MasukKegembiraan dan antisipasi untuk liburan ke Bandung sedikit terganggu saat kabar tak terduga datang. Di pagi hari sebelum mereka berangkat, Bu Sonya menerima kabar dari tetangga yang cukup mengkhawatirkan. Kabarnya, lingkungan perumahan mewah tempat tinggal Bu Sonya sedang menghadapi masalah keamanan yang cukup serius. Beberapa kejadian yang mencurigakan terjadi belakangan ini, dan ini membuat mereka menjadi sangat waspada.Berita ini segera disampaikan kepada semua anggota keluarga dan rencana pun harus diubah. Mbak Tini dan Pak Dirman, yang seharusnya ikut dalam liburan, memutuskan untuk tidak ikut mengingat situasi yang tidak aman di perumahan tersebut."Kami harus memprioritaskan keamanan," ujar Pak Dirman dengan suara serius. "Lagi pula, kami juga harus memastikan rumah ini tetap terjaga."Meskipun berat hati, keputusan ini diambil demi keamanan semua orang. Bu Sonya merasa prihatin, namun ia mengerti dan menghargai keputusan yang diambil oleh Mbak Tini dan
Hari berikutnya di malam hari, suasana di rumah Sonya Fast terasa berbeda. Lampu-lampu gemerlap tergantung di taman dan teras, menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Bu Sonya sibuk mempersiapkan semuanya dengan penuh semangat. Ia ingin mengadakan sebuah pesta kecil sebagai tanda terima kasih atas dukungan semua orang yang ada dalam hidupnya.Arya, yang baru saja selesai mengantar Bu Sonya pulang dari kantor, melihat persiapan itu dengan senyuman. Ia tahu bahwa Bu Sonya ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka yang dekat dengannya. Melihat Bu Sonya yang tegas dan serius di kantor, Arya merasa senang melihat sisi lain dari majikannya ini.Malam itu, rumah itu ramai dengan suara tawa dan obrolan hangat. Arya, Cindy, Jodi, Mbak Tini, dan Pak Dirman semua berkumpul di halaman rumah, menikmati makanan dan minuman yang telah disiapkan dengan baik oleh tim dapur.Bu Sonya melihat sekitar dan tersenyum bahagia. Ia bangga dengan tim yang ada di sekitarnya. Kemud
Malam itu, suasana di rumah Bu Sonya terasa tenang. Arya, sang sopir pribadi, tengah duduk di kamarnya yang terletak di lantai bawah. Ia merenung sejenak, memikirkan semua yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pekerjaannya sebagai sopir pribadi Bu Sonya telah membawanya ke dalam dinamika perusahaan dan kehidupan keluarga Sonya Fast.Ponsel Arya tiba-tiba bergetar di atas meja. Ia mengambilnya dan melihat panggilan masuk dari Bu Sonya. Tanpa ragu, Arya menjawab panggilan tersebut."Halo, Bu Sonya?" sapanya."Ya, Arya. Bisakah kamu datang ke kamarku sebentar?" tanya Bu Sonya dengan suara lembut.Terdengar ragu di dalam suara Bu Sonya, yang agak tidak biasa. "Tentu, Bu Sonya. Saya akan datang."Arya memutus panggilan dan dengan hati-hati mendekati tangga yang mengarah ke lantai atas. Ia merasa sedikit penasaran, karena jarang sekali Bu Sonya memanggilnya dengan nada seperti itu. Ia naik ke lantai atas dan berjalan menuju pintu kamar Bu Sonya.Dengan perasaan harap-harap cemas
Dalam ruang rapat yang tenang, Bu Sonya duduk di ujung meja dengan pandangan serius. Cindy, Jodi, dan Arya duduk mengelilingi meja rapat. Ruangan itu penuh dengan kekhawatiran namun juga tekad untuk melawan rencana jahat yang telah terungkap."Dengan informasi yang telah Arya berikan, kita memiliki keuntungan untuk bisa menghadapi mereka," kata Bu Sonya dengan tegas. "Kita harus bertindak cepat dan cerdas."Cindy mengangguk setuju, "Kita tahu bahwa keempat orang itu sangat berbahaya dan mungkin memiliki sumber daya yang besar. Tapi kita tidak boleh takut. Kita punya tim yang kuat di sini."Jodi menambahkan, "Saya setuju. Kita harus merencanakan penjebakan yang bisa mengungkap rencana mereka."Arya yang duduk di sudut ruangan, merasa tegang namun juga bersemangat. Ia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk berkontribusi lebih dari sekadar sopir pribadi. "Saya punya ide," katanya.Bu Sonya menatapnya, "Katakan, Arya.""Apa kalau kita menciptakan situasi palsu yang membuat mereka percaya bah
Hari itu di sebuah kafe, Pak Jaka dan Pak Hadi duduk di sebuah meja, menunggu dua orang lainnya yang belum datang. Suasana yang tegang terasa di udara, seolah-olah ada sesuatu yang besar akan terjadi.Tak lama kemudian, dua sosok yang dikenal oleh Pak Jaka dan Pak Hadi datang menghampiri meja mereka. Mereka adalah mantan kepala unit cabang 4 dan 7 yang baru saja dipecat oleh Bu Sonya. Kehadiran mereka mengisyaratkan bahwa mereka memiliki rasa dendam terhadap Bu Sonya dan perusahaannya.Pak Jaka menyambut mereka dengan senyuman sinis, "Baiklah, mari kita mulai."Pak Hadi menambahkan, "Kita semua memiliki alasan yang sama untuk melakukan ini."Mantan kepala unit cabang 4 mengangguk, "Benar. Bu Sonya telah merusak karir kita dengan semena-mena. Kita harus memberinya pelajaran."Mantan kepala unit cabang 7 juga ikut angkat bicara, "Dan yang terpenting, kita akan menguasai perusahaan ini. Kami telah memiliki rencana untuk merusak citra perusahaan dan me
Suasana kantor Sonya Fast hari itu kembali terasa tegang saat Bu Sonya, dengan ekspresi serius, berdiri di hadapan meja kerjanya dan di depannya ada kepala unit cabang ke 9 yang sedang gemetar. Arya, seperti biasa, berada di latar belakang, diam-diam menyaksikan adegan yang tengah berlangsung."Bagaimana ini bisa terjadi, Pak Hadi? Cabang ke 9 ini sudah beberapa kali membuat kesalahan dalam pengiriman barang. Pelanggan-pelanggan kita semakin banyak yang mengeluh!" ujar Bu Sonya dengan nada tegas.Kepala unit cabang ke 9, Pak Hadi, tampak berusaha menjelaskan dengan wajah yang cemas, "Maaf, Bu Sonya. Kami sedang berusaha memperbaiki sistem pengiriman dan menangani masalah ini."Bu Sonya tidak terima dengan penjelasan itu, "Ini bukan kali pertama, Pak Hadi. Masalah yang sama sudah terjadi berulang kali. Apa yang anda lakukan? Apa yang Jaka lakukan sebagai manajer keuangan? Apakah laporan keuangan cabang ini juga berantakan?"Mendengar nama Jaka disebut, mat







