LOGIN“Itigil ang kasal! Buntis ako at siya ang ama!” Matapos ng isang mainit na gabi kasama ang isang estranghero, kaagad siyang lumisan sa takot na maratnan siya nito. Ngunit nagimbal ang kanyang buong pagkatao nang malamang nabuntis siya ng lalaking 'yon. Kasabay nu'n ay ang pagkawala ng lahat ng kanyang ari-arian na siyang lalo niyang ikinalugmok. Desperadang makaahon sa hirap, tinanggap ni Ivy ang offer ng kanyang kaibigan. She was hired to intrude someone's wedding in anyways she could do just to make the wedding stop. Kaya ang naisip ni Ivy ay gamitin ang batang na sa kanyang sinapupunan. Ngunit paano na lang kapag nalaman niyang ang groom ng sisirain niyang kasal ay walang iba kundi ang lalaking kinamulatan niya matapos ng mainit na gabi?
View More“Ayah, Ayah!”
Di tengah jalan raya, di samping mobil yang sudah hancur remuk, seorang laki-laki berteriak sambil menekan luka pada bagian perut seorang laki-laki paruh baya di depannya dengan kedua tangannya.
Pria tua yang terbaring di jalanan itu meringis kesakitan. Dengan tangan bersimbah darah, dia memegang tangan laki-laki tersebut dan mulai berbicara dengan suara yang serak.
“Cukup Di!. Simpan tenagamu, tidak ada gunanya!”
“Maafkan Ardi, Yah. Seharusnya Ardi mendengarkan kata-kata Ayah sejak awal!”
Ardi yang merasa tidak rela harus kehilangan Ayahnya seperti ini, hanya bisa meminta maaf terus menerus. Air matanya mengucur deras. Yang bisa dilakukannya hanyalah menekan perut ayahnya yang terluka parah sekuat tenaga.
“Ingat Di!. Jangan pernah menaruh kepercayaanmu kepada orang lain sepenuhnya,” Angin malam yang dingin tampak membuat pria tua itu mengigil dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Tidak berselang lama, sebuah mobil SUV hitam datang. Beberapa pria bersetelan hitam turun dari mobil tersebut dan berlari menghampiri Ardi dan ayahnya.
“Tuan,” ujar salah satu pria tersebut yang langsung berlutut di samping Ardi. Orang itu tampak kebingungan harus melakukan apa.
“Hold this!”
Ardi memerintahkan pria yang berlutut tersebut untuk menggantikannya menahan luka Sang Ayah sekuat mungkin. “Ambulans akan segera datang, jaga Ayah terus dan laporkan keadaannya, apapun yang terjadi!”
Dia lalu bangkit berdiri, “Tenang saja Dad. Aku tidak akan melepaskan orang yang sudah merencanakan ini semua,” ucapnya sebelum berjalan pergi dari tempat dia berdiri sekarang ini.
Dia juga sempat menyeka air matanya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dia juga sempat melirik ke belakang, sebelum menutup pintu dan pergi meninggalkan Ayahnya bersama para bodyguardnya.
Tanpa berpikir panjang, karena emosi yang menguasai dirinya. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil berusaha menelepon seseorang. Dalam pikirannya sekarang hanyalah satu, menghabisi orang yang sudah menyebabkan Ayahnya kecelakaan. Dan dia sudah tahu siapa orang tersebut.
“Di mana kalian?!” karena emosi, nada suaranya terdengar seperti sedang membentak lawan bicaranya.
“...”
Setelah mendapatkan sebuah alamat, dia langsung menutup telepon; menginjak gas sedalam mungkin dan bermanuver dengan cukup berbahaya di tengah jalanan yang agak ramai.
Setibanya di basemen apartemen yang dia tuju, kedua orang teman Ardi, Jeremy dan Devan sudah menunggunya di depan pintu masuk menuju area lift.
Keluar dari dalam mobil. Dia berjalan ke bagian belakang mobilnya untuk mengambil tongkat golf yang selalu ada dalam bagasi mobilnya.
Pikirannya sekarang sudah tidak karuan. Dia sudah tidak peduli lagi jika hari ini akan masuk kantor polisi atau ada media akan meliput dirinya, dan memasang wajahnya di halaman paling depan esoknya.
“Orang itu tidak lari kemana-mana kan?” Dia bertanya kepada Devan dan juga Jeremy.
Sebab semenjak sehari yang lalu, dia menugaskan keduanya untuk mengawasi Mr. Salim; orang yang sudah dia curigai mempunyai rencana busuk terhadap keluarganya dan juga perusahaan ayahnya.
“Tidak sih, tapi lu yakin mau melakukan ini? Ini ilegal loh.” Jeremy sempat memperingatkannya, namun dia tersenyum sinis.
Sedari awal dia memang sudah merencanakan semuanya dengan sempurna, termasuk memasang bypass di server bagian keamanan apartemen tempat dia berada sekarang.
Sehingga kapan pun dia harus keluar masuk tanpa ketahuan, dia bisa melakukannya tanpa terlalu banyak berpikir. Hanya dengan menekan satu tombol kecil, maka CCTV yang ada akan menampilkan playback kejadian sejam yang lalu.
Ding Dong....
Ardi menekan tombol bel unit 3006. Dia mengulangnya hingga beberapa kali karena begitu emosi. Dirinya sudah tidak sabar menghajar orang yang sudah mengkhianati dan mencelakai ayahnya.
Begitu pintu baru terbuka sedikit saja, dia memanfaatkan celah itu dengan menendang pintu tersebut hingga membuat hidung Mr. Salim mengeluarkan darah layaknya orang mimisan.
“Wowowo, tahan sebentar.” Devan berdiri di antara Ardi dan Mr. Salim. “Lu ngak bilang kalau kita akan menyiksa dia,”
“Si brengsek ini sudah mencelakai ayah gue, dan lu masih berharap gue kasih dia keringanan? Minggir!” Ardi mendorong Devan ke arah samping.
Tanpa memedulikan apa yang akan terjadi atau jebakan yang mungkin di siapkan oleh Mr. Salim. Dia meraih kerah baju Mr. Salim, memaksanya berdiri, lalu menyikut lehernya sambil mendorongnya hingga membanting orang ini ke tembok di belakangnya.
Tatapannya begitu beringas. Sambil mencekik, dia membayangkan menghajar Mr. Salim dalam kepalanya saat ini.
“Pl ... Please,” Mr. Salim yang tampak sudah mulai kehabisan nafas. Memohon sambil menepuk-nepuk lengan Ardi.
Walau sebenarnya ingin sekali membunuh Mr. Salim, Ardi tetap berusaha mengendalikan dirinya. Dia melepas tangannya dari leher Mr. Salim, membuat orang ini terjatuh berlutut di depannya.
“Sungguh menakjubkan,” kata Ardi. “Sekarang kau bisa minta tolong ya di momen seperti ini? Kemana orang yang berani mengancam akan membunuhku 2 hari yang lalu?” Ardi tertawa sinis sambil berjalan menuju sofa terdekat yang ada di ruang tengah.
“I— Itu semua cuma perintah. K— Kau tahu sendiri kan bagaimana para tetua sangat menginginkan perusahaan ayahmu.” Mr. Salim tampak ketakutan. Dia bahkan sampai berbicara dengan gelagapan.
Maklum saja. Sebab sangat jarang Ardi menunjukkan sisi monsternya seperti sekarang ini di depan orang lain.
“Ah, begitu? Rupanya kalian tidak ada takut-takutnya setelah di ancam dengan baik-baik waktu itu?” Ardi menghela nafas sambil mengelus keningnya dengan tangan kirinya. “Begini saja, bagaimana kalau kau kasih saya nama bosmu,”
Mimik wajah Mr. Salim yang awalnya terlihat takut tiba-tiba berubah menjadi lebih santai. Bahkan sampai berani tersenyum sinis, seolah sedang meremehkan Ardi.
“Nama?” Mr. Salim sempat meludah ke lantai. “Tidak akan pernah! Lebih baik mati di tangan mereka dari pada harus berkhianat!”
“Begitu? Baiklah.” Ardi mengeluarkan handphone-nya dan berlagak seperti akan menelepon seseorang. “Mari kita lihat apa yang terjadi ke keluarga yang sangat kau cintai itu. Darah di balas dengan darah, sudah tidak asing lagi kan dengan ungkapan itu?” Dia melanjutkan sambil tersenyum jahat kepada Mr. Salim.
“WAIT!” Mr. Salim berseru dengan nyaring. “O— Oke, tapi tolong lepaskan keluargaku dari ini semua.”
“Well. Tergantung dari seberapa berharganya informasi yang kau berikan.” Ardi mengangkat kedua bahunya.
Mengancam menggunakan keluarga—walau dia tidak benar-benar berniat menggunakan cara itu—tidak disangkanya akan betul-betul berhasil. Padahal, tadi itu merupakan tindakan putus asanya karena tidak mendapatkan informasi apapun.
“Hanya ini yang saya tahu,” ucap Mr. Salim. Dia memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nama dan nomor telepon asing kepada Ardi; karena awalan depannya bukan +62.
“Kalau ini bohong, awas saja. Kau akan menyesal karena berani macam-macam dengan orang yang salah,” ancam Ardi kembali. Dia sudah tidak memedulikan lagi kalau Mr. Salim lebih tua darinya. Baginya, orang itu tidak lebih dari seonggok sampah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut. Dia berjalan pergi, keluar dari unit apartemen yang dihuni Mr. Salim. Akan tetapi, saat sedang menunggu lift, teleponnya bergetar. Melihat yang meneleponnya adalah pengawal yang dia suruh untuk menemani Ayahnya tadi, dia langsung menjawab panggilan tersebut.
“Bagaimana den ...”
“...”
Bersambung...The Sequel: Epilogue IVY SHANE BARTOLOME’s point of view “Do you want me to sing a song for you? I will gladly do that, baby.” Then next thing I heard was a strumming of a guitar. “We were as one, baby. For a moment in time. And it seemed everlasting that you will always be mine. Now you wanna be free, so I’m letting you fly. Cause you know in my heart, girl. Our love will never die, no.” His voice suddenly cracked in the middle of singing and it’s kinda weird because… because I like his voice. Bumibilis ang tibok ng dibdib ko sa naririnig ko. “You’ll always be a part of me, and I’m part of you indefinitely. Girl, don’t you know you can’t shake me. Oh, Darling, cause you’ll always be my baby.” Narinig ko ang paghagugol nito kaya naman kusang tumulo ang luha sa ‘king mga mata. I looked at my parents confusedly. I don’t understand what exactly is happening right now. “Why am I crying?” Ngunit hindi sumagot si Mommy. Hanggang sa isang tinig na naman ang aking narinig ko. “Mommy, w
The Sequel: Chapter 25FOX MADRID’s point of viewPeople used to say that you can’t give up on someone because the situation’s not ideal. Great relationships aren’t great because they have no problems. They’re great because both people care enough about the other person to find a way to make it work. And that’s how our love is. We’re trying to make it work no matter how hard it is.Not because we have our children, but because both of us can’t imagine surviving the future without one another. Both of us wanted to spend each other’s lifetime. We are each other’s strength. And as I watched how the burning car fell into the cliff, I lost all my strength.“Fox, no!”Mabilis akong hinawakan ni Stone sa balikat para hindi ko takbuhin ang distansya ng bangin. Napuno ng luha ang aking mga mata at nandidilim ang aking paningin. The anger inside me flamed up and now I can feel myself moving into their own, it’s as if they have their own mind to control.I pushed Stone hard and walked towards Li
