ログインMegantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangannya bergerak pelan mengoperasikan slide demi slide di layar besar ruang meeting.“Luas total lahannya sekitar tiga hektar. Tantangan utama dari proyek ini sebenarnya bukan soal luas lahan, melainkan kontur tebing yang cukup ekstrim Dan arah angin laut yang cenderung kuat di beberapa titik.”Kafka terlihat mengangguk-angguk pelan. Hagia melanjutkan dengan tenang.“Karena itu, saya nggak ingin memaksakan terlalu banyak bangunan dalam satu area. Konsep utama yang saya gunakan adalah low density tropical sanctuary.”Layar kembali berganti.Kini muncul pembagian zoning area lengkap dengan jalur pedestrian, area privat, dan fasilitas umum.“Jadi untuk keseluruhan site, saya membagi menjadi tiga ar
“Ranu barusan tidur.” Suara Megantara terdengar pelan bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup di belakangnya. “Mau ngobrol sekarang?”Hagia yang baru juga keluar dari kamar tidak langsung menjawab. Perempuan itu berjalan melewati Megantara begitu saja menuju dapur di sudut ruangan. Ia mengambil gelas kosong, lalu menuangkan air putih dengan gerakan pelan, seolah sedang mengulur waktu. Megantara memperhatikannya dalam diam. “Kenapa baru pulang?” tanyanya akhirnya. “Ada yang lagi kamu kerjain?”Hagia menggeleng kecil. “Kerjaan aku belum kelar,” jawabnya pelan tanpa menoleh. “Makanya tadi sengaja aku selesain dulu sebentar.”Ia menyesap air putihnya sekali sebelum akhirnya bersuara lagi.“Mas…”Satu alis Megantara tertarik ke atas. “Mm?”Hagia menarik napas pendek, sebelum kemudian menoleh. “Kamu ngapain sih di sini?”Megantara mengernyit tipis. “Maksudnya?”“Aku kasih kebebasan kamu buat ketemu dan bareng sama Ranu.” Nada suara Hagia mulai terdengar tidak stabil. “Tapi bukan berart
Dengan langkah gontai, Hagia berjalan menyusuri trotoar jalan raya sepulang dari bertemu dengan Elvira tadi. Langit Jakarta mulai gelap. Angin malam berembus pelan, menerbangkan sedikit rambut Hagia yang tergerai di bahu.Namun pikirannya jauh lebih riuh dibanding suasana di sekitarnya. Perkataan Elvira terus terngiang di kepalanya.‘Tapi kamu punya pengaruh besar buat dia, Gia.’‘Jadi untuk kali ini aja, Hagia. Tolong bujuk dia buat ambil proyek ini.’Hagia mengembuskan napas panjang. Elvira benar. Sejak dulu, bahkan jauh sebelum mereka menikah, Hagia tahu sebesar apa Megantara menyukai dunia arsitektur.Ia masih ingat bagaimana lelaki itu bisa berbicara berjam-jam hanya untuk membahas desain bangunan, konsep ruang, sampai detail-detail kecil yang bahkan tidak pernah dipahami Hagia sepenuhnya.Dan yang paling Hagia ingat tatapan mata Megantara selalu berbinar setiap kali membicarakan mimpinya. Seolah lelaki itu benar-benar hidup di sana.Hagia memejamkan mata sejenak. Ia tidak ingin
“Gi, nggak balik?”Suara Risa dari belakang membuat perhatian Hagia yang sejak tadi fokus menatap layar laptop langsung teralihkan. Perempuan itu mendongak pelan lalu mengembuskan napas pendek. “Iya, bentar lagi,” jawabnya sambil dengan lehernya yang mulai pegal. “Gue masih nanggung soalnya.”Jam di sudut layar laptop bahkan sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Sebagian besar ruangan kantor mulai kosong. “Butuh bantuan?” Risa berjalan mendekati sambil melirik layar Hagia. “Kayaknya lo serius banget ngerjain proyek ini.” Satu alis perempuan itu terangkat. “Mentang-mentang mantan pacar lo?”Hagia langsung mendecak pelan. “Apa sih, Ris. Nggak usah ngaco deh.”“Lho, Arsenio yang ngomong sendiri ke kita-kita kemarin.” Risa menarik kursi lalu duduk di sebelah Hagia. “Katanya Daren ini mantan pacar lo.”Hagia menghela napas pendek lalu memalingkan wajah sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Mantan waktu SMA.”Perempuan itu kini berbalik sepenuhnya menghadap Risa. “Tapi nggak ada
“Gimana progress-nya? Pulang dari Bali nggak bawa tangan kosong, dong?”Suara Kafka langsung menarik perhatian Megantara yang sejak tadi fokus menatap layar monitor di hadapannya. Lelaki itu berdiri santai di ambang pintu sambil membawa map hitam di tangan.Megantara hanya melirik sekilas sebelum kembali mengetik sesuatu di laptopnya. “Proyek hotel di Kemang progress-nya sampai mana, Ka?”“Halah…” Kafka langsung terkekeh kecil. “Bisaan banget ngalihin topik pembicaraan, ya?”Lelaki itu menutup pintu di belakangnya lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Setelah itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai, menoleh ke arah Megantara yang masih sibuk dengan pekerjaannya.“Aman, kok. Kemarin manager proyeknya baru kasih update. Sejauh ini semuanya masih on track.” Kafka menopang dagu sambil memperhatikan Megantara penuh selidik. “Proyek Astu Group gimana?”Megantara mendesah pendek seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu. “Konsepnya baru mau dikerjain Hagia,” jawabnya dengan tena
“Widih… yang habis liburan keluarga. Wajahnya cerah banget gitu, ya?”Suara Arsenio langsung terdengar nyaring begitu Hagia baru saja duduk di kursinya. Hagia yang sejak tadi sibuk menyalakan laptop spontan menoleh dengan tatapan malas.Di belakang sana, Arsenio baru saja datang bersama Risa dan Kaluna sambil membawa kopi masing-masing.Hagia langsung mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Lebay banget.”“Lho, emang harus lebay!” Arsenio menarik kursi lalu duduk terbalik di sana dengan kedua tangan bertumpu di sandaran kursi. “Enak aja gue dicampakkan begitu aja sama Mbak Hagia.”“Dicampakkan apanya coba?!” protes Hagia cepat.“Ya jelas dicampakkan!” lanjut Arsenio dramatis. “Siapa coba yang nggak sakit hati ditinggal sendirian pulang ke Jakarta sementara lo asyik honeymoon— eh salah, liburan keluarga.”Hagia hanya diam. Enggak menanggapi lelaki itu. Sementara Kaluna langsung tertawa di tempat. “Namanya juga apes, Mas,” sahut perempuan itu santai sambil menaruh tas di meja.“Beneran, Gi?” Ris







