แชร์

Bab 127

ผู้เขียน: Rina Safitri
"Nenek!"

Joko terkejut hendak maju, tapi istrinya segera menarik lengannya. Puluhan tahun menikah, hanya dengan satu tatapan mereka sudah saling memahami maksud.

Puspa menahan panik, suaranya bergetar, “Ayah, cepat bawa nenek ke rumah sakit!”

Namun, di antara pilihan antara kepentingan dan kesalehan seorang anak, Joko pilih yang pertama.

“Kalau kamu bisa buat Indra berhenti, aku akan kirim ibuku ke rumah sakit.”

"Ayah!"

Mata Puspa dipenuhi ketidakpercayaan. Apa dia masih pantas disebut manusia?

Kebusukan hati, kejamnya sifat manusia, semuanya terlihat begitu jelas dalam diri Joko.

Giginya hampir patah karena digertakkan, Puspa akhirnya bersuara, “Oke! Aku janji!”

Setelah dibawa ke rumah sakit, nyawa nenek berhasil diselamatkan. Hanya saja, soal kapan beliau bisa sadar, sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri.

Namun Joko nggak sabar. “Nenek sudah nggak apa-apa, sekarang pergi temui Indra.”

Puspa nggak bergerak sedikit pun. “Tunggu nenek sadar dulu, baru aku pergi.”

“Aku kasih ka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Hola Oren
puspa ini ko tolol ya, apa dia gak punya duit sama sekali buat, biaya pengobatan neneknya, kan dia juga kerja, apa kerja juga gak dibayar sangking beloonnya
goodnovel comment avatar
Lilis Suryawati
hah bego dipelihara....tinggal bilang aku istriny siapa suruh gk mw cerai
goodnovel comment avatar
Eis Akmeliny Fitriana
per babnya terlalu pendek. pas iklan terlalu lama.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 648

    Indra menatap lelaki di hadapannya, di wajah pria itu tersimpan sedikit aura liar yang sulit dijinakkan. Matanya pun menyipit tanpa sadar.“Pak Eric, silakan duduk.”Pihak rekan bisnis tersenyum ramah sambil persilakan Eric duduk.Meja bundar itu buat ketiga pihak duduk di tiga sisi, seolah bentuk hubungan tiga kekuatan yang saling mengawasi. Di mata Indra terlihat jelas sorot sedang meneliti.Begitu dengar nama Salindo Perkasa, sebuah dugaan muncul. Dan benar saja dugaan itu tepat. Pria ini ingin masuk ke proyek yang sama. Nggak, tepatnya ia ingin rebut proyek itu dari tangan Indra.Indra nggak ucapkan sepatah kata pun, hanya memandang rekan bisnisnya dengan tatapan tenang yang samar, sulit diterka apa ia marah, tersinggung, atau nggak peduli.Rekan bisnisnya menahan canggung di wajahnya lalu buru-buru jelaskan, “Pak Indra, Pak Eric juga ingin ikut investasi. Mereka bisa sediakan bahan baku, kurangi biaya awal, dan nanti bantu perluas jalur distribusi ke luar negeri.”Penghematan gand

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 647

    Usai ucapkan kalimat itu, Jimmy tinggalkan mereka begitu saja dan melangkah lebar menuju rumah. Istrinya pun cepat-cepat nyusul di belakang.Winda Jihan berkata, “Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan mantan istri kakakmu? Kenapa kamu selalu belain dia?”Ini bukan pertama kalinya ia lihat Jimmy bersikap tajam ke Indra karena Puspa. Kalau hanya sekali dua kali mungkin bisa dimaklumi, tapi setiap kali bertemu, ia selalu menyindir dan ejek Indra karena hal itu.Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Wajah Winda mengeras, tatapannya mengusut. “Jangan-jangan Puspa itu wanita yang kamu sembunyikan di hatimu selama ini?”Ia tahu, suaminya simpan sosok seorang wanita di hatinya, seseorang yang nggak pernah boleh ia sentuh apalagi ditanyakan.Jimmy mengernyit, menatapnya seperti menatap orang bodoh. “Kamu lagi halusinasi?”Winda nggak mau mundur. “Kalau bukan dia, terus siapa?”Di mata Jimmy berkilat rasa nggak sabar. “Sebelum nikah kan sudah kubilang, aku nggak peduli dengan masa lalumu,

