Share

ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN
ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN
Auteur: arselaa

Awal Dari kesialan

Auteur: arselaa
last update Dernière mise à jour: 2025-09-26 01:08:58

​Langit mendung dan gerimis kecil mulai turun di balik jendela Caffe Bene yang berembun. Di dalam kafe, Luna tetap sibuk meski hatinya sedang gundah.

​Sebagai pelayan paruh waktu, ia harus ekstra teliti. Uang sewa apartemennya menipis, dan tagihan listrik sudah hampir jatuh tempo.

"Luna! Meja nomor lima tolong dibersihkan!" seru rekannya dari balik mesin kopi. ""

​"Siap! jawab Luna sigap. Ia menyambar lap bersih dan segera menuju meja yang berantakan itu.

​Tepat pukul sepuluh pagi, pintu kafe terbuka. Hembusan angin dingin menyusup masuk bersamaan dengan langkah kaki yang tegas. Sontak, suasana kafe yang tadinya berisik menjadi sunyi.

​Luna yang sedang mengelap meja menoleh. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan jas hitam elegan. Rambutnya tertata rapi, namun wajahnya kaku seperti pahatan es.

​"Bukankah itu Arkan Wijaya?" bisik seorang pelanggan di meja sebelah.

​"CEO Wijaya Group itu? Tampan sekali, tapi kudengar dia sangat kejam," timpal temannya.

​Luna menelan ludah. Ia mengenali wajah itu dari majalah bisnis. Arkan Wijaya—dingin, arogan, dan ambisius. Luna hanya berdoa dalam hati agar jam kerjanya berakhir tanpa insiden.

​Arkan mengambil tempat duduk di sudut kafe yang paling privat. Luna menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat.

​Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya dengan kencang. Itu Sarah, rekan kerjanya, yang tampak pucat.

​"Luna, tolong ambil alih meja itu," bisik Sarah dengan suara bergetar. "Itu Arkan Wijaya. Kamu tahu kan dia siapa? Jangan sampai salah bicara atau hidup kita akan tamat."

​Luna menelan ludah, "Aku baru mau ke sana, Sar."

​"Bagus. Ingat, dia tidak suka menunggu lama. Berikan pelayanan terbaikmu!"

​Luna melangkah dengan langkah yang diatur seanggun mungkin, meski setiap ketukan sepatunya terasa berat. Sesampainya di depan meja, ia berdiri dengan posisi tubuh tegak, berusaha menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar di balik buku menu.

​"Selamat pagi, Tuan. Mau pesan apa?" tanya Luna berusaha profesional meski jantungnya berdebar kencang.

​Arkan tidak mendongak sedikit pun dari tabletnya. "Americano. Tanpa gula. "

​"Baik, mohon tunggu sebentar."

​Saat ia berbalik membawa nampan menuju meja Arkan, seorang wanita tiba-tiba melintas cepat di depannya.

​"Eh!" Kaki Luna tersandung kaki kursi.

​Nampan di tangannya oleng. Secangkir kopi panas itu meluncur bebas, namun tidak mendarat di lantai. Cairan hitam pekat itu tumpah tepat di atas jas mahal Arkan Wijaya.

​Pyar!

​Suasana kafe mendadak hening. Arkan membeku. Ia perlahan meletakkan tabletnya, lalu menatap jasnya yang kini bernoda cokelat besar.

​"Kau..." Arkan mendongak. Mata tajamnya menatap Luna dari ujung kepala hingga kaki, seolah Luna adalah hama yang menjijikkan.

​"Ma-maafkan saya, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja!" bisik Luna dengan wajah memucat. Ia buru-buru mengambil tisu, mencoba menyeka jas itu.

​"Jangan sentuh aku!" bentak Arkan, membuat Luna tersentak mundur. "kau menumpahkan sampah ini ke jasku?"

​"Saya akan bertanggung jawab, Pak. Saya akan mencucinya..."

​"Mencucinya?" Arkan tertawa sinis. "Kamu tahu berapa harga jas ini? Gajimu setahun di tempat ini bahkan tidak cukup untuk membeli satu kancingnya."

​Arkan tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia mengeluarkan ponselnya. "Aku di Caffe Bene. Aku butuh pemiliknya di sini. Sekarang."

