بيت / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Harga untuk Sebuah Sentuhan

مشاركة

Harga untuk Sebuah Sentuhan

مؤلف: Chatrin
last update تاريخ النشر: 2026-07-13 13:26:12

Gerbang kastel terbuka.

Hosh... hosh...

Elara berlari secepat mungkin.

Jubah putihnya terseret di lantai batu, napasnya terputus-putus. Darah dari luka di lengannya kembali merembes, tetapi ia tidak memedulikannya.

Yang ada di kepalanya hanya satu nama.

"Asterion..."

Begitu memasuki aula utama, ia membeku.

Semua orang ada di sana.

Rowan. Para tetua, dewan taring dan...

Aelmon.

Alpha itu berdiri menghadap jendela besar, memandang langit Lunaris yang semakin retak. Wajahnya begitu tenang hingga m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Hati liar sang Alpha   Hutan Penyesalan yang Membisu.

    Keheningan.Itulah yang pertama kali menyambut mereka ketika melewati Gerbang Kedua.Tidak ada suara angin.Tidak ada desir dedaunan.Pepohonan putih menjulang tinggi hingga menutupi langit. Batangnya sebening kristal, sementara ranting-rantingnya dipenuhi daun transparan yang memantulkan bayangan masa lalu setiap kali disentuh cahaya.Anehnya...Mereka bertiga masih dapat mendengar napas satu sama lain.Seolah hutan ini hanya menghapus suara dunia, tetapi membiarkan suara hati tetap hidup.Elara melangkah perlahan.Gaun keemasannya bergesekan pelan dengan rumput putih yang terasa selembut sutra."Indah..." gumamnya lirih. "Namun sepi."Aelmon yang berjalan di sampingnya mengamati setiap sudut tanpa lengah."Terlalu sepi.""Itu yang membuatku tidak tenang."Rowan mengangguk pelan."Tempat yang terlalu tenang biasanya menyembunyikan sesuatu."Belum selesai kalimat itu...Krek...Suara ranting patah terdengar. Mereka serentak menoleh, tidak ada siapa pun. Hanya seekor kupu-kupu putih ya

  • Hati liar sang Alpha   Cermin Keinginan

    Api masih menyala.Namun tidak lagi terasa panas.Justru keheninganlah yang membuat dada mereka sesak.Di hadapan Elara, Aelmon, dan Rowan berdiri tiga sosok yang sama persis dengan mereka. Tidak hanya wajah dan pakaian, bahkan cara mereka bernapas pun identik.Perbedaannya hanya satu. Mereka tidak memiliki bayangan, sebuah tulisan emas kembali muncul di udara.'Gerbang Pertama — Cermin Keinginan. Mereka adalah dirimu yang paling kau inginkan, bunuh mereka, maka kau membunuh dirimu sendiri. Biarkan mereka hidup, maka kau akan terjebak selamanya.'Sunyi."Aku membenci teka-teki." gumam Rowan.Elara mengamati bayangannya.Versi dirinya mengenakan mahkota Matahari yang utuh. Tidak ada luka di tubuhnya. Tidak ada kesedihan di matanya.Ia adalah Dewi Matahari yang sempurna. Sementara bayangan Aelmon...Masih memegang tangan Elara. Tubuhnya utuh, tidak pernah terkena kutukan. Ia bisa menyentuh Elara tanpa rasa sakit, sedangkan bayangan Rowan masih memiliki kedua lengannya.Tidak ada bekas p

  • Hati liar sang Alpha   Gerbang Pertama

    Suara Aurelion masih menggema di benak Elara ketika dunia bawah perlahan memudar. 'Mempercayai Dewa Kematian... sama artinya dengan mempercayai kematian itu sendiri.'Kegelapan runtuh. Cahaya kembali memenuhi pandangannya.Saat Elara membuka mata...Ia kembali berdiri di aula Lunaris, seolah ia tidak pernah pergi.Namun waktu yang sebelumnya berhenti mulai bergerak lagi.Tik...Udara kembali mengalir. Api di perapian menyala, jubah para tetua kembali berkibar.Semua terjadi dalam satu tarikan napas.Tak seorang pun menyadari Elara baru saja menghilang. Hanya Aelmon, Alpha itu langsung memegang bahu Elara."Luna?" Tatapan emasnya penuh kecemasan."Kau pucat."Elara tidak langsung menjawab.Deg! deg!Jantungnya masih berdetak cepat.Ia memandang wajah Aelmon cukup lama. Lalu, dengan sangat perlahan ia mengangkat kedua tangannya dan memeluk pria itu sangat erat.Aelmon terdiam.Ia membalas pelukan itu tanpa bertanya apa pun.Keheningan itu terasa jauh lebih berarti daripada ribuan kalima

  • Hati liar sang Alpha   Raja Dunia Bawah

    "hah!" Dingin. Adalah rasa pertama yang Elara rasakan setelah ia membuka matanya—jantungnya kembali berdetak."Ini..."Jelas bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang merambat perlahan ke dalam ingatan.Elara membuka mata. Tidak ada lagi langit Lunaris, tidak ada kastel, tidak ada aroma kayu pinus yang biasa dibawa angin.Yang menyambutnya hanyalah hamparan tanah hitam sejauh mata memandang.Retakan-retakan besar membelah bumi seperti luka yang belum pernah sembuh. Dari celah itu muncul cahaya kebiruan yang redup, diiringi bisikan ribuan roh.Ssshh...Haa...Suara mereka saling bertumpuk, seperti doa yang kehilangan tujuannya.Akar-akar hitam menjalar di atas tanah.Sebagian menggantung dari langit yang gelap, sebagian lagi melilit tulang-tulang raksasa yang telah menjadi bagian dari negeri itu.Elara mengembuskan napas pelan.Ia mengenal tempat ini. "Dunia bawah..." gumamnya lirih.Tidak jauh di hadapannya berdiri sebuah istana berwarna hitam keperakan. Tidak megah,

  • Hati liar sang Alpha   Ketukan dari Langit.

    Tok... tok...Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.Suara itu datang dari langit.Seluruh ruangan terdiam.Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langsung berdiri di depannya, "Apa itu?"Elara tidak menjawab.Jari-jarinya justru mulai gemetar. Tetua Darian mengerutkan dahi. "Aku belum pernah mendengar suara seperti itu."Tetua Maereth menggeleng pelan. "Bukan.""Aku pernah membacanya."Semua menoleh. Wanita tua itu menarik napas panjang. "Di naskah kuno, suara itu disebut Ketukan Gerbang."Rowan mengernyit."Gerbang?""Gerbang yang memisahkan dunia." Tatapan Maereth berubah muram. "Ketika seseorang mengetuknya, berarti ada sesuatu di balik lan

  • Hati liar sang Alpha   Permainan Sang Matahari

    Tak seorang pun berbicara.Api di perapian hanya mengeluarkan bunyi kecil.Krek... krek...Cahayanya menari di wajah setiap orang yang berada di aula.Tetua Darian masih memegang gulungan tua itu sedangkan, Tetua Maereth memejamkan mata.Rowan berada di belakang Aelmon dengan satu lengan yang tersisa, sementara Aelmon tidak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Elara.Kalimat terakhir itu masih menggantung."Dia... memilih mati."Keheningan itu terasa begitu berat hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.Aelmon akhirnya melangkah mendekati gulungan tua itu.Tatapannya tidak lagi membaca gambar. Ia justru melihat kembali semua kenangan yang selama ini terasa janggal, pertemuan pertama mereka.Tatapan Elara yang selalu seolah mengetahui sesuatu.Cara gadis itu menerima kebencian tanpa pernah benar-benar membalas.Cara ia berkali-kali berkata bahwa setiap orang bebas memilih. Dan...Cara ia selalu menangis ketika seseorang mati.Bukan karena terkejut.Melainkan seperti sese

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Menuju Dunia Manusia

    Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra me

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara ma

  • Hati liar sang Alpha   Malam yang Terlalu Sunyi

    Malam semakin larut.Api unggun di tengah Lunaris mulai mengecil, menyisakan bara merah yang berpendar pelan di antara kayu-kayu hangus. Tawa para anggota pack perlahan mereda, digantikan suara angin malam dan langkah kaki yang mulai menjauh menuju tempat istirahat masing-masing.Namun wajah Elara

  • Hati liar sang Alpha   Cara Sederhana untuk Tetap Tinggal

    Sinar senja jatuh hangat di sela dedaunan, seperti mencoba menyentuh tanah dengan hati-hati. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah.Elara duduk di dekat api kecil yang hampir padam.Selimut tipis masih melingkari bahunya, rambutnya jatuh sedikit berantakan di sisi wajah. Ia memegang c

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status