Share

Bab 4

Author: Jaja
Semua orang terkejut.

Gantari pun ikut tertegun.

Javas mengambil bukti-bukti tersebut dan membacanya sepintas. Wajahnya seketika terlintas kabut hitam. Dia melemparkan bukti-bukti itu tepat ke arah wajah Gantari dengan kasar.

"Gantari," ucapnya dengan suara dingin. "Kamu terlalu membuatku kecewa! Berani-beraninya kamu berkali-kali mencoba mencelakai Permaisuri!"

Dia berhenti sejenak, lalu membentak tajam, "Pengawal!"

Kata-katanya belum selesai.

Melihat wajah wanita itu yang pucat dan tenang tanpa gejolak, kalimat "Seret dia keluar dan pancung" mendadak tertahan di kerongkongannya.

Garwita menangkap keraguan di mata pria itu, dan kilatan rasa benci melintas di matanya.

Dia bergegas berlutut dan memohon sambil menangis, "Yang Mulia, bagaimanapun juga, Gantari adalah adik saya. Saya mohon, Yang Mulia untuk mengampuninya, jangan bunuh dia. Cukup ... cukup masukkan dia ke penjara bawah tanah beberapa hari sebagai bentuk hukuman."

Penjara bawah tanah?

Javas mengerutkan kening tajam, dan kilatan keraguan kembali melintas di matanya.

Penjara bawah tanah. Tempat gelap, lembap, dan penuh dengan alat penyiksaan. Siapa pun yang dikurung di sana kalau tidak tewas, pasti cacat. Luka di punggung Gantari bahkan belum sembuh, jika dimasukkan ke sana ....

Garwita melihat pergulatan batin di mata pria itu dengan sangat jelas, dan rasa benci di hatinya makin membara.

Dia tidak menyangka, sejak kapan Gantari memiliki bobot seberat itu di dalam hati Javas! Bahkan untuk memasukkannya ke penjara bawah tanah saja, pria itu tidak tega?

Garwita menggertakkan gigi, lalu kembali berbicara dengan nada yang jauh lebih lemah dan memelas, "Sebenarnya ... saya juga tidak ingin menghukum adik saya. Tapi, jika tidak dijatuhi hukuman dan membiarkan tindakannya memfitnah permaisuri ini terjadi begitu saja, di masa depan ... bagaimana saya tidak malu untuk memimpin? Sudahlah ... sudahlah ... bagaimana pun ida adik kandung saya, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi, Yang Mulia ... uhuk, uhuk uhuk ...!"

Saat berbicara, Garwita mendadak terbatuk-batuk hebat. Tak lama kemudian, dia memuntahkan seteguk darah segar yang mengotori saputangan putih bersih miliknya.

"Garwita!" Javas terperanjat hebat. Dia bergegas merangkul wanita itu erat-erat. "Tabib! Cepat panggil tabib!"

Dia menatap Gantari yang masih berlutut dengan tegap tanpa ekspresi di bawah sana, lalu beralih menatap Garwita yang memuntahkan darah dan tak sadarkan diri di pelukannya. Sisa-sisa keraguan terakhir di matanya, seketika digantikan oleh ketegasan yang kejam.

"Masukkan Selir Agung Gantari ke penjara bawah tanah! Tunggu keputusanku lebih lanjut!"

Para pengawal maju dan menyeret Gantari dari lantai tanpa ampun.

Gantari tidak memberontak, tidak pula membela diri.

Dia sudah tahu sejak awal bahwa ini semua adalah ulah Garwita.

Penjelasan apa pun tidak ada gunanya.

Penjara bawah tanah memang persis seperti rumor yang beredar. Dingin, lembap, dan berbau busuk tajam.

Gantari dilemparkan ke dalam sebuah sel. Pintu besi tertutup dengan bunyi keras yang menggelegar, memutus secercah cahaya redup dari luar.

Gantari menyandarkan tubuhnya pada dinding batu yang dingin. Akibat guncangan tadi, luka di punggungnya kembali robek. Darah merembes keluar membasahi pakaian sederhananya. Sangat menyakitkan, tetapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk memedulikannya.

Entah berapa lama waktu berlalu, pintu sel mendadak terbuka. Seorang sipir penjara melangkah masuk sambil membawa berbagai jenis alat penyiksaan.

"Yang Mulia Selir Agung," ujar sipir itu dengan senyum palsu. "Mohon maaf, atasan memberi perintah untuk memberi Anda sedikit pelajaran. Agar Anda mengingat baik-baik, siapa yang boleh diusik dan siapa yang tidak."

Besi panas, jarum perak, jepit jari ... berbagai jenis hukuman dijatuhkan ke atas tubuhnya yang penuh luka.

