تسجيل الدخولKedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran
Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma
Ketika Sophia Bourbon melangkah mendekati ruang sidang, semua kepala menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran. Apa yang sedang wanita itu lakukan di sana? Apakah ia akan bersaksi atas kejahatan Klan Moreau ataukah Valentin Moreau?“Saya ingin bersaksi, Yang Mulia Raja Dominic.” Suara Sophia Borbone terdengar lantang, tidak ada rasa ketakutan di wajahnya.Suasana Ruang Sidang Kerajaan seketika berubah hening bagaikan pemakaman. Isabella menajamkan pandangannya, sementara Alex yang berdiri di sisi meja takhta memiringkan kepala, menatap Sophia dengan sorot mata penuh selidik. Perasaan hatinya tidak enak. Entah apa yang akan disampaikan oleh wanita itu. Belakangan, Sophia Bourbon sudah pulih dari rasa sakit akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Valentin Moreau terhadapnya. Ingatannya juga sudah kembali pulih. “Bicaralah, Lady Sophia,” titah Raja Dominic dingin dari atas takhta. “Kesaksian apa yang ingin kau sampaikan di hadapan pengadilan Ashmond?”Sophia mengulas senyum tipis yang
Ruang sidang utama Istana Ashmond terasa hening. Bahkan siapa pun akan mendengar deru napas sendiri. Atau .. mungkin beberapa menahan napas. Para bangsawan memadati sisi kanan dan kiri aula. Para kesatria Silver Eagle berdiri tegak berjajar di sepanjang dinding, sementara bendera megah bertakik lambang Kerajaan Ashmond tergantung anggun di belakang singgasana Raja Dominic.Di atas takhta, Dominic duduk dengan raut wajah mengeras. Di sampingnya, Ratu Cecilia menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sorot mata yang diselimuti murka.Alex berdiri beberapa langkah di depan singgasana. Sementara di sisi kanan sang pangeran, Isabella duduk di kursi khusus, tubuhnya masih tampak rapuh dalam masa pemulihan usai melahirkan.Brak!Pintu aula terdorong lebar. Dua belas kesatria mengapit seorang wanita yang melangkah pelan di antara mereka.Helena Moreau masuk, berjalan tertatih. Wajahnya pucat pasi. Luka di balik gaunnya, tubuhnya masih dibalut perban tebal yang sedikit ternoda darah, sementara
Simon mendadak mencabut belati dari balik jubahnya. “Kalau begitu... aku tidak akan hidup sebagai tawanan!”Ia menerjang maju ke arah Maurice dengan mata kalap. Naasnya, ia tidak tahu siapa yang ia hadapi. Maurice adalah komandan pasukan elit milik Alex Harrington.“Jangan!” seru Matteo spontan.Sreeett!Namun semuanya terlambat. Tali busur terlepas, dan sebatang anak panah melesat cepat membelah udara.Mata Simon membelalak. Ia berhenti mendadak, menunduk perlahan menatap dadanya yang kini tertancap anak panah. Belati di tangannya terlepas dan berdenting menghantam lantai batu. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya roboh tak berdaya.M
Jantung Alex mendadak berdentam keras. “Bagaimana keadaan Helena?”Kesatria itu menundukkan kepala dalam-dalam. “Lady Helena berhasil melewati masa kritisnya—”Mendengar hal tersebut, perasaan Isabella sedikit lebih lega. Setidaknya, wanita yang telah menyelamatkan putranya masih diberi kesempatan untuk bertahan hidup.Tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.Alex menoleh sekilas ke arah istrinya. Dari sorot mata Isabella, ia tahu wanita itu sedang berusaha memahami kenyataan yang terasa begitu bertolak belakang.“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Alex pelan.Isabella menggeleng lemah. “Aku tida
“Kenapa kau terkejut, Isabella Laurent?” bisik Alex dengan nada rendah yang meresahkan. Ia mencapit dagu gadis itu hingga ke dua netra mereka bertemu. Tatapannya berpindah dari wajah pucat Isabella tertuju pada cangkir berisi anggur di meja, lalu berpindah lagi wajah gadis itu. Rambut Isabella bera
“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat. “Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti seda
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat.
Roberto terjatuh dengan keras di atas kursi kayu. Ia tersentak mendengar kabar yang mengejutkan baru saja dari utusan istana Ashmond.Dengan tangan gemetar dan wajah yang menegang, pria paruh baya itu membaca perkamen bersegel hitam. Jantungnya terasa berpindah tempat membaca baris demi baris huruf







