MasukSuasana Paviliun Honeysuckle semakin menegangkan setelah kedatangan Alex Harrington. Tidak ada satu pun yang berani bersuara hingga Alex lebih dulu.
“Apa yang terjadi di sini?” Tanya Alex bernada serius. Suara baritonnya menggema di dalam paviliun. Cukup membuat bulu roma meremang seketika.
Alex tidak suka keributan. Apalagi keributan yang terjadi di antara para wanita. Dari dulu Alex membenci drama murahan.
Helena merangkul lengan Alex dengan lembut. Matanya basah oleh air mata. Suaranya gemetar dan bernada lirih. “Yang Mulia, Isabella meracuni Jehan, hanya karena dia tidak menyukaiku. Kau tahu, Jehan adalah pelayanku yang setia—yang sengaja aku kirimkan untuk menjaga Duchess Isabella. Tapi … lihatlah apa yang dia lakukan? Dia meracuninya,” jelas wanita itu sembari menahan isak tangis. Ke dua tangannya meremat sisi rok gaunnya.
Alex terdiam. Tatapannya menajam ke arah Isabella. Ia tengah menggali isi kepalanya.
Aneh, istri keduanya bahkan terlihat tenang ketika mendapat tuduhan dari istri pertamanya. Tidak ada gurat kecemasan yang terpeta di wajah cantiknya.
Isabella mengatur napasnya dengan pelan dan teratur. Ia selalu ingat bahwa dalam menghadapi sebuah masalah, satu hal yang harus ia lakukan yakni self-control. Ia harus tenang dan tidak sedang dalam keadaan emosional. Kepalanya harus jernih. Karena hal tersebut akan mempengaruhi dirinya dalam membuat keputusan terutama memecahkan sebuah kasus dari perspektif seorang detektif.
Alex melepaskan tangan Helena yang membelit lengannya. Ia melangkahkan kakinya mendekati istri keduanya. Kepalanya menunduk hampir menyentuh keningnya. “Apa benar yang Helena katakan?” suaranya rendah akan tetapi mengandung intimidasi.
Sebaliknya, Isabella tak gentar mendapat pertanyaan ‘menuduh’ dari suaminya. Alih-alih merasa ketakutan, ia mendongakkan kepalanya, menatap pria dingin itu dengan seksama. Ia tengah berusaha membaca mimik mukanya. Ia merasa penasaran berada di pihak manakah suaminya.
Pupil matanya mengecil, rahangnya mengatup rapat. Pria itu sedang berada dalam tekanan emosional, bukan sekedar marah.
Alex tidak sedang mencari kebenaran, dia sedang mencari cara agar drama ini cepat usai!
“Jawab, Isabella!” suara Alex naik, membuat Isabella mengerjapkan matanya satu kali.
“Itu tidak benar, Yang Mulia,” jawab Isabella tenang. Ia menarik napas pelan lalu mengembuskannya perlahan. “Jehanna hanya mencicipi masakan yang dibuat olehnya. Makanan yang seharusnya aku makan untuk sarapan pagi.”
Deg,
Wajah Helena langsung memucat. Tidak, jangan sampai Alex mempercayainya.
“Apa maksudmu? Kau ingin mengatakan kalau Jehan ingin meracunimu?” sahut Alex bernada dingin. “Jadi kau menyuruhnya untuk mencicipinya lebih dulu, begitu?”
Isabella menatapnya tak gentar. Ke dua tangannya bersedekap di dada. “Kau bisa menyimpulkannya, Yang Mulia,”
Helena melangkah maju. Jantungnya berpacu cepat. “Isabella, aku tidak menyangka ternyata sifat aslimu seperti ini,” ia menjeda kalimatnya beberapa saat. “Kau menuduhku ingin meracunimu lewat Jehan begitu?”
Isabella tersenyum miring. “Kau sendiri yang mengaku,”
Alex menoleh ke arah Helena. Tatapannya memicing tak percaya.
Bulir-bulir air mata Helena berjatuhan, membasahi pipi mulusnya. Ia menatap Alex dengan tatapan yang rapuh dan patut dikasihani. “Yang Mulia, istri keduamu benar-benar tega. Dia bahkan memfitnahku telah berusaha meracuninya. Yang benar saja, Yang Mulia. Jika aku berniat membencinya, dari awal … aku tidak akan mengijinkannya masuk ke dalam istana, menjadi istri keduamu,”
Alex memejamkan matanya sesaat. Ia memijat pangkal hidungnya.
“Yang Mulia, aku sebagai saksinya.” Suara Mona terdengar lantang. “Semalam dia marah-marah dan mengancam Jehanne agar menghidangkan menu makanan yang persis seperti yang Putri Helena nikmati di istana Rose. Lalu ketika saya lihat tadi tiba-tiba Jehan sudah jatuh ke lantai setelah disuapi sup oleh Nyonya tadi,”
Isabella tersentak. Tatapannya sempat mendelik ke arah pelayan bodoh itu.
Sementara itu Helena melirik ke arah Mona dengan senyum samar. Ia harus memberikan hadiah yang pantas untuknya karena berhasil memberikan kesaksian yang meyakinkan.
Alex menelan salivanya lalu bersuara. “Geledah semua kamar. Temukan barang bukti,”
Semua orang langsung terdiam.
Tak lama kemudian, dua orang pengawal langsung menggeledah semua ruangan itu tanpa terkecuali.
Seorang pengawal akhirnya menemukan barang bukti lalu menyerahkannya pada Alex. “Yang Mulia, hamba menemukan botol ini di kamar Yang Mulia Duchess Isabella,”
Deg,
Alex menerima botol kosong itu dengan rasa penasaran. Dibukalah tutupnya lalu diciumnya sebentar. Racun yang tidak beraroma akan tetapi sangat berbahaya jika diberikan dalam dosis yang berlebihan.
Isabella hanya menatap botol kecil di tangan Alex dengan tatapan datar. Sebagai kriminolog, ia tahu persis botol itu. Botol kaca gelap dengan residu bening di tepiannya. Arsenik.
“Kau menemukan itu di kamarku?” tanya Isabella, suaranya tidak bergetar sama sekali. Ia beralih menatap pengawal itu, lalu ke arah Mona yang masih tertunduk. “Hebat sekali. Bahkan aku sendiri baru tahu kalau aku menyimpan benda itu di bawah bantal.”
“Cukup, Isabella!” potong Alex. Suaranya rendah, tetapi nyaris meledak. “Bukti sudah bicara. Kau ingin aku percaya pada kata-katamu atau pada racun yang ditemukan di kamarmu sendiri?”
Helena kembali terisak, menyembunyikan wajahnya di balik kipas. “Yang Mulia... ini sudah keterlaluan. Dia mencoba membunuh orang-orangku, lalu berakting seolah dia adalah korbannya. Aku takut... aku takut keselamatanku juga terancam jika wanita ini masih bebas berkeliaran di paviliun ini.”
Alex mengeraskan rahang. Ia menatap Isabella, mencari setitik saja ketakutan atau pengakuan di mata istri keduanya itu. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya tenang, seolah Isabella sedang membedah isi kepalanya.
“Pengawal!” seru Alex tanpa melepaskan tatapannya dari Isabella. “Bawa dia ke ruang interogasi bawah tanah. Kunci pintunya. Jangan biarkan siapapun masuk sampai aku sendiri yang datang!”
Kedua pengawal itu maju, mencengkeram lengan Isabella dengan kasar. Namun, tepat sebelum mereka menyeretnya keluar, Isabella berhenti. Ia menoleh sedikit, menatap Helena yang masih bersandar di lengan Alex.
“Putri Helena,” panggil Isabella tenang.
Helena mendongak, matanya yang sembab menatap Isabella dengan sorot kemenangan yang tersembunyi. “Apa lagi yang ingin kau katakan, Isabella? Kau ingin memohon?”
Isabella tersenyum miring, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang. “Satu hal yang tidak Anda pelajari dari seorang pembunuh adalah... mereka tidak akan meninggalkan botol kosong di kamar mereka sendiri setelah melakukan kejahatan. Itu terlalu amatir.”
Lalu matanya beralih ke Alex. “Dan Yang Mulia... jika Anda cukup cerdas, Anda akan menyadari bahwa botol itu bahkan belum berdebu, padahal debu di paviliun ini sangat tebal. Seseorang baru saja menaruhnya di sana lima menit yang lalu.”
Alex tertegun. Ia melirik botol di tangannya, matanya memicing.
“Bawa dia pergi!” bentak Alex lagi, seolah mencoba mengusir keraguan yang tiba-tiba menyusup ke kepalanya.
Saat Isabella diseret keluar, langkahnya bergema di lorong batu yang dingin. Di ambang pintu, Isabella sempat melihat Mona yang gemetar hebat, karena ketakutan menatap sesuatu yang terjatuh dari balik saku gaun Helena saat wanita itu bergerak merangkul Alex.
Sebuah botol yang identik.
Isabella tersenyum dalam kegelapan lorong. Permainan ini baru saja dimulai.
Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: Pe
Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang
“Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.
“Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu
Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran
Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me
“Kenapa kau terkejut, Isabella Laurent?” bisik Alex dengan nada rendah yang meresahkan. Ia mencapit dagu gadis itu hingga ke dua netra mereka bertemu. Tatapannya berpindah dari wajah pucat Isabella tertuju pada cangkir berisi anggur di meja, lalu berpindah lagi wajah gadis itu. Rambut Isabella bera
“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat. “Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti seda
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat.







