Share

Bab 90

Penulis: kodav
last update Tanggal publikasi: 2026-04-18 22:34:21

TINNN TINNNN!!!

Suara klakson dari truk raksasa di belakang mereka kembali menggelegar, merobek keheningan kabin yang terasa seperti ruang jagal bagi Binar.

Namun Markus tetap bergeming. Pria itu menahan napasnya, menatap Binar yang meringkuk gemetar dengan wajah pucat pasi. Sorot mata Markus memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam, mencoba meruntuhkan dinding ketakutan yang baru saja ia ciptakan tanpa sengaja.

"Binar, kumohon jangan menangis... aku sungguh tidak bermaksud menakutimu," uca
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 172

    Hujan deras mengguyur aspal ibu kota saat sebuah mobil van operasional keamanan berwarna hitam milik Arthesia Capital melaju menembus kemacetan. Di kursi belakang, Jovian duduk diapit oleh dua petugas keamanan bertubuh raksasa. Kedua pergelangan tangannya diikat menggunakan zip-tie plastik tebal berlapis ganda."Sayang sekali, Tuan Vaelis," dengus salah satu petugas keamanan yang duduk di sebelah kirinya. "Siapa sangka CFO jenius pujaan perusahaan ternyata adalah seorang mata-mata. Karir Anda tamat hari ini. Madam Vandella telah berpesan agar kami memastikan Anda membusuk di sel tahanan."Jovian tidak membalas. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang buram, menatap jalanan yang basah. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Sang Ratu. Aktingnya sebagai pria yang baru saja kehilangan segalanya terlihat begitu nyata dan menyedihkan."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Bentakan sopir van keamanan itu tiba-tiba memecah keheningan. Sopir itu menginjak rem dalam-dalam

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 171

    Vandella menaikkan sebelah alisnya, merangkai jemarinya di atas meja dengan raut wajah terganggu yang sangat natural. "Ibu? Apa-apaan ini? Kita sedang berada di tengah rapat paripurna. Jika Ibu hanya ingin membuat keributan—""Tutup mulutmu, Vandella! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini!" potong Malora kasar.Wanita itu melangkah beringas memutari meja rapat raksasa, mengabaikan tatapan syok dari puluhan direktur dan komisaris. Malora berhenti tepat di seberang Vandella dan Jovian. Dengan satu sentakan arogan, ia merampas map kulit dari tangan Rustam, lalu melemparkannya dengan keras ke tengah meja marmer.Plak! Map itu meluncur dan berhenti tepat di depan Vandella."Selama berbulan-bulan, kau memelihara seekor ular berbisa di sebelahmu, Vandella," desis Malora, menudingkan telunjuknya yang berhias cincin berlian tepat ke arah wajah Jovian. "Kau memberinya kuasa, memberinya posisi CFO, dan bahkan... menidurinya, bukan?! Kau telah diperdaya mentah-mentah oleh musuh terbesar kel

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 170

    Napas Vandella mengalun teratur, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Jovian. Namun, pikiran Jovian sama sekali tidak sedang beristirahat. Jari-jarinya yang besar membelai rambut hitam Vandella yang bergelombang, sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit, menyusun kepingan-kepingan rencana di kepalanya."Kau sedang berpikir keras," gumam Vandella memecah keheningan. Jari-jarinya bermain pelan di atas kancing kemeja pemuda itu yang terbuka. "Aku bisa mendengarnya dari detak jantungmu."Vandella mendongak, menopang dagunya di dada Jovian. Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik. "Jadi... apa langkahmu selanjutnya untuk meruntuhkan Vance Corp?"Jovian menundukkan pandangannya, menatap wajah cantik di atasnya. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan terukir di bibirnya."Vance Corp tidak bisa diruntuhkan dari luar," jawab Jovian, suaranya berat dan mengalun sangat tenang. "Julian telah membangun benteng yang terlalu tebal selama puluhan tahun. Menyerangny

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 169

    "Biar aku yang menjelaskannya kepada para dewan direksi yang kebingungan," Jovian mengambil alih. Jovian menatap lurus ke arah para pemegang saham, lalu menjatuhkan pandangannya pada Julian dengan sorot mengejek."Empat jam yang lalu, Arthesia Capital telah resmi melakukan takeover terhadap 45% saham mayoritas divisi pelabuhan dan logistik Lau Holdings di Hong Kong," Jovian mengumumkan dengan artikulasi yang sempurna. "Kita tidak lagi bekerja sama dengan mereka. Mulai detik ini, Arthesia adalah pemilik sah atas seluruh jaringan logistik tersebut. Krisis yang kalian takutkan... tidak pernah ada."Ruang rapat itu meledak dalam bisak-bisik keterkejutan. Wajah para direktur yang tadinya cemas kini berubah menjadi takjub dan lega luar biasa. Mengakuisisi raksasa logistik Asia dalam hitungan jam? Itu adalah manuver yang mustahil dilakukan tanpa cadangan dana likuid raksasa."Dari mana... dari mana kalian mendapatkan dana likuiditas sebesar itu dalam waktu satu malam?!" desis Julian, menatap

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 168

    Mendengar nama pamannya disebut, seringai di sudut bibir Jovian semakin dalam. Ia mengecup dahi Vandella dengan lembut."Tentu, Sayang," balas Jovian tenang.***Roda-roda pendaratan Gulfstream G650ER menghantam aspal landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan entakan keras, mengoyak genangan air sisa hujan deras yang baru saja mengguyur ibu kota.Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu pekat, di dalam kabin utama yang mewah, Vandella duduk dengan postur tegak yang sempurna. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita manja dan rapuh yang semalaman menangis dalam orgasme di atas ranjang Ritz-Carlton. Sang Ratu telah kembali mengenakan mahkota berdurinya. Ia mengenakan pantsuit

  • Godaan Maut CEO Cantik   Bab 167

    —meledak."AAARRRGGHH!"Geraman purba Jovian memecah pekatnya udara malam Hong Kong. Pria itu membeku kaku, menghentakkan pinggulnya ke atas dalam satu dorongan pamungkas yang menyentuh dasar terdalam lubang basah Vandella. Dari ujung kejantanannya, gelombang benih yang teramat panas, kental, dan melimpah menyembur deras.Semburan itu menembak bertubi-tubi, membanjiri ruang terdalam rahim Vandella. Tubuh wanita itu mengejang hebat di udara, liangnya memeras batang Jovian dengan hisapan vakum yang seakan ingin menyerap jiwa pria tersebut.Vandella menangis tanpa suara. Air mata kelegaan dan kenikmatan mengalir membasahi bahu Jovian. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, menghirup aroma keringat maskulin yang kini menjadi candu baginya.Di bawah pendar lampu kota yang berkedip dari kejauhan, mereka berdua terdiam dalam posisi saling mengunci di udara terbuka. Kaki Vandella yang melingkar di pinggang Jovian perlahan melemas, kehilangan seluruh tenaganya. Hanya lengan Jovian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status