HANGGANG NGAYON IKAW PA RIN ANG MAHAL

HANGGANG NGAYON IKAW PA RIN ANG MAHAL

last updateLast Updated : 2025-11-30
By:  KweenMheng12Ongoing
Language: Filipino
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
32Chapters
3.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Ang spoiled bratt na kababata ni Clyde ay laging sakit ng ulo ng kanyang Daddy, inatasan siya ng ama ng dalaga na maging personal bodyguard kapalit ng pagpapa-aral o maging scholar ng kumpanya nito. Childhood bestfriends na ang dalawa tinuturing na na kapatid ni Clyde si Chloe. Laging nasa malayo at nakamasid lamang sa malayo ang binata para bantayan si Chloe. Mula ng mamatay ang ina ng dalaga ay lalong lumala ang pagiging party goer, kahit sang club nag-iinom para lang makuha atteention ng daddy nito. Nauunawaan naman ni Clyde ang sitwasyon ni Chloe gusto lamang nito mabigyan ng halaga at oras. Tanging siya lang ang kasama ng dalaga sa lahat ng oras. Pero paano kung isang araw ay malaman nila ang isng sikreto na nagkapalit sila ng tadhana dahil sa isang pagkkamali. Si Clyde ang totoong anak ni Don Robles,dahil sa desperadang kinilalang ina ni Clyde. Pinagpalit silang dalawa ni Chloe para maging maganda ang buhay ng kanyang anak na babae,dahil iniwan ito ng kanyang kinakasama. Sa sobrang galit ng Don ay pinalayas silang mag-ina ni Chloe. Nanirahan sila Chloe sa probinsiya at hindi na muling nagpakita pa kila Clyde at Don Robles dahil sa sobrang kahihiyan. Makalipas ang isnag taon kinuha si Chloe para maging isang modelo. Ang dating spoiled bratt, pasaway at kinaiinisan ng lahat ay natutong magpakumbaba, mapagpasensiya at natutong makuntento sa simpleng buhay. Sa muling pagttagpo ng kanilang landas ay isang bilyonaryo at CEO na si Clyde dahil ipinamana na sa kanya ang negosyo ng mga robles. Inimbitahan siya na maging modelo ng alak, kaya sexy ang theme ng magiging trabaho ni Chloe. At sa hindi niya inaasahan ay darating si Clyde para panoorin ang kanyang shoot. Sobra siyang nanliit sa kanyang sarili dahil halos ibilad na niya ang kanyang katawan.

View More

Chapter 1

CHAPTER 1: BINIBINI

“Kamu kapan mau nikah?”

Perasaan Karuna mendadak tidak enak saat Winanto, papinya mengajukan pertanyaan. Meja dan kursi-kursi taman belakang kediaman keluarga Atmaja di kota Bandung bagai membeku.

Untuk mengusir rasa tidak nyaman itu, Karuna mengambil satu keripik kentang dari sebuah toples camilan yang masih terbengkalai sejak tadi. 

“Kalau nggak Minggu, ya, Sabtu?” ujarnya terkekeh, berpura-pura santai.

Winanto menatap Karuna lurus. “Kamu bercanda terus–jadi Papi dan Mami yang ambil keputusan.”

Alis Karuna berkerut lebih dalam, matanya memincing. “Keputusan apa?”

Senyap. 

“Kami sudah menjodohkan kamu.”

Dunia Karuna berhenti bergerak. Ia tertawa pendek, seolah Winanto sedang membual. “Haha. Papi yang bercanda mulu, nih.”

Namun,

“Kita nggak bercanda.” Kini, giliran Mami yang menatapnya.

“Nggak lucu,” kata Karuna pelan. 

Kerongkongan gadis itu terasa kering, ia meraih satu gelas air mineral. “Oke,” katanya cepat. “Oke, bentar,” ia mengerjapkan matanya berkali-kali, juga menarik dan menghembuskan napasnya sebanyak empat kali.

“Kita ulang dari awal, ya? Papi sama Mami barusan bilang apa?”

Iya.

Kita ulang.

Siapa tahu Karuna salah mendengar. 

Siapa tahu Karuna berhalusinasi.

Saat itu, detak jantungnya jelas berlarian. Menunggu jawaban Winanto terasa jauh lebih menegangkan, dibandingkan dengan persiapan presentasi promosi naiknya jabatan.

Papi dan Mami sudah menjodohkan kamu.”

Bagi Karuna, kalimat Papinya barusan adalah yang terkonyol sepanjang masa.

Mual mulai mendera organ pencernaannya. “Hok–” Gadis itu buru-buru meraih tisu, hampir memuntahkan kunyahan keripiknya. “Papi mau aku mati muda!?”

Winanto menghela napas, mengernyit ke arah gadisnya yang kini mencondongkan wajah ke arahnya. Ia dorong pelan kening itu dengan telunjuk agar menjauhinya. “Kamu nikah sama dia nggak bakal mati muda, tapi kalo dia yang mati muda–ya, Papi juga nggak bisa prediksi.”

“Piiiiii?”

“Tiga bulan lagi, ya, Kak?”

“Tiga….bulan?” ulangnya terbata, segalanya semakin tidak masuk akal. “Papi sadar nggak sih, tiga bulan itu artinya apa?”

“Artinya cukup waktu buat kamu adaptasi.” ujar Winanto.

Marlina meraih tangan Karuna. Kali ini wanita paruh baya itu menggenggamnya erat. “Ini bukan keputusan mendadak, Kak. Keluarga mereka sudah lama kenal kita dan sebaliknya.”

“Kami lakuin ini karena kami percaya ini yang terbaik, tau.” imbuh Marlina.

“Terbaik versi siapa?” Karuna menarik tangannya pelan, habis sudah energinya untuk bercanda berlama-lama. “Versi Papi dan Mami, atau versi aku?”

“Kenapa sekarang?” tanya Karuna lagi, menatap dua orang itu bergantian.

“Karena kesempatan ini nggak datang dua kali.”

Kesempatan

Kata itu terdengar ironis di telinga Karuna. 

Sejak kapan perjodohan jadi buah kesempatan, bukan jebakan?

“Siapa?”

Dua orang itu akhirnya saling pandang. 

“Siapa orang yang Papi dan Mami maksud?” ulang Karuna, suaranya lebih rendah sekarang.

Winanto menarik napas dalam-dalam. Tangannya terletak di atas meja, jemarinya saling bertaut. “Kamu kenal, kok, Kak.”

Perut Karuna terasa mengeras, berdecak tidak sabar. “Papi, jangan muter-muter.”

Winanto mengangguk pelan. “Ya–ya.”

Ia menatap Karuna lurus-lurus, tanpa senyum, tanpa basa-basi.

“Rajendra.”

Huh?

“Rajendra Keenan Witjaksana.”

Benturkan kepala Karuna ke benda keras mana pun yang ada di hadapannya. 

Sekarang.

Maksud mereka … Rajendra mantan kekasihnya!?

“Nikah sama Rajendra?! Pi?! Yang bener aja?!”

Yang dituju hanya menghela napas pendek. Winanto melepas kaca mata yang terpasang di tulang hidungnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas meja dengan ketenangan yang mencurigakan. 

“Toh, dulu kamu kemana-mana sama Rajendra terus. Sampai kelas berapa itu? Rajendra kelas tiga, kamu kelas satu SMP, ya?” Winanto tersenyum penuh keyakinan. “Laki-laki itu—Rajendra ‘kan baik, jadi nggak perlu takut, Kak.” 

Baik? Kalau definisi baik adalah manusia yang datang dengan buah tangan paling manis lalu pergi tanpa pernah membayar impas, mungkin iya.

Bahkan mengingat masa lalu mereka saja membuat perutnya mual. Tujuh tahun bukan waktu sebentar untuk pulih dan Karuna sama sekali tidak berniat mengulanginya.

Ah, bagaimana Karuna mengatakannya jika orang tuanya saja tidak pernah tahu hubungannya dengan Rajendra seperti apa?

“Kata siapa dia baik sih?!”

Wanita dua puluh enam tahun itu baru saja pulang kerja. Blazer masih menggantung di lengannya, tas bahkan belum sempat ia letakkan, sementara migrain mulai berdenyut di pelipisnya—hingga sebuah kalimat akhirnya lolos dari bibirnya.

Kalimat yang sekonyong-konyong, tidak ia saring dengan otak juga mulutnya.

“Mereka tawarin apa aja ke Papi sama Mami, huh? Uang? Saham? Atau janji investasi? Karuna janji, Karuna bisa cari yang lebih! Nggak dengan dijodoh-jodohin kayak gini!”

“Karuna,” tegur Marlina, jelas tidak suka.

Akan tetapi bagi Winanto, adalah wajar jika Karuna mengungkap kecewanya. Gadis itu juga ada benarnya, pria tua itu juga tidak mau berbohong dan sembunyi tangan. 

“Bagus kalau kamu tahu sejak awal,” Winanto menatapnya tepat di mata.

Karuna menggigit bibir. Tak menyangka Winanto akan mengaku.

“Mungkin kamu masih kerja dengan fasilitas baik di bagian kantor Dago, karirmu bagus, cara kerjamu juga nggak ada masalah. Empat tahun ini, kamu memang banyak bantu, tapi… itu belum cukup, Kak. Kamu tahu, ‘kan, cabang Braga dan Martadinata sedang defisit habis-habisan sekarang? Kebutuhan yang sekarang terlalu mendesak. Berapa pegawai restoran lagi yang harus Papi PHK?” 

Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Karuna bayangkan.

Ia bukan anak manja. Ia terbiasa bekerja keras. Tapi mendengar itu langsung dari Winanto, seolah semua usahanya hanya catatan kaki. Rupanya, apa yang ia lakukan tidak pernah cukup. Ia kecewa dan malu.

“Lagipula, masih banyak yang harus diobrolin. Kalau dia setuju, baru lanjut,” ujar Winanto.

Mendengar itu, Karuna langsung memicingkan matanya. Rasanya kacau hingga setetes air mata begitu saja turun di pipinya. Ia semakin merasa bahwa pendapatnya di sini sama sekali tidak diperlukan. 

“Kenal sama dia nggak menjamin dia orang yang tepat buat jadi suamiku.”

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin.

Tak ada yang langsung menjawab.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Karuna angkat kaki dari duduknya. Langkahnya cepat, hampir tergesa, menutup pintu taman belakang kencang.

Rajendra adalah sisi koin paling sempurna, sementara Karuna adalah yang paling cacat, begitukah maksud orang tuanya?

***

Karuna Respadi Atmaja menatap langit-langit kamarnya selama lebih dari satu jam. Sudah hampir tengah malam. Bukannya tidur, ia malah terserang insomnia dadakan. Rambut lurusnya terurai berantakan. Kulitnya yang putih terpantul oleh cahaya lampu yang masih ia nyalakan.

Ia menghitung.

Tiga bulan lagi. Nikah? Demi Tuhan, asam lambung Karuna terasa naik.

Enggak,” Karuna berdesis, menarik selimutnya hingga dagu. “Pasti ada cara lain buat batalin semuanya.” 

Meski terlihat sok keras dan keren menolak di depan orang tuanya, Karuna tetaplah kucing kecil yang kelabakan jika ditekan dengan keputusan seperti ini. Gadis itu jelas kebingungan sendiri.

Karuna memejamkan matanya erat. Kakinya menendang-nendang ujung selimut, “Nggak mungkin, nggak mungkin, nggak mungkin.” 

Lalu matanya terbuka hanya untuk menatap stiker berbentuk bintang dan bulan yang menempel di atas plafon kamarnya. Stiker sialan itu, yang tidak bisa Karuna copot selama bertahun-tahun lamanya.

Keningnya menekuk, emosi sendirian. “No. No. No, Runa. Lo nggak boleh nikah sama dia!”

Sayangnya, otaknya tidak patuh. 

Memorial itu terbang ke tempat yang tidak seharusnya. 

Di benaknya, nama cowok ‘itu’ sudah berkeliaran. Sekarang tampangnya pun sedang berputar-putar. Suaranya juga datang dengan menyebalkan.

Karuna mengacak-ngacak rambutnya hingga kini ia lebih mirip singa ketimbang seorang manusia. Gadis itu menggigit bibir. Tiba-tiba ingat ucapan Winanto beberapa jam yang lalu. 

Lusa kita makan malam sama calonmu dan keluarganya, mereka flight sore ke Bandung, katanya.

Tolong jemput Karuna ke rumah sakit jiwa saja, please?

“Apa gue pura-pura sakit aja?” Ide yang sungguh jelek. Marlina pasti akan langsung menelepon dokter pribadi keluarga mereka. 

“Atau pura-pura mati?” Itu lebih buruk. Kalau betulan dikubur Winanto bagaimana? Karuna mana berani.

Dahayu itu mendongak, bibirnya mencebik maju dengan menyedihkan. Detik berikutnya, Karuna mengubur wajahnya ke bantal, memekik panjang. “MATI BENERAN AJA, RUNA!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.

reviews

KweenMheng12
KweenMheng12
Hello po sa mga Readers nila Chloe at Clyde. Naupdate q na po ang story nila... Sana po basahin niyo po ulit... at subaybayan ulit. At paki- rate nmn po at comment nmn din po kayo para ganahan c author... ... Maraming salamat po...
2024-07-04 16:51:10
1
2
32 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status