​Tak lama kemudian, Ibu Wati, pemilik kafe, keluar dengan wajah pucat. "Pak Arkan! Ada apa ini? Mohon maaf atas ketidaknyamanannya—"

​"Pecat dia. Sekarang juga," potong Arkan dengan suara dingin yang menusuk.

​"Tapi, Pak Arkan, Luna adalah pelayan terbaik kami. Dia baru saja—"

​"Aku tidak butuh penjelasan," sela Arkan lagi. "Pecat dia, atau kafe ini akan gulung tikar besok pagi.

​Ibu Wati menatap Luna dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus takut. Luna sudah tahu jawabannya. Tanpa menunggu kata-kata pemecatan itu keluar, ia menunduk dalam.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan pergi sekarang," ucap Luna dengan suara parau.

Ibu Wati menghela napas panjang, "Maafkan Ibu, Lun. Ibu tidak punya pilihan lain."

Saya mengerti, Bu," sahut Luna lirih, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.

​Ia berbalik, menyeret langkahnya yang terasa seberat timah menuju dapur.

Di sudut dapur, Sarah menghampiri dengan wajah lesu. Ia mengangsurkan sebuah amplop cokelat kecil yang tampak tipis ke tangan Luna. "Ini gaji terakhirmu, Lun. Aku sudah hitung sampai jam terakhir kamu kerja tadi. Ibu Wati juga menambah sedikit... buat ongkos."

Sarah memegang lengan Luna erat. " laki-laki itu... dia benar-benar tidak punya hati."

Luna memaksakan senyum tipis, meski hatinya hancur. "Terima kasih, Sar. Tolong jaga tempat ini baik-baik."

​Hujan deras mengiringi langkah gontai Luna keluar dari kafe. Ia berjalan tanpa arah, membiarkan air mata bercampur dengan air hujan. Harapannya untuk bertahan hidup seolah sirna dalam sekejap karena kesalahan sepele.

​Tiga hari kemudian.

Luna menatap pantulan dirinya di kaca sebuah toko yang tutup. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Selama tiga hari terakhir, ia telah menyusuri hampir setiap sudut kota, Namun, jawabannya selalu sama: "Maaf, kami sedang tidak menerima karyawan," atau "Simpan saja CV-nya, nanti kami hubungi."

​Di saku jaketnya, ponsel usang Luna bergetar singkat. Sebuah pesan masuk dari Sarah.

​[Lun, kamu di mana? Ada lowongan kerja yang bayarannya sangat tinggi, !

​Jantung Luna berdegup kencang. Ia segera mengetik balasan dengan jari yang masih dingin karena hawa kota. [Kerja apa, Sar? Di mana?]

​Tak butuh waktu lama, ponselnya berdering. Luna segera mengangkatnya.

​"Halo, Sar? Kamu serius?" tanya Luna tanpa basa-basi.

​"Serius, Lun! Tapi ini bukan di kafe," suara Sarah terdengar ragu namun antusias di seberang telepon.

"Sebuah perusahaan besar sedang mencari asisten pribadi mendadak., nanti aku kirim alamatnya.

​Luna menunggu pesan itu dengan napas tertahan. Detik berikutnya, sebuah koordinat lokasi masuk ke ponselnya. Mata Luna membelalak dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca nama gedung yang tertera di sana: Wijaya Tower.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Diantara Dua Sangkar

    Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."​Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?"​"Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."​Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan.​"Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pelarian di atas benang tipis

    Mobil itu melaju membelah kegelapan malam. Di dalam kabin yang sunyi, Luna terus menatap spion samping, melihat gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan menghilang ditelan bayangan. "Kamu sudah aman, Luna," ucap Adrian memecah keheningan. Matanya lurus menatap jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat."K adrian, kita akan pergi ke mana?" tanya Luna. Suaranya serak. "Arkan benar, ibunya tidak akan diam saja. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam kota."Adrian melirik sekilas, wajahnya tampak kaku. "Aku sudah menyiapkan apartemen kecil di pinggiran kota. Atas nama salah satu stafku yang terpercaya. Untuk sementara, itu tempat paling aman dari jangkauan Arkan."Luna terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. Apartemen milik staf Adrian? Itu artinya ia hanya akan berpindah dari satu pengawasan ke pengawasan lain."Tidak, k Adrian. Jangan ke sana," potong Luna tegas.Adrian menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Maksudmu? Kamu tidak bisa kembali

