LOGIN“Kayla! Maaf, Papah telat.”
Seorang pria berpenampilan necis berlari kecil ke arah tempat Yasmin dan anak-anak berada. Raut wajahnya terlihat lelah sekaligus khawatir—jelas tak mampu ia sembunyikan. Sekilas, semua mata tertuju padanya. Kedatangannya terasa seperti berjalan dalam slow motion, bak aktor Korea yang baru keluar dari layar drama. “Papah!” seru Kayla ceria sambil melambaikan tangan begitu melihat ayahnya. “Papahnya Kayla, Mah?” bisik Bianca di telinga sang mamah. Yasmin yang sempat tertegun langsung tersadar. “Heeh… sepertinya iya.” “Kaya artis Korea, Mah. Pantes anaknya imut begini .…” bisik Bianca lagi sambil melirik Kayla dengan ekor matanya. “Kamu ini gimana? Katanya mirip artis Korea, tapi kenapa kamu bilang anaknya mirip orang Cina?” “Sama-sama sipit, Mah. Hahaha,” jawab Bianca sambil menutup mulutnya, menahan tawa agar tidak pecah. “Ada-ada saja,” Yasmin menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah putrinya. “Tante, ini Papah aku,” ujar Kayla sambil berdiri di sisi ayahnya, mengenalkannya dengan bangga. “Ya Tuhan… maaf ya, Bu. Saya jadi merepotkan,” ucap ayah Kayla sambil membungkuk sopan. “Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma khawatir Kayla menunggu sendirian di sekolah,” jawab Yasmin ramah. “Oh iya, maaf … tadi saya kasih Kayla es krim. Tidak apa-apa, kan?” Yasmin baru teringat, tak semua anak cocok dengan susu sapi. “Oh, aman kok, Bu,” jawab ayah Kayla sambil mengusap tengkuknya, lalu menoleh pada putrinya. “Kay, bilang terima kasih sama Bundanya teman.” Kayla mengangguk patuh, lalu membungkuk sopan. “Makasih, Tante. Traktirannya.” “Sama-sama, cantik,” balas Yasmin dengan senyum yang begitu lembut. Senyum itu seketika membuat seseorang mematung, terpesona tanpa sadar. “Papah, ayo kita pulang,” ajak Kayla, membuat sang ayah mengerjap canggung. “Ah… iya, ayo,” sahutnya gugup. “Tante, kami pulang dulu. Nanti gantian Kayla yang traktir Tante,” ujar Kayla, gaya bicaranya seperti orang dewasa saja. “Iya, Tante tunggu,” balas Yasmin sambil mengusap pipi Kayla yang lembut. Ayah Kayla tersenyum tipis. Hatinya ikut menghangat melihat kedekatan putrinya dengan orang-orang yang baru ia temui hari ini. “Kalau begitu, kami permisi,” pamitnya sambil mengambil tas Kayla yang tersimpan di kursi. “Silakan, Pak. Kami juga mau pulang,” jawab Yasmin. Kayla dan ayahnya pun beranjak pergi, diiringi tatapan banyak orang. Tipikal hot daddy. “Dadah, Kayla. Besok kita main lagi,” Brayan melambaikan tangan semangat. Kayla membalasnya ceria sebelum masuk ke dalam mobil. “Mah, kita juga pulang, yuk,” ajak Bianca sambil menyampirkan tas ke punggungnya. “Ayo,” Yasmin mengangguk. Sebelum melangkah, ia memastikan tak ada barang yang tertinggal. *** Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai ayah Kayla, ia tengah mendengarkan putrinya terus berceloteh memuji teman barunya itu. "Pah, mamahnya Brayan baik bangeet ...." ucap Kayla dengan semangat. "Iya, mereka sangat baik." sahutnya, sambil terus fokus ke jalanan di depannya. "Tau gitu ... Dari dulu aku sekolah di sana." ujar Kayla, sambil melipat tangannya di dada. "Ingat, Kay ... Ini terakhir kali kamu pindah sekolah, Papah gak mau dengar kamu bikin onar lagi!" peringat sang ayah dengan tegas. "Iyaa, tauu ...." sahut Kayla, dengan bibir maju lima senti. "Lagian aku gak bikin masalah, mereka aja yang selalu nyari masalah sama aku." ucapnya dengan menggebu. "Tetap aja, kamu yang salah, Kay ...." "Papah belain mereka!" Kayla merajuk, menatap ayahnya dengan sangit. "Yaaa, karena emang kamu yang salah." balas ayahnya santai. Kayla menyerongkan tubuhnya menghadap sang ayah. "Dengar yaa, Tuan Satrio Wijaya Hadiningrat. Mereka itu selalu bully aku, wajar dong aku bela diri!" ucapnya, dengan menyebut nama lengkap sang ayah. Satrio hanya bisa menggeleng pelan, tak habis pikir dengan putrinya yang bisa merubah sikapnya dalam sekejap. Lihat saja ... gadis kecil polos yang tadi sudah hilang entah kemana. "Baiklah, Kayla Clarissa Wijaya yang paling cantik. Papah percaya," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap sayang puncak kepala putrinya. "Yess, Papah." sahutnya dengan centil. Satrio hanya bisa menggeleng sambil terkekeh pelan, melihat putrinya yang sudah berubah setelan pabrikan lagi. Kayla kemudian sibuk dengan cemilannya, yang biasa di simpan di mobil oleh ayahnya. Sambil sesekali mengulum senyunya saat mengingat acara makan eskrimnya tadi. Sementara sang ayah, mengusap dagunya pelan, pikirannya tertuju pada satu hal .... Wanita tadi, mamah temannya Kayla yang entah kenapa langsung bisa mengusik pikirannya. "Kaya pernah ketemu ... Tapi di mana, yaa?" gumannya nyaris seperti bisikkan. Entah kenapa wajah polos tanpa make-up itu terasa familiar di ingatannya, entah kapan dan dimana ia melihatnya. Satrio tidak tau. *** "Cuci kaki dan tangan kalian, lalu ganti baju yaa, sayang!" perintah Yasmin, begitu mereka tiba di rumah. "Iyaaaa!" sahut keduanya, sambil menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Setelah memastika anak-anaknya masuk kedalam kamar, Yasmin langsung merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi yang ada di ruang tengah. Tangan kecilnya menepuk pelan pundaknya yang terasa pegal dan ngilu. "Haahh ... Capeknya." "Monoton banget hidupmu, Yasmin ...." gumamnya, lalu menarik napas panjang. Yasmin merebahkan tubuhnya hingga tenggelam di sofa empuk itu, lalu merogoh ponsel di saku cardiganya. Ia membuka layar datarnya itu, entah setan dari mana, tiba-tiba ia membuka aplikasi film biru. "Ahhh ...." Suaranya desahan seorang wanita langsung terdengar, ketika Yasmin memutar salah satu judul disana. Yasmin mengigit bibir bawahnya, saat bagian intinya mulai beraksi melihat apa yang sedang berputar di sana. Sesekali matanya melirik ke arah tangga, takut anak-anaknya tidak tiba-tiba muncul dari sana. "Aahhh ...." tanpa sadar suara desahannya keluar, Yasmin merapatkan kedua pahanya, mengeseknya perlahan. Sehinggg membuat gelenyar aneh muncul. Entah kenapa, Yasmin tiba-tiba ingin melakukan hal ini tiba-tiba. Mungkin efek kurang belaian suaminya Yasmin jadi mudah horney. Hingga tak berselang lama, desahannya semakin terdengar ketika sesuatu dalam dirinya akan meledak. "Ahhh ...." Namun yang membuatnya heran, bukan wajah suaminya yang nampak. Tapi ... Wajah papahnya Kayla. Gilaaa. "Ahhh, Mas ...." Hampir saja Yasmin sampai, ketika tiba-tiba suara bariton suaminya terdengar dari balik sofa. Membuat semuanya buyar, dan Yasmin kaget bukan main. "Kamu sedang apa?"Pagi ini ada yang sedikit berbeda, Yasmin keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian rapi sambil mengusap rambutnya yang setengah basah. Angga yang tengah memasang dasi mengerutkan keningnya melihat penampilan sang istri. "Kamu mau kemana?" tanyanya penasaran. "Liburan." jawab Yasmin cuek. "Liburan?" Angga mengulang kata itu. "Liburan kemana?""Jogja." jawab Yasmin tanpa menoleh sedikitpun. Lalu ia dengan santai berjalan ke meja riasnya, mulai memakai perlengkapan make-up yang sudah hampir berjemur itu dengan terampil. Entah kapan terakhir kali ia berdandan, haahh... Rasanya sudah lama sekali. Angga terus mengikuti apapun yang tengah istrinya lakukan, heran tentu saja... Heran bin ajaib. "Kalo kamu pergi, anak-anak gimana?" tanya Angga, membuat Yasmin menoleh sekilas padanya. "Aku titipin sama bi Iroh."Bi Iroh adalah wanita tua yang sering datang kerumahnya, untuk membantu Yasmin menyetrika yang datang tiga hari sekali. "Bi iroh? Kamu yakin?" tanya Angga tak percaya, seben
Pukul sebelas malam, Angga baru saja tiba di rumahnya. Ia melangkah masuk sambil menarik kopernya dengan santai, tanpa perlu mengetuk atau menekan bel, sebab ia selalu membawa kunci cadangan setiap kali pergi ke luar kota.Hampir satu minggu ia pergi, dan selama itu pula ia tidak pernah mengabari ataupun menanyakan keadaan anak dan istrinya. Bukannya tidak mau… hanya saja Sabrina menyita ponselnya selama liburan kemarin. Katanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Ah, kekasihnya itu memang sangat menggemaskan.“Kamu sudah pulang?”Langkah Angga terhenti saat hendak menaiki tangga. Ia menoleh dan mendapati Yasmin berdiri di ambang pintu dapur.Sepertinya istrinya itu terbangun karena kehausan, terlihat dari gelas berisi penuh di tangannya.“Kamu belum tidur?” Angga malah balik bertanya.“Haus,” jawab Yasmin sambil mengangkat gelasnya sedikit.“Oh,” Angga mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.“Ponsel kamu digadaikan?”Deg.Pertanyaan sarkas Yasmin membuat langka
