Share

Bab 7

Penulis: Neng_gemoyy
last update Tanggal publikasi: 2025-12-17 21:36:34

“Kayla! Maaf, Papah telat.”

Seorang pria berpenampilan necis berlari kecil ke arah tempat Yasmin dan anak-anak berada. Raut wajahnya terlihat lelah sekaligus khawatir—jelas tak mampu ia sembunyikan.

Sekilas, semua mata tertuju padanya. Kedatangannya terasa seperti berjalan dalam slow motion, bak aktor Korea yang baru keluar dari layar drama.

“Papah!” seru Kayla ceria sambil melambaikan tangan begitu melihat ayahnya.

“Papahnya Kayla, Mah?” bisik Bianca di telinga sang mamah.

Yasmin yang sempat tertegun langsung tersadar. “Heeh… sepertinya iya.”

“Kaya artis Korea, Mah. Pantes anaknya imut begini .…” bisik Bianca lagi sambil melirik Kayla dengan ekor matanya.

“Kamu ini gimana? Katanya mirip artis Korea, tapi kenapa kamu bilang anaknya mirip orang Cina?”

“Sama-sama sipit, Mah. Hahaha,” jawab Bianca sambil menutup mulutnya, menahan tawa agar tidak pecah.

“Ada-ada saja,” Yasmin menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah putrinya.

“Tante, ini Papah aku,” ujar Kayla sambil berdiri di sisi ayahnya, mengenalkannya dengan bangga.

“Ya Tuhan… maaf ya, Bu. Saya jadi merepotkan,” ucap ayah Kayla sambil membungkuk sopan.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma khawatir Kayla menunggu sendirian di sekolah,” jawab Yasmin ramah. “Oh iya, maaf … tadi saya kasih Kayla es krim. Tidak apa-apa, kan?”

Yasmin baru teringat, tak semua anak cocok dengan susu sapi.

“Oh, aman kok, Bu,” jawab ayah Kayla sambil mengusap tengkuknya, lalu menoleh pada putrinya. “Kay, bilang terima kasih sama Bundanya teman.”

Kayla mengangguk patuh, lalu membungkuk sopan. “Makasih, Tante. Traktirannya.”

“Sama-sama, cantik,” balas Yasmin dengan senyum yang begitu lembut.

Senyum itu seketika membuat seseorang mematung, terpesona tanpa sadar.

“Papah, ayo kita pulang,” ajak Kayla, membuat sang ayah mengerjap canggung.

“Ah… iya, ayo,” sahutnya gugup.

“Tante, kami pulang dulu. Nanti gantian Kayla yang traktir Tante,” ujar Kayla, gaya bicaranya seperti orang dewasa saja.

“Iya, Tante tunggu,” balas Yasmin sambil mengusap pipi Kayla yang lembut.

Ayah Kayla tersenyum tipis. Hatinya ikut menghangat melihat kedekatan putrinya dengan orang-orang yang baru ia temui hari ini.

“Kalau begitu, kami permisi,” pamitnya sambil mengambil tas Kayla yang tersimpan di kursi.

“Silakan, Pak. Kami juga mau pulang,” jawab Yasmin.

Kayla dan ayahnya pun beranjak pergi, diiringi tatapan banyak orang. Tipikal hot daddy.

“Dadah, Kayla. Besok kita main lagi,” Brayan melambaikan tangan semangat.

Kayla membalasnya ceria sebelum masuk ke dalam mobil.

“Mah, kita juga pulang, yuk,” ajak Bianca sambil menyampirkan tas ke punggungnya.

“Ayo,” Yasmin mengangguk. Sebelum melangkah, ia memastikan tak ada barang yang tertinggal.

***

Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai ayah Kayla, ia tengah mendengarkan putrinya terus berceloteh memuji teman barunya itu.

"Pah, mamahnya Brayan baik bangeet ...." ucap Kayla dengan semangat.

"Iya, mereka sangat baik." sahutnya, sambil terus fokus ke jalanan di depannya.

