Mag-log inBLURB: Five years ago, Althea ran away from her marriage. No goodbyes, no explanations—just a desperate escape from a life she never wanted. Now, fate plays a cruel joke on her when she unknowingly applies for a job at Montevista Group of Companies, only to come face-to-face with the man she abandoned… Xander Montevista He’s no longer the reckless man she once knew. He’s powerful. Dangerous. And merciless. At sa unang araw pa lang ng trabaho niya, isang nakakakilabot na tanong ang sumalubong sa kanya— "Are you still a virgin, my wife?" And just like that, her nightmare begins. Xander is furious. He wants answers. He wants revenge. But above all—he wants her back. And this time… Althea can never escape him again.
view moreSebuah kericuhan terjadi di pusat ibu kota. Para teroris bersenjata yang menyebut diri mereka sebagai Fla menyerang ibu kota dalam jumlah pasukan yang sangat besar dan persenjataan yang cukup lengkap. Membuat pemerintah mau tidak mau harus memanggil seluruh pasukan pertahanan yang ada ke ibu kota untuk mengakhiri aksi para teroris.
Sudah cukup banyak warga kota yang menjadi korban akibat kekejaman Fla. Para anggota Fla sama sekali tidak memiliki rasa kasian. Di hadapan mereka, nyawa para penduduk hanyalah seperti sampah. Jadi mereka bisa 'menyingkirkannya' kapan pun mereka mau tanpa harus menunggu komando dari para petinggi Fla.
Bentrokan antara Fla dan pasukan pertahanan pun terjadi. Di dalam bentrokan ini tentu saja para pasukan teroris yang diuntungkan, karena mereka bisa menembak sesuka mereka tanpa harus memikirkan tentang keselamatan orang lain.
Sebagian dari mereka mendapatkan tugas untuk membuat kericuhan di pusat kota, sedangkan pasukan mereka yang lainnya menerobos masuk ke dalam Gedung Serikat untuk mengambil beberapa informasi penting.
Dengan adanya kericuhan di pusat kota, membuat para pasukan pertahanan difokuskan secara keseluruhan di pusat kota. Hal itu membuat para pasukan Fla yang mendapatkan tugas untuk masuk ke dalam Gedung Serikat akan aman. Dan kalau pun ada beberapa penghalang, mereka bisa menyingkirkan penghalang itu dengan cara mereka sendiri.
Ada sekitar dua puluh lima orang yang bertugas untuk masuk ke dalam gedung serikat. Dari dua puluh lima orang itu, akan dibagi menjadi kedua kelompok saat mereka sudah berada di dalam Gedung Serikat. Lima belas di antara mereka akan berjaga. Sedangkan sepuluh orang yang lainnya akan mengambil beberapa berkas penting dan seluruh barang bukti yang dipercaya selama ini telah disembunyikan oleh pemerintahan.
Rencana mereka untuk memasuki ruang berkas berhasil dengan mudah. Namun sampai pada akhirnya saat mereka masuk ke dalam ruang itu, ada sebuah bom asap aktif. Membuat jarak pandang mereka menjadi terbatas.
Di saat yang sama, mereka semua bisa mendengar jelas ada sebuah suara langkah kaki seseorang yang menggunakan sebuah sepatu mendekat ke arah mereka.
Tidak ada yang tau siapakah yang datang saat itu. Sampai salah satu pemimpin mereka yang bernama Vins melihat ada seorang laki-laki tampan menggunakan sebuah seragam tentara berdiri di hadapannya.
Vins tak bisa berkata apa-apa saat itu. Bukan karena ia terpanah sebab ketampanan laki-laki itu. Namun karena ia merasa bingung, pasalnya laki-laki dengan pakaian tentara itu terlihat masih remaja dan ditambah lagi di bagian pundak seragam laki-laki itu terdapat tiga garis emas yang artinya laki-laki itu memiliki pangkat perwira pertama.
"Sepertinya kalian sudah membuat kericuhan yang sangat besar. Ya, aku sebenarnya tidak masalah dengan hal itu. Namun karena ulah kalian, hari di mana harusnya aku isi dengan cara bersantai bersama kekasihku mau tidak mau harus dihilangkan," ujar laki-laki yang ada di hadapan Vans dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.
Setelah laki-laki itu selesai mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba saja asap yang ada di antara mereka semakin menebal. Membuat mereka benar-benar tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar mereka. Bahkan Vans sendiri tidak bisa melihat lagi laki-laki yang tadi ada di hadapannya.
Di saat semua orang benar-benar buta dengan keadaan di sekitar mereka, terdengar jelas ada sebuah suara teriakan kesakitan. Dan ada beberapa percikan yang mengenai bagian tubuh atau pun pakaian mereka.
Mereka sangat yakin bahwa suara teriakan yang mereka dengar adalah suara dari salah satu rekan tim mereka. Namun karena jarak pandang mereka yang sangat terbatas, maka mereka tidak dapat melihat apa pun. Dan saat mereka semua bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pun, tidak ada satu pun orang yang dapat menjelaskannya. Sampai pada akhirnya Vans sadar bahwa percikan yang tadinya mengenai pakaiannya bukanlah sebuah air biasa, melainkan sebuah darah yang ia yakini bahwa darah itu adalah darah milik rekan timnya yang tadinya berteriak.
Suara teriakan kesakitan mulai bersahutan satu per satu. Bau wangi ruangan yang tadinya sangat harum pun sekarang mulai berubah menjadi amis darah segar. Membuat Vans semakin yakin bahwasanya mereka sedang diserang.
Namun segala tindakan Vans sekarang sudah telat. Karena sekarang di dekat lehernya sudah terdapat sebuah pisau tajam yang siap mengiris bagian kerongkongannya jika ia berbuat macam-macam.
"Siapa kamu?" tanya Vans sambil mengangkat kedua tangannya.
"Apakah kamu belum juga sadar? Kami adalah pasukan khusus yang dibentuk untuk membasmi kalian para teroris," jawab laki-laki yang ada di belakang Vans.
Vans mencoba untuk melirik ke arah belakang. Dan ternyata laki-laki yang ada di belakangnya saat ini sama dengan laki-laki yang tadi muncul.
"Bagaimana bisa kamu membunuh orang semudah itu dengan usiamu yang masih semuda itu?" tanya Vans penasaran.
"Itulah kutukan yang diberikan kepadaku. Tidak peduli seberapa banyak orang yang telah aku bunuh, tidak peduli seberapa banyak darah korban yang aku lihat, aku tidak akan pernah merasakan apa pun. Setiap emosi yang ada akan langsung sirna dilahap oleh kutukan ini. Ya aku sendiri berterima kasih pada kutukan ini. Karena dengan adanya kutukan ini, aku bisa membunuh semua musuh-musuhku tanpa harus merasakan belas kasih," ujar laki-laki itu dengan tatapan kosong.
"Siapa sebenarnya kamu?"
"Karena kamu akan lenyap dari dunia ini sebentar lagi, maka aku akan memberitahukanmu tentang siapakah diriku sebenarnya. Aku adalah Kenn, Sang Dosa Kemalasan. Kapten kelompok Utopia."
Mata Vans membulat sempurna saat Kenn menyebut nama kelompoknya. Tidak ada satu pun penjahat yang tidak mengetahui tentang kelompok itu. Kelompok itu adalah kelompok para tentara yang memang telah disiapkan untuk sebuah peperangan besar.
Kelompok Utopia. Kelompok yang memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror. Pada intinya kelompok itu adalah kelompok yang paling ditakuti dan disegani oleh para penjahat mau pun para tentara sendiri. Ditambah lagi, seluruh anggota dari kelompok itu dituntut untuk selalu sempurna saat menjalankan sebuah misi. Dan mereka semua berhasil menunjukkan kesempurnaan itu. Membuat tidak ada satu pun orang atau bahkan instansi pemerintah yang meragukan kinerja mereka.
Setelah beberapa detik berlalu, Kenn melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sejak tadi. Membunuh Vans menggunakan dengan pisaunya. Dan membiarkan tubuh Vans tergeletak di lantai dengan banyak darah yang mulai keluar dari tenggorokannya.
