LOGIN
Dada Arunika berombak hebat saat melangkah setengah berlari menelusuri lorong rumah sakit yang dingin. Deretan lampu neon membias kaku di lantai keramik, memantulkan bayangan tubuhnya yang gemetar. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya yang pucat.
Di dalam pelukannya, Bintang.... bayinya yang baru berusia satu bulan menangis melengking dengan napas yang megap-megap. Tubuh kecil itu terasa begitu panas membakar, kejang tipis berkali-kali melanda jemari mungilnya. "Sabar ya, Nak... Sedikit lagi kita sampai," bisik Arunika dengan suara bergetar serak. Pikirannya kalut luar biasa. Semua ini terjadi karena kelalaian Bu Suminar, ibu mertuanya. Hanya karena Bintang terus menangis saat ditinggal bekerja sebentar, wanita itu dengan gampangnya menyuapi sang bayi dengan susu formula kental dan sedikit pisang lumat, padahal pencernaan bayi satu bulan belum siap sama sekali. Bintang mendadak demam tinggi hingga melilit parah. Jemari Arunika yang bebas merogoh saku celana, mencoba menghubungi nomor Gantara untuk yang kesepuluh kalinya. Sambungan akhirnya terhubung di dering ketiga. "Mas! Mas Gantara di mana?!" jerit Arunika histeris, tak sanggup lagi menahan tangisnya di depan unit gawat darurat. "Bintang kejang, Mas! Demamnya tinggi banget gara-gara dikasih makan sembarangan sama Mama! Tolong pulang, Mas... Aku di rumah sakit sendirian!" Namun, bukannya rasa khawatir yang terdengar, di ujung telepon justru helaan napas malas yang menyambutnya. "Aduh, Nika! Kamu tuh lebay banget sih!" bentak Gantara dari seberang telepon. Suara musik dan hiruk-pikuk samar terdengar di latar belakangnya. "Anak kecil demam itu biasa! Paling cuma masuk angin, enggak usah bikin drama sampai ke rumah sakit segala! Aku lagi sibuk, banyak urusan pekerjaan penting. Jangan ganggu!" "Tapi Mas, ini Bintang kejang! Dokter harus segera....." Tut... tut... tut... Sambungan diputus sepihak. Arunika membeku. Rasa tidak percaya dan hancur menghantam dadanya begitu keras. Suaminya lebih memilih urusannya ketimbang nyawa anak kandungnya sendiri yang sedang kritis. Pandangan Arunika kabur oleh genangan air mata. Seluruh kekuatannya seolah hilang merembes ke tanah. Dalam kondisi panik, terluka, dan terus menangis sesenggukan seraya menatap layar ponselnya yang gelap, Arunika berbalik arah dengan terburu-buru hendak mencari ruang pendaftaran. BRUK! Arunika tersentak kaget saat tubuhnya tidak sengaja menabrak dada bidang seorang pria berjas gelap yang baru saja keluar dari area lift VIP. Pelukan Arunika pada Bintang makin diperketat refleks, sementara tubuhnya sendiri hampir limbung ke belakang karena hilang keseimbangan. "Astaga... Maaf!" pekik Arunika lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Sebuah tangan kekar dengan cepat tertahan di lengan atas Arunika, menopang tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke lantai. Aroma parfum woody yang mahal dan maskulin seketika menyeruak di antara bau karbol rumah sakit. Arunika mendongak pelan dengan mata sembap yang basah. Di hadapannya, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan wajah tegas, pahatan rahang yang tajam, dan tatapan mata hazel yang begitu dalam namun dingin. Pria itu menatap wajah Arunika yang berantakan dengan guratan sejuta rasa cemas. "Kamu tidak apa-apa?" suara pria itu terdengar berat, tenang, namun menyiratkan wibawa yang sangat kuat. Tatapan mata pria itu sempat bergulir sebentar ke arah bayi di pelukan Arunika yang masih merintih kejang. Ada kilat keprihatinan yang tak biasa terpancar di sana. "Ma--maafkan saya, Pak... Saya tidak fokus," gumam Arunika terbata-bata seraya mengusap air matanya yang menetes ke dagu. "Anak saya... anak saya demam tinggi, saya harus cepat-cepat..." Pria berjas gelap itu, Altair menatap Arunika sejenak tanpa mengedipkan mata. Ada sesuatu dari raut ketulusan dan duka wanita di hadapannya yang mendadak menyentil sudut hatinya yang paling dalam. "Ruang tindakan UGD ada di sebelah kanan koridor ini, bukan di depan," ujar Altair pelan, menunjuk arah dengan gerakan tangannya yang tenang. "Segera bawa anakmu ke sana sebelum kejangnya bertambah parah." "Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak!" Arunika mengangguk cepat penuh rasa syukur, lalu segera berlari menelusuri koridor yang ditunjukkan pria tersebut. Altair berdiri diam di tempatnya selama beberapa detik. Pandangannya tidak terlepas dari punggung wanita muda yang berlari ketakutan demi menyelamatkan bayinya itu. "Bos?" suara Arjuna, asisten pribadinya yang baru keluar dari kamar rawat inap memecah lamunan Altair. "Ada masalah?" Altair merapikan lengan jasnya, mengalihkan pandangan kembali dingin seperti biasa. "Tidak ada. Hanya seorang ibu yang sedang berjuang demi anaknya." Dua jam berlalu di ruang tindakan. Setelah melewati masa kritis dan penanganan intensif dari tim dokter, kondisi Bintang akhirnya berhasil distabilkan, meski tubuh kecil itu masih terpasang infus dan harus diobservasi ketat. Arunika duduk bersimpuh di samping brankar, menggenggam jemari kecil bayinya yang tertidur lelap. Rasa lelah luar biasa mendadak menyerangnya, namun hatinya lega sang buah hati selamat dari maut. Brak! Pintu ruang rawat terdorong kasar. Bu Suminar dan Tasya melangkah masuk dengan raut wajah gusar, tanpa ada sedikit pun raut khawatir pada Bintang. "Bagus ya kamu, Nika!" semprot Bu Suminar tanpa basa-basi, menunjuk wajah Arunika dengan telunjuknya. "Gara-gara kamu bawa Bintang ke rumah sakit, Gantara jadi kepikiran dan malah kena masalah di tempat kerjanya!" Arunika bangkit berdiri, menatap ibu mertuanya dengan pandangan tak percaya. "Ma, Bintang itu tadi kejang! Nyawanya hampir melayang karena dikasih makanan padat!" "Halah! Alasan kamu aja!" sahut Tasya sinis. "Mas Gantara tadi telepon Mama, katanya dia malas pulang ke rumah kalau kamu cuma bisa bikin drama. Dan ingat ya, biaya rumah sakit ini kamu cari sendiri uangnya! Jangan bebanin Mas Gantara!" Arunika mengepalkan tangannya rapat-rapat. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah membakar sampai ke ubun-ubun. "Di mana Mas Gantara sekarang, Ma?" tanya Arunika dengan suara bergetar namun tajam. "Anaknya terbaring di sini, kenapa dia tidak ada?!" Bu Suminar menyunggingkan senyum mengejek, menatap Arunika dari atas ke bawah. "Gantara sedang sibuk menemani bos barunya," ujar Bu Suminar dengan nada bangga yang memuakkan. "Dan kamu bersiap-siap saja, Nika. Malam ini, Gantara akan pulang membawa keputusan besar untuk hidupmu."Waktu berjalan begitu cepat bagaikan aliran air yang tenang. Hari-hari yang dilalui Arunika di rumah 'Aman' perlahan mengubah seluruh auranya. Luka, tekanan batin, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam bersama keluarga Gantara berangsur-angsur sirna tanpa sisa. Paras Arunika kini tampak jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan ketenangan yang teramat anggun.Pagi itu, pendar sinar matahari hangat menembus kaca ruang tamu. Arunika duduk berselonjor di atas karpet bulu yang empuk, sedang asyik bermain bersama Bintang. Bayi mungil berumur dua bulan lebih satu minggu itu kini bertambah gempal, menggemaskan, dan makin pintar melontarkan celotehan polos yang memanjakan telinga.Di sudut lain ruang tamu, Bu Tami berdiri diam-diam memegang ponselnya, mengabadikan momen manis antara ibu dan anak itu dari jarak jauh untuk dikirimkan secara berkala kepada Altair.Srettt.Mira yang mendadak muncul dari balik lorong dapur menyenggol pelan bahu Bu Tami. Matanya melirik layar ponsel sang asisten r
Langkah kaki Gantara dan Steffi terdengar terburu-buru menelusuri lorong berkarpet tebal di salah satu hotel bintang empat. Tubuh David yang sudah berada dalam kondisi tidak sadarkan diri diangkut dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kecurigaan staf hotel. Dengan cekatan, Gantara menempelkan kartu akses kamar yang telah dipesan sebelumnya, menyibak pintu, lalu menyeret tubuh tegap David masuk ke dalam.Tanpa membuang waktu, Gantara melucuti kemeja dan pakaian David, menyisakan kondisi yang sangat kompromistis. Ia kemudian membopong tubuh David dan membaringkannya di atas ranjang berseprai putih.Setelah situasi kamar siap, Steffi memberi isyarat kepada seorang wanita sewaan yang sudah menunggu di luar untuk segera masuk. Wanita bayaran itu diminta menanggalkan pakaian luarnya, menyisakan posisi di mana bahu mulusnya terekspos sempurna di atas selimut tebal, memberi kesan kuat seolah-olah ia baru saja menghabiskan malam intim bersama David."Ganti posisimu, tempelkan badan
Suasana malam di kamar utama rumah 'Aman' terasa amat tenang. Namun, raut wajah Arunika tampak teramat serius saat menempelkan ponselnya ke telinga. Suara bariton nan dingin milik Altair terdengar dari seberang sambungan internasional. "Arunika... dengarkan saya baik-baik," pukas Altair dengan nada tegas yang begitu berhati-hati. "Jika suatu hari nanti di saat saya belum kembali, Alice secara tidak terduga berhasil menemukan kamu dan bertanya apakah kamu mengenal saya... kamu cukup menjawab tidak kenal." Arunika menggenggam ponselnya makin erat, mendengarkan setiap instruksi dengan saksama. "Jika dia sampai menunjukkan foto saya kepada kamu... kamu cukup menjawab, 'Oh, saya pernah bertemu dengan pria ini satu kali. Waktu itu beliau menolong saya saat saya hampir jatuh di pinggir jalan.' Hanya itu. Jangan tambahkan informasi apa pun lagi," lanjut Altair memberikan arahan yang amat presisi. Arunika menghembuskan napas pelan. "Baik, Pak Al... Saya mengerti." "Semua instruksi ini s
Beberapa hari sebelum hari kebebasan Arunika...Suasana ruang kerja Altair di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota terasa amat hening dan serius. Cahaya matahari sore memantul dari kaca jendela besar, menyinari meja mahoni tempat sang CEO sedang mencermati beberapa lembar dokumen.TOK! TOK!Pintu ruangan terketuk. Arjuna melangkah masuk membawa sebuah folder cokelat tebal dan sebuah tablet digital di tangannya. Wajah asisten kepercayaan Altair itu tampak amat tegang, memendam informasi penting yang siap digulirkan."Bos... saya sudah mendapatkan bukti dari penyelidikan yang Bos minta terkait istri dari Tuan David Albara," ujar Arjuna seraya mengulurkan folder cokelat tersebut dan menyiapkan rekaman video di layar tabletnya.Altair menerima berkas itu, menyingkap lembar demi lembar foto berresolusi tinggi di dalamnya. Matanya memicing tajam. Rekaman video di tablet yang kemudian diputar Arjuna memang bukanlah video intim tingkat ekstrem yang melanggar hukum, tidak sejauh itu.
Suasana rumah 'Aman' menyambut kedatangan mereka dengan kedamaian yang begitu menyejukkan. Langkah kaki Arunika melangkah perlahan ke dalam ruang tamu, disusul Altair yang berjalan tegap di sampingnya.Melihat Arunika memberi isyarat ingin bicara, Mira dengan sigap mengambil alih Bintang dari dalam dekapan. Bayi berumur dua bulan itu sungguh sangat baik budi dan menggemaskan, sama sekali tidak rewel, hanya mengedipkan matanya yang bulat tenang dalam gendongan Mira."Saya bawa ke dalam dulu ya, Bu Bos," bisik Mira pamit dengan kedipan mata jahil, membawa Bintang ke area kamar bawah.Setelah langkah Mira menghilang di balik lorong, Arunika memutar tubuhnya, menatap Altair yang berdiri anggun."Terima kasih banyak untuk hari ini, Pak Al..." ujar Arunika tulus membuka suara.Altair menatap mata indah wanita di hadapannya, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang teramat tipis."Kamu tidak mungkin menahan saya di sini hanya untuk mengucapkan terima kasih saja, kan?"Arunika tersenyum kecil.
Sore itu, suasana hati Alice benar-benar berada di titik terendah usai menyelesaikan rapat bisnis bersama mitra lokal Chantika Skincare. Pertemuan yang sejujurnya teramat membosankan dan menyita energi itu terpaksa ia jalani demi menjaga citra publiknya.Namun, bukannya langsung pulang ke rumah, Alice melangkah cepat menuju area parkir basemen yang temaram. Ia masuk ke dalam kabin sedan hitam bertitik kaca gelap yang sudah menunggu di sudut sepi.Begitu pintu mobil tertutup rapat, raut wajah Alice seketika berubah masam dan penuh kekesalan. Dengan nada ketus dan tajam, ia langsung menyemprot pria ber-hoodie hitam yang duduk di kursi kemudi."Apa lagi kali ini?!" ketus Alice tanpa basa-basi."Bukankah aku sudah menegaskan padamu, aku sendiri yang akan memastikan Altair tidak akan pernah melakukan adopsi anak?!"Pria bertopeng hoodie itu tidak langsung menjawab. Dari pantauan kaca spion tengah, ia hanya terkekeh sinis, lalu melempar amplop cokelat berisi beberapa lembar foto cetak ke pa