Dua hari penuh, dia menahan penyiksaan yang tak terhitung jumlahnya. Namun, dia tetap menggertakkan gigi tanpa merintih sedikit pun. Kesadarannya terombang-ambing di antara rasa sakit yang luar biasa dan rasa dingin yang membekukan.

Jiwan ... maafkan aku. Sepertinya aku ... tidak bisa bertahan sampai saat aku bisa pergi menemuimu ....

Tepat saat dia hampir kehilangan kesadarannya sepenuhnya, sebuah kehangatan mendadak menyelimuti tubuhnya.

Seseorang mengangkat dan merangkulnya dengan gerakan penuh kehati-hatian dan getaran yang sangat dia kenal.

Gantari berusaha membuka matanya. Dalam pandangannya yang kabur, dia melihat garis rahang Javas yang mengetat.

Saat terbangun kembali, dia sudah berada di Istana Ayodya.

Javas menunggunya di samping ranjang sambil memegang mangkuk obat.

Melihatnya terbangun, pria itu menghela napas lega. "Kamu sudah sadar."

Dia menyendok obat dan menyodorkannya ke bibir Gantari. "Minumlah obatnya."

Gantari menyangga tubuhnya untuk duduk, lalu mengambil mangkuk obat itu dari tangannya. "Saya bisa sendiri."

Tangan Javas membeku di udara.

Dia memperhatikan wanita itu mengambil mangkuk dengan bersusah payah, lalu meminum habis cairan pahit itu tanpa mengerutkan kening sedikit pun. Rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan di dadanya, kembali bergejolak hebat.

"Kenapa harus seperti ini?" Suara Javas terdengar agak serak. "Sebelumnya, aku juga bukannya tidak pernah membantumu seperti ini."

Gantari meletakkan mangkuk kosong itu, mengusap sudut bibirnya dengan lengan baju, lalu berbicara dengan lemas tetapi jelas, "Itu adalah masa lalu ... saat hanya ada Yang Mulia dan saya. Sekarang, kedudukan telah ditetapkan. Kakak telah menjadi permaisuri, saya ... tidak berani lagi merepotkan Yang Mulia."

Javas mengerutkan keningnya tajam. "Apa kamu menyalahkanku karena memasukkanmu ke penjara bawah tanah?"

"Tidak," jawab Gantari sambil menurunkan pandangan matanya. "Saya hanya ingin menyampaikan bahwa penyebaran rumor untuk memfitnah Permaisuri benar-benar bukan perbuatan saya."

Javas hening sejenak.

Di bawah pencahayaan yang remang-remang, garis wajahnya tampak agak keras dan dingin.

"Aku tahu," ucap Javas mendadak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 26

    Di luar, Darya mendengar pergerakan itu dan mengintip dengan hati-hati. "Yang Mulia? Apa saya perlu mengutus seseorang ...." "Biarkan dia pergi." Dari dalam, terdengar suara Javas yang sangat parau, membawa ketenangan dari jiwa yang telah mati sepenuhnya. "Jangan ada yang menghalanginya. Utus seseorang ... secara rahasia untuk melindungi keluarga mereka meninggalkan Wilayah Dundra menuju tempat yang ingin mereka tuju. Pastikan ... mereka selamat."Mata Darya memerah dan berbicara terisak, "... Baik."Tak ada suara lagi di dalam ruangan.Darya menunggu dalam waktu lama. Rasa cemas di hatinya makin menjadi, hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendorong celah pintu dan melihat ke dalam.Tampak di atas ranjang, Javas terbaring tenang di sana. Wajahnya memiliki warna pucat kebiruan yang aneh, busa darah merah tua keluar dari sudut bibirnya, matanya terpejam rapat, dan napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa lagi."Yang Mulia!!" Darya hampir pingsan karena terkejut. Dia meran

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 25

    Hari ketujuh, saat petang. Demam tinggi Javas sudah sedikit turun dan kesadarannya telah pulih, hanya saja tubuhnya masih agak lemas. Gantari membawa semangkuk bubur tawar dan melangkah masuk ke kamar.Pria itu tidak menerima bubur tersebut, dia hanya menatap Gantari dengan pandangan berat yang membawa sisa harapan samar terakhir."Waktunya sudah tiba." Gantari meletakkan mangkuk bubur di meja kecil sebelah tangan Javas sambil berkata dengan pelan.Cahaya di mata Javas padam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menyisakan kegelapan mati."Kamu tetap mau pergi," ucap pria itu, suaranya sangat parau."Ya." Gantari mengangguk tanpa menghindari tatapannya."Kalau aku nggak mengizinkan?" Dia menatap wanita itu bagaikan binatang buas yang melakukan perlawanan terakhir.Gantari menatapnya dalam diam. Wanita itu mengeluarkan belati yang pernah dia tempelkan di lehernya sendiri dari balik lengan baju, lalu meletakkannya di samping mangkuk bubur."Maka yang didapatkan Yang Mulia hanya se

