LOGINAku dan ketiga anakku hanya bisa memandang dari kejauhan, melihat hajatan aqiqah mewah di rumah Ibu. Aroma gulai kambing, menu primadona di hajatan itu, tercium samar-samar hingga ke tempat kami berdiri. Tapi, hanya aroma. Tak ada piring, tak ada undangan, hanya jarak yang memisahkan. Padahal, aku adalah anak kandung Ibu. Anak sulung dari empat bersaudara. Namun, di saat acara penting seperti ini, kenapa aku malah diasingkan? Yang lebih menyakitkan, aku bahkan baru tahu tentang hajatan itu dari tetangga yang kebetulan baru pulang dari rumah Ibu.
View MoreHari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh adikku akhirnya tiba. Hari ini adalah hari resepsi pernikahannya, di rumah Ibu. Sebuah pesta besar yang sejak jauh-jauh hari sudah dipersiapkan dengan penuh kesibukan, melibatkan banyak orang, dan tentunya menghabiskan banyak uang. Namun, tidak ada sedikitpun keterlibatanku dalam acara itu selain membersihkan rumah Ibu beberapa waktu lalu.Aku duduk di ruang tengah, memandang ke luar jendela. Matahari bersinar terik, membuat suasana semakin bising oleh hiruk pikuk orang-orang yang melintas. Para tetangga sedang bersiap pergi ke rumah Ibu, membawa hadiah dan senyuman. Namun, aku memilih untuk tetap berada di dalam rumah bersama ketiga anakku. Rasanya lebih baik begini, menjauhkan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan."Bu, hari ini nggak buka kedai?" tanya Malik, yang duduk tak jauh dariku.Aku menoleh, berusaha tersenyum kecil. “Nggak, Nak. Kebetulan Ibu belum belanja bahan jualan. Kita ngumpul di rumah aja. Jarang-jarangkan kita ng
Pagi itu, mentari belum sepenuhnya meninggi, namun langkahku sudah mantap menyusuri jalan raya yang menghubungkan rumahku dengan kampung sebelah. Anak-anakku telah berangkat sekolah, meninggalkan rumah dengan semangat. Setelah memastikan mereka pergi, kini giliran aku yang harus menghadapi hari.Langkah ini terasa berat, bukan karena jarak yang harus kutempuh, tetapi karena bayangan apa yang menantiku di sana. Entah, pekerjaan apa yang dimaksud Ibu kemarin, aku hanya berharap kali ini tidak ada hinaan atau kata-kata tajam yang menyayat hati. Namun, jauh di dalam hati, aku tahu harapan itu terlalu tinggi untuk dipanjatkan.Jalanan pagi itu mulai ramai oleh anak-anak yang berjalan menuju sekolah dan ibu-ibu yang berjalan menuju pasar. Mereka membawa kantong belanja dengan mengobrol ringan, yang sesekali diwarnai tawa. Aku berjalan di antara mereka, tetapi kehadiranku seolah hanya bayangan. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman. Justru yang kuterima adalah tatapan sinis, seakan keberada
“Bu Kasmi, beli berasnya lima kilo, ya,” ucapku saat mampir ke warung sembako sepulang dari rumah Bu Santi.Ketiga anakku berdiri tidak jauh dariku. Mereka mengobrol pelan, mungkin membicarakan hal-hal kecil yang mereka temui di jalan tadi.“Tumben beli lima kilo, Tah? Habis dapat rezeki nomplok dari ibumu tempo lalu, ya?” tanya Bu Kasmi sambil sibuk menimbang beras.Keningku berkerut mendengar pertanyaan itu. Rezeki nomplok dari mana? Aku tak tahu apa yang Bu Kasmi maksud. Memangnya ibu ada bagi-bagi uang?“Saya baru pulang dari rumah Bu Santi, Bu Kasmi. Habis bantu panen jagung,” jawabku mencoba menjelaskan.“Oalah… bantu panen jagung Bu Santi? Saya kira dapat dari Ibu Fatma. Soalnya pas acara hajatan aqiqah kemarin, sebelum acaranya dimulai, ibu kamu itu manggil anak-anak yatim. Terus dikasih amplop. Anaknya Bu Sairi saja dapat seratus ribu, katanya,” ujar Bu Kasmi santai sambil merapikan beras ke dalam bungkusan.Aku terdiam. Ibu membagi-bagikan uang kepada anak-anak yatim? Tapi,
Subuh hari, setelah memastikan semua kebutuhan sekolah ketiga anakku lengkap, aku segera berpamitan pada Adnan dan Malik. Mereka baru saja pulang dari mushola setelah menunaikan sholat subuh berjamaah. Wajah mereka masih terlihat segar, meski udara pagi sangat dingin menusuk. “Mau ke mana sepagi ini, Bu?” tanya Adnan, menatapku yang tengah bersiap dengan raut wajah penasaran. “Ibu ada kerjaan, Nan. Mau bantu Bu Santi di ladang. Katanya mau panen jagung. Jadi Ibu harus bantu nyiapin perlengkapannya dulu di rumah,” sahutku sambil melilitkan selendang ke bahu untuk menghalau dingin. “Oh, ke kebun jagung Bu Santi? Ibu lama di sana?” Malik ikut bertanya. “Belum tahu, Mal. Tapi, kalau kalian sudah pulang sekolah, dan Ibu masih belum pulang, susul saja ke kebun jagung!” Pesanku sambil mengusap kepala mereka. Keduanya mengangguk patuh. Aku tahu mereka anak-anak yang baik dan pengertian. “Nan, tolong bantu Ami bersiap ke sekolah nanti, ya! Ibu minta tolong. Oh iya, tadi Ibu sudah bikin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews