LOGINKallias perlahan melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang begitu hati-hati menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi Ishrina menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu lembut hingga membuat Ishrina memejamkan mata sesaat.Bukan karena nyaman. Melainkan karena ia terlalu lelah untuk kembali menyembunyikan perasaannya."Mulai malam ini," ucap Kallias pelan, "kau tidak perlu lagi menghadapi semuanya seorang diri."Ishrina membuka matanya perlahan dan menatap pria itu. Selama bertahun-tahun ia mengenal Kallias sebagai seseorang yang dingin, keras kepala, dan nyaris tidak pernah memperlihatkan emosinya kepada siapa pun. Bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan, pria itu lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan daripada kata-kata.Karena itulah, setiap janji yang keluar dari mulutnya selalu memiliki arti yang jauh lebih besar."Aku sudah mengatakan kepadamu," lanjut Kallias denga
Ishrina tertegun.Countess Arlis menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum puas yang perlahan mengembang di bibirnya. Sorot matanya begitu tenang, seolah semua yang baru saja mereka bicarakan hanyalah urusan biasa yang tidak menyisakan sedikit pun rasa bersalah."Karena itulah kita harus tetap berada di pihak Yang Mulia Ratu," ucapnya sambil mengangkat cangkir teh ke bibir. "Selama beliau berhasil menyingkirkan Putra Mahkota dan mengangkat pewaris yang baru, keluarga Arlis tidak akan pernah tersentuh. Semua yang kita lakukan akan terkubur selamanya."Iris mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Wajah cantiknya dihiasi senyum yang begitu puas hingga sulit dipercaya bahwa wanita itu baru saja membicarakan pembunuhan ibu kandung kakaknya sendiri."Tidak akan ada yang mampu menyelidiki kematian wanita itu lagi," katanya pelan. "Dan kalau Ishrina ikut mati, maka tidak akan ada lagi yang mengetahui bahwa Gunung Endless maupun seluruh warisan itu seharusnya menjadi miliknya."Countess t
Suara Iris.Ishrina seharusnya tetap berjalan. Ia tidak memiliki alasan untuk berhenti. Namun entah mengapa kakinya seakan kehilangan keinginan untuk bergerak. Pintu ruang di ujung lorong tidak tertutup sempurna. Dari celah kecil itulah suara percakapan di dalam ruangan terdengar jelas."Bersabarlah." Kali ini suara Countess Arlis yang terdengar. "Pernikahanmu dengan Grand Duke tetap akan berlangsung."Iris tertawa sinis. Tawa yang terdengar begitu tajam hingga membuat suasana di lorong terasa dingin."Setelah semua yang terjadi, Ibu masih bisa mengatakan itu?""Kallias hanya sedang bingung.""Dia tidak terlihat bingung." Jawaban Iris datang cepat. "Dia terlihat seperti pria yang kehilangan akal hanya karena melihat Ishrina."Ishrina menundukkan pandangan. Tidak ada perubahan di wajahnya. Ia sudah terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu. Terlalu sering menjadi bahan pembicaraan mereka.Karena itulah kata-kata tersebut tidak lagi mampu melukainya seperti dahulu. Namun percakapan d
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Tidak ada lagi pembicaraan mengenai Kaisar, Axion, ataupun Gunung Endless. Setelah semua yang dikatakan Kallias, suasana di antara mereka justru terasa jauh lebih rumit daripada sebelumnya. Ishrina berdiri di tempatnya sambil menatap pria yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangan darinya.Selama ini semuanya selalu sederhana. Kallias memilih Iris. Kallias mengabaikannya. Kallias membuatnya terluka berkali-kali. Karena itu, ia selalu tahu bagaimana harus bersikap terhadap pria tersebut.Namun sekarang? Sekarang pria yang sama berdiri di hadapannya dan mengatakan bahwa ia bersedia memberikan apa pun selama Ishrina tetap berada di sisinya."Jawab aku, Ishrina." Suara Kallias memecah keheningan yang panjang.Membuat Ishrina kembali menatapnya. Pria itu tidak bergerak dari tempatnya. Kedua tangannya berada di belakang punggung, sementara sorot matanya tetap terkunci pada wajah wanita itu."Kau harus memberiku jawaban."Ishrina menghe
