ログインSeketika Jehanne tersedak. Matanya melotot nyaris keluar dari tempatnya. Tangannya langsung mencengkram lehernya sendiri.
Racun itu mulai bekerja. Ia terbatuk beberapa kali hingga tubuhnya melemah kemudian ambruk ke lantai. Ia mulai menampakkan gejala kejang-kejang.
Sementara itu Isabella hanya menatapnya dengan tenang. Ia justru sedang menikmati detik demi detik rasa sakit yang Jehanne terima akibat racun yang ia bubuhkan ke dalam makanannya.
Reaksi Jehanne sudah terlihat lemah dengan meminum satu sendok kuah sup. Tak bisa terbayangkan andaikata Isabella memakan semua hidangan sarapan pagi itu semuanya. Helena memang serigala berbulu domba.
Namun reaksi Isabella tetap tenang. Menurut hasil pengamatannya, racun itu memang tidak membunuh akan tetapi cukup membuatnya terbaring di atas ranjang selama beberapa hari. Racun itu bisa melemahkan sendi dengan gejala sakit kepala yang hebat dan rasa sakit di sekujur tubuh.
“Nyonya, apa yang kaulakukan pada Jehan?” Sekonyong-konyong Mona datang menghampiri mereka. Tatapannya tertuju pada Isabella dengan tatapan menuduh. “Kau tega sekali, Nyonya.”
Isabella tetap terlihat tenang, tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya memasang wajah dingin ketika melihat reaksi Jehanne yang terbaring di lantai.
“Jehan, bertahanlah! Aku akan memanggil tabib,” lanjut Mona lagi. Panik.
Dengan langkah tergesa-gesa, Mona langsung berlari menuju halaman paviliun. Ia akan segera mencari pertolongan.
Namun siapa sangka, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Sebuah kereta istana baru saja tiba di sana tepat waktu. Helena turun dari kereta dengan senyum yang mengembang sempurna. Tak lama kemudian, turunlah dua orang berpakaian serba putih. Seorang pria bersurai keperak-perakan dan wanita bersanggul di tengkuk.
“Yang Mulia,” kata Mona menghadap dengan suara cemas. Ia memberi hormat kemudian.
“Ada apa Mona?” tanya Helena dengan tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang setenang air laut.
Pria bersurai keperak-perakan itu juga ikut menoleh ke arah Mona.
“Yang Mulia, tabib! Hamba butuh tabib! Jehanna keracunan, Yang Mulia. Tolong dia!” katanya dengan air mata yang bercucuran.
Helena tersentak. Racun?
‘Dasar gadis bodoh! Kenapa kau yang meminum racunnya, bukan Isabella,’ batinnya berisik.
“Apa? Apa yang terjadi pada Jehanne?” barulah suara Helena naik. Ia mulai terserang panik. Namun bukan panik karena Jehanne keracunan, melainkan panik karena takut ketahuan jika ia adalah dalang di balik racun itu.
Ia melirik ke arah pria tua itu. “Tabib Elias, kita harus segera menolong Jehanne,”
Tabib ordo suci itu mengangguk tanpa sepatah katapun.
Mereka pun masuk.
Helena terkesiap saat melihat pemandangan di ruang makan yang berantakan. Jehanne terbaring lemah di lantai.
Helena tergugu beberapa detik. Jika insiden ini terdengar oleh Alex maka sudah dipastikan ia yang akan kena batunya. Oleh karena itu, ia harus segera membalikkan situasi.
Ia buru-buru menghampiri Jehanne, mendekap kepala gadis itu lalu menaruhnya di pangkuannya. Lalu tatapannya sempat mendelik ke arah Isabella yang berdiri tak jauh dari sana dengan tangan sedang memegang sendok.
“Dia hanya pelayan yang menjalankan perintah, Isabella. Jika kau membenciku karena statusku. Jangan kau lukai dia!” teriaknya disertai isak tangis. Cukup berhasil mengundang simpati semua orang yang berada di sana.