Satrio mengusap lembut lengan polos Yasmin yang masih berada dalam pelukannya. Setelah pelepasannya di mobil tadi, Yasmin langsung terlelap, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Namun yang jelas ada rasa puas di raut wajahnya itu. Kasihan melihat Yasmin yang terlihat tidak nyaman tertidur di kursi mobil, Satrio akhirnya membopongnya masuk ke dalam rumahnya yang masih kosong, hanya beberapa perabotan yang menandakan tempat itu belum dihuni. Ia membaringkan Yasmin perlahan di atas ranjangnya. “Emmmh .…” Yasmin melenguh pelan dalam tidurnya. Tanpa sadar ia berbalik, menyusupkan wajahnya ke dada bidang Satrio, seolah mencari rasa aman. Tangannya melingkar erat, memeluk tubuh kokoh itu dengan refleks yang jujur. “Bangun, Yas .…” bisik Satrio sambil mengecup lembut puncak kepala Yasmin. “Heemmm…” Yasmin hanya bergumam, matanya tetap terpejam. Satrio tersenyum kecil, gemas dengan wajah damai Yasmin, ia dengan sengaja meremas bokong wanita itu, hingga membuat Yasmin t
Yasmin meraba bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi bersama Satrio, entah ada di mana akal sehatnya saat itu, karena bukannya menghindar, Yasmin malah ikut terhanyut. Untung saja tidak ada yang memergoki mereka, karena anak-anak sibuk dengan permainannya sendiri. Keduanya tersadar saat Satrio mulai menggesek miliknya di paha dalam Yasmin, dan langsung membuatnya sadar kemudian meninggalkan Satrio. "Mah, Mamah!"Panggilan dan tepukan dari Bianca mampu menyadarkan Yasmin dari lamunannya, ia mengerjap pelan, lalu menoleh kepada putrinya itu. "Kenapa, Kak?" "Mamah kenapa bengong?" tanya Bianca menatap mamahnya dengan intens. Yasmin menggeleng pelan. "Gak apa-apa, kak. Ada apa?" tanyanya kemudian. Bianca duduk di samping mamahnya, lalu bersandar di bahu ringkih sang mamah. "Lagi pengen manja aja," ucapnya dengan manja, sambil bergelayut di lengan Yasmin. Yasmin tertawa kecil, lalu mencium pelipis Bianca dengan sayang. "Maaf, yaa... Mamah kurang perhatian sama kalian,"
Yasmin mengerutkan keningnya, saat melihat Angga yang baru saja masuk kedapur sambil mendorong sebuah koper kecil di tangannya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Yasmin. Angga menaruh kopernya di pojokan dapur, lalu duduk di kursinya. "Ada kerjaan di luar kota," jawabnya, lalu meraih kopi yang sudah di sudah di siapkan Yasmin. "Tumben dadakan?" tanya Yasmin heran. Biasanya Angga akan memberitahunya tiga hari sebelumnya, untuk mempersiapkan keperluannya selama pergi. "Iya, ini perintah dadakan." jawab Angga, lalu sibuk dengan ponselnya. Yasmin mengangkat bahunya acuh, lalu menyiapkan sarapan mereka satu persatu. "Makan yang banyak, sayang." ucapnya, sambil mengelus kepala Brayan. "Iyaa, Mamah." "Good, boy."Setelah semuanya mendapat bagiannya, baru ia duduk dan mulai menyantap lontong kari menu sarapannya pagi ini. Semuanya nampak lahap menyantap sarapannya, memang masakan Yasmin tidak ada duanya. Sangat pas di lidah semua orang. Semuanya makan dalam senyap, hanya ada suara dent
Pukul sepuluh malam Angga baru sampai di rumah, saat akan naik ke lantai dua, tak sengaja matanya melirik ke arah dapur yang lampunya masih menyala. Tanpa sadar ia pun melangkah ke arah sana. Dan dilihatnya Yasmin yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh, sepertinya... "Kamu belum tidur?" tanya Angga, lalu menarik kursi di hadapan istrinya. Yasmin mengalihkan pandangannya dari cangkir yang ia pegang, lalu mengangguk pelan. "Gak bisa tidur, jadi bikin teh camomile. Mas mau?" tawarnya basa-basi. Namun siapa sangka Angga mengiyakannya. "Boleh," "Iya," Yasmin pun beranjak, membuatkan teh yang sama buat Angga. Angga menatap punggung Yasmin yang tengah memunggunginya, sambil menuang air panas kedalam cangkir yang sudah di isi teh camomile. "Kamu sibuk?" tanya Angga, membuat gerakan tangan Yasmin terhenti. "Enggak, biasa aja. Kenapa?" Yasmin balik bertanya. "Tumben sekarang gak pernah bawain makan siang?" Yasmin tersenyum getir, buat apa masak capek-capek kalo ujung-ujung







