."

"Sebagai imbalannya, saya akan memenuhi syarat apa pun yang Anda berikan."

Beberapa detik terasa panjang. Rangsa terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum penuh arti, dan hanya dia sendiri yang tahu artinya.

“Kau yakin… bersedia memenuhi syarat apa pun yang kuberikan?”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 11

    Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 10

    Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 9

    “Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 8

    Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 7

    Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke

  • Gairah Liar Tuan Mafia   Bab 6

    Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status