Home / Romansa / Gelora Berbahaya Dokter Tampan / Bab 7 Pangeran Pramedika Hospital

Share

Bab 7 Pangeran Pramedika Hospital

last update Last Updated: 2025-12-25 13:31:33

Setelah jam praktik berakhir, Raditya melepas dan mengganti jas putih dengan jas formalnya. Lelaki itu tampak kelelahan setelah menangani beberapa pasiennya hari ini.

Baru saja ia akan meninggalkan ruangannya, terlihat suster Rini yang masih ada di sana merapihkan ruang kerjanya segera menghampiri.

"Dokter!" Panggilnya dengan perasaan tidak enak hati.

Seketika langkah Raditya terhenti, perlahan memutar badan. "Ada apa?" Tanyanya dengan nada datar, dengan tatapan dingin dan kedua alis tebal yang mengerut penuh keheranan mengingat jam kerja sudah usai.

"Maaf kalau membuat Dokter kesal, saya menemukan ini, apa ini milik pasien terakhir tadi ya?" Jelas sang suster memastikan lebih dulu seraya menyodorkan sebuah kotak hitam kecil.

Dokter Raditya menyergit heran, mengingat dia tak merasa pemilik benda itu. Namun karena sedikit penasaran membuatnya berjalan menghampiri lalu meraih dan membuka.

Terlihat isi benda dari kotak hitam ternyata adalah sebuah arloji pria limited edition bermerk rolex. Elegan dan mahal.

"Jam tangan pria?" Dokter Raditya tertegun, sorot mata tajamnya masih membidik benda itu, masih ingat jelas jika pasien terakhir tadi adalah Airin tidak ada yang lain lagi.

Melihat Dokter Raditya tampak bengong, membuat suster kembali memberanikan diri mengutarakan pendapatnya. “A-apa saya titipkan saja pada bagian resepsionis saja Dokter?” tawarnya bernada lembut.

Dokter Raditya terbuyar dalam lamunannya. “Tidak perlu, jika pasien tadi datang kembali dan mengakui, suruh temui aku saja.” Tegasnya tak ingin di bantah.

“Ba-baik Dokter.” Suster Rini mengangguk patuh seraya membungkukkan badan penuh hormat, saat atasannya berjalan keluar ruangan lebih dulu.

Sebagai suster pendamping dan di percaya yang sudah ikut lama, wanita berseragam serba putih itu masih menatap heran dan tanya tanda besar dalam benaknya.

“Aneh sekali, tumben Dokter Radit terlihat begitu serius pada sesuatu apa lagi kalau bicara tentang pasien wanita tadi? Apa mereka saling kenal ya?” Dia bertanya-tanya penasaran. “Sudahlah, sudah bukan urusan ku juga mereka saling mengenal juga.”

Suster Rini menggelegkan kepala dan kembali fokus membereskan meja, serta beberapa dokumen penting para pasien Dokternya ke tempat arsipnya lagi.

Sementara Raditya baru keluar dari lift, terlihat mencuri perhatian para suster dan para wanita yang berlalu lalang di area pintu utama gedung tinggi beraroma obat-obatan itu.

“Dokter Raditya! Apa anda mau pulang?” Para suster di sana menyapa seraya melempar tersenyum genit, berharap bisa menarik perhatian lelaki tampan itu.

Sayangnya sikap Raditya terlihat begitu dingin, ekspresi paras tampannya tampak datar dan hanya fokus berjalan menggenggam kotak kecil di tangannya.

Membuat kaum hawa di sana mendesah kecewa, selain kepopuleran Raditya yang begitu bagus di bidangnya. Dia juga mengalahkan Kharisma para Dokter pria yang ada di sana. Bahkan punya gelar sebagai pangeran dingin Pramedika Hospital.

“Astaga, Dokter Radit tampan dan keren sekali sayang sekali dia sangat cuek, kira-kira wanita seperti apa yang bisa meluluhkan hatinya?”

“Entahlah, beliau sangat susah di dekati tapi ku dengar tadi ada pasien wanita yang di tanganinya cukup lama, beruntung sekali ya kalau jadi pasiennya bisa menatap wajah tampannya lebih lama.”

Bisik gunjingan para suster di belakang, membuat Raditya tetap tak acuh dan terus melanjutkan langkah, sampai Akhirnya sampai di area parkiran lalu masuk ke dalam mobil Mercedez hitamnya.

“Airin! Apa ini milik mu? Sepertinya kau sangat perhatian sekali pada suami mu.” Geram Raditya tersenyum getir. Lalu menyalakan mesin mobil dan

mengendarainya cukup kencang penuh kekesalan.

**

Airin mengulum senyum manis, saat melihat Adrian tengah makan masakan yang baru saja di buat. “Gimana mas, enak tidak iga asam manisnya?” tanyanya seraya menopang wajah cantik dengan kedua tangannya, masih menanti jawaban sang suami.

“Lumayan.” Ketus Adrian meneguk segelas air putih setelah menghabiskan suapan terakhirnya.

Airin terlihat sedikit kecewa, karena melihat suaminya tak seantusias dulu. Selalu bersikap romantis dan selalu memberikan pujian akan masakannya.

“Kau kenapa Airin? Semua baju dan barang pribadi ku sudah di siapkan belum ke dalam koper?”

Pertanyaan Adrian membuyarkan Airin dari lamunannya dan kembali memfokuskan pandangan pada lelaki yang ada di depannya. “Ah, iya mas. Sudah tadi.” Sahutnya pelan. “Mas di sana tidak lama kan?” Airin memastikan.

Adrian mendelik, dia merasa jika istrinya seolah menyindir. “Aku tidak bisa memastikan sekarang, karena aku di sana kerja, kamu ini gimana sih sepertinya anak kecil saja tanya seperti itu.”

Airin mengigit bibir atasnya, entah kenapa sekarang ia berkata atau pun sekedar bertanya seolah selalu salah di mata suaminya. Tapi ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu lebih besar lagi mengingat aktifitas ranjang mereka sekarang tengah tak berjalan lancar, membuatnya begitu paham akan sikap ketusnya Adrian.

Wanita cantik itu baru ingat, jika hari ini adalah tanggal dua puluh lima adalah hari specialnya Adrian, baru ingat jika tadi sudah menyiapkan kejutan.

“Mas Adrian, kamu jangan marah aku hanya bertanya saja. Oh iya, aku punya sesuatu untuk mu.” Bisiknya manja seraya memeluk Adrian dari belakang.

“Hm, kejutan apa? Seperti anak kecil saja. Sebentar lagi aku akan berangkat jangan membuang waktu ku!” Decih Adrian sembari membuka laptop yang akan di bawa.

“Bentar mas.” Airin tersenyum penuh semangat, segera ia meraih tas selempang di atas meja samping, berharap suaminya suka dengan jam rolex seharga satu milyar enam ratus juta telah dia beli tadi.

Setelah Airin membuka resleting tas, seketika wajahnya tampak pucat pasi sampai berkeringat dingin. “Astaga! Kenapa tidak ada?” Gumamnya panik. “Ga Mungkin hilang kan?“

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 24 Pengusaha Curang

    "Dua hari lagi, aku akan pulang. Ingat Janji mu Airin." Satu pesan dari Adrian membuat Airin terkejut, karena baru ingat ia punya dua janji yang harus di tepati. "Mas Adrian!" Tangan Airin terlihat gemetar saat membalas chat sang suami. Yang bernada sedikit menekan. "I-iya mas, aku senang kamu cepat pulang sudah tak sabar nih," Balas Airin lembut. Pak Hadi pun mulai sadar, lalu perlahan jarinya meraih kepala putri semata wayangnya. "Airin.." Panggil pria itu terdengar lemah. Airin baru tersontak, ia mengulum senyum tipis saat ayah tersayang sudah mulai sadar. "Ayah, ayah akhirnya bangun gimana sekarang apa keadaan ayah sudah mendingan?" Pak Hadi mengagguk pelan, ia berusaha menyahut. Tapi Airin tidak ingin sang ayah banyak bergerak agar tidak mempengaruhi kesehatan lagi. Pria paruh baya itu sekuat tenaga, berusaha melontar satu pertanyaan karena merasa cemas. "Hu-hubungan mu dengan Adrian baik-baik saja kan?" Airin tertegun, dari dulu tidak pernah menyangka jika nalu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 23 Tidak Ada Pilihan Lagi

    "Astaga! Kemana dia kenapa tidak mengangkat telepon ku?" Inge menggerutu kesal, saat nomor ponsel Airin begitu sulit untuk di hubungi. Pak Hadi yang masih terbaring di atas brankar pun menoleh dengan kening yang berkerut rapat. "Bu, mungkin Airin sibuk biarkan saja." Ucapnya mengingatkan. Inge mendelik, dan tentu saja dia sangat kesal dengan kata-kata sang suami karena bagaimana pun juga menurutnya saat ini panggilan dan chatnya sangat penting. Bahkan tak segan membentak agar pak Hadi tidak usah banyak bicara. Lelaki paruh baya itu termenung, rasanya ia sangat tidak tega jika setiap kali Airin selalu di libatkan dalam rumah tangganya dengan sang istri. Tak ingin menyerah, Inge pun berinisiatif menghubungi nomor rumah besannya dan sama sekali tidak ada jawaban. "Hah, sial. Orang-orang rumah itu pada ke mana sih!" Geram Inge. Tak ingin terganggu dengan ocehan sang suami, Inge akhirnya memutuskan keluar ruangan agar lebih leluasa lagi menghubungi Airin. Sementara Airin yang baru

