LOGINLobi utama lantai dasar kantor pusat Marunda Fast di Jakarta dihiasi spanduk merah megah bertuliskan ucapan selamat.
Seluruh staf divisi operasional, tim keuangan, hingga jajaran mekanik pangkalan berbaris rapi menyambut kedatangan pimpinan mereka.
Dua unit Alphard hitam dinas berhenti mulus tepat di depan pintu kaca otomatis lobi utama.
Slamet dengan sigap membukakan pintu mobil sebelah kanan, memberikan salam hormat khas pangeran pangkalan.
Arya Baswira keluar le
Pertanyaan dingin dari bibir bergincu merah menyala itu mematok Maya di tempat.Tubuh staf administrasi baru itu bergetar hebat, wajahnya pucat pasi bagai kehilangan seluruh darah."S-s-saya... Saya tidak bermaksud begitu, Ibu Sonya... Saya cuma mau membantu merapikan berkas Pak Arya," cicit Maya terbata-bata setengah terisak."Membantu?" potong Sonya tersenyum dingin.Sonya melangkah pelan, ujung sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama menakutkan."Di perusahaan ini, tugas administrasi hanya sampai menyerahkan lembar Laporan Keuangan di meja depan," tegur Sonya bersuara tenang tapi tajam."Tanganmu tidak dibayar untuk menyentuh pundak Manajer Keuangan sekaligus suamiku!" lanjut Sonya menekankan kata suamiku dengan tatapan menusuk."M-m-mohon maaf, Ibu... Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi... Mohon jangan pecat saya, Ibu," tangis Maya pecah karena sangat takut.Arya keluar dari dalam ruangan, melangkah
Tawaran pijatan bahu dari Maya membentur tembok dingin di ruang kerja Direktur Utama.Arya Baswira tidak bergeming sedikit pun, berdiri tegap membelakangi meja kerja sambil menyilangkan kedua tangan kekarnya di dada.Mata tajam mantan supir itu menatap lurus ke arah Maya tanpa berkedip."Kamu ditugaskan di sini untuk mengurus dokumen administrasi, bukan menawarkan pijatan!" tegur Arya bersuara berat menggelegar."E-ehmm... M-maksud saya, Pak Arya... Saya cuma ingin memastikan Bapak tidak kelelahan," jawab Maya terbata-bata dengan muka pucat."Tugasmu selesai setelah menaruh berkas... Ambil nampannya dan keluar dari ruangan saya sekarang!" pangkas Arya dingin."B-baik, Pak... M-mohon maaf atas kekhilafan saya," cicit Maya tertunduk malu, terburu-buru mengambil nampan lalu melangkah keluar.Bruk!Pintu kayu mahoni itu tertutup rapat, menyisakan Arya yang bernapas lega sambil mendekati meja kerjanya kembali.Di layar ponsel
Suasana pagi di kantor pusat Marunda Fast tampak sibuk seperti biasa.Deretan truk kontainer melintas berurutan di area pangkalan, dipandu oleh instruksi tegas para kepala operasional lapangan.Namun ada yang berbeda di lantai dua gedung utama pagi ini.Arya Baswira melangkah tegap menyusuri karpet merah lorong eksekutif, mengenakan kemeja formal hitam tergulung hingga siku.Lengan kekarnya yang berotot khas bekas panggul barang membuat seluruh staf dan manajer menunduk hormat saat dia lewat.Arya membuka pintu ruang Direktur Utama, mendudukkan tubuh tingginya di kursi kulit mewah yang biasanya ditempati Sonya.Pria itu langsung menumpuk berkas laporan keuangan kuartal ketiga di atas meja kaca berukuran besar."Slamet! Panggil semua kepala divisi masuk ke ruang rapat lima menit lagi!" seru Arya bersuara berat menggelegar.
Roda Alphard hitam meraung keras menembus dinginnya kabut malam jalanan Puncak Bogor.Arya Baswira memegang erat kemudi dengan kedua tangannya yang tegap, memfokuskan tatapan matanya menembus kegelapan.Di kursi penumpang tengah, Sonya Baskoro terbaring menyamping dengan peluh dingin yang membasahi dahinya.Arya sesekali melirik lewat kaca spion tengah, merasakan detak jantungnya berdegup kencang dibakar rasa cemas yang tak tertahan.Pria perkasa yang biasanya sangat tenang melibas musuh-musuh bisnis kini tampak panik luar biasa di depan keselamatan istrinya."Tahan sebentar ya, Sonya... Lima ratus meter lagi kita sampai di klinik utama Puncak!" seru Arya bersuara berat dan bergetar."A-aduhhh... M-mas Arya... Mulesnya makin menjadi-jadi, Mas," ringis Sonya memegangi perutnya yang keras.Mobil Alphard mendadak berbelok tajam memasuki pelataran Klinik Medika Puncak yang berlampu terang.Arya melompat keluar dari pintu kemudi, me
Kabut tipis beraroma pinus menyelimuti pelataran vila privat berlantai dua di kawasan dingin Puncak Bogor.Mobil Alphard hitam milik Arya Baswira berhenti mulus tepat di depan garasi kayu berukir gaya Jawa modern.Bi Suci turun dari pintu belakang sambil menuntun tangan kecil Anya Baswira yang melompat-lompat gembira melihat kebun bunga."Papa! Vilanya besar banget! Ada kolam renang air hangatnya tidak di dalam?" seru Anya antusias bernada manja.Arya mengacak pelan rambut putri kecilnya, menyunggingkan senyum hangat yang memancarkan kebahagiaan seorang ayah."Ada, Sayang... Papa sudah minta pengelola nyalakan pemanas kolam renang khusus buat Anya," sahut Arya lembut.Arya kemudian membukakan pintu tengah mobil, mengulurkan kedua tangan kekarnya untuk membimbing Sonya Baskoro.Sonya melangkah keluar perlahan, membalut tubuh anggunnya dengan sweter rajut longgar berwarna putih gading.Raut wajah cantiknya yang kemarin pucat kini
Lobi utama lantai dasar kantor pusat Marunda Fast di Jakarta dihiasi spanduk merah megah bertuliskan ucapan selamat.Seluruh staf divisi operasional, tim keuangan, hingga jajaran mekanik pangkalan berbaris rapi menyambut kedatangan pimpinan mereka.Dua unit Alphard hitam dinas berhenti mulus tepat di depan pintu kaca otomatis lobi utama.Slamet dengan sigap membukakan pintu mobil sebelah kanan, memberikan salam hormat khas pangeran pangkalan.Arya Baswira keluar lebih dulu mengenakan kemeja hitam yang tergulung kencang, memancarkan aura Alpha yang sangat berkuasa.Pria tegap itu berbalik, mengulurkan tangan kasarnya membimbing Sonya Baskoro yang melangkah keluar dari dalam mobil.Sonya tampak anggun dibalut gaun hamil longgar berwarna ungu muda, namun raut cantiknya terlihat agak pucat dan lesu.Keletihan perjalanan udara dari Balikpapan membuat Ratu Besi itu mendadak diserang rasa mual dan pusing yang cukup berat."Wahhh... Se