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 24

    Jantung Javas seolah-olah dicengkeram kuat, sangat sakit sampai membuatnya hampir sesak napas.Yang diinginkannya, bukan tindakan patuh dan penuh putus asa wanita itu saat menyetujui penawaran ini.Namun hingga tahap ini, apa lagi yang bisa dia lakukan?"Titah kaisar tidak boleh ditarik kembali." Javas berbalik membelakangi Gantari. Dia tidak menatap Gantari lagi karena takut jika melihat wanita itu sekali lagi, hatinya akan melunak dan hilang kendali.Dalam tujuh hari ini, Javas menghabiskan seluruh kelembutan dan kesabarannya seumur hidupnya.Javas menempatkan Gantari di bangunan paling indah dan nyaman di istana peristirahatan. Seluruh perabotannya, disesuaikan dengan selera wanita itu saat berada di Istana Ayodya dulu.Javas mencari kue-kue paling lezat di wilayah Dundra, serta gaun dan perhiasan paling modern untuk memenuhi kamar Gantari.Javas menemani Gantari makan, meskipun wanita itu hampir tidak menyentuh sendoknya dan hanya menundukkan mata, bagaikan boneka tanpa nyawa.Java

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 23

    Istana peristirahatan dijaga dengan sangat ketat, namun tidak ada seorang pun yang menghentikan Gantari.Langkahnya sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun, dibimbing menuju sebuah paviliun di tepi air.Javas berdiri dengan tangan di belakang punggung di depan jendela, menatap kolam berisi sisa-sisa teratai yang layu. Mendengar suara langkah kaki, dia berbalik perlahan."Kamu akhirnya mau menemuiku," kata Javas, suaranya terdengar agak parau.Gantari berdiri tiga langkah di depannya tanpa menatap Javas. Dia mengangkat ujung gaunnya, lalu berlutut perlahan hingga dahi menyentuh lantai."Hamba memohon kebaikan hati Yang Mulia untuk melepaskan Jiwan."Javas menatap sosok Gantari yang berlutut di lantai. Sikap hormat yang penuh jarak itu, bagaikan duri yang menancap tajam hingga matanya terasa sakit.Dia maju selangkah, hendak membantu Gantari berdiri.Namun, Gantari seolah-olah tersengat panas. Dia mendadak menarik tubuhnya ke belakang untuk menghindari sentuhan pria itu, dan tetap berlu

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 22

    Javas memejamkan matanya. Saat membuka matanya kembali, gelombang dahsyat yang bergolak di matanya perlahan mereda, berubah menjadi kehampaan yang tak berdasar.Pria itu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat "mundur" kepada para prajurit di sekitarnya.Para prajurit saling pandang, tetapi tidak berani membantah. Mereka mundur dengan cepat dari rumah itu, bagaikan pasang surut air, menyisakan halaman rumah yang berantakan dan udara yang membeku."Baiklah." Suara Javas sangat parau. "Aku nggak akan memaksamu."Tangan Gantari yang memegang belati tetap belum diturunkan, wanita itu menatapnya dengan waspada.Javas menatapnya, melihat kewaspadaan dan jarak yang tidak disembunyikan di mata Gantari, rasa sakit di dadanya telah lama mati."Tapi aku nggak akan menyerah." Dia menatap wanita itu. Dia mengucapkan kata demi kata, seolah bersumpah sekaligus mengutuk, "Gantari, kamu adalah milikku, seumur hidupmu akan tetap begitu. Aku memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih.""Tapi sua

  • Hati yang Tak Bergeming   Bab 21

    Tidak pernah mencintai Anda.Kata-kata itu terucap begitu ringan, namun bagaikan belenggu paling berat yang memaku Javas di tempat, hingga tidak mampu bergerak sedikit pun.Javas menatap Gantari. Pria itu menatap wajahnya yang tenang tanpa emosi di bawah sinar bulan, melihat rasa dingin dan ketegasan yang jelas di matanya. Seluruh darah di tubuh Javas seolah-olah membeku menjadi es, lalu seketika bergolak membakar hingga seluruh organ dalamnya terasa melilit kesakitan.Tepat saat pikirannya terguncang hebat dan hampir tidak sanggup berdiri tegak, pintu rumah terdengar berderit terbuka.Jiwan melangkah keluar sambil membawa sebuah lentera, dengan jubah luar tersampir di bahunya. Jelas ia terbangun karena pergerakan di halaman rumah. Melihat dua orang yang sedang berhadapan di sana, keningnya mengerut. Dia melangkah dengan cepat ke samping Gantari, dan dengan sangat alami mengulurkan tangan merangkul bahu wanita itu, lalu menatap Javas dengan tatapan waspada."Gantari, sudah semalam ini,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status