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 646

    Indra belum sempat berkata apa-apa, ketika kakeknya sudah lebih dulu ambil keputusan. Dengan satu tepukan meja seolah final, ia berkata, “Nggak usah. Kakekmu jarang minta bantuan. Nggak perlu dibuat repot.”Indra sama sekali nggak peduli keputusan kakeknya. Freya masuk atau nggak ke Cahaya Sukses, baginya nggak ada pengaruh apa pun.Setelah pastikan neneknya baik-baik saja, ia pun bersiap pergi. “Nenek, aku masih ada urusan. Aku pamit dulu.”Namun baru ia melangkah, suara kakeknya kembali terdengar, “Tunggu. Kamu antar si Freya ke kantor dulu untuk mulai absen.”Indra jawab dengan singkat, “Sekarang aku nggak ke kantor.”Freya buru-buru berkata, “Kakek Budi, nggak usah repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Tapi Kakek Budi kibaskan tangannya. “Nggak peduli kamu mau ke kantor atau nggak, kamu antar dia dulu.”Indra pun nggak bantah lagi. Dia alihkan pandangannya dari wajah kakeknya, lalu singgah singkat ke arah Freya sebelum ia melangkah keluar tanpa sepatah kata.Lihat itu, Kakek B

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 645

    Indra nggak tanggapi apa pun, namun Nenek Zoraya segera belain dia, “Sudahlah, kamu nggak usah banyak bicara. Indra ini cucu yang sangat berbakti, mana mungkin seperti yang kamu bilang.”Kakek Budi mendengus keras. “Berbakti apanya? Sekarang dia sudah besar kepala. Ucapanku sudah nggak dianggap sama dia, di matanya ucapanku sama kayak kentut, nggak ada satu pun yang dia dengar!”Sembari bicara, ia mulai menuding-nuding. “Kamu, jawab aku. Aku suruh kamu ajak si Freya jalan-jalan sebentar saja, kenapa kamu nggak lakuin itu?”Indra jawab dengan anda datar, “Aku bukan pemandu wisata.”Kakek Budi hampir melonjak saking kesalnya. “Freya itu tamu! Apa salahnya sih sambut tamu dengan baik?”Mata Indra tetap dingin. “Dia tamumu, bukan tamuku.”Siapa yang undang, dia yang tanggung jawab, itu maksudnya.“Kamu… kamu…” Kakek Budi menunjuknya sambil mengeluh ke Nenek Zoraya, “Lihat! Sekarang kalau aku mau suruh dia sedikit saja, dia nggak mau lakukan. Nggak mempan sama sekali!”Nenek Zoraya tetap te

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 644

    Melalui kaca spion, Eric melirik mobil yang baru saja berpapasan dengan mereka. Sudut bibirnya terangkat tipis, sementara matanya menyiratkan ejekan. Nggak lama kemudian, kedua mobil itu melaju saling menjauh.Indra bawa buah dan makanan ke sana. Saat tiba di depan makam Nenek Yanti, pandangannya jatuh pada hidangan yang tertata rapi di hadapan nisan, gerakannya membeku. Matanya menyipit sedikit. Ia tiba-tiba menoleh cepat, menatap ke sekeliling dengan wajah cemas, seolah sedang cari seseorang.Lihat itu, Cakra tanya, “Kenapa bos?”“Puspa datang ke sini,” jawab Indra.Cakra terdiam. ‘Lagi-lagi ucapan aneh apa itu?’Ia menyapu pandangan ke sekitar, periksa deretan nisan hitam yang sunyi. Apa maksud bos? Kalau pun benar, apa Puspa bangkit dari bawah tanah? Untung saja ini masih siang bolong, kalau malam bisa bikin orang mati ketakutan.Indra menunjuk persembahan di depan makam. “Kue-kue itu semuanya yang disukai Nenek Yanti.”Kalau bukan Puspa yang datang, siapa lagi yang akan taruh itu

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 643

    Eric berkata, “Kok bisa nggak ada yang mau? Bukannya ibumu itu, yah punyaku juga.”Toni menggeleng kuat-kuat. “Nggak! Nenek bilang, kalian belum nikah. Nikah dulu baru jadi istri. Jadi ibu itu ibuku, tapi bukan istri ayah. Jadi ayah nggak boleh rebut ibu dari aku. Ibu cuma punyaku sendiri.”Begitu kalimat itu selesai, Eric seperti lampiaskan kekesalannya dengan kembali acak-acak kepala Toni. Rambut yang baru saja rapi kembali berantakan.Dasar anak kecil, tahu banyak sekali untuk seusianya.“Ayah menyebalkan. Ayah tuh suka ganggu!”Rambutnya berantakan lagi!Eric mendengus. “Kalau bukan karena ayah yang menyebalkan ini, kamu pikir kamu bisa punya Ibu? Dapat ibu, eh, papanya dilupakan. Dasar anak nggak punya hati.”Toni mengedipkan mata bulatnya. “Ibu, bener gitu?”Puspa usap pipi mungilnya yang lembut dan putih. Sambil tersenyum, ia berkata, “Nggak kok. Ibu paling sayang Toni.”Senyum langsung penuhi wajah Toni. Ia dongakkan kepalanya, penuh kesombongan, lalu melirik ayahnya. “Nenek be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status