MasukGimana? Sudah ambil keputusan mau nge-ship siapa?
Di halaman belakang samping rumah, dekat rumah nenek, Kael berhasil menemukan Rere. Gadis itu berdiri membelakanginya, menghadap rumah nenek yang sepi. Kael berencana menginap di rumah nenek, kalau Vianna benar-benar tidak bisa dibujuk pulang. “Re?” panggil Kael seraya berjalan mendekat. Namun tiba-tiba saja Rere berbalik, membuat Kael sontak berhenti melangkah. “Kamu yakin nggak pacaran sama dia?” todong Rere spontan. “Eh?” “Kamu bilang kalian nggak pacaran, tapi yang kalian lakukan—ish!” Rere kembali berbalik saat merasa ada yang salah dengan ucapan dan reaksinya. Dia memang kesal, tapi tidak punya hak buat kesal. Rere melihat semuanya. Saat mereka berpelukan. Saat Kael dengan sabar mendengar keluhan Vianna, dan saat Kael mengantar gadis itu ke kamarnya. “Vianna… dia lagi sakit. Dia butuh istirahat,” ucap Kael. Meski bukan fisiknya yang sakit. Tapi melihat gadis itu langsung pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, Kael yakin Vianna memang butuh bed rest.“Di kamar kamu?”“T
Mengurut pinggangnya yang sakit, Kael beranjak bangun. Dia ingin marah, tapi yang jadi sasaran malah kabur lebih dulu. Dan si pembawa berita kedatangan Vianna pun entah ngilang ke mana. “Kembaaaar!” seru Kael memanggil dua adiknya. Entah Kaia atau Lior. Suara mereka sama, jadi Kael meneriaki keduanya. Namun bukan si kembar yang muncul di ruang keluarga, melainkan Vianna. Gadis itu ternyata benar-benar datang. Hanya saja— “Kael!” Tubuh Kael agak terhuyung ke belakang ketika tiba-tiba Vianna memeluknya. Bukan pelukan bahagia karena bertemu Kael lagi setelah berminggu-minggu, tapi pelukan kesedihan. Karena sesaat setelah memeluk laki-laki itu, tangis Vianna pecah. Gadis itu bahkan meraung seolah tengah menahan luka yang begitu dalam. Kael yang tidak tahu apa-apa tertegun di tempat. “V-Vi—” Laki-laki itu kebingungan. Menghadapi dua adiknya yang menangis itu sudah biasa, tapi tidak dengan seorang perempuan yang menangis pilu seperti ini. Es krim atau permen cokelat kayaknya ngga
Rindu sakit Hati sakit Kalau tidak ingin sakit Jangan merindu Jangan menaruh hati … Kael memasang wajah jijik membaca tulisannya sendiri. Dia mengacak rambut frustasi. Sudah satu jam, tapi tugas membuat puisi belum juga selesai. “Ngapain repot, kan tinggal tanya AI, beres.” Itu usul sesat Jaya kemarin saat Kael menanyakan tugas bahasa Indonesia membuat puisi bertemakan cinta. Gimana bisa nulis cinta, kalau jatuh cinta saja Kael belum tahu gimana rasanya?“Nggak boleh pake AI, Njir. Lo kan tau Pak Roni kek apa.” “Ah gue mah tetep mau pake AI. Bodo amat sama nilai.” “Siap-siap jadi bulan-bulanan di depan kelas kalau gitu.” Kael mencoret tulisannya di kertas. Lalu kembali menulis ulang. Bagaimana cara membuat kata-kata yang selaras, tidak lebay, dan tidak aneh? Sumpah ya. Satu di antara kelemahannya adalah pelajaran mengarang, menulis cerpen atau sejenis. Puisi mungkin hanya beberapa bait, tapi demi apapun sulitnya selangit. Saking konsennya membuat bait, Kael tidak sadar Rere
“Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d
“Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain
Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang
Aktivitas tambahan Kalla kalau Wima datang ke Bali, dia akan menemani lelaki itu jalan-jalan. Alih-alih mengaudit pekerjaan, Wima malah menyeret Kalla berwisata dengannya. Bos mah bebas.Mulai cari lukisan, atau bahkan furniture khas Bali pesenan ibu pria itu. Setelah muter-muter lihat lukisan, Wim
“Ganesha! Iya, saya ingat? Tunangannya itu CEO Ganesha Group!” Tas yang Kalla bawa terlepas begitu saja dari tangannya. Tubuhnya mendadak lunglai, tak bertenaga. Matanya yang berkaca-kaca mengikuti pergerakan wanita oriental itu memasuki restoran. Aneh sekali. Seharusnya ini sudah tidak mempengaru
Hening. Hening sesaat melanda ketika Kalla meluapkan emosinya. Hidung wanita itu memerah, bahkan sewajah-wajahnya. Rasa nyeri di dadanya kembali mengusik. Dia sambar kertas tisu banyak-banyak untuk menyeka hidung. “Ini salahku yang terlalu cepat menilai dan ambil keputusan. Padahal Cade udah ngasi
“Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu se







