Share

Bab 4

Penulis: Summer
"Ravin, kamu nggak boleh melakukan ini! Hidup ibu kepala panti bergantung pada obat itu. Kalau obatnya dihentikan, dia bisa meninggal!"

Aku tak peduli rasa sakit dari darah yang kembali mengalir di punggung tanganku dan segera berjuang meraih tangannya. Ibu kepala panti adalah satu-satunya keluarga yang benar-benar mencintaiku di dunia ini. Aku tidak bisa kehilangan dirinya.

Ravin langsung menepis tanganku. Setelah memberi instruksi kepada sanatorium untuk menghentikan obat itu, dia berbalik dan pergi dengan dingin, meninggalkanku dalam keputusasaan.

Aku memaksa tubuhku yang lemah untuk pergi ke aula rapat keluarga, ingin terus memohon agar Ravin melanjutkan obat ibu kepala panti. Namun, begitu masuk, aku mendapati Ruka datang lagi ke rumah Keluarga Sirait dan duduk terang-terangan di sisi kanan Ravin, tempat dudukku.

Awalnya kursi itu bahkan tidak ada. Dulu Ravin sengaja menyiapkannya khusus untukku sebagai bentuk pengakuan atas kontribusiku bagi Keluarga Sirait.

"Ellen, aku menyiapkan posisi ini supaya kamu lebih mudah ikut mengurus urusan keluarga. Aku ingin semua orang tahu betapa hebatnya dirimu!"

Kini, tempat itu diduduki wanita lain.

Saat melihat tubuhku yang nyaris roboh, mata Ravin sempat memperlihatkan sedikit rasa kasihan sekaligus kekesalan.

Ruka meliriknya dengan manja, lalu memeluk lengannya dengan mesra sambil merengek, "Kak Ravin, kamu nggak boleh luluh lagi. Waktu itu Kak Ellen galak sekali, aku sampai ketakutan!"

Setelah mendengarnya, Ravin menatapku dengan tatapan jahat, lalu berkata, "Dengar itu? Memohon padaku nggak ada gunanya, lebih baik mohon padanya. Asalkan kamu bisa buat Ruka nggak marah, obatnya akan kulanjutkan lagi."

Setelah berkata begitu, dia bersandar di kursinya sambil menunggu reaksiku.

Aku mengepalkan tangan erat-erat. Setelah ragu sesaat, aku langsung melepas cincin yang melambangkan status tinggi itu dari jariku, lalu membungkuk dan menyerahkannya kepada Ruka.

"Maaf ... aku salah. Aku nggak menginginkan posisi ini lagi. Aku hanya mohon supaya kamu nggak marah lagi."

Ruka melihat cincin itu, lalu terkekeh manja. Di depan mataku, dia melingkarkan tangan ke leher Ravin dan menciumnya. Setelah itu, baru dia berkata perlahan, "Ini namanya minta maaf atau menyalahkanku ya? Mana mungkin aku berani menerima cincinmu."

"Begini saja, selama kamu merangkak di lantai sambil menggonggong beberapa kali seperti anjing, lalu merayap ke kakiku dan bersujud meminta maaf, aku akan maafin kamu. Gimana?"

Ravin mengetuk dahinya dengan penuh kasih sayang sambil berkata, "Dasar nakal." Jelas, dia menyetujui permintaan itu.

Saat itu, hatiku benar-benar mati sepenuhnya. Sambil menangis, aku merendahkan diri, merangkak di lantai sambil menirukan gonggongan anjing. Dengan penuh penghinaan, aku merayap sampai ke kaki Ruka, lalu bersujud memohon maaf padanya.

Ravin akhirnya tak sanggup melihat lagi dan mengerutkan kening. "Sudah cukup."

Senyuman di wajah Ruka langsung menghilang, seolah-olah dia masih belum puas.

Aku cepat-cepat mengucapkan "terima kasih", lalu bangkit dan pergi.

Ravin tertegun menatapku. Dia menyadari aku sepertinya sudah berubah.

Namun, pikiranku hanya dipenuhi kenyataan bahwa ibu kepala panti akhirnya bisa diselamatkan. Selama beliau baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku.

Sayangnya, aku salah. Di tengah perjalanan, dokter menelepon dan memberitahuku bahwa kondisi ibu kepala panti memburuk drastis karena obatnya dihentikan. Baru saja, beliau meninggal dunia setelah gagal diselamatkan.

Aku seperti mayat hidup saat mengurus pemakaman ibu kepala panti seorang diri. Setelah itu, aku membawa guci abunya kembali ke panti asuhan. Namun, yang menyambut pandanganku adalah lautan api.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 9

    Pemakamanku menjadi upacara pemakaman paling megah dalam seratus tahun sejarah Keluarga Sirait. Seluruh kediaman dipenuhi mawar putih, bunga yang paling kusukai semasa hidup. Sayangnya, saat aku masih hidup, aku tidak pernah sekali pun menerimanya.Ravin berdiri di samping peti kristal es yang dibuat khusus untukku dengan biaya sangat besar. Selama beberapa hari, dia sama sekali tidak beristirahat hingga tubuhnya menjadi sangat kurus.Pendeta membacakan ayat kitab suci dengan khusyuk. Tiba-tiba, seorang bawahan berlari masuk sambil membawa sebuah dokumen."Tuan ... perwakilan Madam semasa hidup mengirimkan surat wasiat beliau. Katanya ... Madam minta agar surat ini dibacakan saat pemakaman."Ravin langsung merebut dokumen itu, lalu membukanya dengan tergesa-gesa dan melihat tulisan tangan yang sangat dikenalnya itu.Itulah hadiah terakhir yang kutinggalkan untuk Ravin sebelum kematianku. Semakin dia membaca, rona wajahnya perlahan menghilang sampai akhirnya berubah menjadi abu-abu puca

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 8

    Saat Ruka diseret masuk oleh dua pengawal, dia masih terus berteriak, "Lepaskan aku! Aku putri Keluarga Harahap! Aku calon nyonya Keluarga Sirait!"Ravin duduk di sofa dengan aura mengerikan menyelimuti tubuhnya. Seluruh dirinya tampak seperti iblis yang baru keluar dari neraka."Calon nyonya Keluarga Sirait?" Dia tertawa pelan tanpa sedikit pun kehangatan dalam suaranya. "Ruka, dengan memanfaatkan kepercayaanku, kamu diam-diam menyakiti orang yang paling berarti bagiku. Apa kamu merasa sangat puas?"Jantung Ruka langsung berdebar keras. Dia memaksa diri tetap tenang, lalu mengeluarkan beberapa tetes air mata."Kak Ravin, apa yang kamu bicarakan? Apa Noah mengadukanku? Luka di tubuhnya itu karena berkelahi dengan anak-anak lain. Dia takut dimarahi, jadi malah menyalahkanku!"Dor! Suara tembakan menggema. Peluru melesat menggesek pipi Ruka, lalu menghancurkan pajangan di belakangnya.Ruka ketakutan sampai ambruk ke lantai. Pipi yang tergores terasa panas dan perih."Karena berkelahi?" R

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 7

    Ravin membawa jasadku kembali ke kamar kami. Dia membaringkanku di atas tempat tidur, lalu merapikan selimutku dengan hati-hati."Tutup gordennya. Ellen nggak bisa tidur kalau terlalu terang." Dia memberi perintah pada para pelayan dengan suara pelan, seolah-olah takut membangunkanku.Kemudian, dia duduk di sisi ranjang tanpa bergerak sedikit pun, terus menatapku. Seakan-akan kalau dia menatap cukup lama, aku akan tiba-tiba membuka mata dan bersikap manja padanya."Ellen, bukannya kamu selalu bilang ingin makan steik buatanku? Hari ini aku akan masak sendiri. Bangun dan coba sedikit ya?"Aku memandangnya dengan dingin saat dia terus berbicara sendiri.Di hari ulang tahunku, aku menunggunya sampai tengah malam, tetapi dia tidak pulang untuk membuat jamuan ulang tahunku. Yang kutunggu justru pemandangan dirinya dan Ruka bercumbu mesra di atas ranjang.Saat yang berada di hadapannya sekarang hanyalah tubuh tanpa jiwa, dia baru punya suasana hati untuk memasak?Saat itulah pintu kamar dido