Ishrina menatap Kallias cukup lama setelah mendengar ucapannya. Entah mengapa, semakin lama pria itu berbicara, semakin sulit baginya memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Grand Duke tersebut. Dahulu semuanya selalu terlihat sederhana.Kallias adalah pria yang memilih Iris, sementara dirinya adalah wanita yang harus menerima kenyataan itu. Namun sekarang, ketika semuanya seharusnya sudah berakhir, pria itu justru berdiri di hadapannya dan mengatakan hal-hal yang tidak pernah ia katakan selama bertahun-tahun mereka saling mengenal."Jadi hanya itu?" Suara Ishrina terdengar pelan di tengah keheningan ruangan.Kallias tidak segera menjawab. Tatapan merahnya tetap tertuju padanya, seolah berusaha membaca setiap pikiran yang sedang melintas di wajah wanita itu."Hanya itu?" ulangnya perlahan. "Menurutmu itu sesuatu yang kecil?"Ishrina menggeleng pelan. Bukan karena setuju, melainkan karena ia benar-benar tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Ada terlalu banyak hal yang t
Begitu pintu ruang kerja itu tertutup, suasana di dalam kastil terasa jauh berbeda dibanding keributan yang baru saja mereka tinggalkan di halaman depan. Yang tersisa hanyalah keheningan dan aroma kayu tua yang memenuhi ruangan luas tersebut.Ishrina berjalan perlahan ke arah jendela tinggi yang menghadap taman belakang. Dari sana ia bisa melihat para pelayan yang sedang bekerja dan beberapa kesatria yang berjaga di sekitar halaman. Pemandangan itu seharusnya terasa menenangkan, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian beberapa saat lalu. "Aku tidak menyangka dia benar-benar akan mengejarku sampai ke sini." Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibirnya.Di belakangnya, Kallias yang sedang membuka sarung tangan kulitnya hanya mengangkat pandangan sekilas. Ekspresinya tetap datar seperti biasa, seakan apa yang terjadi tadi hanyalah gangguan kecil yang tidak pantas dipikirkan terlalu lama."Seharusnya kau sudah menduganya."Jawaban singkat itu membuat Ishrina menghela napas pelan
Tatapan pria itu perlahan turun sesaat pada bibir Ishrina sebelum kembali naik menatap matanya.Dan hanya Ishrina yang mengerti arti tatapan tersebut. Karena pria itu memang sengaja melakukannya. Sengaja mengatakan hal ambigu seperti tadi. Sengaja membuat orang lain berpikir sesuatu yang tidak seha
Axion tidak bereaksi sedikit pun setelah mendengar permintaan maaf itu.Pria berambut emas tersebut hanya berdiri tenang di sisi Ishrina dengan postur tegak dan wajah yang sulit dibaca.Tatapan itu dingin bahkan terlalu dingin. Dan karena itulah seluruh aula terasa semakin menekan.Seolah bagi Axio
Ishrina terdiam cukup lama di tempatnya. Perlahan, ia memejamkan mata, seolah ingin menghapus semua yang baru saja ia dengar. Namun suara itu tetap terngiang jelas, dingin, dan tanpa ragu.Suara Kallias.Dadanya terasa sesak. Ia mengalihkan pandangan dari pintu itu, memaksa dirinya untuk tidak lagi
Kallias terdiam.Seolah mencoba memahami apakah kata-kata itu sungguh keluar dari Ishrina yang selama ini ia kenal.Ishrina menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang hampir runtuh. Namun suaranya tetap melemah saat ia kembali berbicara.“Aku tidak mau menjadi yang kedua…” ucapnya lir







