LOGINAlice menoleh cepat ke suaminya. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar hebat, Alice bingung mau menjawab apa. Karena dia juga shock mengetahui fakta ini.
“Aku… aku juga tidak tahu…” ucapnya lirih, panik. Pikiran Alice melalang buana. Ia berfikir keras, berusaha mengingat apapun tentang masa lalu yang berhubungan dengan Azka. Namun, ia tak mengingat apapun. “Ini pasti salah. Ini tidak mungkin…” “Tidak mungkin?!” bentak Zein, emosinya meledak. “Lalu ini apa, Alice?!” Ia menunjuk kertas di tangan dokter. Sebuah vonis yang tak terbantahkan, jika putrinya bukan anak suaminya. Lantas, anak siapa? “Selama ini kau menyembunyikan apa dariku, Alice?!” ucap Zein terus menekan, tanpa memberikan Alice ruang untuk berbicara. Air mata Alice jatuh semakin deras. “Tidak! Aku tidak pernah,” jawabnya gemetar. “Aku tidak pernah mengkhianatimu, Zein…” Zein tertawa kecil, tawa yang dingin dan penuh amarah, dan rasa kecewa pada sang istri. “Lucu sekali. Kau mau mengelak dari fakta ini?” Tatapannya tajam, penuh kecurigaan. Ia seakan ingin merendahkan istrinya. Bibirnya terus mengintimidasi tanpa perasaan jika saat ini sedang darurat. “Aku membesarkan anak itu… menyayanginya… menganggapnya darah dagingku sendiri…” “Dan sekarang faktanya, aku bukan ayahnya?” lanjutnya tak percaya. Alice menggeleng cepat. Ia menjelaskan dengan penuh kejujuran. Tidak peduli suaminya percaya atau tidak. “Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku bersumpah, Zein!” "AKU TIDAK PERNAH BERSELINGKUH SELAMA MENIKAH DENGAN KAMU!" “Cukup!” bentak Zein keras, suaranya menggema di lorong rumah sakit. Namun, Alice tak lagi peduli. Keselamatan putrinya lebih penting dari apapun. ia menatap fokus ke arah dokter. “Dok… tolong…” mohon Alice, berbalik ke arah dokter. Tubuhnya hampir terjatuh. “Bagiku, bukan itu yang penting sekarang. Nyawa putriku lebih penting dari segalanya!” Air matanya jatuh tanpa henti. Alice benar-benar hancur. Namun, suaminya sendiri tak mau mengerti kondisinya. “Tolong selamatkan putriku…” “Siapa pun ayahnya, dia tetap anakku…” Dokter itu terdiam sejenak, lalu berkata serius. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Nyonya. Tapi waktu kita sangat terbatas. Golongan darah putri Anda sangat langka, dan saat ini stok tidak tersedia.” Alice mengangguk pelan. Ia menatap dokter dengan penuh harap. “Saya akan mendapatkannya, Dok,” ucapnya bergetar namun penuh tekad. “Apa pun caranya.” “Tolong jaga putriku sampai saya kembali.” Tanpa menunggu jawaban, Alice langsung berbalik dan melangkah pergi. Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Panggilan tersambung. “Ya, Nyonya,” jawab sekretarisnya sigap. Alice menarik napas dalam, menahan emosinya. “Dengarkan baik-baik. Cari siapa pun yang memiliki golongan darah AB negatif,” perintahnya tegas. “Aku tidak peduli berapa biayanya. Bayar berapa pun yang di inginkan. Yang penting dia bersedia mendonorkan darahnya.” “Aku ingin mereka datang ke rumah sakit sekarang. Nyawa putriku dalam bahaya.” “Siap, Nyonya. Saya akan segera lakukan.” jawab sekertaris tak kalah serius. Panggilan terputus. Kemudian, Alice terdiam sejenak. Napasnya masih tak teratur. “Di mana aku harus mencari darah untuk putriku…?” bisiknya lirih, wajahnya semakin pucat. Matanya menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya, ia merasa uang, kekuasaan, dan pengaruhnya tak berarti apa-apa. Bahkan, demi putrinya ia rela mengguncang seluruh kota london. "Apapun caranya, aku harus mendapatkan darah yang dibutuhkan anakku" Alice berdiri gelisah di ujung lorong. Tatapannya terus tertuju pada ponsel di tangannya. Sepuluh menit kemudian, ponselnya berdering. “Ya?!” “Nyonya, ada kabar baik,” ujar sekretarisnya cepat. “Kami menemukan seseorang dengan golongan darah AB negatif.” Napas Alice terlepas, rasanya langsung