LOGINPesta salon itu telah berlangsung ketika Ishrina tiba. Dari luar, kediaman tempat acara diselenggarakan tampak seperti bangunan bangsawan biasa, tetapi begitu pintu utama terbuka, suara percakapan, tawa, dan alunan musik langsung menyambutnya. Cahaya dari lampu-lampu kristal memenuhi ruangan utama, sementara para bangsawan dari berbagai keluarga berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, sibuk berbicara sambil menikmati minuman dan hidangan yang telah disediakan.Begitu Ishrina melangkah masuk, suasana di sekitar pintu seketika berubah.Beberapa percakapan terhenti. Tatapan para bangsawan langsung tertuju kepadanya.Ada yang hanya memandang dengan rasa ingin tahu, ada pula yang terang-terangan menilainya dari ujung kepala hingga kaki. Tidak membutuhkan waktu lama sebelum bisikan-bisikan mulai terdengar di antara kerumunan."Itu La
Ia berjalan menuju jendela dan menarik tirainya sedikit. Dari sana, Kastil Arlis terlihat begitu tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di balik dinding-dindingnya. Namun Ishrina tahu, ketenangan itu hanya sementara."Setiap kali mereka menyakitiku, aku memilih diam. Setiap kali mereka merendahkanku, aku membiarkannya. Aku selalu berpikir bahwa selama aku tidak membalas, semuanya akan berhenti dengan sendirinya."Jemarinya perlahan menggenggam kain tirai."Ternyata aku salah."Jerome tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di belakang majikannya dan mendengarkan. Ishrina menatap halaman kastil cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis."Orang-orang seperti mereka tidak akan berhenti hanya karena kita mengalah."Ia mengingat kembali suara Iris malam tad
Seluruh aula seketika membisu. Tidak ada nada tinggi, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, bahkan tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya. Ia hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi semua orang yang mendengarnya tahu bahwa pertanyaan itu tidak mungkin dijawab dengan mudah.Countess Arlis yang sejak tadi berdiri di samping suaminya langsung menoleh. Wajahnya yang semula tenang perlahan menegang, sementara Iris tampak membeku seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut Ishrina."Apa maksudmu?" Iris akhirnya berseru. Suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, dipenuhi kemarahan yang tidak mampu lagi ia sembunyikan.Ishrina bahkan tidak segera memandangnya. Tatapannya tetap tertuju kepada Count Arlis yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ayahnya masih memasang wajah keras, tetapi
Kallias perlahan melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang begitu hati-hati menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi Ishrina menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut hingga membuat Ishrina memejamkan mata sesaat.Bukan karena nyaman. Melainkan karena ia terlalu lelah untuk kembali menyembunyikan perasaannya."Mulai malam ini," ucap Kallias pelan, "kau tidak perlu lagi menghadapi semuanya seorang diri."Ishrina membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. Selama bertahun-tahun ia mengenal Kallias sebagai seseorang yang dingin, keras kepala, dan nyaris tidak pernah memperlihatkan emosinya kepada siapa pun. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan, pria itu lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata.Karena itulah, setiap janji yang keluar dari mulutnya selalu memiliki arti yang jauh lebih besar."Aku sudah mengatakan kepadamu," lanjut Kallias denga
Ishrina tertegun.Countess Arlis menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas yang perlahan mengembang di bibirnya. Sorot matanya begitu tenang, seolah semua yang baru saja mereka bicarakan hanyalah urusan biasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa bersalah."Karena itulah kita harus tetap berada di pihak Yang Mulia Ratu," ucapnya sambil mengangkat cangkir teh ke bibir. "Selama beliau berhasil menyingkirkan Putra Mahkota dan mengangkat pewaris yang baru, keluarga Arlis tidak akan pernah tersentuh. Semua yang kita lakukan akan terkubur selamanya."Iris mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajah cantiknya dihiasi senyum yang begitu puas hingga sulit dipercaya bahwa wanita itu baru saja membicarakan pembunuhan ibu kandung kakaknya sendiri."Tidak akan ada yang mampu menyelidiki kematian wanita itu lagi," katanya pelan. "Dan kalau Ishrina ikut mati, maka tidak akan ada lagi yang mengetahui bahwa Gunung Endless maupun seluruh warisan itu seharusnya menjadi miliknya."Countess t
Suara Iris.Ishrina seharusnya tetap berjalan. Ia tidak memiliki alasan untuk berhenti. Namun entah mengapa kakinya seakan kehilangan keinginan untuk bergerak. Pintu ruang di ujung lorong tidak tertutup sempurna. Dari celah kecil itulah suara percakapan di dalam ruangan terdengar jelas."Bersabarlah." Kali ini suara Countess Arlis yang terdengar. "Pernikahanmu dengan Grand Duke tetap akan berlangsung."Iris tertawa sinis. Tawa yang terdengar begitu tajam hingga membuat suasana di lorong terasa dingin."Setelah semua yang terjadi, Ibu masih bisa mengatakan itu?""Kallias hanya sedang bingung.""Dia tidak terlihat bingung." Jawaban Iris datang cepat. "Dia terlihat seperti pria yang kehilangan akal hanya karena melihat Ishrina."Ishrina menundukkan pandangan. Tidak ada perubahan di wajahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu. Terlalu sering menjadi bahan pembicaraan mereka.Karena itulah kata-kata tersebut tidak lagi mampu melukainya seperti dahulu. Namun percakapan d
Ishrina terdiam cukup lama di tempatnya. Perlahan, ia memejamkan mata, seolah ingin menghapus semua yang baru saja ia dengar. Namun suara itu tetap terngiang jelas, dingin, dan tanpa ragu.Suara Kallias.Dadanya terasa sesak. Ia mengalihkan pandangan dari pintu itu, memaksa dirinya untuk tidak lagi
Kallias terdiam.Seolah mencoba memahami apakah kata-kata itu sungguh keluar dari Ishrina yang selama ini ia kenal.Ishrina menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang hampir runtuh. Namun suaranya tetap melemah saat ia kembali berbicara.“Aku tidak mau menjadi yang kedua…” ucapnya lir
Teriakan Kallias terdengar lebih dekat.“Aku tidak melakukan apapun!”Dalam sekejap, tangan Ishrina ditarik paksa ke belakang. Tubuhnya ikut tertarik menjauh, membuat jarak dengan Iris.Napas Ishrina memburu. Dadanya naik turun, matanya masih tertuju pada Iris, tapi Kallias sudah berdiri di antara
Ishrina terdiam cukup lama setelah semua itu diucapkan. Tatapannya tidak lepas dari wajah ayahnya, mencoba menemukan sesuatu penjelasan atau sekadar sisa kepedulian yang dulu pernah ada. Namun yang ia lihat sekarang justru semakin menegaskan satu hal yang selama ini ia sangkal.Dari cara ayahnya me