EPILOGUE – LIMANG TAON MAKALIPAS Third Person POV Maliwanag ang sikat ng araw. Sa isang hardin na pinalibutan ng puting bulaklak at hanging sariwa, isang masayang kasalan ang nagaganap. Simple lang—pero ramdam ang pagmamahalan sa bawat ngiti, sa bawat sulyap, at sa bawat hakbang. Nakahawak si Althea sa braso ni Zsazsa, ngayon ay siyam na taong gulang, habang naglalakad sa aisle. Si Zsazsa ang nagsilbing flower girl at bridesmaid—proud na proud, may konting arte pa sa lakad, pero may kinikilig sa mata. Sa unahan, nakatayo si Xander. Hindi na siya ‘yung lalaking laging may bigat sa puso. Ngayon, isa na siyang ganap na asawa, ama, at lalaking natutong lumaban para sa pamilya niya. Habang naglalakad si Althea, dahan-dahan siyang tumingin kay Xander. Nandoon pa rin ang kilig, ang lungkot, ang kasaysayan ng nakaraan—pero sa lahat ng iyon, ang nangingibabaw ay pagmamahal. Sa tabi ni Xander, nakaupo si baby Liam—ngayon ay apat na taong gulang, nakasuot ng maliit na coat, at abala sa pag
THIRD POV Lumipas ang mga araw sa pagitan ng lungkot at pag-asang bumabalot sa tahanan ni Althea. Unti-unti nang lumalaki ang kanyang tiyan, at bawat araw na dumadaan ay parang tinutulak siya ng panahon pabalik sa mga alaala nila ni Xander. Samantalang sa malayong lugar, isang lalaking punong-puno ng pag-aalala at pangungulila ang nakaupo sa labas ng isang lumang ospital. Si Xander. Namumugto ang kanyang mga mata, at tila ba nahulog ang buong mundo sa balikat niya. May tungkulin siyang kailangang tapusin—isang pangako sa nakaraan na matagal na niyang pinasan. At iyon ay si Lilia. Hindi niya kayang sabihin kay Althea ang katotohanan. Alam niyang masasaktan ito. Alam niyang mahirap itong ipaliwanag sa pamilya ni Althea, lalo na sa anak nitong si Zsazsa. Kaya pinili niyang manahimik, magsakripisyo, at muling itago ang sariling sakit. --- XANDER POV “Patawad, Althea…” bulong ko habang nakatanaw sa malamig na burol ng babaeng minsan kong inalagaan.* Lilia is gone. Tinup
Sa di kalayuan, sa likod ng matataas na punong kahoy at kakahuyan na bahagyang natatakpan ng anino, nakatayo si Xander. Tahimik, walang imik, ngunit tila may lindol sa loob ng kanyang dibdib habang pinagmamasdan ang bawat galaw ng mga taong mahal niya. Hawak niya ang kanyang jacket sa isang kamay, habang ang kabilang kamay ay nakakuyom sa gilid ng kanyang katawan. Sa harap ng puntod, nakita niya si Althea na nakayakap kay Zsazsa. Kasama rin si Jace at si Inay Edna, tila isang kumpletong pamilyang nagluluksa ngunit sabay-sabay ding bumibitaw sa nakaraan. Hindi niya maipaliwanag ang damdaming bumabalot sa kanya. May kirot, may galit, may lungkot… pero higit sa lahat, may panibugho. Hindi sa pag-ibig ni Althea, kundi sa pagkukulang niyang maging sapat—kay Althea, at higit sa lahat, kay Zsazsa. Tila mabagal ang pag-inog ng mundo sa paningin niya habang pinagmamasdan kung paano niyakap ni Althea si Zsazsa nang mahigpit, kung paano ngumiti ang bata sa gitna ng lungkot, at kung paano n
Third POV Lumipas ang ilang araw, ngunit walang balita kay Xander. Para siyang nawala na parang bula, iniwan si Althea sa gitna ng napakaraming tanong at sakit. Sa bawat paggising niya sa umaga, umaasa siyang makakatanggap ng tawag o kahit mensahe mula kay Xander, pero wala. Tila baga hindi lang siya basta iniwan—parang hindi na ito muling babalik. Ang kanilang bagong tahanan na dapat ay puno ng saya bilang bagong kasal ay naging malamig at tahimik. Sa tuwing bababa siya sa hapag-kainan, parang gusto niyang umiyak. Napansin niyang kakaiba ang kilos ng kanyang mga magulang. Si Julio at Cecilia ay laging nag-uusap nang pabulong. Sa tuwing papasok siya sa silid nila, bigla silang titigil at magpapanggap na wala lang. Si Jace naman, palaging naroon, nakabantay sa kanya. Minsan, parang may gusto itong sabihin, pero hindi nito magawa. Isang gabi, habang palabas siya ng bahay upang magpahangin sa garden, narinig niya ang usapan ng kanyang mga magulang sa sala. "Hindi na dapat b


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
RebyuMore