بيت / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Hak yang Telah Hilang

مشاركة

Hak yang Telah Hilang

مؤلف: Chatrin
last update تاريخ النشر: 2026-07-13 20:04:50

Malam semakin pekat.

Hujan tipis turun di atas Lunaris, membasahi dinding kastel dan dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin. Di kejauhan, raungan para serigala bersahut-sahutan, memecah sunyi menjadi pertanda bahwa perburuan telah dimulai.

Di balik pintu besi yang terkunci...

Elara masih berdiri.

Tangannya memukul daun pintu berkali-kali hingga kulitnya memerah.

"Biarkan aku keluar!" Tidak ada jawaban.

Ia memukul lagi.

Brak!

"Aelmon!" Suara itu pecah. "Bukalah pintunya!"

Langkah kaki terde
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Hati liar sang Alpha   Ketika Matahari Memilih Tenggelam

    Ketika Matahari Memilih TenggelamKeheningan menyelimuti Ruang Takhta Matahari.Cahaya keemasan yang memenuhi langit seolah berhenti bergerak. Tidak ada desir angin. Tidak ada nyanyian burung. Bahkan waktu seperti menahan napas ketika sosok berjubah putih itu menutup kedua matanya.Eon membuka matanya perlahan.Tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya—Aelmon, Elara, Rowan, Aurelion, para tetua Lunaris, dan para dewa yang tersisa.Lalu ia berkata dengan suara tenang yang menggema ke seluruh penjuru langit."Mulai sekarang... yang akan menjadi musuh kalian bukan lagi para dewa, melainkan pilihan kalian sendiri."Semua orang terdiam.tap... tap... tap...Eon melangkah mendekati Takhta Matahari yang selama ribuan tahun tidak pernah diduduki siapa pun."Selama ini kalian mengira takdir adalah rantai yang mengikat kehidupan.""Tetapi kalian keliru."Ia mengangkat Kitab Takdir."Takdir hanyalah jalan.""Yang menentukan akhir perjalanan adalah pilihan yang dibuat setiap kali

  • Hati liar sang Alpha   Kesalahan Pertama Sang Matahari

    "...adalah kesalahan pertama yang berhasil dibuat oleh seorang dewi."Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak keras. Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.Srrtt...Angin dingin menyapu lantai marmer Singgasana Matahari. Ujung jubah Elara berkibar pelan, sementara rambut keemasannya menari perlahan di bawah cahaya yang mulai meredup.Aelmon menyipitkan mata. Bahunya menegang. Tanpa sadar, jemarinya meraih gagang pedang di pinggangnya."Apa maksudmu?" tanyanya datar. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari pria berambut perak itu.Pria itu tidak segera menjawab.Ia justru mengangkat kepalanya, menatap langit-langit istana yang dipenuhi cahaya keemasan."Hari ini masih sama."Senyum tipis terukir di bibirnya. "Cahaya Matahari tetap hangat.""Padahal pemiliknya sudah berubah."Elara mengernyit pelan. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengenalku?"Pria itu menurunkan pandangannya perlahan. "Aku mengenal Solaria.""Lalu aku mengenal Elara.""Dan sekarang.

  • Hati liar sang Alpha   Rahasia yang Dilupakan Para Dewa

    Suara langkah itu terdengar pelan.Tok... tok... tok...Bukan tergesa-gesa.Bukan pula berat seperti langkah seorang prajurit yang hendak berperang.Sebaliknya, langkah itu tenang. Terlalu tenang hingga setiap gema yang dipantulkannya membuat dada siapa pun yang mendengar terasa semakin sesak.Angin berhenti berembus.Kelopak-kelopak bunga matahari yang sejak tadi beterbangan perlahan jatuh ke tanah tanpa sempat menari di udara.Seluruh tempat mendadak sunyi.Bahkan cahaya Singgasana Matahari meredup, seolah menghormati seseorang yang baru saja datang.Aurelion mengatupkan rahangnya. Jemarinya yang biasanya santai perlahan mengepal di balik lengan jubahnya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Raja Dunia Bawah itu kehilangan ketenangannya."Itu... tidak mungkin." Suaranya rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Elara menangkap perubahan sekecil apa pun pada kakaknya. Alisnya berkerut. Ia belum pernah melihat Aurelion setegang ini."Kak...""Ada apa?"Aurelion tidak seger

