MasukAngin malam berembus membawa kesejukan yang menelusup hingga ke pori-pori kulit. Di atas balkon kamar yang menghadap langsung ke arah gemerlap lampu kota, Fero berdiri bersandar pada pagar kaca pembatas. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, namun pendar di manik matanya tak lagi menyiratkan kekosongan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya. Ada kelegaan yang perlahan mekar di sana.Sepasang lengan ramping yang melingkar hangat di pinggangnya membuat lamunan Fero seketika buyar. Aroma parfum beraroma vanilla dan jasmine yang sangat familier menguar, menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang."Udara malam ini lumayan dingin, Sayang. Kenapa kamu malah berdiri di sini tanpa memakai jaket?" tegur Adista lembut, menyandarkan pipinya di punggung lebar sang suami.Fero tersenyum tipis, meraba punggung tangan Adista yang bertaut di perutnya, lalu mengusapnya perlahan."Aku sama sekali tidak merasa kedinginan, Dis. Entah kenapa, embusan angin malam ini justru terasa sangat melega
Angin sore berembus pelan menyapu deretan batu nisan di pemakaman umum desa yang sangat sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tempat ini terasa begitu sunyi dan damai. Kakek Hardian melangkah gontai dengan bantuan tongkat emasnya, dipandu oleh Fero dan Adista yang berjalan beriringan di depannya menyusuri jalan setapak berumput liar.Langkah Fero terhenti di depan sebuah gundukan tanah berselimut rumput hijau dengan batu nisan keramik putih yang mulai kusam dan berlumut di bagian ujungnya."Di sini, Kek," ucap Fero pelan, suaranya terdengar sangat parau. "Di sinilah Ibu Dewi disemayamkan."Hardian menatap batu nisan bertuliskan Dewi Damayanti itu dengan mata yang perlahan memerah. Rahangnya mengeras seketika. Napas pria tua itu memburu cepat, memancarkan gelombang amarah yang selama puluhan tahun ini ia pendam rapat-rapat."Jadi di sini kau bersembunyi, Dewi?!" suara Hardian menggelegar memecah kesunyian makam, menuding batu nisan itu dengan tongkat emasnya yang bergetar. "Di
Suara ketukan tongkat emas yang beradu dengan lantai marmer terdengar bertalu-talu, mengiringi langkah mondar-mandir Kakek Hardian di ruang keluarga kediaman Adiwangsa. Wajah lelaki renta itu memerah, rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meletup-letup."Rama! Aku tidak mau tahu! Kerahkan seluruh tim pelacak terbaik yang kita miliki! Cari wanita bernama Dewi Damayanti itu sampai dapat!" perintah Hardian dengan suara menggelegar."Baik, Tuan Besar. Kami akan melacak data kependudukannya dari desa Nyonya Tari yang kemarin—""Jangan cuma dilacak dari data desa! Sebarkan detektif swasta ke seluruh pelosok negeri! Begitu kalian menemukannya, seret dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku sendiri yang akan memastikan wanita keparat itu membusuk di penjara dengan hukuman paling berat! Dia harus membayar nyawa putra dan menantuku!""Hentikan, Rama. Batalkan perintah itu sekarang juga."Suara bariton Fero memotong ketegangan di ruangan itu. Pria itu melangkah masuk dari arah taman belakang, di
Asap pekat dari cerutu mahal mengepul tipis di udara, memenuhi ruang kerja klasik di kediaman utama keluarga Adiwangsa. Kakek Hardian duduk di kursi kulit kebesarannya, menatap hamparan taman luas dari balik jendela kaca.Suara ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan tersebut."Masuk," perintah Hardian dengan suara seraknya yang berwibawa.Pintu kayu jati itu terbuka. Rama melangkah masuk dengan langkah cepat dan tegap, membawa sebuah komputer tablet di tangannya. Wajah asisten kepercayaan itu tampak jauh lebih tegang dari biasanya."Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Rama seraya membungkuk hormat. "Ada sebuah laporan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Anda siang ini juga."Hardian memutar kursinya, menatap Rama dengan alis bertaut."Laporan apa, Rama? Apakah ini berkaitan dengan kondisi kesehatan cucuku, Fero? Atau ada masalah di perusahaan istrinya?""Ini berkaitan dengan Tuan Muda Fero, Tuan Besar," jawab Rama hati-hati. "Baru saja terjadi
"Tatap mataku, Fero," ucap Adista lembut.Kedua tangannya kini beralih menangkup rahang tegas suaminya, mengabaikan tatapan sinis dari seberang meja sana. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Fero yang menegang."Jangan biarkan kata-kata mereka merusak ketenanganmu. Ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini, Sayang."Napas Fero yang semula memburu naik-turun, perlahan mulai teratur saat menyelami kedalaman tatap mata istrinya."Tapi mereka menghina almarhumah ibuku, Dis. Mereka menjadikan kematian ibuku sebagai senjata untuk memeras kita," bisik Fero dengan suara parau yang menyiratkan luka mendalam."Aku tahu, Sayang. Aku mendengar semuanya," balas Adista dengan senyum yang begitu meneduhkan. "Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan suamiku atau keluarganya. Duduk dan tenanglah. Biar istrimu yang mengurus parasit-parasit itu."Adista meraih punggung tangan Fero, lalu mengecupnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sebuah gerakan sederhana yang se
Ruang rapat VVIP di lantai dua belas itu terasa membeku. Suhu pendingin ruangan yang diputar maksimal seolah berpadu dengan ketegangan yang menguar pekat di udara. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni panjang memisahkan dua kubu yang saling berhadapan.Di satu sisi, Adista duduk dengan keanggunan seorang penguasa, menyilangkan kakinya dengan santai. Fero duduk tepat di sebelahnya, rahangnya mengeras dan kedua matanya menatap tajam bak elang yang siap menerkam. Di seberang mereka, Tari tersenyum congkak, diapit oleh Zia dan pengacara Surya beserta dua asistennya yang tengah menyusun tumpukan dokumen di atas meja."Mari kita persingkat waktu. Kami memiliki agenda yang padat hari ini," buka Adista dengan suara tenang yang memecah keheningan. "Silakan sampaikan tuntutan kalian."Surya berdeham, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya profesional yang kaku."Selamat pagi, Ibu Adista, Bapak Fero. Kehadiran kami di sini adalah sebagai kuasa hukum resmi dari keluarga Nyonya Tari. Kami mem
Suara kecupan-kecupan basah terdengar memenuhi ruang kamar bercat pastel itu. Sekarang Fero dan Adista berada di pinggiran ranjang. Kedua tangan wanita itu dikalungkan di leher suaminya, sementara kedua mangan Fero bertengger apik di pinggang ramping Adista.Di sela-sela ciuman panas mereka, Adist
Alunan musik klasik mengalun indah di dalam ballroom hotel bintang lima yang disulap sedemikian rupa, menjadikan pesta pernikahan Adista dan Fero tampak begitu meriah. Di pelaminan, Adista dan Fero berdampingan seperti raja dan ratu. Mereka mengenakan pakaian pengantin dari desainer ternama. Mengu
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai kelopak mata Adista. Wanita itu mendesis, merasakan sakit di kepalanya akibat semalam. Pelan-pelan, dia membuka mata. Di sampingnya, seorang laki-laki sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di dashboard ranjang."Sudah
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah







