LOGINKali ini atensi Patra benar-benar teralihkan. “Gue … nggak sepinter itu buat berkata-kata manis, gue lebih baik disuruh jemput, diajak main, nonton, atau tidur bareng daripada buang-buang waktu ngasih pujian yang—yah, tanpa pujian dari gue, Shannon juga tau lah dia cantik, dia juga pernah cerita banyak temen kerja atau seniornya ngegodain.” Patra bergumam ‘oh’ pelan. Rupanya mantan Talia ini tidak percaya dengan hubungan platonik. Hubungan Patra dengan Talia pun tidak bisa dikatakan setenang itu, mengingat Patra yang mudah antusias jika kekasihnya sengaja menyisir rambutnya dengan jemari perempuan itu, entah iseng ataupun tidak. Patra tidak ingin ada ketidaknyamanan yang Talia sembunyikan. “Mungkin, lo bisa minta Shannon mulai muji duluan? Jadi, lo perlahan-lahan belajar, terus niruin cara dia apresiasi apa aja yang lo kerjain sehari-hari….” Hembusan napas kasar menjawab usulan Patra. Nero hanya merespons seperti tadi, sehingga Patra berakhir memusatkan perhatian ke makanannya. P
Patra mengecek ulang titik-titik biru penanda kegiatan selain bekerja di kalender pada layar ponselnya. Malam ini, ia ingin makan nasi pecel pinggir jalan dekat apartemennya. Dikarenakan Talia harus menghitung pemasukan dan memberi arah tambahan ke dua karyawan lain di salon, Patra memperkirakan ia akan tiba lebih dulu. Jam dinding divisinya menunjukkan pukul lima sore kurang dua menit. Aplikasi absen kantor sudah terbuka dan Patra segera membiarkan fitur scan menangkap sisi depan wajahnya. Kedua tangan Patra gesit memasukkan buku memo, iPad, ponsel, ear buds ke kotaknya, dan satu map berisi materi pitching decks yang akan ia kirimkan ke calon-calon klien baru. Sebuah notifikasi dari Talia masuk. Pesan singkat itu berisi pacarnya yang minta dipesankan sop kambing dan bebek bakar. Lengkap dengan stiker Bubu-Dudu yang saling berpelukan—yang Patra balas dengan stiker sepasang kucing berciuman. Walaupun Talia bisa selalu bertemu dengannya setiap hari mengendarai motor perempuan itu, Pat
Dua hari setelah makan malam ulang tahunnya di rumah, Patra kembali ke apartemen dan rutinitas kerja di kantor agensi digital. Ia tidak sabar ingin segera pulang karena malam itu ada janji menonton film Mother Mary bersama Talia. Kekasih perempuannya juga ingin bercerita tentang pengalaman pertama kalinya ke psikolog. “Pat, lo ikut, kan?” Wajah Hardi menongol dari celah pintu kubikal divisi PR Patra yang dibuka pria itu. Patra yang baru saja mematikan google meet dengan klien baru sontak berdecak, takut suara Hardi terdengar. “Ikut apaan? Sekarang masih Senin, ya!” balas Patra sensitif. Jelas saja, ia tidak ingin ada halangan yang menghambat quality timenya dengan Talia. “Yeu, kok, lo malah marah-marah ke gue? Minggu lalu si Pak Agus, kan, emang ngajak Pak Fahri dan kalian makan-makan bareng kita!” Gantian Hardi yang menatap Patra jengkel karena saat ajakan itu dilontarkan Pak Agus, kepala divisinya, Patra yang mengusulkan tempat makannya. “Gue udah ada janji…,” keluh Patra menyor
“Hai, Lace! Gue kira kita cuma bakal ketemu pas lo pulang ke US nanti!” Lacy yang datang dalam balutan blus lengan panjang dan jins abu-abu hanya terkekeh seadanya seraya menyambut pelukan bersahabat Patra. Ia memberikan sebuah tas karton berisi kado yang ia persiapkan untuk salah satu teman, sekaligus saudara tiri mantan pacarnya. “Kangeeeennn!” tutur Lacy sendu di tengah senyum terharunya kembali bertemu Patra. “Temen-temen kita udah pada berkeluargaaaa! Hueeee jangan tinggalin gue sendiri, Pat!!” “Iya, iya! Ayo masuk, kita lanjutin ngobrol di dalem!” Patra tertawa kecil sambil mundur membiarkan Lacy masuk lebih dulu. Lacy satu-satunya yang bersikap normal, tidak seperti yang lainnya—Patra bisa merasakan rasa prihatin dan kasihan Charlie, Charissa, Tashi, dan Boris. Jujur, Patra berterima kasih, tetapi kekhawatiran berlebihan itu justru semakin mencekik kebebasannya. *** “Sisa tiga hari lagi, gue pulang. Tapi, gue udah terlalu attach sama Athe,” ucap Lacy memecah keheningan d
“Pasti … suasananya bakal awkward banget, ya….” Talia tersenyum kecil ke Patra setelah mereka turun dari motor. Patra mendapat pesan dari ayah dan sang ibu tiri, Charlie dan Charissa, untuk makan bersama di hari ulang tahunnya. Patra mengajak Talia bergabung karena ia tidak ingin kedua orang tuanya terlalu kaget di kemudian hari. Talia sendiri setuju ikut karena bosan menyaksikan lovey–dovey Artemis dan Cassandra ketika dirinya tidak bisa selalu bertemu Patra—karena jarak cabang salon yang baru jauh dari kantor kekasihnya. Keduanya berjalan bersisian melalui halaman rumah masa kecil Patra. “Bulan Mei itu … zodiaknya gemini, ya?” Talia berusaha melunturkan kegugupan pria di sebelahnya yang masih memasang ekspresi tegang. “Nggak, dong,” sahut Patra kesal, tetapi dari nada suaranya ia sudah lebih rileks dibandingkan selama dibonceng Talia lima menit lalu. Ya, Patra berteriak di sepanjang jalan—menceritakan ulang awal mula pertemuan Charlie Baxter dan Charissa, serta bagaimana per
Jam dinding ruang keluarga menunjukkan pukul sembilan malam. Archie masih sibuk menyelesaikan PR sehabis bermain dengannya. Patra sendiri setia menemani Archie karena Talia sedang menerima panggilan dari lowongan kerja yang ia lamar. Walaupun Patra sempat heran dengan jawaban Talia, karena perempuan itu mengaku suka menata rambut yang relevan dengan pekerjaan paruh waktunya sekarang, ia juga tidak bisa menahan kehendak sendiri. “Archie, Aunty Talia udah dari kapan tinggal di sini?” tanya Patra pelan sesekali melirik pintu pekarangan belakang. Mengecek kalau Talia tiba-tiba sudah selesai menyelesaikan panggilan dengan pencari pelamar kerja. Fokus Archie ke PR-nya teralihkan. Archie mengkerutkan dahi sejenak sebelum menjawab, “Udah dari awal aunty kuliah, sih, Kak! Tapi, kadang-kadang—sering nginepnya pas udah punya salon sendiri di sana!” Patra tersenyum maklum dengan Archie yang tidak benar-benar memperhatikan struktur kata dalam pertanyaannya. Patra akhirnya menyemangati Archie lag