Mona mendekat, tangisannya juga tak kalah dramatis. “Yang Mulia, sepertinya ini ulah Duchess Isabella. Semalam dia marah-marah dan mengancam Jehanne agar menghidangkan menu makanan yang persis seperti yang Anda makan di istana Rose. Lalu ketika saya lihat tadi tiba-tiba Jehanne sudah jatuh ke lantai setelah disuapi sup oleh Duchess Isabella,” Suara Mona gemetar karena antara takut dan khawatir.
“Yang Mulia, dia benar-benar menghukum Jehan,” lanjutnya lagi lirih. Ia pun mulai merasa terancam berada di sana—melayani Isabella.
“Yang Mulia, Jehanne harus segera mendapat pertolongan,” suara Tabib Elias memutus percakapan mereka. Menyelamatkan Jehanne lebih penting ketimbang membahas penyebab ia keracunan makanan.
Tak lama kemudian, Jehanne dibawa masuk ke dalam kamarnya—yang berada di dekat dapur oleh pengawal yang ikut dari istana bersama rombongan Helena. Ia langsung mendapatkan pertolongan dari Tabib Elias.
Ketika Jehanne mendapat pertolongan, suasana di ruang tamu masih menyisakan ketegangan.
Dua orang wanita muda berdiri berhadapan dengan sorot mata yang dingin.
“Duchess Isabella, kau sudah keterlaluan! Kenapa kau menghukum Jehanne? Hanya karena kau merasa keberatan dengan menu makanan di istana.” Helena berbicara dengan nada dingin dan mata yang merah.
Seketika tawa Isabella pecah. “Ya Tuhan, Putri Helena, apa kau baik-baik saja? Sudahlah, jangan bersandiwara di depanku! Aku tahu, justru kau yang merasa terancam karena kehadiranku. Lalu … kau menyuruh koki Jehan untuk meracuniku.”
Helena tersentak mendengar perkataan Isabella. Ia benar-benar tertipu. Alice sudah berbohong padanya. Isabella—adik tirinya tidak seperti wanita polos yang dilaporkan olehnya. Dia … gadis pembangkang.
Suara derit pintu terdengar. Helena bisa melihat bayangan sosok bertubuh tinggi masuk ke dalam paviliun. Ya, siapa lagi kalau bukan Alex Harrington. Ia memang sudah memiliki janji akan pergi ke sana bersama tabib ordo. Naasnya, Alex harus mengikuti acara rapat di istana utama sehingga Helena berinisiatif membawa tabib ordo ke sana lebih dulu.
Wanita berambut pirang itu meneruskan sandiwaranya. “Aku tahu, posisimu. Siapapun tidak akan pernah bersedia menjadi wanita ke dua. Jehanna sudah kuanggap adikku, tidak sekedar koki. Dia sudah ikut bersamaku sejak kecil, sejak kami berada di keluarga Moreau.” Helena mulai terisak, bermain perannya dengan lihai. “Kenapa kau tega menghukumnya, meracuninya,”
Isabella menghela panjang. “Aku tidak menghukum Jehanna. Jehanne yang memakan makanan yang dia buat.”
Mona mendekati Helena, ikut bersuara. “Aku dengar semalam, Duchess Isabella mengancam Jehanna, Yang Mulia. Duchess Isabella kecewa dengan menu makanan yang disajikan di sini.”
Isabella terkesiap. Apa-apaan ini? Mona, pelayan yang ia kira berada di pihaknya, justru bersimpuh di samping Jehanne dengan wajah penuh air mata palsu.
Benar-benar sebelas dua belas dengan Jehanne! Argh, ya, ia lupa jika ke dua orang itu memang orang suruhan Helena. Mereka memang bersekutu ingin menyudutkannya.
“Apa yang terjadi?” suara Alex menggelegar, membuat suhu di ruangan itu anjlok ke angka nol.
Helena berlari ke arah suaminya, tubuhnya gemetar. Dirangkulnya lengannya dengan lembut. Ia menangis lirih. “Alex! Lihat apa yang dilakukan Isabella! Dia meracuni Jehanne di depan mataku... dia ingin melenyapkan orang-orangku!”
Alex tidak membalas pelukan Helena. Matanya tetap terkunci pada Isabella, dingin dan tak terbaca.
“Isabella, taruh sendok itu.” Perintahnya pendek, tetapi nadanya tidak menerima bantahan.
Isabella masih mematung. Alex melangkah maju, membiarkan Helena terseret di lengannya. Pangeran itu berhenti tepat di depan Isabella, mengabaikan Jehanne yang mengerang di lantai.
“Kulihat kau cukup sibuk pagi ini,” desis Alex, matanya melirik sup yang tumpah, lalu kembali ke wajah Isabella. “Bicaralah. Sebelum aku kehilangan kesabaran dan menyeretmu sendiri ke penjara bawah tanah.”
Isabella mendongak. Di balik punggung Alex, Helena menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran
Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma
Ketika Sophia Bourbon melangkah mendekati ruang sidang, semua kepala menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran. Apa yang sedang wanita itu lakukan di sana? Apakah ia akan bersaksi atas kejahatan Klan Moreau ataukah Valentin Moreau?“Saya ingin bersaksi, Yang Mulia Raja Dominic.” Suara Sophia Borbone terdengar lantang, tidak ada rasa ketakutan di wajahnya.Suasana Ruang Sidang Kerajaan seketika berubah hening bagaikan pemakaman. Isabella menajamkan pandangannya, sementara Alex yang berdiri di sisi meja takhta memiringkan kepala, menatap Sophia dengan sorot mata penuh selidik. Perasaan hatinya tidak enak. Entah apa yang akan disampaikan oleh wanita itu. Belakangan, Sophia Bourbon sudah pulih dari rasa sakit akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Valentin Moreau terhadapnya. Ingatannya juga sudah kembali pulih. “Bicaralah, Lady Sophia,” titah Raja Dominic dingin dari atas takhta. “Kesaksian apa yang ingin kau sampaikan di hadapan pengadilan Ashmond?”Sophia mengulas senyum tipis yang
Ruang sidang utama Istana Ashmond terasa hening. Bahkan siapa pun akan mendengar deru napas sendiri. Atau .. mungkin beberapa menahan napas. Para bangsawan memadati sisi kanan dan kiri aula. Para kesatria Silver Eagle berdiri tegak berjajar di sepanjang dinding, sementara bendera megah bertakik lambang Kerajaan Ashmond tergantung anggun di belakang singgasana Raja Dominic.Di atas takhta, Dominic duduk dengan raut wajah mengeras. Di sampingnya, Ratu Cecilia menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sorot mata yang diselimuti murka.Alex berdiri beberapa langkah di depan singgasana. Sementara di sisi kanan sang pangeran, Isabella duduk di kursi khusus, tubuhnya masih tampak rapuh dalam masa pemulihan usai melahirkan.Brak!Pintu aula terdorong lebar. Dua belas kesatria mengapit seorang wanita yang melangkah pelan di antara mereka.Helena Moreau masuk, berjalan tertatih. Wajahnya pucat pasi. Luka di balik gaunnya, tubuhnya masih dibalut perban tebal yang sedikit ternoda darah, sementara
Simon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M
Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida
Helena memberi hormat pada sang ratu. Satu jam yang lalu ia menerima perintah langsung dari pengawalnya untuk datang ke istana utama. Ratu ingin bicara empat mata dengannya. “Duduklah! Aku ingin bicara,” titah Cecilia di atas singgasananya. Cara ia menatapnya seperti Alex, tajam, dingin dan terkesa
Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha
Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar
Isabella menatap Cecilia dengan perasaan bersalah. “Mohon maaf, Yang Mulia, Ratu. gaun yang Anda berikan sangat indah dan mewah. Saya sangat terkesan melihatnya. Saya pikir itu gaun untuk acara pesta khusus.”Helena mendelik tajam ke arah Isabella. Gadis itu ternyata pandai bersilat lidah. Sementara