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 22 Satu Syarat

    Suara lembut Airin membuyarkan Raditya, perlahan lelaki itu memutar badan. "Nona Airin, tidak di sangka ternyata anda datang ke sini juga."Airin menelan saliva, tubuhnya gemetar sampai kedua tangannya meremas ujung dress, lalu berusaha mengangkat wajah menatap Radit. "Iya, bisakah anda menepati janji akan mengembalikan jam itu?" Pinta Airin tanpa ragu, menatap penuh harap. Raditya menyeringai, dia berjalan mendekati Airin yang berdiri di depannya. Baru kali ini dia melihat seorang wanita begitu effort memohon demi jam tangan untuk suaminya. "Bagaimana kondisi kesehatan mu nona Airin? Kalau benar jam ini milik mu aku bisa kembalikan, tapi tentu saja ada saru syarat." Bisiknya menatap penuh arti, sembari mendengus harum tubuh Airin yang tak pernah berubah dari dulu. Kening Airin berkerut rapat, tubuhnya reflek menjaga jarak. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Raditya saat ini. "Maksud anda apa Dokter? Itu jam tangan saya hak saya kenapa harus ada syarat, dan tolong jangan

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 21 Berharap

    Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit Dokter Raditya terlihat mulai santai setelah jam istirahat jam praktiknya tiba. Suster Rini yang selalu sigap membantunya tak pernah absen, untuk membantu mengingatkan jam makan siang atasannya itu. "Dokter, maaf jika saya lancang. Sudah jam makan apa perlu saya pesankan makanan untuk anda?" Cetus Suster Rini dengan satu pertanyaannya. Dokter Raditya pun menjeda aktifitasnya sejenak, saat tengah menandatangani beberapa berkas laporan beberapa pasiennya. "Tidak perlu, aku belum lapar. Katakan pada ku suster apa hari ini ada yang datang mencari jam tangan itu?" Raditya melontarkan satu pertanyaan dengan raut wajah sedikit kesal. Suster Rini pun sedikit heran, karena tidak seperti biasanya sang Dokter bertanya tentang hal lain. "Belum dokter, belum ada pemilik jam tangan itu datang." Jelasnya apa adanya. Wajah Raditya terlihat muram dan kecewa. Rasanya ingin Airin datang dan memohon padanya demi jam tangan itu, tapi sampai saat ini belu

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 20 Terpaksa Berbohong

    Airin semakin kesal, pesan anonim itu tidak kunjung membalas malah mengatakan jika ia sudah berhutang Budi untuk yang kedua kalinya. "Sebenarnya siapa ini?" Airin memijat kening, perasaannya semakin gelisah dan tak karuan, terlebih lagi ini menyangkut rahasianya. Tak ingin menyerah siapa yang mengirimkan pesan itu, Airin sengaja meminta agar video itu di hapus dan tidak di sebarluaskan dengan tawaran ia akan memberikan uang. Sayang pengirim pesan malah cepat offline, membuatnya geram. "Astaga! Ini orang kenapa ya, tadi chat tiba-tiba sekarang menghilang." Umpat Airin panik. Karena merasa sangat lelah, Airin memutuskan menghubungi pesan misterius itu besok pagi. Seperti biasa sebelum tidur ia tidak lupa harus minum obat, lalu memutuskan ke dapur dulu mengambil air putih dan beberapa camilan. Saat berjalan menuruni tangga, Airin tidak sengaja mendengar ibu mertuanya sedang berbicara dengan seseorang di dalam panggilan telepon. "Ingat nak, kamu di sana harus jaga kesehatan ya janga

  • Gelora Berbahaya Dokter Tampan    Bab 19 Pesan Anonim

    Airin berjalan setengah berlari, lalu dia menghentikan taksi dan masuk meminta pak supir mengantarnya ke alamat rumahnya. Disepanjang jalan, wanita cantik itu terlihat sangat gelisah dan merasa sangat bersalah karena apa yang telah terjadi tadi. "Astaga! Kenapa aku datang ke sana? Kalau mas Adrian tahu bisa habis aku." Batin Airin merutuki diri sendiri seraya meremas ujung dress-nya. Suara nada pesan di ponsel terdengar beberapa kali, namun Airin masih fokus dengan jalanan yang tampak macet membuat hatinya semakin cemas. Terlebih lagi hari sudah mulai sore sedikit khawatir karena mungkin nanti sampai ke rumah lebih dari jam pulang dari butik seperti biasanya. Beruntung pak supir bisa memotong ke arah lain, sampai akhirnya setelah kurang lebih satu jam kini Airin telah sampai di rumah. Setelah turun dari taksi, wajah Airin terlihat masih sangat pucat dan tegang apa lagi setelah insiden permainan ciuman tanpa status tadi. "Airin! tenanglah, jangan membuat ibu curiga." Tegasnya mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status