  • Hati liar sang Alpha   Dunia yang Selalu Berputar

    "Siapa bilang... kisah ini telah berakhir?"Suara itu tidak keras.Namun gema langkahnya membuat Singgasana Matahari bergetar pelan. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyelimuti langit mendadak meredup sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.Aelmon tanpa sadar melangkah ke depan, berdiri di antara Elara dan pintu kuno yang perlahan terbuka.Gerakan itu begitu alami, ia bahkan tidak perlu berpikir.Melindungi Elara telah menjadi naluri yang tumbuh jauh lebih dahulu daripada cintanya sendiri.Elara menatap punggung Alpha itu, punggung yang dipenuhi bekas luka, sebagian karena peperangan.Sebagian lagi karena keputusan-keputusan yang pernah mereka sesali bersama."Aelmon...""Aku di sini."Hanya tiga kata.Namun cukup membuat jantung Elara yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan kembali tenang.Ia tersenyum kecil.Dulu, ia menganggap ketenangan hanya dapat ditemukan di atas singgasana.Kini ia mengerti.Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.Kadang rumah adalah seseorang yang sel

  • Hati liar sang Alpha   Janji yang Tidak Pernah Berubah

    "Kalau Matahari telah memilih... maka sekarang giliranku menepati janji."Suara itu terdengar begitu pelan.Namun cukup untuk membuat cahaya di sekitar Singgasana Matahari bergetar.Elara menghentikan langkahnya. Ia mengenali suara itu, bukan karena sering mendengarnya.Melainkan karena suara itu pernah menjadi bagian dari hidupnya yang telah lama terkubur.Dari balik cahaya keemasan, sesosok pria perlahan melangkah keluar.Jubah putihnya telah dipenuhi retakan cahaya, seolah tubuhnya sendiri sedang perlahan menghilang.Wajahnya tenang. Tatapannya lembut, tidak ada kebencian dan tidak pula penyesalan."Varkhiel..." Nama itu keluar dari bibir Elara hampir seperti bisikan, Aelmon ikut mengangkat kepala.Matanya menyipit. "Mustahil..."Varkhiel tersenyum tipis. "Tidak ada yang benar-benar hidup.""Dan tidak ada yang benar-benar mati, selama masih ada seseorang yang mengingat."Ia berhenti beberapa langkah dari Singgasana.Tubuhnya semakin transparan.Seolah setiap kata yang keluar dari m

  • Hati liar sang Alpha   Jawaban Sang Matahari

    "Wahai Matahari... apakah engkau siap kehilangan satu cinta demi menyelamatkan seluruh dunia?"Suara itu tidak datang dari langit.Tidak pula dari bumi.Suara itu bergema dari dalam jiwa Elara sendiri.Tangga emas yang membelah langit terus memanjang. Setiap anak tangga memancarkan cahaya lembut, tetapi setiap langkah yang harus diambil terasa lebih berat daripada ribuan peperangan yang pernah ia lalui.Elara mengangkat wajah."Aku tidak pernah ingin menjadi penyelamat."Keheningan menjawabnya.Ia kembali melangkah."Tetapi jika dunia hanya bisa hidup karena satu orang harus kehilangan segalanya..." Suara Elara bergetar untuk pertama kalinya. "...maka dunia ini terlalu kejam."Angin berembus pelan.Cahaya yang menyelimuti tubuhnya sempat meredup, seolah Singgasana Matahari ikut mendengarkan keraguan pemiliknya.Di bawah tangga, Aelmon berdiri tanpa berkedip sedikit pun. Jemarinya terkepal hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.Ia membenci perasaan tidak mampu.Ia pernah mela

  • Hati liar sang Alpha   Hukum tiga dunia

    Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R

  • Hati liar sang Alpha   Dua energi berbeda

    Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi

  • Hati liar sang Alpha   Cahaya yang menuntut.

    Selamat membaca.Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.Elara menatap pria itu takut

  • Hati liar sang Alpha   Janji bumi pada bulan

    Selamat membaca.Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Ger

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status