"Tau gitu ... Dari dulu aku sekolah di sana." ujar Kayla, sambil melipat tangannya di dada.

"Ingat, Kay ... Ini terakhir kali kamu pindah sekolah, Papah gak mau dengar kamu bikin onar lagi!" peringat sang ayah dengan tegas.

"Iyaa, tauu ...." sahut Kayla, dengan bibir maju lima senti. "Lagian aku gak bikin masalah, mereka aja yang selalu nyari masalah sama aku." ucapnya dengan menggebu.

"Tetap aja, kamu yang salah, Kay ...."

"Papah belain mereka!" Kayla merajuk, menatap ayahnya dengan sangit.

"Yaaa, karena emang kamu yang salah." balas ayahnya santai.

Kayla menyerongkan tubuhnya menghadap sang ayah. "Dengar yaa, Tuan Satrio Wijaya Hadiningrat. Mereka itu selalu bully aku, wajar dong aku bela diri!" ucapnya, dengan menyebut nama lengkap sang ayah.

Satrio hanya bisa menggeleng pelan, tak habis pikir dengan putrinya yang bisa merubah sikapnya dalam sekejap. Lihat saja ... gadis kecil polos yang tadi sudah hilang entah kemana.

"Baiklah, Kayla Clarissa Wijaya yang paling cantik. Papah percaya," Satrio mengulurkan tangannya, mengusap sayang puncak kepala putrinya.

"Yess, Papah." sahutnya dengan centil.

Satrio hanya bisa menggeleng sambil terkekeh pelan, melihat putrinya yang sudah berubah setelan pabrikan lagi.

Kayla kemudian sibuk dengan cemilannya, yang biasa di simpan di mobil oleh ayahnya. Sambil sesekali mengulum senyunya saat mengingat acara makan eskrimnya tadi.

Sementara sang ayah, mengusap dagunya pelan, pikirannya tertuju pada satu hal ....

Wanita tadi, mamah temannya Kayla yang entah kenapa langsung bisa mengusik pikirannya.

"Kaya pernah ketemu ... Tapi di mana, yaa?" gumannya nyaris seperti bisikkan.

Entah kenapa wajah polos tanpa make-up itu terasa familiar di ingatannya, entah kapan dan dimana ia melihatnya. Satrio tidak tau.

***

"Cuci kaki dan tangan kalian, lalu ganti baju yaa, sayang!" perintah Yasmin, begitu mereka tiba di rumah.

"Iyaaaa!" sahut keduanya, sambil menaiki anak tangga menuju kamar mereka.

Setelah memastika anak-anaknya masuk kedalam kamar, Yasmin langsung merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi yang ada di ruang tengah.

Tangan kecilnya menepuk pelan pundaknya yang terasa pegal dan ngilu. "Haahh ... Capeknya."

"Monoton banget hidupmu, Yasmin ...." gumamnya, lalu menarik napas panjang.

Yasmin merebahkan tubuhnya hingga tenggelam di sofa empuk itu, lalu merogoh ponsel di saku cardiganya. Ia membuka layar datarnya itu, entah setan dari mana, tiba-tiba ia membuka aplikasi film biru.

"Ahhh ...."

Suaranya desahan seorang wanita langsung terdengar, ketika Yasmin memutar salah satu judul disana.

Yasmin mengigit bibir bawahnya, saat bagian intinya mulai beraksi melihat apa yang sedang berputar di sana. Sesekali matanya melirik ke arah tangga, takut anak-anaknya tidak tiba-tiba muncul dari sana.

"Aahhh ...."

tanpa sadar suara desahannya keluar, Yasmin merapatkan kedua pahanya, mengeseknya perlahan. Sehinggg membuat gelenyar aneh muncul.

Entah kenapa, Yasmin tiba-tiba ingin melakukan hal ini tiba-tiba. Mungkin efek kurang belaian suaminya Yasmin jadi mudah horney.

Hingga tak berselang lama, desahannya semakin terdengar ketika sesuatu dalam dirinya akan meledak.

"Ahhh ...."

Namun yang membuatnya heran, bukan wajah suaminya yang nampak. Tapi ... Wajah papahnya Kayla.

Gilaaa.

"Ahhh, Mas ...."

Hampir saja Yasmin sampai, ketika tiba-tiba suara bariton suaminya terdengar dari balik sofa. Membuat semuanya buyar, dan Yasmin kaget bukan main.

"Kamu sedang apa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Papa Teman Anakku   keinginan Bianca

    Tergoda papah teman anakku. Bab 90Satrio mengantarkan Kayla hingga gerbang sekolah, ketika hendak berbalik menuju mobilnya kembali. Terdengar seseorang memanggilnya dari dalam sekolah. “Om Satrio tunggu!” Satrio kembali menoleh, dan mendapati Bianca tengah berlari kecil ke arahnya. Ia pun kembali berbalik menunggu gadis itu menghampirinya. “Kenapa, Bi?” tanya Satrio begitu Bianca ada tiba dihadapannya. “Aku mau bicara sebentar, bisa?” Bianca balik bertanya dengan nafasnya yang masih terengah. “Boleh, mau tanya apa?” tanya Satrio dengan kening mengkerut. “Tapi sebentar lagi jam masukkan?” ucapnya sembari melirik jam tangannya. Bianca mengangguk pelan. “Iya, aku bentar aja kok.” “Kenapa, ada yang penting banget?” tanya Satrio menatap Bianca penasaran. Dalam hatinya takut terjadi sesuatu dengan Yasmin. Namu Bianca kembali menggeleng. “Aku gak tau ini penting atau tidak, aku mau ketemu Om nanti pas jam makan siang, bisa?” Kening Satrio mengerut dalam. “Ketemu pas jam makan sia

  • Godaan Papa Teman Anakku   kepergian Niko

    Bianca menatap kosong ke arah lapangan basket yang terbentang di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, dipenuhi segala peristiwa yang belakangan ini bergemuruh di hidupnya.Orang tuanya berselingkuh, bercerai, dan kini... masing-masing berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.Bianca sedikit terlonjak kaget saat hawa dingin menyentuh pipinya. Ia mendongak dan mendapati Niko berdiri di depannya, menutupi pandangannya ke arah lapangan."Jangan melamun terus. Nanti yang lewat bisa terserap," sindir Niko lembut, disertai senyum hangat yang tersungging."Aku tidak melamun," bantah Bianca, tangannya terulur menerima minuman dingin yang disodorkan Niko."Namanya saja tidak melamun. Aku berdiri di depanmu saja tak sadar," Niko memutar bola matanya, lalu duduk di sisi Bianca.Bianca menghela napas panjang, lalu meneguk minuman yang tutupnya sudah dibukakan Niko."Rasanya aku ingin menghilang saja, Nik," ucap Bianca setelah menelan minumannya."Masuk saja ke lubang buaya, pasti langsung lenyap t

  • Godaan Papa Teman Anakku   lamaran Satrio

    Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak sempurna ketika melihat Satrio tiba-tiba berlutut tepat di hadapannya. Di tengah ruangan yang telah disulap begitu indah dan memukau, pemandangan itu membuat napasnya tercekat."Maas..." Bibir Yasmin bergetar hebat, tak mampu merangkai kata-kata lagi. "Ini... apa maksudnya..."Tatapan mata Satrio yang lembut dan penuh cinta yang tulus, membuat jantung Yasmin berpacu semakin kencang seolah ingin melompat keluar."Yasmin..." panggil Satrio lembut, mendongak menatap lurus ke manik mata wanita itu."Iy–iya..." Yasmin mundur selangkah dengan tubuh yang sedikit gemetar."Aku sadar, mungkin ini bukan momen yang paling tepat untuk melakukan hal seperti ini. Tapi aku tak tahu lagi harus menundanya sampai kapan lagi," ucap Satrio dengan nada yang begitu tulus, membuat kening Yasmin berkerut penuh haru."Mas...""Yas... Sejak awal pertemuan kita, hati ini selalu bergetar menahan gejolak yang seharusnya tak kurasakan. Namun bukannya

  • Godaan Papa Teman Anakku   kejutan untuk Yasmin

    "Mas, kamu nggak salah mengajak aku makan malam di siang bolong begini?" Yasmin menatap Satrio dengan kening berkerut ragu.Sementara Satrio berusaha keras menahan tawa melihat wajah bingung itu. "Nggak salah kok. Aku cuma mau suasana yang beda, yang nggak dimiliki orang lain."Yasmin menghela napas panjang, tak tahu lagi harus berkata apa.Pasalnya, Satrio mengajaknya menikmati makan siang romantis di sebuah restoran mewah, namun disusun persis seperti makan malam. Bahkan ada lilin yang menyala di tengah meja—sungguh hal yang terasa ganjil dilakukan saat matahari masih tinggi.Dan yang lebih membuatnya heran, restoran itu tampak lengang, tak ada satu pun pengunjung lain selain mereka berdua. Apakah restoran ini sepi karena makanannya kurang enak? batinnya bertanya-tanya."Sudah, jangan dipikirkan soal waktu yang terasa tidak tepat itu. Yang penting kita bisa menghabiskan waktu bersama," Satrio menautkan jemarinya ke tangan Yasmin, membuat lamunan wanita itu seketika buyar. Ia pun men

  • Godaan Papa Teman Anakku   kejutan Satrio

    "Bunda sekarang kita gak bisa tinggal lagi sama Ayah?" Hati Yasmin seketika terasa diremas, ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Brayan. Putranya itu memang masih belum terlalu mengerti dengan situasi sekarang, berbeda dengan Bianca yang sudah bisa mengerti. "Kata siapa? Adek sama kakak masih bisa kok kalo mau nginep dirumah ayah." jawab Yasmin lembut."Gak bisa bareng sama Bunda lagi?" tanya Brayan polos. Yasmin mengeleng pelan, tersenyum dipaksakan. "Enggak sayang, Bunda gak bisa tinggal sama ayah lagi. Maaf yaa.." "Iyaa, Bunda..." "Yasudah, sekarang Brayan tidur yaa. Besok masih harus sekolah." Yasmin menarik selimut Brayan, menyelimuti tubuh mungil itu sampai dada. Lalu mengecup keningnya dengan sayang. "Good night Bunda." "Goodnight sayangnya Bunda, mimpi yang indah hmm..." "Hu'um," Yasmin menepuk pelan dada Brayan, menunggu putranya itu memejamkan mata. Barulah ia bangkit dari duduknya di sisi ranjang Brayan. Yasmin berjalan ke arah pintu, setelah mematikan lam

  • Godaan Papa Teman Anakku   status baru

    “Oalah… sekarang kalian berani berterus‑terang begini, ya?”Sindiran tajam Angga nyaris membuat Satrio melangkah maju, jika saja Yasmin tidak segera menahan lengannya.“Mas, jangan,” Yasmin menggeleng lemah menatap Satrio.“Tapi Yasmin…”“Tolong…” mohonnya pelan. Bukan bermaksud membela Angga, ia hanya tak ingin keributan meletus di sini.Satrio mengembuskan napas kasar, lalu menuruti permintaan itu dan berdiri kembali di samping Yasmin.Yasmin berbalik menatap Angga dengan raut tenang namun dingin. “Ada apa, Mas?”Angga menyunggingkan senyum sinis. “Kamu tidak merasa malu, Yas?” tanyanya sarkas.“Malu?” kening Yasmin berkerut bingung. “Malu untuk apa?”“Kamu datang ke sini membawa orang lain,” ucap Angga sambil melirik tajam ke arah Satrio.Yasmin menahan tawa yang hampir pecah. “Kamu tidak bercermin dulu di rumah, Mas?” balasnya tak kalah tajam.“Apa maksudmu?”“Itu lihat sendiri.” Yasmin menunjuk dua wanita yang berdiri di belakang Angga. “Kamu malah membawa selingkuhanmu yang seda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status