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pintu yang terbuka

    Pukul sebelas malam , Luna berdiri di balik gorden kamarnya, menatap ke arah gerbang belakang yang tertutup. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari Adrian. "Pilihan yang sulit, bukan?" Suara itu muncul dari kegelapan sudut kamar. Luna tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar. Di sana, Arkan sedang menyesap segelas wiski. Cahaya bulan yang masuk menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsa. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?" suara Luna bergetar. "Sejak kamu mulai menatap jam setiap lima menit sekali," Arkan bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang mematikan. "Kamu pikir aku tidak tahu Adrian mengirimkan pesan? Kamu pikir sistem keamanan rumah ini membiarkan sinyal asing masuk tanpa terdeteksi?" Luna mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkanku?" "Karena aku ingin tahu," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara d

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   penghianatan di balik dinding kamar

    Malam semakin larut, namun amarah di dada Arkan justru semakin berkobar. Laporan medis itu masih menyala di layar tabletnya, seolah menertawakan kebodohannya yang sempat merasa "terikat" secara emosional semalam. Bodoh," desis Arkan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir dia mulai menyerah, ternyata dia sedang membangun benteng." Tanpa mengetuk, Arkan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan. Suara pintu yang membentur dinding membuat Luna yang sedang meringkuk di atas ranjang tersentak bangun. "Arkan? Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku butuh waktu sendiri!" Luna bangkit, mencoba menutupi kegugupannya. Arkan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sehitam jelaga, lalu melemparkan tabletnya ke atas kasur, tepat di depan Luna. "Jelaskan ini padaku, Luna. Sekarang." Luna meraih tablet itu. Begitu matanya membaca baris tentang jejak kontrasepsi, tubuhnya membeku. Warna di wajahnya hilang seketika. "Arkan, ini..." "Kamu meminumnya?" suara Arkan rendah, namun mengandung a

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sabotase dalam darah

    Kalimat "hanya wadah" itu bergetar di telinga Luna, memantul di dinding marmer lorong yang dingin. Di dalam ruang periksa yang steril, Dokter Hendra mulai menyiapkan peralatan medisnya. Aroma alkohol menyengat, menggantikan wangi parfum mawar Ibu Rina yang menyesakkan."Silakan berbaring, Nyonya Luna," ucap Dokter Hendra datar.Luna menuruti perintah itu dengan kaku. "Apa yang akan Anda periksa, Dok? Bukankah ini terlalu dini?""Hanya pengambilan sampel darah untuk melihat profil hormon dan kesiapan rahim," jelas sang dokter tanpa ekspresi. "Nyonya Besar tidak ingin ada spekulasi. Beliau ingin kepastian angka.""Angka," bisik Luna getir. "Semuanya memang hanya soal angka di rumah ini."Saat jarum suntik menusuk kulitnya, Luna tidak meringis. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa hina yang merayap di dadanya. Sementara itu, di ruang tamu, suasana jauh lebih panas. Begitu Luna menghilang di balik pintu, Arkan langsung berbalik menghadap ibunya."Wadah? Apa Ibu sadar betapa

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sisa semalam dan altar perjanjian

    Pagi menyapa dengan keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak, melainkan rasa canggung yang tebal seperti kabut. Luna terbangun dengan posisi Arkan yang sudah tidak ada di sampingnya, meninggalkan sisi ranjang yang masih hangat. Saat Luna turun ke lantai bawah, ia menemukan Arkan sedang berdiri di dekat jendela besar ruang makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman yang basah oleh embun. "Kamu sudah bangun," ucap Arkan tanpa menoleh. "Aku tidak bisa tidur lagi," balas Luna sambil menarik kursi, suaranya masih sedikit serak. "Jam berapa sekarang?" "Masih sangat pagi. " Arkan berbalik, menatapnya dengan intensitas yang membuat Luna ingin membuang muka. "Tentang semalam..." "Jangan dibahas, Arkan," potong Luna cepat. "Kita sudah melakukannya. Tugas sudah selesai untuk saat ini. Bukankah itu yang tertulis di dokumen?" Arkan meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras. "Kenapa setiap kali aku mencoba bicara sebagai manusia, kamu selalu me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status