The Sequel: Chapter 24“Grabe!” April exclaimed with a teary eyes. “Hindi ako makapaniwalang ikakasal ka na. I mean, is this real? Are you for real?”I looked at her and smiled. Gustuhin ko mang umiyak ay hindi pwede dahil kasalukuyan pa akong nilalagyan ng make up habang ang iba naman ay inaayos ang aking buhok para sa paglalagyang ng veil.“Stop being so dramatic, April. Ikakasal lang ako, hindi ako mamamatay,” natatawang tugon ko.Paano ba naman kasi? Kung umiyak siya ay parang ano mang oras ay kukunin na ako ni Lord. Kaya naman ay nginingitian ko na lang siya.“But seriously, Ivy. I’m really happy for you. Finally, hindi na jinx ang kasal mo ngayon. Paglabas mo ng simbahan mamaya, hindi ka na si Ms. Bartolome. You will be Mrs. Madrid and that is making me cry. I am so happy for you.”Hinawakan nito ang kamay ko kaya naman pinisil ko lang ito para pakalamahin siya. She’s getting emotional kahit may make up na ito.“Don’t cry or you’ll ruin your make up.”The day has finally come, a
The Sequel: Chapter 23FOX MADRID’S Point of viewI knocked on my son’s room but no one answered. Kaya naman ang ginawa ko ay tinulak ko pabukas ang pinto at doon ko nasilayan si Finn, nakahiga sa kama at mayroon suot na headset. Nakapikit ang mga mat anito na tila ba natutulog. But I am not dumb not to know he’s just acting.Humugot ako ng malalim na hininga at umupo sa kama. I looked at his walls full of anime strips. He designed his room. Mayroon din siyang personal computer sa gilid na sinadya ko para sa kanya. I want to spoil him so much. Baka sa ganitong paraan ay malaman niyang mahal na mahal ko siya.“I know you can hear me,” I said. “Can we talk?”Doon ko lang naramdaman ang pagbangon ng anak ko. Nilingon ko ito at nakita ko ang pagtangal nito ng headphones. Finn looked at me. Walang emosyon sa mga mat anito at parang hindi siya interesado. O sadyang pinapakita niya lang sa ‘kin na hindi ako interesanteng kausap.“Are you still mad at me?” tanong ko sa kanya.“No,” diretsong
[The Sequel: Chapter 3]As soon as the plane landed at the airport, Fox hurriedly stepped out. Ni hindi man lang kami nito hinintay. And I completely understand that. Alam kong alalang-alala siya sa kanyang ina. But then I was surprised when he suddenly… left.Paglabas namin ng anak ko sa eroplano ay
[The Sequel]Months had past and I can say we’re living our lives peacefully. Ngunit hanggang ngayon ay hindi pa rin kami nagkakausap ng mga magulang ni Fox. Nahihiya rin akong magtungo roon para kunin ang loob ni Mrs. Felicity dahil baka sampal ang maabot ko.“Hindi ka po ba masaya sa kasal niyo ni M
“Yes, I need five of them right now. I want them outside my house tomorrow soon. I will be waiting,” sambit ni Fox sabay patay ng tawag.Kagat-kagat ko ang aking ibabang labi sa sobrang kaba. Hindi ko alam kung ano ang dapat kong isipin ngayon. Fox is now asking for some bodyguards for our security.
Niyakap ko ang aking sarili at tinunga ang alak na nasa wine glass. Puno ng kung ano-anong negativity ang utak ko. Kahit na sobrang relaxing ng paligid ay hindi ko maiwasang mabahala. Lalo na ngayong sobrang misteryoso na sa ‘kin ni Amanda.“Is it really hard to let go of what stresses you out?”I tur






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore