分享

Bab 5

作者: Jaja
Gantari mendadak mendongak, menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.

Javas mengalihkan pandangannya dari Gantari, suaranya terdengar berat dan dalam. "Mata-mata rahasiaku tidak sebodoh itu. Orang yang bermain di balik layar, aku tahu dengan sangat jelas."

Pria ini tahu? Dia tahu bahwa semua itu hanya sandiwara yang disutradarai sendiri oleh Garwita?

Jantung Gantari serasa dihantam keras oleh kalimat itu. Rasa sakit yang tajam sekaligus ironi yang luar biasa, membuncah di dadanya.

"Lalu Yang Mulia ...." Suara Gantari gemetar.

"Tapi Garwita ...." Nada bicara Javas menyiratkan keletihan dan keputusasaan. "Aku sudah berkali-kali memberitahunya bahwa aku nggak punya perasaan asmara padamu, dan menikah denganmu dulu hanya karena terpaksa. Tapi dia ... bagaimanapun juga adalah seorang wanita yang kurang memiliki rasa aman. Melihat aku dan kamu menikah bertahun-tahun, melihat ... aku sesekali perhatian padamu, hatinya menjadi tidak tenang. Kali ini, dia hanya memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji perasaanku."

Dia berhenti sejenak, lalu menatap Gantari dengan tatapan yang rumit. "Aku nggak boleh melukai hatinya. Demi membuktikan perasaanku padanya, aku hanya bisa berpura-pura ikut bermain dalam sandiwara ini bersamanya. Maaf telah menyakitimu."

Maaf telah menyakitimu.

Kalimat yang diucapkan begitu ringannya itu, merangkum semua fitnah, penghinaan, penyiksaan hingga kulitnya terkelupas dan dagingnya robek. Serta ketakutan hampir tewas di penjara bawah tanah yang dia alami beberapa hari ini.

Dua orang itu, yang satu bermain sandiwara demi mendapatkan rasa aman, dan yang satu lagi menonton dengan dingin demi membuktikan perasaannya. Bekerja sama mendorongnya ke dalam neraka, tetapi masih menuntutnya untuk memahami "kesulitan" mereka?

Gantari menatapnya, lalu mendadak tersenyum.

Senyuman yang sangat pucat, membawa kepedihan yang hampir seperti meratapi dirinya sendiri.

Javas merasa hatinya tertusuk oleh senyuman itu. Rasa panik yang tidak beralasan mendadak menyeruak di dadanya.

Dia mengira wanita itu merasa sedih dan kecewa.

"Kali ini aku bersalah padamu." Suara Javas melembut, bahkan terdengar nada janji yang jarang ada. "Rawat tubuhmu dengan baik, kelak aku akan memberi kompensasi padamu. Antara Garwita dan kamu, aku berjanji padamu, lain kali ... aku pasti akan memilihmu sekali."

Lain kali? Memilihnya sekali?

Gantari memejamkan mata, hanya merasa lelah yang mencapai batasnya.

"Nggak akan ada lain kali lagi," bisik Gantari lirih, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

"Apa?" Javas tidak mendengar dengan jelas.

Tepat pada saat itu, Darya berbisik dengan hati-hati dari luar ruangan, "Yang Mulia, Anda sudah berada di sini dan menjaga Selir Agung sehari semalam. Ada beberapa menteri yang sedang menunggu Anda untuk membahas masalah bencana banjir di daerah selatan ...."

Javas mengerutkan kening, menatap Gantari yang berwajah pucat dan memejamkan mata tanpa berbicara di atas ranjang. "Minta mereka menunggu sebentar lagi."

"Yang Mulia." Gantari mendadak berbicara dengan tenang. "Urusan kekaisaran lebih penting. Saya sudah tidak apa-apa, saya mohon Yang Mulia untuk kembali."

Melihat sikapnya yang begitu asing dan dingin, amarah di dada Javas kembali menyala. Namun, yang lebih mendominasi adalah rasa sesak dan tidak berdaya.

Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa pun lagi. Javas bangkit berdiri, menatap Gantari dalam-dalam, lalu berbalik dan pergi.

Hari-hari berikutnya, Javas seolah-olah benar-benar menjalankan janjinya untuk memberikan kompensasi.

Di balik layar, berbagai hadiah mengalir tanpa henti ke dalam istana Gantari. Benda-benda antik dan langka, kain sutra berharga, bahkan beberapa barang upeti yang hanya boleh digunakan oleh kaisar dan permaisuri.

Hari ini, dia bahkan mengutus orang untuk menyampaikan pesan bahwa dia akan membawa Gantari pergi ke arena perburuan kekaisaran di pinggiran ibu kota untuk menyegarkan pikiran.

Itu adalah arena khusus milik kaisar dan permaisuri, yang tak pernah diinjak oleh selir mana pun.

Gantari sedang berpikir bagaimana cara menolaknya dengan halus.

Karena hari ini adalah tepat hari di mana obat mati suri itu akan bereaksi penuh.

Di dalam istana, dia bisa "meninggal mendadak". Namun jika dia meninggal di tengah jalan menuju arena perburuan, bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan?

Baru saja dia hendak memanggil pelayan barunya untuk menyampaikan pesan, seorang pria berpakaian hitam mendadak melompat masuk melalui jendela. Sebelum dia sempat menjerit, tengkuknya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa.

Pandangannya seketika gelap, dan dia kehilangan kesadaran.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status