Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Rumah yang Membayar Harga

Share

Rumah yang Membayar Harga

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-07-04 00:13:43

Rumah itu masih berdiri. Dinding batunya tidak berubah, perapian masih menyala.

Aroma pinus masih dibawa angin yang sama. Namun rumah bukan sekadar tempat, rumah adalah orang-orang yang mengisinya.

Dan orang-orang itu... telah berubah.

***

Elara terbangun sebelum fajar. Untuk sesaat ia lupa, Lupa pada perang, lupa pada langit, lupa pada kematian.

Ia bangkit dari tempat tidur, berniat mencari secangkir teh hangat dari dapur.

Sejak hari saat ia jatuh ia terus bermimpi dan mendengar hal-hal aneh..
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Jawaban dari Pintu Kebersamaan

    Suara langkah itu semakin dekat.Tok...Tok...Tok...Tidak tergesa.Tidak pula berat.Irama langkahnya justru begitu tenang, seolah pemiliknya sama sekali tidak terkejut melihat mereka berada di Aula Pilihan.Elara mematung.deg... deg...Jantungnya berdetak semakin cepat. Suara itu, ia mengenalnya.Ia mengingatnya.Bahkan setelah kematian, ia masih dapat mengingat nada bicara yang selalu terdengar tenang ketika menasihatinya.Pintu KEBERSAMAAN terbuka perlahan—Cahaya keemasan mengalir keluar, sesosok pria melangkah dari balik pintu. Rambut keemasan yang tergerai hingga bahu, mata yang jernih seperti langit musim semi.Jubah putih yang selalu dikenakannya ketika masih menjadi Benih Cahaya."Asterion..."Suara Elara nyaris tak terdengar. Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka, ia tersenyum hangat.Persis seperti yang diingat Elara. N

  • Hati liar sang Alpha   Aula Pilihan

    Gerbang Ketujuh terbuka tanpa suara.Tidak ada derit engsel.Tidak ada hembusan angin.Hanya tiga pintu cermin yang berdiri sejajar di hadapan mereka, memantulkan sosok Elara, Aelmon, dan Rowan dengan begitu sempurna hingga sulit dibedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bayangan.Namun beberapa detik kemudian...Pantulan itu tidak lagi mengikuti gerakan mereka, Elara mengangkat tangan.Bayangannya tetap diam.Aelmon langsung melangkah setengah langkah ke depan. Naluri seorang Alpha membuatnya berdiri di antara Elara dan ketiga cermin itu."Itu bukan pantulan." Suara Nox terdengar berat."Melainkan kemungkinan."Permukaan ketiga cermin beriak seperti air yang disentuh hujan. Sesosok pria melangkah keluar dari cermin pertama, wajahnya sama persis dengan Aelmon.Tubuhnya sama tegap. Tatapan hijaunya sama tajam, yang berbeda hanya sorot matanya.Kosong. Tidak ada kasih sayang, tidak ada keraguan, hanya ambisi yang membeku.Dari cermin kedua muncul Elara lain, Mahkota Matahari berteng

  • Hati liar sang Alpha   Ketika Takdir Memiliki Wujud

    Retakan itu terus melebar.KRAAAK...Langit Dunia Bawah seperti kain tua yang disobek dari dua sisi.Angin hitam berembus keluar, membawa aroma logam, hujan, dan tanah yang baru digali.Tidak ada wajah.Tidak ada mata.Hanya sebuah tangan raksasa yang perlahan meraih ke arah Telaga Penyesalan. Namun, semua orang merasakan hal yang sama.Makhluk itu, sedang melihat mereka.Rowan mengertakkan giginya. Lututnya masih menekan tanah. "Berat..." Desisnya. "Bukan tekanan biasa..." Pedangnya bahkan bergetar di dalam genggamannya.Aelmon masih berdiri.Meski bahunya terasa seperti dipikul sebuah gunung, ia tetap bergeser setengah langkah kembali menutupi Elara.Elara memandang punggung pria itu. Tidak besar, tidak setinggi langit.Tetapi entah mengapa...Punggung itu selalu terlihat seperti tempat paling aman yang pernah ia kenal.Ia mengangkat tangan. Ujung jarinya menyen

  • Hati liar sang Alpha   Takdir yang Melangkah Keluar

    Air telaga berguncang.Byur...Riaknya tidak lagi membentuk lingkaran kecil.Gelombangnya semakin tinggi, menghantam tepian batu hingga serpihan air hitam beterbangan ke udara.Namun anehnya...Setiap tetes yang jatuh berubah menjadi kelopak bunga matahari.Elara mematung."Bunga?" Ia bertanya sambil berbisik.Nox juga terlihat terkejut."Tidak, ini seharusnya tidak terjadi."Dari tengah telaga, cahaya keemasan perlahan muncul lembut nan hangat.Sangat berbeda dengan dingin Dunia Bawah.Perlahan-lahan, sesosok wanita melangkah keluar dari permukaan air.Tidak ada cipratan.Tidak ada suara langkah.Gaun putih keemasan menyapu permukaan telaga tanpa tenggelam sedikit pun. Rambut panjangnya berwarna merah terang.Mahkota matahari bertengger anggun di atas kepalanya. Namun, wajahnya adalah wajah Elara.Rowan menggenggam pedangnya semakin era

  • Hati liar sang Alpha   Yang Datang Menjemput

    Riak kecil menyebar di permukaan telaga. Tidak ada seorang pun bergerak, bahkan embusan napas mereka terasa tertahan.Elara memandangi bayangan itu tanpa berkedip. Wanita dalam pantulan tersebut benar-benar dirinya, bukan Solaria atau Dewi Matahari.Hanya Elara.Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gading. Rambut merahnya diikat longgar, beberapa helai jatuh di sisi wajah. Di dalam pelukannya tertidur seorang anak kecil berambut hitam legam dengan telinga serigala yang sesekali bergerak mengikuti embusan angin.Anak itu tampak damai.Begitu damai hingga hati Elara terasa hangat hanya dengan melihatnya.Namun...Di ujung halaman rumah kecil itu...Aelmon berdiri sendirian.Tubuhnya masih tegap. Rambut hitamnya telah dihiasi beberapa helai perak, tatapan hijaunya tidak lagi tajam seperti seorang Alpha yang memimpin peperangan.Yang tersisa hanya kerinduan.Ia ingin melangkah. Namun s

  • Hati liar sang Alpha   Telaga Penyesalan

    Riak di permukaan telaga semakin melebar. Air hitam itu berubah bening, setenang cermin, Namun yang terpantul bukanlah langit-langit Dunia Bawah—Langit kuno yang dipenuhi cahaya keemasan.Angin membawa aroma bunga matahari.Suara peperangan terdengar sangat jauh, seolah sengaja ditahan agar tidak mengganggu satu momen yang telah lama terkubur.Elara mematung."Aelmon..."Alpha itu tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada bayangan di dalam telaga, seorang pria muda berdiri mengenakan zirah hitam.Wajahnya masih sama. Namun sorot matanya jauh lebih dingin, belum ada kelembutan. Belum ada senyum kecil yang kini sering muncul setiap kali bersama Elara, belum ada cinta. Hanya ambisi, dan di hadapannya...Solaria—Sang Dewi Matahari. Masih mengenakan mahkota emas, tubuhnya dipenuhi bercak darah.Salah satu sayap cahayanya patah. Namun ia tetap berdiri tegak, tangannya perlahan terulur ke arah Alpha muda itu. Bukan memoh

  • Hati liar sang Alpha   Membawa Bulan Bersama dengannya

    Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat

  • Hati liar sang Alpha   Batas yang mulai retak.

    Selamat membaca.Latihan tidak berhenti. Hari demi hari, Elara kembali ke lingkaran batu itu. Mengulang hal yang sama. Menghadapi hal yang sama. Dan setiap kali itu terjadi, Rasa sakitnya tidak pernah benar-benar berkurang.***“Fokus.”Suara Lyria tenang, namun tegas. Elara berdiri di tengah lingk

  • Hati liar sang Alpha   Perang yang tidak bisa dihindari

    Selamat membaca.Kata itu terus terngiang di kepala Elara, 'Perang' Bukan lagi kemungkinan, bukan lagi ancaman jauh. Tapi sesuatu yang, sedang dipersiapkan.Di depan matanya.***“Apa maksudnya perang?”Elara langsung menyusul Aelmon, langkahnya cepat menyamai langkah panjangnya. Ia tidak berhenti

  • Hati liar sang Alpha   Tangan di balik cahaya.

    Selamat membaca.Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba.Di aula, suhu turun d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status