plong. “Syukurlah…” bisiknya lirih. “Minta dia datang sekarang. Bayar di awal, berapa pun yang dia minta.” Namun di seberang, sekretarisnya terdiam. Rasanya ragu ingin menyampaikan informasi yang ia dapatkan. “Tapi, Nyonya… orang itu bukan orang biasa.” Alis Alice mengernyit, merasa tak paham. Tapi, ia juga penasaran maksud sekertarisnya. Bukan orang biasa, apakah hantu atau seseorang yang sangat berkuasa? “Maksudmu?” tanya Alice langsung. “Menurut informasi yang kami dapat… pria itu adalah raja mafia dari wilayah selatan. Sangat berbahaya, kejam, dan dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin.” lanjut sekertaris menjelaskan. Alice terdiam beberapa saat. Terkejut, jelas terlihat diwajahnya. Seumur hidup Alice tak pernah berurusan dengan mafia. “Di mana dia berada?” tanyanya pelan. “Lokasinya dirahasiakan, Nyonya. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya, ia tinggal di pulau pribadi miliknya yang terisolasi." jawab Sekertaris memperjelas. “Aku tidak peduli,” ucap Alice tegas. “Selama dia bisa menyelamatkan putriku, aku akan menemuinya.” “Aku tidak takut risiko… bahkan jika harus berhadapan dengan monster sekalipun.” “Apakah Anda ingin saya mengatur pertemuan, Nyonya?” Alice menggeleng, meski tak terlihat. “Tidak. Kita tidak punya waktu. Aku yang akan menghubunginya sendiri.” Tatapannya lurus ke depan, penuh tekad. “Kamu punya nomor kontaknya?” “Belum, Nyonya. Nomornya sangat dirahasiakan. Tapi saya akan berusaha mendapatkannya secepat mungkin.” Alice mengangguk. “Segera beri tahu aku. Kita tidak punya banyak waktu.”Alice membeku di tempat saat putrinya memanggil Rangsa dengan sebutan Papa. Tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Matanya menatap lurus ke arah putrinya dengan penuh ketidakpercayaan.“Pa… pah…” lirih Azka sekali lagi, nadanya lemah namun jelas mengarah pada satu sosok.Napas Alice tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak seperti diremas. Ia melangkah satu langkah maju, memastikan bahwa yang didengarnya bukan halusinasi. Tatapan wanita itu beralih cepat antara Azka dan Raja Rangsa.“Azka… apa yang kamu katakan, Nak?” suara Alice bergetar. “Dia bukan papahmu…”Azka menggeleng pelan, wajah polosnya tampak bingung namun yakin. Matanya menatap Rangsa seolah menemukan rasa aman di sana. Tangan kecilnya sedikit terangkat, ingin meraih sosok pria itu.“Papa…” ucap Azka lagi, lebih jelas meski lemah.Alice mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar hebat melihat reaksi itu. "Bagaimana, mungkin..." gumam Alice, Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, membasahi pipinya
Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m
“Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh
Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar
Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke
Satu jam kemudian. Langit malam semakin pekat saat pesawat pribadi milik Alice mendarat di landasan kecil pulau terisolasi. Bahkan, tempatnya nyaris tak terlihat dipeta. "Akhirnya sampai juga" gumamnya, sembari menghembuskan nafas lega. Begitu pintu pesawat terbuka, hawa dingin langsung menyambut. Alice turun tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, meski ia tahu sedang melangkah ke wilayah asing. "Menyeramkan sekali tempat ini," batin Alice. Terlihat, disana tak ada gemilau lampu kota. Bahkan, tak ada suara kehidupan. Di kejauhan, beberapa pria berbadan besar sudah menunggu, dan mereka semua berpakaian serba hitam. “Alice Skyler?” Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Alice dengan tatapan sulit dijelaskan. “Iya, Aku Alice Skayler." “Ikuti kami. Bos sudah menunggumu.” Alice tidak membantah, ia angsung mengikuti mereka. Sebuah mobil hitam tanpa plat terparkir tak jauh dari sana, bahkan pintu dibukakan untuknya. “Masuk.” Tanpa ragu, Alice naik ke dalam. Dengan oto







