Home / Urban / Hestia / Chapter 68 - Engagement Day

Share

Chapter 68 - Engagement Day

Author: Dyara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-11 12:06:39

Lamaran Patra dan Talia berlangsung jauh lebih sederhana dibanding bayangan keluarga De Rucci pada umumnya. Tidak ada ballroom hotel, tidak ada dekorasi bunga berlebihan, dan tidak ada tamu yang datang demi menjaga relasi bisnis.

Acara itu diadakan di rumah Gerald dan Janette. Tepatnya di halaman belakang yang disulap jadi ruang makan semi-outdoor dengan meja panjang, lampu gantung kecil, dan bunga putih yang dirangkai seadanya oleh Cassandra serta Tashi sejak pagi.

Patra datang bersama kedua o
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hestia   Chapter 107 - A Girl's Boy

    Billy sebenarnya sudah menahan diri selama hampir dua minggu. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa mungkin ia hanya terlalu sensitif terhadap kelakuan Stella. Namun, semakin lama diamati, semakin sulit baginya menganggap semua itu kebetulan. Apalagi setelah ia menyadari Stella selalu punya alasan untuk berada dekat Talia. Bahkan saat pekerjaan mereka tidak berhubungan sekalipun, perempuan itu tetap bisa muncul dengan kopi, camilan, atau pertanyaan yang sebenarnya bisa dikirim lewat pesan singkat. Billy sampai hafal jadwal kemunculan Stella lebih baik dibanding jadwal meetingnya sendiri. Hari itu kantor Intimate Beauty sedang lebih lengang dari biasanya. Sebagian besar tim sedang mengikuti presentasi daring dengan beberapa mitra kampanye baru. Sementara Billy kembali ke area loker untuk mengambil tas yang tertinggal sebelum pulang. Langkahnya terhenti begitu melihat seseorang berdiri di depan loker Talia. Stella. Awalnya Billy mengira perempuan itu hanya sedang mencari barang.

  • Hestia   Chapter 106 - Everybody Knows, Stell

    Patra sebenarnya hanya berniat datang sebentar ke kos Odi sore itu. Ia membawa dua kaleng cola dingin dan beberapa catatan revisi untuk kelas storytelling pertama agensi mereka. Namun, begitu melihat Nero duduk di lantai ruang tamu sambil memegang gelas kopi dengan ekspresi kusut, Patra langsung tahu ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa?" tanya Patra sambil menaruh tasnya di dekat sofa. Nero mengangkat kepala perlahan. "Gue baru ketemu temen kerjanya Talia." Odi yang sedang membuka laptop langsung menyeringai. "Wah, ini pasti menarik." Patra ikut duduk di karpet. Ia membuka kaleng colanya tanpa banyak komentar. Setelah beberapa minggu terakhir, ia belajar kalau Nero hanya akan bercerita kalau memang sudah siap bercerita. Nero menghela napas panjang. "Namanya Billy." Patra mengernyit. "Billy?" "Iya." "Laki-laki?" Nero mengangguk. Odi mengangkat sebelah alis. "Terus?" Nero menatap langit-langit kamar selama beberapa detik sebelum mulai menjelaskan. Menurut cerita Nero, Billy

  • Hestia   Chapter 105 — The Things We Keep

    Rumah Artemis selalu terasa lebih hidup ketika Archie ada di dalamnya. Siang itu suara kartun anak-anak bercampur bunyi balok lego yang saling bertabrakan memenuhi ruang keluarga. Talia dan Cassandra duduk di karpet menemani Archie menyusun menara warna-warni yang berkali-kali roboh lalu dibangun kembali. Patra mengintip sebentar dari ambang pintu sebelum beranjak ke belakang rumah. Ia menemukan Artemis sedang jongkok di depan gudang kecil yang pintunya terbuka lebar. Debu beterbangan tipis setiap kali laki-laki itu mengangkat kotak atau map tua dari rak-rak besi. "Lo pindahan?" tanya Patra sambil menyandarkan tubuh ke kusen pintu. Artemis mendengus pelan tanpa menoleh. "Kalau pindahan, harusnya gue buang barang. Ini gue malah nyortir sampah emosional." Patra terkekeh dan masuk membantu. Aroma lembap kertas tua langsung memenuhi hidungnya. Di lantai berserakan album foto, map dokumen, serta beberapa kotak karton yang sudah menguning dimakan usia. Artemis sedang membersihkan salah

  • Hestia   Chapter 104 - What Do You Call Home?

    Chapter 104 — What Do You Call Home? Sabtu pagi itu, Talia dan Patra berangkat lebih awal dibanding biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika mereka sudah duduk berdampingan di atas motor, membawa dua botol minum dan map berisi catatan rumah-rumah kontrakan yang ingin mereka lihat. Sebelum keluar rumah, Patra sempat memotret hampir seluruh sudut hunian vertikal milik Talia. Ia juga membuka folder lama berisi foto-foto apartemen yang sudah lama ia tinggalkan dan menyusun keduanya dalam satu kolase sederhana. “Aku pengin rumah kita nanti ada campuran dua-duanya,” ujar Patra sambil menunjukkan layar ponselnya. “Nggak harus mewah, tapi ada bagian yang ngingetin aku sama kamu.” Talia memperhatikan kolase itu cukup lama. Lalu ia mengangguk pelan sambil menyimpan ponsel Patra ke tas kecilnya agar tidak jatuh selama perjalanan. Daerah pertama yang mereka datangi berada di Petojo Utara. Rumahnya cukup besar, bahkan dari luar saja Patra sudah bisa melihat halaman depan yang mam

  • Hestia   Chapter 103 – Copies of Our Minds

    Patra tidak menyangka dirinya benar-benar datang ke kantor pusat Intimate Beauty seminggu kemudian. Padahal saat Nero mengajaknya ikut rapat desain kemasan, ia sempat berpikir untuk menolak dan pura-pura sibuk. Namun, Odi yang terlalu antusias justru mendaftarkan nama Patra sebagai konsultan copywriting tambahan tanpa meminta izin lebih dulu.“Kalau nanti mereka butuh jasa agensi kita, lumayan,” ujar Odi pagi itu sambil menyodorkan kopi. Patra hanya mendesah panjang sebelum menerima gelas kertas tersebut. Semakin hari, ia merasa Odi memiliki bakat alami untuk menyeret orang lain ke situasi yang tidak mereka inginkan.Gedung Intimate Beauty terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. Banyak karyawan berlalu-lalang dengan tote bag berisi sampel produk baru. Di beberapa sudut bahkan terlihat meja-meja display yang dipenuhi sabun batang, body wash, dan rangkaian sampo yang belum resmi diluncurkan.Nero berjalan beberapa langkah di depan Patra. Sesekali laki-laki itu menyapa orang-orang ya

  • Hestia   Chapter 102 - Acts of Affection

    Masih berada di kamar mandi lantai dua Salon Hestia, Talia mulai menceritakan ada salah satu karyawan laki-laki yang hobi cross-dressing yang suka meminta tolong padanya untuk mengepang rambut. Rambut laki-laki itu bahkan lebih panjang dibandingkan milik Talia, menjuntai hampir menyentuh bagian belakang lututnya. Patra yang masih duduk di dalam bathub mengangkat alis sambil membilas busa di lengannya.“Dia divisi operasional juga?” tanya Patra penasaran. Air hangat yang mulai mendingin membuat tubuhnya sedikit menggigil. Namun, perhatian laki-laki itu sudah teralihkan sepenuhnya ke cerita Talia.Talia menggeleng pelan. Ia sedang membilas sisa sampo dari rambut Patra yang mengambang di permukaan air. “Marketing sama partnership. Duduknya deket sama tim yang sering rapat sama aku.”“Terus kenapa tiba-tiba cerita dia?”“Soalnya Stella bikin hidup dia susah.”Patra langsung diam. Nama itu lagi.Talia menghela napas panjang sambil memeras handuk kecil. “Setiap rapat partnership, Stella sel

  • Hestia   Chapter 77 - How Much Have You Read?

    Talia tersenyum setengah niat ketika Patra akhirnya menghampirinya di lobby kantor. Senyum itu tetap lembut, tetapi tidak benar-benar sampai ke mata perempuan tersebut. Patra langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Shannon lebih dulu berpamitan sambil merapa

  • Hestia   Chapter 76 - Lie + Suspicion = Prejudice

    Jam makan siang baru saja selesai ketika Shannon menghampiri meja Patra. Perempuan itu berdiri sambil memeluk map tipis di dada, tetapi sorot matanya membuat Patra langsung sadar—ia datang bukan untuk urusan pekerjaan.“Pat, boleh ngobrol bentar?” tanya Shannon pelan.Patra mengangguk kecil lalu me

  • Hestia   Chapter 75 - Late Night Toast

    Lampu ruang rapat tinggal menyala setengah ketika panggilan video Talia muncul di layar laptop Patra. Perempuan itu masih mengenakan blazer hitam kerja, rambutnya dijepit seadanya, sementara latar belakang di belakangnya dipenuhi rak-rak bath bombs warna pastel dan beberapa pegawai yang lalu-lalang

  • Hestia   Chapter 74 - People Watching

    Patra membuka pintu unit perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun. Lampu apartemen sudah mati semua, menyisakan cahaya kota dari balik tirai tipis yang memantul samar di lantai. Tubuhnya terasa berat. Bukan cuma karena lembap hujan yang menempel di jaket dan rambutnya, tetapi karena dada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status