LOGINNamun, sosok itu jelas bukan Sean, melainkan Juan.Elyssa segera melepaskan pelukan pria itu dari tubuhnya, tampak syok. “J-juan…”Juan memang sudah memantau sekitar mansion Sean sejak tadi— entah apa yang ia harapkan, mungkin ia hanya ingin merasa dekat dengan Elyssa meski wanita itu berada di dalam rumah.Begitu melihat Elyssa keluar menaiki taksi, ia langsung mengikutinya tanpa ragu."Kamu ngapain di sini sendirian? Nunggu seseorang?" tanya Juan dengan nada datar, namun terselip kekhawatiran.Elyssa justru balik bertanya, "Kamu kok bisa di sini?”"Hanya kebetulan lewat," bohong Juan. "Di sini dingin, baju kita juga mulai basah kena percikan air. Lebih baik masuk ke mobil.""Enggak, makasih. Aku di sini saja, Juan.”"Hujannya semakin deras, El. Kamu bisa sakit kalau terus di sini."Elyssa sempat ragu, namun rasa dingin yang mulai menusuk tulang akhirnya membuatnya menyerah. Ia bangkit dan melangkah masuk ke dalam mobil Juan.Begitu pintu tertutup, suhu hangat dari AC mobil langsung
Sementara itu, Sean telah menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi. Elyssa mendengarkan, ia mencoba mengerti dan mulai belajar memaafkan. Meski begitu, hatinya masih menyimpan rasa kesal karena pernah dijadikan alat balas dendam, walaupun sekarang Sean mengaku sudah benar-benar jatuh cinta padanya."Kamu boleh membalas dan memanfaatkanku sebanyak apa pun yang kamu mau, Elyssa," ucap Sean lirih, seolah menyerahkan dirinya sepenuhnya.Elyssa mengukir senyum tipis, sebuah senyuman yang terasa menyakitkan untuk dilihat. "Aku gak akan membalas ataupun memanfaatkanmu, Sean. Cintaku tulus. Karena itu, aku hanya berharap kamu juga mencintaiku tanpa ada tujuan lain di baliknya."Ia menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku gak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti saat aku menikah dengan Albert. Karena dulu dia juga sama sepertimu, manis pada awalnya dan ngomong cinta setiap hari. Aku bener-bener udah gak bisa bedain mana omongan pria yang jujur atau berbohong.
Juan kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka bahwa caranya memandang Elyssa selama ini begitu transparan, hingga membuat Selena pun menyadarinya."Katakan padaku, Juan... aku harus apa supaya kamu juga cinta sama aku?" Suara Selena mulai bergetar.Juan masih tak mampu menjawab. Ia hanya terpaku menatap Selena yang kini terlihat sangat rapuh di depannya."Apa aku harus berpenampilan seperti Kak Elyssa? Apa aku harus bicara lembut seperti dia?”"Selena, dengar..." Juan akhirnya bersuara, rendah dan berat. "Kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa. Kamu sudah cukup. Masalahnya bukan ada pada dirimu, tapi ada pada hatiku yang tidak bisa dipaksa."Selena menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangis yang ingin meledak.Juan membuang muka, tak sanggup menatap mata Selena yang kini memerah. Ia ingin sekali menghibur, atau setidaknya berbohong agar suasana tidak sepedih ini. Namun, ia tahu memberikan harapan palsu justru akan lebih kejam."Sekali lagi maaf, aku tidak bisa memaksakan per
Di tempat lain, Selena baru saja sampai sekitar pukul enam sore tadi dan mendapati apartemen terasa sepi. Ia sempat membuka kamar Elyssa, namun yang dicarinya itu tak ada di sana.Barulah saat ia mengecek ponsel, ia menemukan pesan singkat dari Elyssa. Isinya mengatakan bahwa kemungkinan besar Elyssa tidak akan pulang malam ini.Setelah mandi dan membersihkan diri, telinga Selena menangkap suara bel pintu. Ia segera membukanya dan mendapati Juan sudah berdiri di sana. Pria itu tampak sangat ceria dengan senyum lebar, tangannya menenteng kantong plastik berisi makanan yang aromanya sangat menggoda.“Juan, masuk,” ucap Selena canggung.Juan melangkah ringan dan menaruh bawaannya di meja mini bar. "Belum pada makan, kan? Aku bawa ayam bakar buat kita bertiga. Aku juga beli dua botol anggur, kali saja kalian mau minum-minum lagi kayak semalam,” ucapnya antusias.Sambil berbicara, mata Juan terus melirik ke arah ruang tengah, mencari sosok yang sejak tadi ingin ia temui. Namun, ia tidak me
Elyssa akhirnya tidak tahan dengan rasa lapar yang mulai melilit perutnya. Ia pun mengambil sendok dan mulai menyantap bubur hangat itu. Namun, baru tiga suap bubur itu masuk ke mulutnya, ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya.Perlahan, Elyssa menoleh. Jantungnya hampir copot saat melihat Sean sudah membuka mata dan sedang menatapnya sambil tersenyum tipis."E-eh? Kamu sudah bangun?" tanya Elyssa canggung. Ia buru-buru menelan bubur di mulutnya dan meletakkan kembali mangkuk itu ke nampan dengan gerakan kikuk. "Kamu... lapar?"Sean menggeleng lemah, matanya tidak lepas dari wajah Elyssa. " Aku gak lapar. Kan tubuhku sudah diinfus," sahutnya dengan suara yang hampir habis.Mendengar itu, sifat bawel Elyssa spontan keluar. "Mana bisa begitu! Kamu tetap harus makan supaya ada tenaga. Kalau cuma infus, nutrisinya gak bakal terpenuhi. Kamu mau sakit terus?”Sean tidak membantah. Ia justru mengulas senyum yang lebih lebar, meski wajahnya masih pucat. "Ternyata kamu masih sayang
Sean berusaha memperbaiki posisinya, namun tubuhnya masih terlalu lemas. Ia menatap Elyssa dengan mata yang berkaca-kaca.“Kukira kamu gak bakal balik ke sini. Semenjak kamu pergi, aku banyak pikiran dan jatuh sakit,” ucap Sean lirih.Elyssa membuang muka, tidak mau melihat wajah Sean. "Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkanku atas penyakitmu? Kekanak-kanakan sekali," sahutnya dingin, pura-pura tidak peduli meskipun hatinya sedikit goyah.Sean tersenyum pahit. "Aku pikir... kamu sudah bosan padaku karena sudah punya pria lain."Elyssa langsung mengernyitkan dahi. Ia menoleh dan menatap Sean dengan tajam. "Pria lain? Apa maksudmu?""Jujur saja, aku langsung drop setelah melihat foto-fotomu," suara Sean semakin pelan, seolah menahan rasa sakit di dadanya.“Hah? Foto apa?” Elyssa penasaran."Foto kamu dan Juan di tempat karaoke. Kalian terlihat… sangat mesra."Elyssa terdiam sejenak, otaknya bekerja keras mengingat kejadian di karaoke waktu itu. Ia memang pergi bersama Juan dan Selena, t







