LOGINPada malam hari, suasana vila terasa hangat dan penuh kebersamaan. Erfan duduk di tengah, dikelilingi oleh para wanita. Setelah memastikan perhatian mereka tertuju padanya, Erfan pun menyampaikan niatnya. "Lusa, aku akan mengantar Bu Susan dan Cika ke Kota Hua," ucapnya dengan nada tenang. Mendengar hal itu, para wanita saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk setuju. Tak ada penolakan sedikit pun. Bagi mereka, keputusan itu adalah hal yang wajar. Bu Susan adalah bagian dari kehidupan Erfan, dan Cika, sebagai anaknya, tentu pantas mendapatkan perhatian serta kehadiran sosok orang tua. Erfan memandang Kak Gisel, lalu dia berkata. "Besok, aku akan mengantar kakak ~ mencari lahan." Kak Gisel mengangguk, sorot matanya mengeluarkan sedikit kilatan panas. Namun, semua orang tidak ada yang menyadarinya. "Erfan, berapa lama kamu di Kota Hua?" tanya Tante Yurike. Erfan memandang Bu Susan, karena dia belum tahu, kunjungan wisata itu berlangsung berapa lama. Bu Susan langsung mengert
"Sayang, mau langsung mulai?" tanya Erfan dengan nada menggoda. "Ayo. Mau gaya apa, sayang?" tanya Bu Susan dengan nada genit. "Kamu nungguin, sayang!" perintah Erfan. Bu Susan mengambil posisi menungging membelakangi Erfan. Kepalanya di posisikan lebih rendah dari pantatnya. Melihat posisi yang sudah pas, Erfan langsung memosisikan batang besarnya itu di lubang apem wanita itu, lalu dia mendorongnya masuk sampai mentok di dalam. "Ahhhh..." desahan panjang bergema di dalam kamar, saat tubuh keduanya menyatu sempurna. "Sayang, enak banget... ahh..." ujar Bu Susan, nada bicaranya terdengar sangat menikmati. "Vaginamu... sangat enak, sayang! batangku di jepit erat di dalam." Erfan mulai menggerakkan batangnya maju mundur di dalam sana dengan gerakan cepat. Sehingga, suara benturan antara pahanya dan pantat wanita itu menimbulkan suara khas yang
Kakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!" "Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi... bisnis yang bisa aku buat hanyalah bisnis sederhana," ujar Kak Gisel dengan nada canggung."Emangnya... bisnis apa yang kakak ingin buat?" tanya Erfan dengan serius."Bisnis penginapan, seperti bisnis yang aku jalankan di sini," balas Kak Gisel."Itu bagus kak! kalau kakak mau buat bisnis itu, buat lah secepatnya!" ucap Erfan menyarankan."Apa... bisnis seperti itu akan laku? di tempat mewah yang akan kamu bangun?" tanya Kak Gisel, dia merasa ragu."Yah pasti laku! walau tempat yang dibangun mewah, tapi pengunjung yang datang, gak semuanya mau menyia-nyiakan uang, buat tidur di hotel mewah. Bahkan, kebanyakan pasti memilih tinggal di penginapan se
Erfan mengajak wanita itu beristirahat di dalam mobil. Namun, Tante Yurike harus di bawah ke dalam mobil dengan cara di gendong, karena dia sudah tidak sanggup berjalan. Di dalam mobil, keduanya berbaring sambil berpelukan, dengan posisi Tante Yurike ada di atas tubuh Erfan. "Tante rasa... kamu semakin hebat!" ujar Tante Yurike pelan. Matanya menatap Erfan dengan sorot mata kagum, dan juga ada kepuasan. "Gimana gak hebat? setiap hari aku selalu bercinta dengan para wanitaku," ucap Erfan dengan bangga. "Bocah nakal! kamu gak boleh terlalu sering bermain dengan wanita! itu gak baik untuk kesehatan ginjalmu," Tanta Yurike mengingatkan. "Aku awalnya berpikir begitu. Tapi, sampai sekarang... aku gak pernah merasa ada keluhan apapun," balas Erfan santai. "Kamu paling banyak... sehari bisa berapa kali?" tanya Tante Yurike. Karena dia belum tahu, seberapa hebat Erfan yang sebenarnya. "Kalau memaksakan diri, aku bisa memua
Erfan tidak langsung bergerak, dia ingin menikmati sensasi penyatuan awal terlebih dahulu. "Tante, apa suamimu... masih suka meminta jatah kepadamu?" tanya Erfan dengan nada main-main. "Itu sudah pasti! kamu gak harus bertanya," balas Tante Yurike dengan nada manja. "Tapi... kenapa vaginamu begitu sempit?" "Kamu jangan seolah-olah gak tahu deh!" balas Tante Yurike sedikit ketus. Erfan terkekeh lucu. Dia tahu kondisi suami Tante Yurike, alasannya bertanya hanya untuk menggoda wanita itu. "Aku kira... batang suami tante... ukurannya sudah membesar," goda Erfan. "Udah, jangan bicarakan dia terus! ayo mulai! udah gatal nih," rengek Tante Yurike. "Oke. Aku mulai, yah!" Setelah Erfan berkata, dia mulai menggerakkan batangnya maju mundur di dalam apem wanita itu. Gerakan awal tampak pelan, namun lama kelamaan gerakannya semakin cepat.
Setelah mengantarkan Sinta ke rumahnya, Erfan tidak langsung pulang ke vila. Dia membelokkan mobilnya masuk ke area hutan yang dulu di jadikan tempat untuk bercinta bersama, Bi Ayu. Tante Yurike merasa bingung kenapa Erfan membawanya ke tempat seperti itu. Namun, dia tidak bertanya apapun. Setelah sampai di tempat yang biasa dia kunjungi, Erfan menghentikan mobilnya. Dia melirik Tante Yurike, lalu memeluk tubuh wanita itu dan tangannya langsung hinggap di payudara besar wanita itu. Tante Yurike mengerti, mengapa Erfan membawanya ke tempat seperti ini. Senyuman genit mulai terlukis di bibir seksinya. "Kamu benar-benar yah, mau ajak tante bercinta di tempat seperti ini," ucap Tante Yurike dengan nada menggoda. "Hehe, tante harus mencobanya. Lebih seru loh!" ucap Erfan dengan nada main-main. Tante Yurike melingkarkan tangannya di leher Erfan. "Oke. Tante setuj
Erfan sampai di Vila. Erfan masuk ke dalam Vila, sambil membawa kantung belanja milik nya, dan milik Serina. Sementara belanjaan untuk wanita lainnya Erfan simpan di Mobil. Di dalam vila, Erfan melihat Serina, yang sedang duduk sambil menonton tv. Dia berjalan menghampiri wanita itu, dengan ekspr
Akhirnya mereka sampai di vila, Setelah Erfan menurunkan Pak RW, dia melajukan mobil nya ke Vila. Hari ini Erfan harus berangkat ke Kota Hua, Sampai di vila, Erfan membereskan semua yang ingin dia bawa. dia pun menelepon sekertarisnya itu. tut tut tut "Halo tuan muda," ucap Anne di seberan
Sambil menunggu Tesa berganti pakaian, Erfan masuk ke toko aksesoris emas. Dia membeli satu set aksesoris untuk Serina, dan membelikan Kalung untuk Bi Ayu Dan Tesa. "Bu! Mana Kakak?" tany Tesa, yang sudah kembali. "Tuh! di toko mas!" ucap Bi ayu, sambil menunjuk ke sebuah toko, tempat Erfan
Sore hari tiba, Sore ini, Erfan memiliki janji pergi ke kota, bersama Bi Ayu dan Tesa. "Aku harus mencari, apa ada mobil suv yang lebih baik!" ucap Erfan, sambil berjalan menuju ke tempat garasi mobil perusahaan. "Tuan muda," sapa seorang pria, yang bekerja sebagai pengurus mobil perusahaan.