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 6

    Ruka melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya sambil menutup hidung. Dia melirik jasadku di atas tandu, mengernyit dengan jijik, tetapi ada secercah kepuasan di matanya."Kak Ravin, benar 'kan, dia cuma akting. Ini pasti mayat pengganti yang dia cari. Demi membuatmu luluh, dia benar-benar licik sampai hal seperti ini pun sanggup dilakukan."Seolah-olah tersadar oleh ucapannya, Ravin mendadak menoleh dan menatapnya dengan tajam. Sorot matanya sangat menakutkan."Benar, ini palsu. Dia paling takut sakit, mana mungkin berani nembak diri sendiri? Cepat panggil dokter forensik sekarang juga! Cepat!"Aku pun spontan tertawa. Ya, dulu aku memang paling takut sakit. Bahkan kalau jariku hanya tergores sedikit, aku akan mengangkat tangan dan mencarimu untuk membalut lukaku.Namun, dibanding rasa sakit karena hati yang sudah mati, apa artinya rasa sakit saat peluru menembus kepala?Dokter forensik keluarga segera datang. Di bawah tatapan Ravin yang seperti ingin membunuh orang, dokter itu g

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 5

    Keesokan harinya, Abel buru-buru mencari Ravin yang saat itu sedang memeluk Ruka."Tuan, gawat! Panti asuhan terbakar kemarin malam! Kami ... kami menemukan jasad Madam di dalam reruntuhan ...."Kalimat Abel itu membuat seluruh udara di ruangan seolah-olah membeku.Tangan Ravin yang sedang memeluk Ruka langsung kaku. Beberapa detik kemudian, seolah-olah mendengar lelucon paling lucu di dunia, dia malah tertawa mengejek."Nyali Ellen makin besar saja. Sekarang dia bahkan berani memainkan trik pura-pura mati seperti ini? Benar-benar keterlaluan."Ruka segera menutup mulut, berpura-pura terkejut, tetapi rasa puas di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan."Kak Ellen juga terlalu kekanak-kanakan. Demi merebut perhatian, dia sampai membakar tempat dia dibesarkan sendiri. Benar-benar gila."Ucapan itu langsung menyulut amarah Ravin. Dia meraih gelas anggur di atas meja, lalu membantingnya keras ke lantai hingga pecah berserakan."Paman Abel, pergi beri tahu Ellen, trik seperti ini ngga

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 4

    "Ravin, kamu nggak boleh melakukan ini! Hidup ibu kepala panti bergantung pada obat itu. Kalau obatnya dihentikan, dia bisa meninggal!"Aku tak peduli rasa sakit dari darah yang kembali mengalir di punggung tanganku dan segera berjuang meraih tangannya. Ibu kepala panti adalah satu-satunya keluarga yang benar-benar mencintaiku di dunia ini. Aku tidak bisa kehilangan dirinya.Ravin langsung menepis tanganku. Setelah memberi instruksi kepada sanatorium untuk menghentikan obat itu, dia berbalik dan pergi dengan dingin, meninggalkanku dalam keputusasaan.Aku memaksa tubuhku yang lemah untuk pergi ke aula rapat keluarga, ingin terus memohon agar Ravin melanjutkan obat ibu kepala panti. Namun, begitu masuk, aku mendapati Ruka datang lagi ke rumah Keluarga Sirait dan duduk terang-terangan di sisi kanan Ravin, tempat dudukku.Awalnya kursi itu bahkan tidak ada. Dulu Ravin sengaja menyiapkannya khusus untukku sebagai bentuk pengakuan atas kontribusiku bagi Keluarga Sirait."Ellen, aku menyiapka

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 3

    Setelah kejadian menangkap basah perselingkuhan itu, aku benar-benar terpuruk. Tak lama kemudian, luka lamaku kambuh hingga aku pingsan di rumah.Begitu menerima telepon, wajah Ravin langsung pucat pasi. Dia menggenggam tanganku sambil menangis."Ellen, aku memang bajingan .... Tolong jangan tinggal

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 2

    Lima tahun lalu, baru saja Ravin menjadi bos mafia, dia langsung disergap oleh musuh.Saat itu aku baru saja dewasa dan keluar dari panti asuhan. Kebetulan aku melihatnya bersimbah darah. Setelah mengenalinya sebagai orang yang pernah membantu panti asuhan, entah dari mana datangnya keberanian itu,

  • Harta Dan Cinta, Kurelakan Demi Berpisah   Bab 1

    Di tengah angin dingin yang menusuk tulang, aku berjalan keluar dari gerbang rumah Keluarga Sirait. Ravin malah mengejarku."Kamu benar-benar mau pergi cuma pakai pakaian setipis itu? Jangan sampai nanti jatuh sakit, lalu menyalahkanku."Dia melepas jasnya dan hendak menyelimutkannya ke tubuhku, tet

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status