登入Heh, Kalla! Kalau gak mau lakik model Rey, lempar aja ke pembaca! Dicintai ugal-ugalan gitu kok malah kesal. 😌😌
Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita i
Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum apa-apa
“Kenapa kamu mau membujuk dia?”“Siapa tahu saja ini pertemuan terakhir mereka.”Reyga menghela napas panjang sambil terus mengawasi Ninda dan Kael dari kejauhan. Kael menolak menemui wanita itu. Namun berkat bujukan Kalla, anak itu mau menemuinya. “Mama mengawasi kamu dari sini, Nak.” Kata-kata itu yang membuat Kael akhirnya mengangguk. Di dekat pohon ketapang yang berdiri kokoh di depan gedung pengadilan, Kael menemui Ninda. Anak itu terlihat diam saja saat Ninda memeluknya, bahkan saat wajahnya disentuh Kael tidak menolak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi karena Kael bukan jenis anak yang mudah disentuh. Jika dia sampai membiarkan orang lain menyentuhnya, artinya dia merasa nyaman dan suka dengan orang tersebut. “Kayaknya kecemasan kita nggak beralasan,” ucap Kalla ketika melihat Kael duduk tenang, tampak tengah mendengar Ninda berbicara. Entah apa yang sedang wanita itu ceritakan. “Mungkin dia benar-benar sayang sama Kael.”“Mungkin.” Reyga mengedikkan bahu. “Dia tahu kita
“Benar-benar tidak bisa diselamatkan!” “Arogan, dan tidak tau diri!”“Sok paling hebat lagi.”“Gue yakin sih, John udah diuleg sama bapaknya. Dijadiin perkedel.”“Perkedel mah enak. Dicacah-cacah terus dilempar jadi makanan anjing dia.”Tawa ketiga bersaudara itu lantas menggelegar puas di setiap sudut ruang kerja pribadi milik Raven. Sekretaris Raven kemudian masuk menyajikan tiga es kelapa muda sekaligus buah-buahnya. Request langsung dari Cade yang tiba-tiba ingin es kelapa muda setelah puas membuat bapak sama anak Foster tidak mampu berbuat apa-apa. “Ini es kelapa muda banget? Yang hamil Lo, apa bini Lo sih?” tanya Reyga heran, tapi tangannya menarik es kelapa itu juga. Dan langsung menyeruputnya. Rasa dingin dan segar kontan membasahi tenggorokannya yang kering. “Bini gue-lah, tapi kan gue sebagai bapaknya bisa ngidam juga,” sahut Cade asal, langsung menyesap air kelapa dingin itu banyak-banyak. “Teori dari mana tuh?”“Dari leluhur!” “Berisik kalian!” tegur Raven. Dia tengah
Tiga orang pria yang sudah lebih dulu hadir di ruang meeting kompak berdiri ketika pintu dibuka dari luar. Tiga orang itu dari Foster Grup. Pria tua dengan kumis lebat dan bertubuh tambun, Bernald–Presiden Foster Grup. Pria matang dengan jambang yang mengelilingi rahangnya, John—Dirut Foster, serta pria bertubuh tegap, Rocky–asisten pribadi Bernald. Mereka menyambut kedatangan empat pria yang satu per satu memasuki ruang meeting. Raven yang pertama masuk, pria bermata coklat itu tersenyum miring selagi berjalan memimpin. Di belakang Raven, papanya, Reyhan. Lanjut Cade, dan terakhir Reyga—yang berusaha menunjukkan wajah tenang, kendati sebenarnya ingin meninju muka John Foster. “Maaf, sudah membuat semuanya menunggu lama,” ucap Raven basa-basi. Dia duduk tepat berhadapan dengan asisten Bernald. Di sisinya ada Reyhan, yang berhadapan langsung dengan Bernald. Lalu Reyga, yang berseberangan dengan John. Baru Cade, yang memilih duduk paling ujung. “Oh, tidak apa-apa, Pak Raven. Kami bel
Sembari menunggu Reyga selesai mandi, Kalla memangku laptop, duduk bersandar di kepala ranjang, memelototi pekerjaan. Jarinya bergerak aktif menulis sesuatu. Sesekali diam, scrolling, dan kembali mengetik papan kibor. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok suaminya yang hanya mengenakan celana pendek. Selagi Reyga mendekat, Kalla menyingkirkan laptop dari pangkuannya. Dia menggeser duduk, lalu meraih handuk yang Reyga angsurkan padanya. Seperti sudah otomatis, Reyga duduk di atas karpet membelakangi Kalla yang sudah bergeser duduk di tepi ranjang. Wanita itu mulai mengeringkan rambut suaminya dengan handuk tadi. “Kamu pake sampoku ya?” tanya Kalla mencium aroma yang keluar dari rambut suaminya. “Hu–um. Pengen nyoba sekali-kali.” Kalla berdecih sesaat, lalu tersenyum sambil terus mengeringkan rambut lelaki itu. “Kamu tadi ketemu Kak Raven?” tanya wanita itu memulai obrolan ringan. “Iya, sama Cade juga. Bahas soal sidang dan lain-lain.” Gerakan Kalla m
Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi
Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal
Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re
Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber







