تسجيل الدخولDetik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.
“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan. Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah. “Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan. “Ceraikan suamimu, Zein.” Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Kemudian, menikahlah denganku.” Deg! Dunia Alice runtuh lagi malam itu. Semua yang ia pertahankan seakan hancur dalam sekejap. Ia hanya bisa terdiam, menahan luka yang datang bertubi-tubi. Namun, Raja Rangsa belum selesai bicara. “Atau… jika kamu menolak biarkan anakmu mati.” Saat itu juga, tubuh Alice gemetar hebat. Ia tak percaya harus menceraikan suaminya demi pria yang bahkan tidak ia kenal. Pilihan itu terasa kejam, seolah memaksanya menyerahkan hidupnya pada orang asing. “Syarat itu… tidak masuk akal…” lirihnya. Rangsa tersenyum tipis. Dengan santainya ia mengisap cerutunya. Ia antusias menatap reaksi shock Alice. “Pilihan selalu ada, kau hanya perlu menentukan mana yang lebih berharga.” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Lebih penting mana, suamimu… atau nyawa anakmu.” Air mata Alice jatuh tanpa bisa ditahan. Pikirannya kacau, bayangan pengkhianatan Zein dan harga diri yang hancur terus berputar di kepalanya. Kini, semua yang ia jaga selama ini harus ia korbankan demi menyelamatkan Azka. “Anda memanfaatkan keadaanku!” bentaknya, tangan Alice terkepal sempurna. Rangsa tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin, tanpa menunjukkan emosi. Wajahnya tenang, namun terasa menekan. “Baik, aku setuju.” Tekanan itu terasa begitu kuat. Seolah tak memberinya ruang untuk berpikir lebih lama. Pada akhirnya, Alice dipaksa mengambil keputusan demi nyawa sang buah hati. “Kau yakin?” Alice mengangguk cepat. Meski berat, ia memilih tetap mengambil keputusan. Kalimat itu terasa pahit di lidahnya, namun ia tetap melanjutkan. "Yakin, aku akan menceraikan suamiku, kemudian, aku akan menikah denganmu, asalkan kau menyelamatkan putriku, sekarang juga.” Hening sesaat. Tak ada suara selain napas yang tertahan. Lalu, Rangsa mengulas senyum puas, seakan sudah memprediksi semuanya. “Bagus, keputusan yang tepat.” Ia berdiri dan melangkah mendekat ke arah Alice. Tangan kokoh dan berototnya menyentuh dagu wanita itu. Memandang lama wajah cantik Alice. “Mulai sekarang, kau adalah milikku." Alice menunduk. Matanya terpejam sejenak. Sebenarnya, ia risih. Namun, ia tak memiliki hak untuk menolak. “Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu.” "Justru, aku akan melindungimu, seperti dulu... saat aku mempertaruhkan nyawaku untukmu.” Alice langsung mengernyit. Ia merasa tak paham dengan maksud pembicaraan pria itu. Alice langsung bertanya. “Melindungiku, kapan?” ulangnya penasaran, ia menatap Raja Rangsa tajam penuh selidik. “Bukankah kita tidak saling mengenal sebelumnya?” Rangsa tidak langsung menjawab. Ia justru mendekat. Lalu, menepuk ringan bahu Alice. “Akan kujelaskan nanti, setelah semuanya selesai." tegasnya. "Sekarang… yang terpenting adalah anakmu.” Alice tersadar. Anaknya masih di rumah sakit dalam kondisi darurat. Ia harus segera kembali dan membawa darah yang dibutuhkan. “Ya… kita harus segera pergi ke rumah sakit sekarang.” Rangsa memberi isyarat pada anak buahnya. Dalam hitungan detik, suasana berubah. Semua orang bergerak cepat. “Siapkan helikopter,” perintahnya dingin. “Sekarang.” “Siap, Tuan!” Alice menahan napas. Kekuasaan pria ini… jauh di luar bayangannya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di helipad. Angin berputar kencang. Baling-baling mulai berputar, menimbulkan suara bising yang memekakkan. Udara di sekitar mereka terasa sangat dingin. “Ayo cepat!” Tanpa ragu, Alice masuk ke dalam dan Rangsa menyusul. Kemudian, helikopter terbang menembus malam. Di dalam, Alice duduk diam namun pikirannya kacau. "Azka… bertahanlah, nak." batinnya, Ia menoleh perlahan ke arah Rangsa. Rasa penasaran menghantui perasaan Alice. “Siapa sebenarnya pria ini?” “Kenapa dia bilang pernah melindungiku…?” “Apakah aku pernah mengenalnya?” “Kalau iya… kenapa aku tidak mengingat apa pun?” Sementara itu, Rangsa menatapnya diam-diam. Sudut bibirnya terangkat tipis. Otaknya memutar semua ingatan masa lalu yang sangat rahasia. “Apakah kau benar-benar tidak mengingatku, Alice? Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu lagi.”Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya
Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m
“Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh
Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar
Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke
Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto







