เข้าสู่ระบบ"Kau lupa siapa yang memegang empat puluh persen saham kendali merger ini, Sir?" balas Ivy, mencoba mempertahankan suara tegasnya meskipun helaan napasnya mulai terengah-engah.Ivy memutar tubuhnya, memanfaatkan kelincahannya untuk membalik posisi. Ia berhasil membebaskan tangannya, mendorong dada bidang Arthur hingga pria itu mundur setengah langkah. Dengan tatapan menantang dan keberanian seorang ratu, Ivy merapikan helai rambut hitamnya yang terurai, lalu melangkah santai menuju meja rias untuk meraih ponselnya.Namun, gerakan Ivy terhenti sebelum jemarinya menyentuh layar kaca tersebut.Dari belakang, Arthur menyambar pinggang ramping Ivy dengan satu gerakan secepat kilat. Pria itu memutar tubuh Ivy, mengangkatnya dengan mudah, dan mendudukkannya tepat di atas meja rias berlapis marmer yang dingin. Berkas-berkas dokumen pernikahan dan kotak perhiasan berhamburan ke lantai, tapi itu semua terabaikan."Kau mencoba melarikan diri dariku di malam pernikahan kita?" tanya Arthur, matany
Saat Ivy sampai di hadapan altar, ia sengaja menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan kursi Lord Edward sebelum berbalik menghadap Arthur."Kau terlambat dua menit, Miss Collins." Sindiran Tuan Edward memecah keheningan yang tegang.Ivy menoleh sedikit untuk memberikan senyuman tipis yang anggun. "Dua menit yang kugunakan untuk memastikan bursa saham pembukaan New York menyetujui merger penuh atas namaku, Tuan. Waktu yang sangat berharga, bukan?"Mata tua Tuan Edward berkilat terkejut, sebelum akhirnya seringai tipis muncul di wajah berkerutnya. Pria tua itu mengangguk pelan, sebagai sebuah pengakuan langka atas ketangguhan wanita yang tidak memiliki silsilah bangsawan tersebut.Arthur mengulurkan tangannya pada Ivy. Begitu jemari mereka bersatu, aliran arus listrik yang familiar menjalar di bawah kulit mereka. Pendeta tua di depan mereka mulai membacakan janji suci, tapi bagi Arthur dan Ivy, kata-kata formalitas itu hanyalah latar belakang."Di hadapan dunia yang pernah mencoba
Arthur melangkah mendekati meja Ivy, sambil menyuruh para stafnya mundur dengan isyarat tangan singkat."Kau mengintimidasi jajaran direksi sebelum pesta bahkan dimulai," ucap Arthur, duduk di tepi meja kerja Ivy sambil memiringkan kepalanya."Aku hanya menghemat waktu," sahut Ivy datar, matanya sibuk memindai grafik valuasi saham di tabletnya. "Pernikahan ini akan dihadiri oleh tiga ratus orang paling berpengaruh di dunia. Satu celah kecil dalam protokol akan dimanfaatkan oleh musuh-musuhmu untuk menilai kerapuhan kita.""Kita tidak punya kerapuhan," potong Arthur tegas. Ia menyambar tablet dari tangan Ivy, meletakkannya di meja tanpa memedulikan protes halus dari wanita itu. Jemari besarnya menggenggam jemari Ivy, menautkan jari-jari mereka erat-erat. "Istirahatlah sepuluh menit. Itu perintah dari atasanmu."Ivy menaikkan sebelah alisnya, mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Arthur sekeras besi, meski usapan ibu jarinya di punggung tangan Ivy terasa begitu protektif dan hangat.
Pintu itu kembali terkunci secara otomatis. Suasana yang tadinya penuh tensi amarah mendadak berubah menjadi penuh akan hasrat terpendam.Ivy menarik napas panjang, merapikan blazer putihnya yang sedikit bergeser. Namun, sebelum ia sempat kembali ke mejanya, Arthur menyambar pinggangnya dari belakang, menarik punggung ramping Ivy melekat sempurna pada dada bidangnya."Sangat tidak tertandingi, Mrs. Sterling." Bulu kuduk Ivy meremang saat bibir hangat Arthur merayapi garis lehernya, menghisap lembut kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda merah yang baru."Kita masih di kantor, Arthur," tegur Ivy, meski suaranya mulai lemah akibat getaran gairah yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Ia membalikkan badan dalam pelukan Arthur, menatap wajah tampan pria yang kini menguncinya penuh obsesi."Gedung ini milikku. Kau milikku. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani melangkah ke lantai ini tanpa izin dari pemiliknya," bisik Arthur dengan kehausan gairah yang mendalam.Tanp
Beberapa saat setelahnya, mereka hanya berbaring terengah-engah dalam posisi saling mengunci. Arthur memiringkan tubuhnya, merengkuh Ivy erat-erat ke dalam pelukannya dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan pendingin udara. "Persepsi mereka tentang kita akan berubah total esok pagi," gumam Ivy seraya matanya menatap langit-langit penthouse. Arthur mengusap helai rambut Ivy, mencium keningnya dengan kelembutan luar biasa. Sangat berbeda dari keliarannya beberapa menit lalu. "Biarlah seluruh dunia tahu," sahut Arthur dengan nada protektif yang teramat kuat. "Mereka bisa mencoba merebut kekuasaanmu, tapi siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu lagi, akan kupastikan namanya terhapus dari sejarah peradaban." Ivy menoleh, menatap garis rahang tegas pria yang dulu paling ia benci, tapi kini menjadi satu-satunya pelindung paling kejam dan setia dalam hidupnya. "Kapan pernikahan kita akan digelar?" tanya Ivy. Arthur tersenyum tipis, tatapannya m
"Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi







