MasukLampu merah di atas pintu UGD masih menyala terang saat Alice dan Zein tiba. Seorang dokter keluar dengan langkah tergesa, wajahnya nampak tegang di bawah sorot lampu koridor. Keringat mengalir di pelipisnya, menandakan perjuangan berat yang baru saja ia lalui di dalam sana.
“Di mana orang tua pasien?!” seru dokter dengan suara yang menggantung di udara. “Masih dalam perjalanan, Dok,” jawab seorang suster yang sedang menyiapkan peralatan. “Saya di sini!” potong Alice, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. “Saya ibunya!” Semua mata tertuju padanya. Petugas medis yang ada di sana sejenak menahan napas, merasakan aura keputusasaan sekaligus kekuatan dari wanita di depan mereka. Alice mendekat dengan langkah limbung, wajahnya pucat pasi namun matanya menyala oleh ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. “Bagaimana keadaan putriku, Dok?” suaranya bergetar hebat. “Apakah dia sudah melewati masa kritisnya?” Dokter itu terdiam sejenak, menatap Alice dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kondisi pasien sangat kritis, Nyonya. Ia mengalami pendarahan internal yang hebat, terutama akibat trauma tumpul di bagian kepala.” Alice mematung. Seluruh ototnya kaku. Ia berdiri diam, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya. “Masalah terbesarnya…” dokter itu melanjutkan dengan nada yang semakin serius, “golongan darah pasien sangat langka. Stok di bank darah rumah sakit kami saat ini kosong karena ada kecelakaan beruntun tadi sore.” Deg! Jantung Alice terasa jatuh hingga ke dasar jurang terdalam. Cobaan ini seolah sengaja mengepungnya dari segala arah, tanpa memberinya celah untuk selamat. “Apa maksud Anda… kosong? Bukankah ini rumah sakit besar?” “Jika dalam enam jam ke depan tidak ada donor yang cocok masuk ke tubuhnya,” lanjut dokter itu tegas, “pasien tidak akan tertolong akibat kegagalan organ.” Pandangan Alice mendadak gelap. Dunia di sekelilingnya seolah berputar. Namun, insting seorang ibu membuatnya segera menoleh ke arah Zein yang berdiri di belakangnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencengkeram lengan suaminya begitu kuat, seolah Zein adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra luas. “Zein! Kamu ayahnya!” Alice berseru, matanya berkaca-kaca memohon. “Darahmu pasti cocok! Kamu harus mendonorkan darahmu sekarang juga! Selamatkan anak kita!” Kemudian, Alice menatap dokter dengan penuh harap yang menyakitkan. “Dia ayahnya, Dok. Tolong… ambil darahnya sekarang. Ambil sebanyak yang dibutuhkan.” Dokter itu mengangguk paham. “Baik, kita akan segera melakukan tes kecocokan silang dan pemeriksaan lab. Silakan ikut saya, Tuan.” Zein, yang tampak bimbang namun tak punya pilihan, langsung dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyiksa. Alice hanya berdiri di luar, menyandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya gemetar tak terkendali, jemarinya saling menggenggam erat, memanjatkan doa-doa tanpa suara. “Ya Tuhan… selamatkan putriku. Ambil saja nyawaku, tapi biarkan dia hidup. Aku bisa hancur, aku akan mati jika terjadi sesuatu padanya…” Namun, ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik pintu tertutup itu, sebuah kenyataan yang lebih mengerikan daripada kecelakaan helikopter sedang menunggu untuk terungkap. Tak lama kemudian… pintu terbuka. Zein keluar lebih dulu dengan langkah gontai. Wajahnya tidak lagi hanya pucat, tapi pasif, seolah ia baru saja melihat hantu. Di belakangnya, dokter berjalan dengan langkah berat, membawa map hasil pemeriksaan di tangannya. Alice langsung berdiri tegak, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di dada. “Apa hasilnya, Dok?! Apakah darahnya cocok? Bisa kita mulai transfusinya sekarang?” tanya Alice beruntun, suaranya serak. Dokter menatap Alice sejenak, lalu menghela napas panjang, sebuah pertanda yang selalu ditakuti oleh setiap keluarga pasien. Ia membuka lembar hasil pemeriksaan dan mengungkapkan sebuah kenyataan yang seketika menghentikan waktu. “Maaf, Nyonya. Saya harus menyampaikan fakta pahit ini di tengah kondisi yang mendesak.” “Fakta apa…?” suara Alice melemah, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. Dokter membuka hasil laboratorium itu di hadapan mereka berdua. “Dari hasil pemeriksaan profil darah secara mendalam… sama sekali tidak ada kecocokan antara Tuan Zein dan pasien Azka. Secara biologis, itu tidak memungkinkan.” Bamm! Kalimat itu menghantam Alice layaknya petir di siang bolong. Kepalanya mendadak pening luar biasa. “Secara medis… Tuan Zein bukan ayah kandung dari pasien,” lanjut dokter dengan suara berat yang menggema di koridor sepi itu. “Apa…?” suara Alice nyaris tidak terdengar, hilang ditelan keterkejutan yang teramat sangat. Zein membeku di tempatnya. Ia menatap hasil lab itu, lalu beralih menatap Alice dengan tatapan yang penuh tuntutan dan amarah yang mulai tersulut. Keyakinannya bahwa Azka adalah putrinya hancur dalam hitungan detik. “Bagaimana mungkin…?!” gumam Zein, suaranya rendah namun penuh ancaman. Zein langsung menoleh ke arah Alice. Pria itu menuntut penjelasan dari istrinya. “Apa maksudmu…?” nada Zein berubah dingin. “Dokter bilang… dia bukan anakku?”Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya
Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m
“Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh
Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar
Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke
Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto







