LOGINSeperti yang Yasmin katakan pada Angga, ia akan berjualan kue muffin yang akan ia bagikan di grup tetangga dan ibu-ibu sekolah. Mungkin hasilnya tak seberapa, tapi cukup untuk menyibukkan diri—mengalihkan pikiran dari luka batin yang terus mengendap.
Aroma vanilla dan cokelat langsung memenuhi dapur saat Yasmin mengeluarkan muffin yang baru matang dari dalam oven. “Eeemmm … wangi banget!” serunya, bangga dengan hasil yang terlihat sempurna. “Mengembang sempurna ….” Yasmin memindahkan kue-kue itu ke dalam tempat kue susun berbahan kaca, menatanya dengan cantik. Ia lalu meraih ponsel, menyalakan kamera, dan memotretnya dari berbagai angle. “Sepertinya cukup,” gumamnya. Ia menyortir beberapa foto terbaik, lalu mengirimkannya ke semua grup yang ada di ponselnya. Saking asyiknya dengan kue-kue itu, Yasmin hampir lupa menjemput anak-anaknya. “Astaga … sebentar lagi mereka pulang.” Tanpa sempat membereskan dapur, Yasmin melepas apron-nya dan bergegas keluar, setelah memastikan tak ada kompor atau peralatan lain yang masih menyala. Hanya butuh lima belas menit hingga Yasmin tiba di depan gerbang sekolah anak-anaknya. Ia berdiri di sana—di depan gerbang tinggi sekolah bertaraf internasional dengan jenjang TK hingga SMA. Yasmin hanya mengenakan terusan putih sederhana yang dipadu cardigan rajut hitam, tampak kontras dengan lingkungan sekolah yang mewah dan berkelas. Penampilannya lebih menyerupai pengasuh ketimbang orang tua murid. Namun Yasmin sama sekali tak peduli. Senyumnya mengembang saat melihat Brayan berlari kecil ke arahnya, ditemani seorang gadis kecil yang berlari di sampingnya. “Mamah …!” panggil Brayan ceria. Yasmin melambaikan tangan sambil merapatkan cardigannya. “Hai… Kak Bianca mana?” tanyanya ketika putranya sudah tiba di hadapannya. “Masih di belakang. Jalannya sambil ngobrol sama teman-temannya,” jawab Brayan dengan bibir mencibir lucu. “Ooh .…” Yasmin mengangguk pelan. Pandangannya lalu beralih ke gadis kecil di samping Brayan. “Siapa gadis manis ini?” “Dia anak baru di kelas aku, Mah,” jawab Brayan. “Oh,” Yasmin berjongkok, lalu menyodorkan tangan. “Namanya siapa, sayang?” Gadis kecil itu melirik Brayan sekilas sebelum menyambut uluran tangan Yasmin dengan malu-malu. “Kayla, Tante…” “Kayla,” gumam Yasmin sambil tersenyum. “Nama yang cantik,” pujinya, mengusap lembut rambut ikal Kayla yang mengingatkannya pada boneka Barbie. Mata bulat gadis kecil itu—dengan bola mata hitam legam—mampu membuat siapa pun terpana. Ditambah pipi merahnya yang tersengat matahari, membuatnya terlihat begitu menggemaskan. “Terima kasih, Tante,” balas Kayla sopan. “Wah, sopan sekali. Mamanya mana? Belum jemput?” tanya Yasmin lembut. Kayla menggeleng sambil memainkan jari-jarinya. “Papah aku yang jemput. Katanya … aku disuruh nunggu dulu di pos satpam.” "Ohh, tapi ini udah mai sore, Kayla ada nomor papanya? Biar Tante telpon." ujar Yasmin, tak tega saja rasanya meninggalkan gadis kecil itu di sana sendirian. "Gak ada Tante, lupa bawa kartu namanya," jawab Kayla sopan. "Kita temenin aja, Mah. Sampai papahnya datang, kasihan ...." ujar Brayan memberikan usul. Yasmin terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Boleh, kita tunggu kakak kamu dulu, yaa. Nanti kita nunggunya di kedai es krim saja, gimana?" tawar Yasmin, yang langsung di sambut antusias keduanya. "MAU!!" "Hahahaha ... Oke!" Yasmin ikut berseru senang, memang hal yang paling menyenangkan adalah ketika berada di antara anak-anak seperti ini. Hingga tak berapa lama Bianca pun datang bersama teman-temannya, begitu sampai di depan sang mamah, Bianca langsung meminta maaf karena membuat sang mamah menunggunya terlalu lama, tadi saat dalam perjalanan temannya mendadak ingin ke toilet. Jadi Bianca dengan terpaksa mengantarkannya sekaligus menemani ke kamar mandi. Mereka pun beranjak ke kedai es krim yang ada di seberang sekolah, setelah berpesan kepasa security jika ada papahnya Kayla, di suruh menyusul meraka saja. "Kak Bianca yang pesen, tanyain adik-adiknya mau apa?" ucap Yasmin, ketika ia baru saja mendudukan bokongnya di kursi kedai es krim. "Mau apa, Dek?" tanya Bianca, menatap mereka satu persatu. "Aku es krim strawberry sama coklat kak, jangan lupa pake choco chips sama sereal." ujar Brayan, mengucapkan pesanannya. "Kamu, Kayla. Mau apa?" kini Bianca bertanya kepada Kayla yang masih terdiam. "Samain aja dengan punya Brayan." ucapnya malu-malu. "Okey!" Bianca pun beranjak ke tempat pemesanan, setelah meminta kartu ATM milik sang mamah untuk membayar. Sementara Yasmin kembali sibuk dengan ponselnya, bibirnya mengembang sempurna ketika postingannya mendapat banyak like dan komentar. Mereka penasaran dan ingin mencoba mengorder kuenya. "Mamah kaya lagi seneng banget?" tanya Brayan ketika melihat mamahnya terlihat ceria. Yasmin langsung mengangkat pandangan dari layar ponsel lalu tersenyum lebar. "Iyaa, Mamah tadi iseng posting kue buatan Mamah, dan ternyata banyak yang mau pesan." "Waah, Tante jualan kue? Kayla sangat suka yang manis-manis, Tante ...." timpal Kayla dengan mata berbinar. "Cuma suka bikin aja, kalo Kayla mau ... Besok Tante bawain, mau?" "Mau, Tante!" seru Kayla senang, sampai tak sadar berjingkrak kecil di kursinya. Yasmin yang gemas pun tak tahan untuk tidak mencubit pelan pipinya yang chaby itu. "Pesanan datang ...!" Bianca kembali dengan nampan penuh dengan pesanan mereka. Brayan dan Kayla pun langsung menyambutnya dengan girang, dan langsung mengeksekusi es lembut dengan berbagai macam toping itu kedalam mulutnya. Yasmin tersenyum senang melihat Kayla yang sudah tidak kaku lagi bersama mereka, sepertinya gadis itu sangat gampang beradaptasi. "Ini punya Mamah," Bianca menyodorkan es milik mamahnya. "Makasih, sayang. Padahal Mamah gak usah," "Gak apa-apa, kali-kali Mamah juga butuh yang manis." ucap Bianca, tersenyum manis. Senyum yang langsung menular kepada Yasmin, rasanya nikmat mana lagi yang Yasmin dustakan. Ia sangat bersyukur dengan kehadiran kedua buah hatinya. Tak terasa hampir satu jam lebih mereka di sana, papah Kayla belum juga menampakkan diri. Kayla sudah nampak lelah dan mengantuk mungkin karena perutnya yang kenyang. "Mah, gimana ini ... Papahnya Kayla belum datang juga, malu di lihatin pegawai sini ...." bisik Bianca di telinga mamahnya. Pasalnya beberapa kali ia melihat pegawai di sana memberikan tatapan sinisnya kepada mereka. "Mamah juga gak tau," jawab Yasmin, menggeleng pelan. "Kita bawa pulang aja," usul Bianca. "Jangan! Nanti papahnya nyariin gimana?" sahut Yasmin ikut bingung. Mana sekarang sudah hampir jam empat sore, dia belum sempat masak makan malam. "Kay, ikut kita pulang mau, gak?" tanya Bianca, yang langsung di angguki Kayla. "Mau ...." “Itu, anaknya sudah mau,” ujar Bianca sambil menoleh ke arah mamahnya. “Mamah kasih aja nomor ponsel ke Pak Satpam. Nanti kalau ada yang nyari Kayla, langsung hubungi kita.” Yasmin terdiam, pikirannya berputar cepat. Ia tak ingin menimbulkan salah paham—apalagi sampai ada yang menuduhnya membawa anak orang. “Maaah …” rengek Bianca, suaranya manja. Yasmin menghela napas panjang, lalu akhirnya mengangguk dengan terpaksa. “Ya sudah, ayo.” Bianca langsung tersenyum senang, diikuti dua bocil kelelahan yang tampak ikut lega. Mereka hampir saja bangkit dari duduk mereka, ketika sebuah suara berat terdengar memanggil dari arah belakang. “Kayla … maaf Papah lama—”“Yasmin, Sayang… Kamu masih di sana?”Yasmin tersadar dari lamunannya yang mendalam. Ia mengerjap beberapa kali, baru bisa menjawab panggilan Satrio.“Iya, Mas. Aku dengar kok,” jawabnya sambil mengusap wajah yang terasa basah oleh keringat dingin.“Jadi bagaimana tawaranku tadi? Kamu mau, kan?” Satrio kembali mengulang pertanyaannya, menunggu jawaban dengan penuh harap.Yasmin menggigit pelan bibir bawahnya, kembali terjebak dalam kebingungan yang makin berat. “Mas, masalah ini kita bahas lain kali saja ya…” jawabnya akhirnya, berusaha menghindari keputusan yang mendadak.Di seberang sambungan, terdengar helaan napas panjang yang terasa berat. Yasmin bisa merasakan rasa kecewa dan frustasi dalam nada bicara pria itu. “Baiklah, Sayang. Maaf kalau aku terkesan terlalu terburu-buru.”“Maafkan aku juga, Mas,” ucap Yasmin dengan kepala tertunduk, seolah Satrio bisa melihatnya.“Tidak apa-apa, Sayang. Memang aku yang salah.”Yasmin hanya bisa terdiam. Ia tahu, meski Satrio berusaha terdeng
Angga menjemput anak-anaknya pulang sekolah—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan sebelumnya. Dulu, urusan ini selalu diserahkan sepenuhnya kepada istrinya, dan ia tak pernah sekalipun menyadarinya.Jujur saja, Angga sangat menyesal telah menyia-nyiakan Yasmin selama ini. Baru setelah rasanya hampir kehilangan, ia sadar betapa berartinya sosok wanita itu dalam hidupnya.“Ayahhh!!”Angga segera menunduk dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat melihat Brayan berlari menghampiri. Bocah berusia delapan tahun itu terlihat sangat gembira melihat ayahnya yang datang menjemput.“Aduh, jagoan Ayah…” Angga memeluk tubuh mungil itu erat-erat.“Tumben Ayah yang jemput. Bunda di mana?” tanya Brayan setelah melepaskan pelukan.“Bunda lagi ada urusan sebentar. Gak apa-apa kan kalau kali ini Ayah saja yang menjemput?” Angga menatap wajah polos putranya dengan lembut.Brayan langsung mengangguk semangat. “Boleh banget! Aku suka kok!” serunya riang, lalu kembali memeluk tubuh ayahnya.“Ayah sayang
"Bu Yasmin yakin dengan keputusan Anda?"Yasmin menatap lembaran kertas dihadapannya, ia mendongak menatap Topan–pengacara yang akan membantunya mengurus perceraiannya dengan suaminya–Angga."Iyaa, Pak. Saya sudah yakin dengan keputusan saya." Topan tersenyum lembut. "Baiklah, nanti tinggal ibu tunggu surat dari pengadilan buat mediasi, nanti pas sidang Ibu tidak usah datang saja. Biar prosesnya cepat.""Baik Pak, saya paham." Yasmin mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, nanti kita bertemu lagi pas mediasi." Topan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Yasmin. "Terima kasih atas bantuannya, Pak." ucap Yasmin tulus. "Sama-sama Bu, sudah menjadi tugas pekerjaan saya." Topan tersenyum tulus. "Dilihat dari kasus ibu, saya yakin kita akan menang dipengadilan nanti." ucapnya dengan yakin. "Iya, Pak. Semoga..."Yaa, semoga semuanya lancar. Angga maupun mertuanya tidak akan membuat drama untuk menghambat perceraian ini. Atau mungkin mereka akan senang, karena akan segera
"Bi... Are you okay?" tanya Niko sambil menatap temannya dengan wajah prihatin.Bianca menggeleng cepat, air matanya sudah membasahi pipi dan terus mengalir tanpa bisa ditahan."I'm not okay, Nik. I'm not okay... Hiksss..." Bianca menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu tangisnya pun pecah seketika.Bahu mungil gadis yang hampir berusia sebelas tahun itu bergetar hebat, membuat Niko tak kuasa menatapnya lebih lama. Ia seolah melihat bayangan dirinya sendiri beberapa bulan yang lalu—saat ayah dan ibunya sering bertengkar hebat hingga akhirnya memutuskan berpisah, tanpa mempedulikan sedikit pun perasaan anak mereka.Kedua anak yang mulai beranjak remaja itu kini hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Seolah-olah keadaan memaksa mereka tumbuh dewasa lebih cepat dari seharusnya."Menangislah saja, Bi. Kalau dengan menangis hatimu jadi lebih lega, tidak apa-apa," ucap Niko tulus sambil mengusap pelan punggung Bianca."Kalau Bunda dan Ayah berpisah, aku dan Brayan gimana, N
"Sayang... buka pintunya..." Angga mengetuk pelan pintu kamar mandi. Tangannya terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol jelas.Sudah hampir lima belas menit Yasmin mengurung diri di dalam.Yang membuat dadanya semakin perih adalah suara isakan yang terdengar samar di sela gemericik air shower yang sengaja dinyalakan. Tangisan itu teredam, tapi justru terdengar lebih menyayat."Yasmin... sayang... buka, nanti kamu sakit..." bujuk Angga lagi, suaranya mulai bergetar.Tak ada jawaban. Hanya tangis yang semakin pecah."Yasmin... aku minta maaf, sayang... Tolong jangan siksa diri kamu seperti ini. Kamu mau marah? Pukul aku. Hina aku. Apa pun... asal jangan begini." Suaranya pecah. "Tolong, sayang... jangan siksa diri kamu...""Yasmin... jangan buat aku makin merasa bersalah..." Angga berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya meluruh ke lantai. Ia memeluk lututnya sendiri, napasnya tak teratur."Yasmin... maafkan aku..." jemarinya menjambak rambutnya frust
Angga melepas pelukannya, ia menunduk dalam di hadapan Yasmin. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan, tubuhnya terasa kaku seolah membawa beban berat yang tak bisa ditanggung lagi."Dia pacar gelap kamu?"Deg.Pertanyaan Yasmin mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Tubuhnya sedikit menggigil, tangan kanannya menggenggam ujung sprei dengan kuat. "Maaf..." dan akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya—suara yang hampir tak terdengar."Sejak kapan?" tanya Yasmin kembali, nada suaranya semakin dingin dan datar seperti es yang membeku. Matanya menatap Angga dengan pandangan yang menyakitkan, namun tak ada satu pun air mata yang keluar."Satu tahun terakhir..." jawab Angga dengan suara yang terengah-engah, membuat dada Yasmin sesak seperti di timpa beban berat yang tak tertahankan. Ia merasa dunia seolah runtuh di depannya—setahun lamanya dia merasa ada yang salah namun selalu membujuk diri sendiri bahwa itu hanya khayalan."Kalian... Sudah tidur bersama?" pe







